MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 43 - BERDARAH


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Saat pesawat pribadinya sudah sampai di rooftop rumah sakit, Dominic beserta puluhan anak buahnya langsung turun ke dari pesawat untuk memasuki area rumah sakit.


Ini memang sudah tengah malam, tapi ia takut jika terlambat mendapatkan penanganan, akan terjadi sesuatu yang buruk pada tubuhnya, juga anak buahnya.


"Mr. Dominic, ada yang bisa saya bantu ?" Kedatangan Dominic melalui lift langsung disambut oleh Presdir rumah sakit dan beberapa dokter yang berjejer.


Saat mereka mendapatkan informasi jika pesawat Dominic tiba di rooftop, mereka semua langsung terburu-buru menyambut kedatangan Dominic. Semuanya menunduk hormat kearah Dominic.


"Aku dan anak buahku terkena luka tembak, siapkan ruang operasi untuk kami!" pinta Dominic sembari meringis merasakan rasa sakit di bahunya.


Sang Presdir menganggukkan kepalanya mengerti, ia langsung memerintah anak buahnya menyiapkan kamar untuk Dominic dan anak buahnya.


"Ruang operasi sudah siap tuan!" titah salah seorang perawat.


"Mari tuan, kita akan segera mengambil peluru yang bersarang di tubuh anda!"


...o0o...


Pagi-pagi sekali, bahkan matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di dunia, tapi Beby sudah bergerak tak nyaman di tidurnya.


Belum lagi ada sepasang lengan kekar yang memeluk erat pinggangnya. Ia mendesis merasakan rasa sakit di perutnya.


Beby membuka mata dan mengelus perutnya yang terasa kram. "Astaga, ini sangat menyakitkan!" gumamnya.


Ia melihat kearah samping, Sean tanpa sehelai benang pun masih terlelap dengan posisi memeluk tubuhnya erat.


Ingatan Beby kembali berputar pada beberapa jam yang lalu. Ia dan Sean sudah menghabiskan malam yang begitu menyiksa bagi Beby tapi sangat nikmat bagi Sean.


"Arghhhh....sakit...." desisnya, perutnya semakin terasa kencang. Belum lagi terasa ada cairan yang membasahi s3l4ngkangannya.


Tangan Beby terulur untuk menyentuh paha dalamnya yang terasa basah, matanya sontak membulat saat melihat cairan berwarna merah membasahi jari-jarinya. "AHHHH DARAHHH!!!!!" teriaknya.


Mendengar teriakan Beby yang menggelegar, Sean langsung membuka matanya kaget dan bangun dengan posisi duduk. "Apa-apa ?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Da–darahhh.....tolong aku Sean!!!!"


Mata Sean beralih menatap tangan Beby yang dipenuhi oleh darah. "Kamu lagi menstruasi?" tanyanya masih kalem sedangkan Beby sudah menangis histeris di kasur.


"BODOH!! S3L4NGKANGAN KU MENGELUARKAN DARAH! AKU MOHON TOLONG AKU!"


Jantung Sean berdegup kencang, ia menghembaskan selimut yang menutupi paha Beby untuk melihat daerah paha dalamnya itu.

__ADS_1


Dan benar saja, darah sudah merembes membahasi kedua paha Beby, dengan sigap, Sean langsung mengenakan baju dan celana, tak lupa ia juga menyambar dress secara asal di lemari di pakaikan ke tubuh Beby.


"SE–SEAN TOLONG CEPAT!!"


"ANAKKU!!!!"


"TOLONG ANAKKU!"


Teriakan-teriakan Beby membuat tubuh Sean bergetar dengan hebat, selesai memakaikan Beby dress, ia langsung menggendong Beby ala bridal style untuk di bawa keluar.


Sean berlari kecil menuju luar mansionnya, "SIAPKAN MOBIL CEPAT!!!!" teriaknya membuat para bodyguard bergerak mengeluarkan mobil dari garasi.


"Silahkan masuk, tuan!" seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuk Sean dan pria itu segera memasuki mobil.


Brakkk.....


"CE–CEPAT KE RUMAH SAKIT SEKARANG, BODOH!!!"


Dengan kringat yang sudah sebesar biji jagung, sang supir langsung menancap gas mobil dengan brutal untuk segera sampai ke rumah sakit.


Lampu merah mereka trobos, polisi tidur juga tak membuat kecepatan mobil Sean berkurang sedetikpun.


"APA KAU BODOH HAH?!?!" teriak Sean lagi, tangan pria itu sudah bergetar hebat menggendong Beby, belum lagi ia merasakan darah pada kew4nitaan Beby berembes ke kakinya. "KENAPA LAMA SEKALI, MENYETIR ?!?!"


"KALAU SAMPAI TERJADI SESUATU PADA BEBY DAN ANAKKU, AKAN KH PASTIKAN KAU DAN JUGA SELURUH KELUARGA MU AKAN MAT!!!" sambung Sean, otot-otot leher pria itu tercetak jelas, menandakan jika omongan bukan bualan semata.


"Ce–cepat, lebih cepat lagi menyetirnya!" ucap seorang bodyguard yang duduk di samping supir dengan berbisik.


Supir itu menganggukkan kepalanya mengerti, dan kini ia lebih cepat menancap gas mobil itu.


"Anakku, anakku bagaimana... hiks...."


Tangan Sean mengelus lembut kepala Beby, "tenanglah, sebentar lagi kita sampai ..."


Dan benar saja, beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi oleh Sean memasuki area rumah sakit. Sudah ada beberapa dokter yang stand by di depan pintu.


Sean menggendong Beby keluar dari mobil dan ia langsung meletakkan tubuh Beby pada brankar rumah sakit dan langsung di dorong menuju ruang UGD oleh para perawat.


"Maaf tuan, tapi tuan tidak diperkenankan untuk ikut masuk ke dalam. Terima kasih," ucap seorang dokter sebelum ikut masuk ke ruang UGD.


Sean menjambak rambutnya kasar, ia berjalan mondar-mandir di depan ruangan UGD. "Sial! Sial! Sial! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Beby akan kubunuh supir tolol itu!" umpatnya.


Dada Sean bergemuruh takut, ia duduk di kursi tunggu yang terletak di depan ruang UGD. Kejadian ini mengingatkannya dengan Clara dulu, sama-sama pendarahan di area kew4nitaan dan berakhir Clara tak sadarkan diri hingga 6 tahun.


"Ku mohon tuan, kali ini jangan pada Beby. Aku mohon, jangan buat Beby koma seperti Clara dulu..." doanya dengan hati yang resah.


Sementara di ujung koridor ada seorang pria menggunakan baju rumah sakit dan perban pada area bahunya berlari kecil kearah Sean sembari meringis merasakan nyeri pada bekas jahitannya.


"Beby, ini ruangan Beby. Tadi aku melihat Beby di bawa kemari," ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal di depan ruang UGD.


Mendengar suara orang lain, kepala Sean mendongak menatap pria gagah yang berdiri di depan ruangan Beby.

__ADS_1


"Siapa kau ?" tanya Sean, matanya membulat terkejut saat melihat pria itu membalikkan badan menatap Sean. "Mr. Ragues, apa yang kau lakukan di sini ?" tanyanya dengan mendesis kesal.


"Ada apa dengan Beby ? Apa yang kau lakukan ?" bukan menjawab pertanyaan Sean, Dominic malah bergantian memborbardir Sean dengan berbagai pertanyaan.


"Jawab dulu pertanyaan ku, brengsek!" umpatnya.


Tangan Dominic terkepal kuat menatap Sean tajam. "Apa kau lupa, siapa yang menembak ku kemarin, huh ? Tentu aku di sini untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahuku!" jawabnya. "Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa Beby bisa masuk ke UGD, apa yang kau lakukan padanya Mr. Alejandro ??"


Sean mengalihkan pandangannya kearah lain, dan kembali duduk di kursinya. "Milikku bukan urusanmu, kau bisa kembali keruang inapmu. Kehadiran mu di sini sama sekali tak di harapkan!"


"Milikmu ? Kau bilang sudah punya istri, apa salahku jika ingin mendekati Beby ? Dan aku hanya tanya kenapa Beby bisa sampai masuk ke UGD, karena sudah pasti ini adalah salahmu!"


Dengan menghela nafas kasar, Sean bangkit dari duduknya dan menatap tajam Dominic. "Memang aku sudah memiliki istri, tapi Beby adalah mainan ku, dan sampai sekarang aku belum bosan dengannya. Jadi kau tidak aku perbolehkan untuk mendekati, Beby. Kau paham !?!"


"Mainan, huh ?" tanyanya Dominic dengan senyum miring. "Kalau sampai istri mu tahu perbuatan mu di belakangnya, mungkin dia akan terkena serangan jantung dan–" Dominic menjeda kalimatnya, ia menaruh jempolnya di leher dan menggerakkannya perlahan seperti orang yang bunuh diri. "Dan istri mu akan mati, apa perlu aku percepat saja kematian is–"


Bughhh.....


Tangan Sean yang sudah terkepal kuat langsung menonjok wajah tampan Dominic dengan sangat keras, hingga pria itu mundur beberapa langkah di belakang.


"JANGAN SENTUH ISTRIKU, BRENGSEK!" umpatnya.


Ting..


Baru akan membalas pukulan Sean, suara lampu operasi dimatikan membuat perhatiannya teralihkan pada pintu ruangan Beby.


Ceklek....


Seorang dokter keluar bersama dengan beberapa perawat di sampingnya.


"Bagaimana keadaan dia, dok ?" tanya Sean cepat, ia langsung berjalan kearah dokter itu dengan raut wajah yang kembali cemas.


"Ucapakan terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk Tuhan. Karena dia masih mengijinkan janin nona itu tumbuh dan berkembang. Tapi sangat di sayangkan kandungnya melemah, jadi butuh bed rest selama beberapa hari. Tidak ada yang di cemaskan, semuanya baik-baik saja karena nona Beby cepat di bawa ke rumah sakit," jelas sang dokter membuat Sean bernafas lega.


Pria itu memberikan senyum tipis kearah sang dokter. "Syukurlah, kapan dia bisa pulang ?"


"Setelah sadar dan infus habis dia bisa langsung pulang, tuan Sean." Dokter itu membalas senyuman Sean. "Kalo begitu saya permisi kembali ke ruangan saya, jika terjadi sesuatu silahkan pencet tanda darurat di samping ranjang. Terima kasih," pamitnya lalu pergi dari sana.


Sementara Sean sudah masuk ke ruangan Beby, Dominic malah berdiri mematung di depan pintu UGD.


"Janin ? Kandungan? Beby hamil ?" tanyanya bingung.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2