
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Akibat tendangan dengkul Beby kepada bagian intim Sean tak berlangsung lama. Kini pria itu sudah melupakan kasar Beby, beberapa jam yang lalu.
Tadi setelah Beby pergi dari ruang inap Leon, Sean tidak mencoba mengejar Beby. Ia memberikan wanita itu pergi karena...ya! Dia sudah tahu alamat tinggal Beby.
Jika ia rindu ia bisa kapan saja untuk menjumpai wanita itu. Atau dengan alasan Leon ingin bertemu, pasti Beby akan langsung mau ikut bersamanya.
Sean tersenyum lebar, ia saat ini sudah pulang bekerja dan sedang perjalanan menuju rumah sakit dimana Leon di rawat.
Tiga puluh menit berkendara, akhirnya mobil Sean sudah terparkir cantik di depan pintu masuk rumah sakit itu.
Dengan wajah yang berseri-seri, ia berjalan memasuki rumah sakit dan tak lupa menyapa semua orang yang berpapasan dengannya.
Ceklek....
Hingga ia sampai di ruang rawat Leon dan membuka pintu itu secara perlahan, dilihatnya sang anak yang tengah membaca sebuah novel diatas ranjang.
Senyum Sean semakin melebar, ia berjalan memasuki kamar anaknya setelah menutup pintu. "Baca apa sih anak Daddy ?" tanya Sean seraya menaruh makanan diatas meja.
Leon mengalihkan pandangannya dari novel kewajah sang anak, lalu tersenyum melihat kedatangan sang ayah.
"DADDY DATENG!! YEAY!!!" pekiknya girang, ia membuka tangannya lebar-lebar untuk mengisyarakatkan agar Sean segera memberi pelukan.
Sean tertawa kecil lalu segera memeluk sang anak erat, tak lupa ia memberikan kecupan pada puncak kepala sang anak.
"Senang ya, Daddy dateng ?"
Kepala Leon mengangguk lucu, ia menatap Sean berbinar. "Senang dong, Leon baru bangun tidur udah ada Daddy."
"Leon tidurnya kelamaan! Tadi ada Mami Beby datang ke sini tapi Leon masih tidur," ucap Sean berpura-pura sedih, ia berjalan untuk duduk di sofa dan membuka makanan yang sudah ia bawa.
Mata Leon membulat mendengarnya, ia menatap Sean dengan intens. "KAK BEBY ? KAK BENY KESINI ? KENAPA KOK LEON GAK DIBANGUNIN DAD!" serunya kesal.
Sean lagi-lagi dibuat tertawa dengan keantusian anaknya. "Kamunya tidur, gak bisa bangun karena sudah dikasih obat sama suster tadi."
"Mami Beby tambah cantik loh tadi...." goda Sean yang membuat anaknya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Daddy!! Ih!!!!"
"Udah-udah, ayo sekarang makan dulu. Besok Daddy suruh Mami Beby ke sini!"
__ADS_1
Leon segera bangkit dari tidurnya dan segera berjalan terburu-buru pada Sean yang sudah memulai makan di sofa. "Janji ya Dad...."
Kepala Sean mengangguk, "semoga saja....." batinnya.
...o0o...
Beby mengusap wajahnya kasar yang masih basah karena air mata terus saja mengalir pada wajah cantiknya.
Sepeninggal Dominic beberapa menit yang lalu Beby terus saja menangis seraya mengingat kebaikan-kebaikan yang Dominic lakukan kepadanya dan juga keluarganya.
Ia beruntung, bahkan sangat beruntung karena memiliki Dominic yang selalu setia menemaninya. Dominic yang mau menerima semua aib yang ada dalam dirinya. Dominic mau menerima janin yang bukan miliknya dalam perut Beby, dan membesarkan janin itu hingga kini telah lahir dan tumbuh dengan sehat.
Ia beruntung, sangat beruntung bisa bertemu dengan Dominic yang mau membantu secara materi, perusahaan Ayahnya yang kritis saat Sean mencoba untuk menghancurkan bisnis sang ayah karena dendam terhadap dirinya.
"Buka matamu, Beby! Itu semua sudah cukup menjadi bukti bahwa Dominic benar-benar tulus sama kamu, kenapa kamu tetap ragu ?" gumamnya dengan bibir yang bergetar. "Dominic adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk melindungi Beby. Gunakan otakmu itu untuk berfikir!" sambungnya lagi.
Dengan badan yang bergetar, ia berjalan memasuki kamarnya, lalu menutup pintu itu kembali secara perlahan, tak ingin membangunkan sang anak yang sudah terlelap.
Ia membaringkan tubuhnya disamping tubuh sang anak. Dikecupnya seluruh wajah cantik Lily dengan penuh sayang.
"Harusnya kini beruntung ya sayang, sudah ada Papi Dominic yang selalu menjaga kita. Berkat Papi Dominic akhirnya Mami bisa kembali kuliah dan punya pekerjaan. Berkat Papi Dominic, perusahaan Opanya Lily gak jadi gulung tikar. Dan berkat Papi Dominic, Lily jadi bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, meskipun Papi Dominic bukan Ayah kandung Lily..." Dengan tangisan yang berderai Beby mengatakan itu.
Tangan Beby terangkat untuk mengelus kepala sang anak dengan sayang. "Selama ini Mami selalu egois, Mami gak pernah mikirin perasaan Papi. Dan sekarang Papi marah besar sama Mami...."
"Mami harus apa, nak ? Mami takut ditinggal sama Papi," sambungnya lagi lirih.
Sementara tangannya bergerak bebas mengambil ponsel yang berada diatas nakas. Mata Beby kembali terbuka, dilihatnya ponsel yang tidak ada satupun notifikasi dari Dominic.
Ia memencet tombol panggil pada nomor telfon Dominic. Suara dering sambung telfon beberapa kali, lalu kembali terdengar suara operator.
Beby tak putus asa, ia terus menelfon berharap Dominic mengangkat telfonnya. "Maafin aku, Nic...." lirihnya lagi.
Beberapa kali mencoba menelfon telfon Dominic tapi pria itu sama sekali tidak mengangkat telfonnya. "Mungkin dia masih menyetir, pasti....pasti...besok dia akan menelfonku kembali....hiks...." bisiknya yakin dengan setetes air mata yang mengalir pada sudut matanya.
Ia menaruh ponselnya kembali diatas nakas, dan mencoba memejamkan matanya. "Besok pasti Dominic akan memberi kabar...." gumamnya lagi pelan sebelum benar-benar pergi kealam mimpi.
...o0o...
Sementara Dominic saat ini telah berjalan keluar dari gedung apartemen Beby menuju mobil sportnya yang terparkir disamping mobil Beby yang ia belikan.
Ia segera memasuki mobilnya dan membanting pintu mobil itu dengan sangat keras hingga beberapa orang diarea parkiran itu melihat kearahnya.
Brumm....brumm....
Dominic menggerakkan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju jalan raya. Ia melupakan seluruh emosinya pada mobil itu.
Ia menangis tanpa suara didalam mobil itu, ia benar-benar merasa dikhianati oleh Beby. Bukan masalah menemui Leon, atau Sean, tapi cara Beby yang tidak meminta izin padanya sebelum pergi itu yang membuat ia merasa tertipu.
Hal kecil memang, tapi sangat berarti bagi Dominic. Karena dasar hubungan adalah kepercayaan, dan Dominic selalu mempercayai Beby, tapi Beby ? Wanita itu selalu saja tidak terbuka pada Dominic. Itu artinya Beby tidak mempercayai Dominic kan ?
__ADS_1
"Aku kurang apa sih ? Semua hartaku bahkan rela aku kasih ke kamu, Beb. Kenapa satu cintamu pun tidak bisa kamu berikan kepadaku ?" gumamnya lirih.
Ia terus melajukan mobilnya tak tentu arah. "Apa pengabdianku hampir tujuh tahun ini sama sekali tidak kamu anggap ? Sekali bertemu Sean kamu langsung ingin kembali ? Kenapa kamu memeluk Sean, Beby ? Apa kamu tidak memperdulikan perasaanku ? Aku yang menemanimu saat kamu lemah, membiayai semua kehidupan kamu. Hingga memberi kasih sayang tulus padamu dan anakmu, sungguh tak berarti apa-apa bagimu ?"
"Perjuanganku hampir tujuh tahun ini sia-sia ?" ucapnya lirih, ia tersenyum getir dengan nasib hidupnya.
"Tuhan, kenapa kamu begitu kejam terhadap hidupku. Kau sudah ambil orang tuaku, kakek-nenekku, aku sudah yatim piatu sejak kecil. Apa tidak ada bela kasih kepadaku, Tuhan ? Tidak adakah cinta tulus untukku ?"
Kring...kring....
Kring...kring....
Ponsel di saku Dominic berbunyi, pria itu menepikan mobilnya dan merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang menelfonnya.
Satu-satunya Cintaku 💘
Nama itu, nama kontak yang Dominic berikan kepada nomor telfon Beby pada ponsel miliknya.
Kring...kring....
Kring....kring....
Lagi-lagi Beby menelfonnya, Dominic menaruh ponselnya yang berdering tepat di jantungnya. Pria itu menangis sembari memeluk ponsel miliknya yang masih menampilkan nama Beby di layar.
Satu-satunya Cintaku 💘
Nama itu ia berikan secara tulus kepada Beby, karena memang ia hanya Beby yang mampu mengambil semua rasa cinta yang ada dalam dirinya.
"Beby.... aku sungguh, sungguh sangat mencintai mu. Jangan pernah sekalipun ragukan rasa cintaku. Jangan tinggalkan aku, Beby. Aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini selain dirimu dan Lily...." gumamnya lirih.
Lima belas menit menangis, ponselnya pun sudah tak ada panggilan telfon lagi dari Beby. Ia membuka galeri dan mengecup foto Beby yang berjumlah ratusan di sana.
"Selamat malam, semoga mimpi indah...."
Dominic menaruh ponselnya di bangku yang berada di sampingnya dan melajukan kembali mobilnya menuju mansion untuk mengistirahatkan hati dan jiwanya.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1