
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Langkah kaki dua orang pria dengan setelan jas mahal berjalan beriringan keluar dari area rumah sakit.
Sejak setengah jam yang lalu, salah seorang pria diantara mereka terus melebarkan senyumnya setelah membaca isi surat rumah sakit yang berisikan isi tes DNA yang sempat ia rujuk ke rumah sakit ini kemarin.
Sementara sang sekretaris yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk tuannya, memandang Sean bingung.
Brakk...
Setelah tuannya memasuki mobil, ia buru-buru membuka pintu untuk dirinya sendiri dan duduk disamping kursi kemudi.
"Bagaimana hasil tes-nya, tuan ?" tanya Jacob yang juga begitu penasaran.
Sean menatap sombong kearah Jacob, "tentu saja anak Beby itu adalah anakku. Bibit yang aku tanam dalam rahim Beby berasal dariku, sudah pasti janin Beby kuat saat dia kabur!" Ia tersenyum menyeringai. "Hasil tesnya 99% aku adalah ayah biologis dari anak Beby."
Kepala Jacob mengangguk mengerti, ia tersenyum sekilas. "Selamat ya, tuan. Itu artinya tuan muda memiliki seorang adik, dari dulu kan tuan muda ingin sekali mempunyai adik." Jacob kembali teringat ucapan Leon dulu yang selalu menginginkan kehadiran seorang adik agar tidak kesepian.
"Apa jika sudah anak diantara tuan dan Beby, tuan akan menikahinya ?"
Kepala Sean mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan Jacob. "Tentu saja, memang itu yang aku harapkan. Menikahi Beby, membesarkan kedua anak kita dengan baik. Lalu hidup bersama sampai ajal memisahkan kita," jawab Sean sembari menatap ke langit-langit mobilnya. Pria itu tersenyum kecil seraya menerawang hal-hal indah yang bisa ia lakukan bersama keluarga kecilnya kelak.
Menambah anak lagi ?
Atau mungkin nanti mereka akan honeymoon setiap hari jadi pernikahan mereka...
Atau bisa juga Sean akan menyekolahkan Beby kembali dan membantu wanita itu untuk menjadi sukses...
Sean melebarkan senyumnya, impian-impiannya akan segera terkabul. Hanya perlu meminta maaf pada Beby, dan segera menikahi wanita itu secepatnya.
"Hmm, maaf tuan..." sela Jacob yang membuyarkan lamunan Sean, senyum pria itu sedikit luntur, ia menatap sekretarisnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Apa ?"
Jacob menggaruk tengkuknya sebelum melanjutkan pertanyaannya. "Apa Beby mau menikahi tuan ?" tanyanya yang membuat Sean terdiam.
Pria itu berdehem singkat, sebelum mengalihkan pembicaraan. "Kita ke rumah sakit, aku ingin melihat anakku dulu sebelum bertemu Beby!" titah Sean yang segera diangguki oleh Jacob.
...o0o...
Dirumah Beby kini tengah menyiapkan makan malam untuk anaknya dan juga Dominic.
Meskipun kini hatinya tak tenang, Beby terus saja memikirkan Sean yang kemarin sudah mengambil rambut Lily untuk dijadikan sampel tes DNA.
Semoga tidak datang...
Semoga alat tes DNA-nya tidak akurat...
Semoga Sean tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi di depan dirinya....
Doa-doa itu diucapkan dalam hati seraya menggoreng lauk pauk untuk makan malam nanti.
"Akhirnya selesai," gumam Beby yang sudah mematikan kompornya.
Ia menaruh masakan yang sudah ia buat di atas meja makan. Beby tersenyum lebar memandang seluruh masakan yang ia buat sejak beberapa jam yang lalu, kini sudah tersusun tapi di atas meja.
Ada makanan kesukaan Lily, dan juga Dominic. Beby sengaja khusus menyiapkan banyak makanan karena untuk merayakan hubungan dengan Dominic yang sempat merenggang kini baik kembali.
"Nic pasti senang banget," ucapnya disertai tawa kecil. "Lebih baik aku mandi sekarang sebelum dua manusia pengacau itu datang!" sambungnya sebelum berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini Beby akan tampil cantik untuk Dominic seorang.
...o0o...
Dominic tengah bergelut dengan setumpuk pekerjaan yang ada di meja, bahkan pria itu sama sekali tidak memperhatikan sang sekretaris yang kini memasuki ruangannya dan kini berjalan kearahnya.
Sekretaris itu menatap heran Dominic, sejak tadi ia memanggil namanya tapi tak kunjung menyahut. Ia berjalan mendekat dan menepuk singkat bahu tuanya itu.
"Tuan..." panggilnya bersamaan pada tepukan pada bahu Dominic, pria itu berjengit kaget dan menatap tajam sang sekretaris.
"APA?!?!" kecamnya kesal, matanya menyorot tajam menatap pria di sebelahnya itu.
Sang sekretaris menelan ludahnya susah payah melihat tatapan mengerikan Dominic. "Se–sekarang sudah jam lima sore, sudah waktunya jam pulang. Anda bilang hari ini tidak bisa lembur karena harus menjemput Lily dirumah kakek neneknya..." peringat sang sekretaris, ia hanya takut tuannya lupa akan janjinya.
"Oh iya," Dominic mengingat lagi ucapannya tadi pagi. "Telfon Robert, kabarkan jika aku akan menjemput Lily pukul 7 malam. Aku harus segera menyelesaikan proposal ini, besok kita akan ada meeting dengan klien!"
Kepala sang sekretaris menganggukkan mengerti, lalu ia segera keluar dari ruangan Dominic untuk mengabari orang tua Beby.
__ADS_1
Sementara di dalam ruangan itu Dominic terdiam sebentar. "Kenapa perasaannya menjadi tak enak ?" batinnya sebelum melanjutkan pekerjaannya agar bisa cepat pulang.
...o0o...
Setelah menemui sang anak, Sean yang diantar oleh sang supir seorang segera melesat menuju sebuah gedung apartemen mewah di kawasan kota.
Hanya dengan bermodalkan se-bucket bunga mawar merah dan secarik tes DNA, malam ini Sean akan mempertegas hubungan dengan Beby.
Ya! Hari ini Sean akan memperkenalkan dirinya pada anak Beby sebagai Ayahnya. Dan juga malam ini, Sean akan melamar Beby.
"Aku tidak sabar...." gumamnya dengan senyum yang menawan.
Oh ya, tadi sebelum berangkat ke apartemen Beby, Sean meminta setelan jas baru pada Jacob. Malam ini sungguh ia berpenampilan sempurna hanya untuk Beby.
"Tuan, kita sudah sampai..."
Lamunannya buyar seketika setelah mendengar ucapan sang supir. Sean merapikan sedikit penampilannya sebelum keluar mobil.
Ia berjalan memasuki gedung apartemen yang langsung disambut oleh seorang manajer apartemen itu.
"Selamat datang Mr. Ragues," sapanya sembari menundukkan kepalanya hormat.
Sean berbalik dan menatap manajer itu dengan senyum menyeringai. "Mana password untuk unit apartemen gedung C no. 18 ?"
Sang manajer apartemen itu langsung mengeluarkan secarik kertas disaku celananya. "Ini tuan, silahkan...." ucapnya seraya memberikan kertas itu pada Sean.
Dengan sedang hati pria itu menerima kertas itu dengan tangan kirinya, karena di tangan kanan Sean sudah terdapat sebuket bunga mawar untuk sang calon istri.
"Terima kasih, kembalilah bekerja!" ujar Sean yang segera diangguki oleh pria itu.
Jangan tanya bagaimana bisa Sean memerintahkan manager itu untuk memberikannya kata sandi kunci apartemennya Beby.
Jawabnya karena saat ini Sean adalah pemilik tunggal dari gedung apartemen yang ditempati Beby.
Hanya demi mendapatkan password pintu kamar Beby, Sean rela merogoh sakunya dalam-dalam untuk membeli seluruh saham yang dimiliki oleh para pengusaha yang berinvestasi di apartemen itu.
Hanya Beby dan anak mereka, uang bukan perkara yang sulit untuk Sean.
Ting....
Pintu lift sudah membawanya ke lorong unit apartemen Beby, dengan percaya diri Sean melangkah kakinya keluar dan berjalan menuju depan pintu unit apartemen Beby.
Ceklek....
Senyum diwajah Sean semakin lebar, tatkala Sean memasukkan 7 digit angka pada alat keamanan di depan pintu itu. Kata sandi yang diberikan oleh pria tadi ternyata benar.
Perlahan Sean memasuki ruangan itu, dan tak lupa menutup pintunya kembali.
Di tempatnya Sean bisa menyium harum masakan yang lezat. Ia menggerakkan kakinya mengikuti Indra penciumannya.
Dan benar saja, saat kakinya berhenti melangkah di depan meja makan. Ia bisa melihat berbagai macam makanan di meja.
Sean tersenyum haru, "macaroni and cheese kesukaan ku. Ini adalah makanan kesukaan ku! Apa Beby sengaja membuat ini karena tahu jika aku akan datang kemari hari ini ?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia menaruh bunganya di atas meja, sementara matanya menelisik seluruh ruangan itu dan tak menemukan keberadaan Beby.
"Dimana dia ?" gumam Sean.
Kaki Sean bergerak menuju kamar Beby, diintipnya ruangan yang sedikit terbuka itu. Senyum di wajah Sean yang tadi meredup langsung kembali datang, bahkan lebih cerah dari sebelumnya, saat ia melihat Beby tengah berdandan di depan cermin.
Wanita itu sangat cantik, bahkan sangat cantik. Mirip sekali dengan Clara, hanya Beby lebih berisi dan juga lebih segar dari Clara yang kurus dan juga pucat.
"Clara.... Clara...." gumam Sean tanpa sadar, mata pria itu berkaca-kaca kembali teringat pada mendiang belahan hatinya.
Apalagi saat ini Beby tengah memakai dress diatas lutut berwarna kuning cerah yang membuatnya semakin terlihat seperti Clara. "Warna kesukaan Clara adalah warna kuning..."
Mata pria itu terus memperhatikan Beby dengan intens. Tapi yang ada dalam otaknya bukanlah Beby, melainkan wajah Clara saat wanita itu belum mengalami koma.
Sementara di dalam Beby sudah bersiap, ia memoleskan lipstik pada bibirnya sebagai sentuhan terakhir make up-nya.
"Rambut sudah aku Curly, make up sudah oke, dress nya warna kesukaan Dominic. Pasti pria itu akan semakin suka kepadaku..." gumamnya seraya tertawa kecil.
Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera, ia berselfi dengan berbagai gaya dan pose sebelum membuka room chat kepada Dominic.
My Dominic 🦁
Mengirimkan gambar (17)
Aku sudah sangat cantik...
Cepat pulang ya Papi...
Mami menunggu....
__ADS_1
Send
Ia tertawa saat telah mengirimkan pesan pada Dominic, "pasti pria itu sudah dalam berjalan pulang sekarang," gumamnya seraya melihat pesannya sudah dibaca oleh Dominic.
"Lebih baik aku sekarang mengeluarkan puding dari dalam lemari es. Lily tidak suka makanan dingin, jadi nanti jika Lily pulang, pudingnya sudah tak sedingin sebelumnya..." ujarnya dengan senyum tipis.
Ia memperhatikan lagi penampilannya, dan tersenyum puas. Ia melangkahkan kakinya ke luar kamar dengan senyum.
Sementara Sean yang sudah melihat Beby berdiri, langsung bersembunyi di balik dinding. Ia berencana untuk mengejutkan Beby.
Grep....
"ARGHHHHH!!!"
Dan benar saja, saat Beby sudah beberapa langkah keluar dari kamar. Sean langsung memeluk tubuh Beby dari belakang dengan sangat erat.
"BRENGSEK!!! LEPASKAN AKU!!!" teriak Beby yang masih sangat syok dan terkejut disaat yang bersamaan. Otak wanita itu mendadak blank tak tahu harus berfikir bagaimana.
Sean tertawa kecil, lalu mengecup leher Beby sekilas. Ia perlahan melepaskan pelukannya pada pinggang Beby dan membalikkan tubuh wanita itu agar menatapnya.
"Sayang ini aku!!!" pekik Sean dengan girang saat mereka sudah saling bertatapan.
Mata Beby membelalak kaget, buru-buru ia memundurkan tubuhnya kebelakang. Namun dengan cepat Sean menarik tangan Beby agar kembali mendekat kearahnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI BRENGSEK!!! BAGAIMANA KAU MASUK KAMARKU, SIALAN!!!" teriak Beby brutal, wanita itu terus memukuli dada Sean dengan sangat keras.
Sean tertawa kecil mendengar teriakan dan pukulan yang Beby berikan kepadanya. "Kamu kenapa sih, kenapa marah, hm ? kamu kenapa juga pura-pura berlagak tak tahu kehadiran ku, padahal nyatanya kamu sudah menyiapkan makanan untuk kehadiran ku, kan...." jawab Sean dengan tenang, pria itu masih belum tersulut emosi dengan pemberontakkan yang Beby lakukan.
Cuih....
Beby meludah di sepatu Sean, tangan wanita itu terkepal kuat menatap Sean tajam. "SIAPA YANG MENYAMBUT MU, BRENGSEK!!! UNTUK APA JUGA AKU MENYAMBUT MU!!! SEKARANG TOLONG KELUAR DARI APARTEMEN SAYA! INI PRIVASI! ANDA SUDAH MERUSAK PRIVASI SAYA!!!"
"Untuk apa ? Ya karena aku adalah ayah kandung anakmu!" Sean mengeluarkan amplop berlogo rumah sakit, lalu dilemparkan di depan wajah Beby. "Silahkan di lihat, di sana tertulis jika aku adalah anak biologis anakmu! Jadi ayo kita menikah dan hidup bahagia. Aku, kamu, Leon dan anak-anak kita nantinya."
"Omong kosong apa yang barusan anda katakan tuan Sean ? CEPAT KELUAR DARI APARTEMEN SAYA SEBELUM SAYA TELFON SATPAM!!!"
Sean tertawa lebar mendengar ucapan Beby, ia berjalan ke arah Beby hingga membuat wanita itu berjalan mundur hingga punggungnya terbentur tembok.
"Aku sudah membeli seluruh isi gedung apartemen ini, termasuk satpam di depan. Sekarang dia adalah orang yang bekerja untukku!" balas Sean cepat.
Tubuh Beby gemetar saat tangan Sean terangkat untuk mengelus wajahnya dari kening hingga kini jempol Sean mengusap bibirnya s3nsu4l.
"Clara...." ucapnya Sean yang terkesima dengan kecantikan wajah Beby. "Clara sayang....." panggil Sean lagi kepada Beby.
Tangan Beby hendak menampar Sean untuk menyadarkan pria itu, tapi dengan cepat Sean menahan tangan Beby yang akan menyentuh kulit pipinya.
"Clara ku, tidak pernah kasar!"
"AKU BUKAN ISTRIMU BRENGSEK! SADARLAH!!! CLARA SUDAH TIADA! ISTRIMU SUDAH MATI!"
PLAKK....
Sean menampar keras pipi Beby, hingga sudut bibir wanita itu mengeluarkan sedikit darah.
"KALAU AKU BILANG KAMU CLARA YA CLARA!!!" teriaknya penuh amarah. "Claraku masih disini, dia tidak jadi pergi ke Tuhan!" suara Sean mulai melembut.
Ting...
Suara notifikasi ponsel berbunyi di kamar Beby.
My Dominic 🦁
Aku sudah menjemput Lily
Tunggu kita 15 menit ya, Mi...
Papi bakal ngebut...
...o0o...
Udah tanggal 27 🥺 berarti tinggal 3 hari lagi cerita ini bakal END
Dukung terus ya.... 🤩
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1