
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Enggak....hiks...hiks...." Leon semakin mengeratkan pelukannya pada kedua kaki jenjang Beby yang terbalut celana jeans.
Wajan bocah laki-laki itu merah padam dengan mata yang sudah banjir akan air mata, oh jangan lupa keringatnya yang sampai membasahi baju.
"Leon ikut...hiks.....hiks...."
"Nanti kalo kak Beby pergi, nanti gak balik ke rumah Daddy lagi....hiks....hiks...."
Beby memutar bola matanya malas mendengar ucapan Leon. Kakak juga mau gak balik lagi ke sini, tapi itu mustahil!!!
Ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Leon dan melepaskan tangan kecil itu dari kakinya.
"Kakak pasti pulang kesini lagi Leon, ini sekarang sudah jadi rumah kakak selamanya." Ia berusaha menangkan tangisan Leon. "Kakak janji nanti pulang ke sini, kakak bawain mobil-mobilan yang ada remotnya...."
Bukannya senang, Leon malah semakin menangis keras hingga membuat Beby geleng-geleng kepala.
Ia mengkode seorang maid yang mendekat, "langsung gendong aja!" titahnya dan maid itu langsung membawa Leon untuk diangkut. "Lepas seragam sekolahnya jangan lupa digantung lagi, terus makan siang dulu, mandi lalu suruh Leon tidur!"
"Baik, non..."
Setelah mengatakan itu, maid langsung membawa Leon yang memang baru pulang sekolah untuk masuk ke dalam rumahnya, sementara Beby kini kembali memasuki mobil dan segera berangkat menuju rumah sakit.
"Beby sudah sangat dekat dengan tuan muda Leon, bukan begitu tuan?" tanya Jacob kepada Sean yang juga akan berangkat kembali ke perusahaan setelah mengambil beberapa dokumen penting yang tertinggal.
Mata Sean masih menatap mobil yang ditumpangi Beby hingga keluar dari pagar. "Jika ibunya sehat pasti Leon akan lebih dekat dengan Clara."
...o0o...
"Sudah dua Minggu usia kehamilan anda, Nyonya." Dokter itu terus menggerakkan alat USG diatas perut Beby yang sudah diberi gel sebelumnya.
Ia tersenyum sumringah mendengarkan ucapan sang dokter. Ternyata janinnya hanya sebesar biji ketumbar jika dilihat dari layar USG itu.
Pemeriksaan selesai, seorang suster membersihkan gel yang berada di perut Beby lalu membantunya untuk turun dari ranjang pemeriksaan.
"Terima kasih, sus..."
Beby duduk berhadapan dengan sang dokter wanita yang kini sedang meletakkan dua buah foto USG di atas meja.
Tak henti-hentinya Beby senyum memandangi calon anaknya itu. Semoga laki-laki, batin Beby.
"Apa ada keluhan, Nyonya ?"
Beby memasukkan foto USG itu ke dalam tas, lalu memfokuskan dirinya pada sang dokter. "Mual sih dok, aku gak bisa nyium makanan gitu. Bawaannya mau muntah terus. Terus kalo bangun tidur itu, kepala rasanya sakit minta ampun. Itu aja sih."
Sang dokter menganggukkan kepalanya, ia menuliskan beberapa resep obat diatas kertas. "Itu normal ya, Nyonya. Selagi rasa pusingnya tidak berlangsung sampai berjam-jam itu masih ok. Dan jika Nyonya mual terhadap beberapa makanan, bisa diakali dengan memakan sesuatu yang segar terlebih dahulu, seperti buah yang dimasukkan kedalam kulkas, atau bisa juga minuman dingin yang diberi potongan buah baru setelah itu makan nasi."
Beby menganggukkan kepalanya mengerti, "baiklah dok, akan aku coba."
"Ini sudah saya tuliskan resep obat mual, pusing serta vitamin untuk Nyonya dan calon baby. Mohon diminum sesuai aturan, dan jika ada ruam merah setelah pengguna obat mohon dihentikan penggunanya Yaa...."
Beby menerima resep itu lalu bersalaman dengan dokter tadi. Ia segera keluar untuk menebus obat di apotek yang berada di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah selesai ia segera memasuki mobilnya untuk menuju ke rumah kedua orangtuanya dengan senyum mengembang.
"Aku ingin tertawa setiap kali membayangkan wajah terkejut mereka."
...o0o...
"Ayah, Ibu, Nenek......" teriak Beby menggema di mansion milik keluarganya.
Beberapa kali ia terus memanggil nama orang-orang itu, tapi tak ada satupun yang datang, hanya ada beberapa maid yang berseliweran di depannya.
"Ayah, Ibu, Ne–"
"Beby, jangan teriak-teriak!!" ucap Risna–Ibu Beby yang menuruni tangga bersama sang nenek yang dituntut secara berlahan.
Senyum Beby mengembang sempurna, ia berlari untuk menghampiri dua orang yang sangat ia rindukan itu.
Grep
Ia memeluk ibu dan neneknya dengan sangat erat hingga ia tak kuasa menahan air matanya. "Bu, nenek, Beby kangen banget..."
Risna dan Mina–nenek Beby juga membalas pelukan Beby tak kalah erat. "Iya iya, kita juga kangen kamu sayang."
"Ayo duduk dulu, kamu gak cape apa habis perjalanan Indonesia ke Italia ?" tanya Ibunya yang membuat pelukan mereka terlepas.
Mata berkaca-kaca Beby mengerjap, otaknya berfikir. Astaga, aku selama ini kan berbohong kepada Ibu dan nenek pulang ke Indonesia.
"Ah iya, aku tidak cape kok, Bu. Ayo duduk, ada hal yang mau Beby bicarakan."
Beby duduk di sofa yang berada di ruang keluarga berhadapan dengan ibu dan neneknya. "Jadi ada hal penting apa yang mau kamu katakan ? Sampai-sampai kamu datang ke Itali ? Kamu cuti berapa lama lagi kuliah Bebyyy ???" tanya Risna yang sudah geram dengan tingkah anaknya.
Beby menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "udah jangan ngomongin soal kuliahnya Beby buuu...." rengeknya.
Mina menepuk paha anaknya pelan, "kamu ini Ris, anak baru sampai kok yang ditanyain malah kuliah. Tanya kabar dulu atau apa gitu kek," gerutunya kesal.
"Ih sudah-sudah, Ayah mana ? Beby mau ngumumin sesuatu yang penting bangettt!"
"Ayahmu kerja lah sayang, ini baru jam 4 sore. Biasanya kan pulang jam 7," beritahu Risna.
Beby menganggukkan kepalanya mengerti, lalu menatap ibu dan neneknya secara bergantian. "Sebenernya, nanti 9 bulan lagi, nenek bakal punya cicit dan Ibu bakal punya cucu."
Krik....krik....krik....
Risna dan Mina saling berpandangan dengan raut wajah bingung. Lalu beberapa menit kemudian mereka kompak menatap Beby garang.
"KAMU HAMIL?????"
...o0o...
Senyum manis di wajah Beby tidak luntur sama sekali, apa lagi saat makan malam bersama ayahnya sampai menjatuhkan sendok saat mengetahui ia tengah hamil.
Untung saja ia buru-buru pulang, kalo tidak mungkin ia akan dibombardir pertanyaan tentang siapa ayah dari bayi yang ia kandung ini.
Ceklek....
Pintu mansion Sean terbuka, ia di sambut oleh beberapa maid yang sedang membersihkan ruang depan.
"Kenapa sepi sekali, dimana Leon ?"
"Tuan muda sedang diajak makan malam bersama tuan Sean dan tuan Jacob, nona..."
Mata Beby melebar, ia sedikit terkejut mendengar Sean mengajak anak yang tak ia anggap itu makan malam bersama.
__ADS_1
Tapi bukankah itu bagus, itu artinya Sean sudah mulai menyayangi Leon ? Beby mengangkat kedua bahunya acuh, ia tak perduli dengan Sean.
Saat Beby sudah melanjutkan jalannya untuk sampai ke kamar Leon. Ia baru menyadari jika mansion ini kosong.
Beby berjalan mundur, untuk menghampiri maid itu. "Eh kamu," tunjuknya pada maid yang berbicara dengannya tadi.
"Apa ada, non ?"
"Ekhem," ia berdehem sebelum menanyakan sesuatu yang nampaknya menganggu pikirannya. "Tuan Sean kan sudah menikah, tapi aku tidak pernah melihat istrinya. Dimana istrinya saat ini ?"
"Nyonya Clara berada di mansion ini, non. Kamarnya berada di samping kamar tuan Sean yang bercat kuning. Tapi tidak boleh ada satupun yang masuk ke kamar Nyonya Clara. Hanya tuan Sean, tuan Jacob, tuan muda Leon, dan maid khusus yang bisa masuk."
Beby menganggukkan kepalanya mengerti, lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar Leon dengan segudang tanda tanya di kepalanya.
"Kenapa aku tidak pernah melihatnya jika dia ada di mansion ini ?"
"Apa dia pemalu?"
"Kenapa ga pernah ikut makan malam di lantai bawah ?"
"Atau dilarang sama Sean ?"
Otaknya berfikir berbagai alasan mengapa istri Sean itu tak pernah keluar dari kamar barang sedetikpun saat ia berada di mansion ini.
Hingga kini ia sudah berada di depan pintu kamar Leon. Tangan kanan Beby sudah knop pintu, tapi tubuhnya kini terfokus dengan pintu bercat kuning cerah dengan hiasan bunga mawar putih di depan pintu yang nampak membuatnya semakin indah.
Tanpa sadar Beby melangkahkan kakinya mendekati ruangan itu. "Daripada bingung, bukankah lebih baik aku lihat sendiri ?"
Tok....tok....tok....
Tok....tok....tok....
Beby mengigit bibir bawahnya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Mungkin sudah tidur, apa aku langsung buka pintu aja ?"
Ia mengangguk dan mulai memutar knop pintu itu.
Ceklek....
Ia masuk ke kamar istri Sean dan membiarkan pintunya sedikit terbuka. Bau bunga mawar langsung menyerbu wajah Beby.
"Ada infus," gumamnya.
Kakinya perlahan mendekat ke arah ranjang saat menyadari ruang kamar ini kosong tak berpenghuni.
"Tidak ada or–ASTAGAAA INI MAYAT ?" teriaknya setelah melihat diatas ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar putih terdapat seorang wanita yang sangat amat kurus yang tengah di infus menggunakan dres berwarna putih, rambut hitam legam tengah tertidur dengan bibir yang begitu pucat.
Beby semakin mendekatkan dirinya untuk melihat dengan jelas istri Sean itu.
Lagi-lagi ia dibuat terkejut hingga tubuhnya gemetar setelah melihat dengan jelas wajah istri Sean.
"Ke–kenapa wajahnya mirip dengan ku ?"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA