MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 25 - TERNYATA DIA DI JUAL


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM , AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Makan malam pada hari ini terlihat begitu canggung daripada malam-malam sebelumnya. Beby tak banyak bicara malam ini, ia hanya sesekali membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Leon.


"Leon mau nambah lagi gak nasinya ?" tanya Beby saat melihat makanan dalam piring pria kecil itu sudah habis tak tersisa.


Leon menganggukkan kepalanya antusias, "mauu lagiii! masakan kan Beby enaaaak bangett!" ia memberikan Beby dua kecilnya.


Beby mengelus kepala Leon sayang, lalu menaruh nasi dan beberapa lauk untuk piring Leon.


Setelahnya ia melirik takut-takut kearah Sean, dilihatnya piring sang tuannya itu kosong. "Tuan juga ingin nam–"


"Aku selesai!" ucap Sean sembari mengelap bibirnya dengan dengan tisu dan sama sekali tak memperdulikan ucapan Beby.


Laki-laki itu berdiri dari duduk dan tak lupa menghabiskan air putih dalam gelasnya. "Setelah selesai, masuk ke kamar saya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan!" tanpa menunggu jawaban Beby, Sean langsung meninggalkan ruang makan untuk menuju kamarnya.


Sementara di sana Beby sudah sangat lesu, pikirannya berkecamuk. Sudah pasti hal penting yang akan dikatakan Sean pasti tentang janin yang ada di dalam perutnya.


"Tidak, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah membunuh dia!" batin Beby dengan sangat yakin, namun beberapa detik kemudian ia kembali dibuat bimbang. Jika Sean memberikan pilihan antar memberikan kesempatan janinnya ini agar tetap hidup meskipun diusir Sean dan itu artinya jauh dari Leon dan menelantarkan anak itu kembali atau pilihan yang kedua adalah melenyapkan janin dalam perutnya dan hidup bersama dengan Leon selamanya.


Beby mengigit bibir bawahnya bingung, apa yang harus dia pilih ? Janin miliknya atau bocah menyedihkan si Leon ?


"Tentu aku harus memilih janinku sendiri!" gumamnya kecil tanpa sadar.


"Apa kak ? Kak Beby berbicara dengan Leon ? tanya bocah itu saat mendengar suara Beby.


Beby terperangah, lalu menggeleng. "Ah tidak, kakak berbicara sendiri." ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sudah ayo habiskan makananmu, setelah ini kak Beby bacakan dongeng!"


Leon menganggukkan kepalanya antusias, dan kembali memakan makanannya dengan lahap.


...o0o...


"Karena badan dari pangeran itu sangat gendut, jadi dia tidak bisa berlari dan akhirnya dia terjatuh dan kakinya diinjak oleh dinosaurus raksasa .....selesai...."


Beby kembali menutup buku cerita yang ia pegang dan menaruhnya perlahan diatas nakas saat merasakan tidak ada pergerakan lagi dari Leon yang artinya anak itu sudah tertidur.

__ADS_1


Dan benar saja saat Beby melihat kearah wajah Leon, kedua matanya sudah tertutup dengan kedua tangan yang memeluk pinggang Beby.


Perlahan Beby berusaha melepaskan pelukan pada tubuhnya, namun Leon bergerak dengan tak nyaman dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Beby.


"Kak Beby jangan tinggalin Leon...." gumamnya samar dengan mata yang masih tertutup.


Deg....


Tubuh Beby menegang mendengar ucapan Leon, "maafkan kakak ya sayang," bisiknya lembut seraya melepaskan pelukannya Leon dari tubuhnya.


Ia bangkit dari posisi tidurnya, dan tak lupa merapikan sedikit penampilannya untuk datang ke kamar Sean.


Beby menggunakan pakaian tidur tipis dengan tali spaghetti dan rambut yang ia cepol keatas hingga memperlihatkan kulit leher jenjang miliknya.


Tok...tok...tok....


"Tuan Sean, ini Beby...." ucapnya setengah berteriak.


Tok....tok....tok....


"Masuk!"


Tak menunggu lagi, Beby segera masuk ke kamar Sean. Ia meneliti di setiap penjuru kamar untuk mencari keberadaan Sean.


Beby menelan salivanya susah payah, sial! Sean terlihat sangat perkasa.


Ia menghela nafas beberapa kali sebelum mendatangi Sean yang berada di balkon. Jantungnya berdebar tak karuan, ia sudah berada di balkon dan saat ini berdiri di belakang tubuh Sean.


Diposisinya saat ini ia bisa melihat dengan jelas tato naga yang diberi warna merah itu sungguh sangat indah dan sangat luar biasa besarnya.


"Kemari!" titah Sean saat merasakan ada seseorang yang berdiri dibelakangnya.


Beby menurut, ia duduk di bangku yang berada di sebrang Sean. "Apa ada tuan memanggil Beby kemari?" tanyanya langsung.


"Bagaimana sudah kau gugurkan anakmu itu ?" tanyanya, Sean mengisap nikotin yang sejak tadi ia nikmati, dan menghembuskan asapnya sembari memejamkan matanya menikmati.


Tangan Beby mengusap perutnya yang rata, lalu tersenyum tipis menghadap kearah Sean. "Maafkan Beby tuan, tapi Beby tidak akan pernah mengugurkan janin ini. Silahkan saja jika tuan ingin memecat Beby."


Sean tertawa kecil mendengar jawaban Beby, bibir hitamnya kembali menyesap nikotin miliknya yang sudah hampir habis. "Memecatmu ? Memang kapan aku pernah memperkerjakan mu ?" tanya Sean.


Mata Beby berkedip bingung dengan ucapan Sean. "Kan memang Beby bekerja di sini sebagai pengasuh tuan muda Leon, dan mengurus kebutuhan tuan Sean di rumah."


Sean kembali tertawa, tapi kali ini bukan tawa yang enak didengar, tapi tawa mencemooh yang terdengar begitu meremehkan Beby.

__ADS_1


"Sepertinya kau salah paham akan sesuatu Beby, dan biarkan aku memperjelas sesuatu itu kepadamu!"


Beby diam dengan dahi yang berkerut bingung dengan maksud Sean. Ia menunggu Sean melanjutkan kalimatnya.


"Yang pertama, kau tidak bekerja di sini, dan itu berarti aku tidak bisa memecatmu. Karena kau tidak bekerja. Dan yang kedua kau sudah dijual oleh ayahmu sendiri dengan harga yang sama dengan hutang yang dimiliki ayahmu dengan perusahaan ku. Jadi kau akan di sini selamanya. Tidak boleh menikah dan tidak boleh keluar dari rumah ini. Selamanya harus mengabdi dan setia kepadaku dan juga Leon!"


Mulutnya Beby terbuka lebar mendengar penuturan Sean. Hawa dingin yang setia menyapa kulitnya sama sekali tidak membuat rasa terkejutnya berkurang.


"Di–dijual ? Maksud tu–tuan ?"


"Kau tidak tuli Beby, aku sudah membelimu seharga hutang ayah mu. Aku mau kau di sini selamanya!"


Sean berdiri dari duduknya dan kembali masuk ke kamar. Ia membuka laci nakasnya dan mengambil sebuah botol obat kecil seukuran setengah jempolnya, berwarna hitam dan terdapat berlian di atas tutupnya.


Setelahnya ia kembali berjalan menuju balkon dan memberikan botol obat itu kepada Beby.


"Minumlah, itu obat ab0rs1 yang tidak akan menyakiti mu. Besok pagi, janinmu itu akan keluar sendiri."


Ia menyerahkan obat itu dan di terima oleh Beby. Mata Beby yang berkaca-kaca menatap Sean dan botol itu secara bergantian.


"Saya mohon tuan, biarkan janin ini tetao hidup. Saya berjanji tidak akan meminta biaya hidup dia kepada tuan. Saya juga tidak akan bilang jika anda adalah ayahnya. Saya juga akan setia kepada anda dan tuan muda Leon, saya akan lebih menyayangi Leon daripada anak saya sendiri. Dan yang terakhir saya tidak akan mengatakan kepada istri anda jika saya sedan hamil anak tuan, saya berjanji ....."


Sean menatap Beby yang berlinang air mata, dan dibalas oleh Beby. Mereka berdua saling bertatapan dengan isi pikiran yang berbeda.


...o0o ...


Ini bukan konflik utama yaa 🥰


Oh ya, karena Beby masih sakit jadi updatenya rada-rada ngaret.


Tapi setelah sembuh, Beby bakal crazy up 🤩😘


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2