
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Setelah tiga jam menunggu akhirnya hasil tes darah Leon keluar. Dengan segera setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit, Jacob segera menuju ruang laboratorium untuk mengambil hasilnya.
Sementara Sean saat ini tengah memakan makanannya di ruang rawat sang anak. Sejak tiga jam lalu disuntikkan obat penenang. Akhirnya Leon bisa beristirahat, remaja itu tertidur pulas tanpa ada rasa sakit yang terlihat di wajahnya.
Ceklek....
Sean menaruh kotak makanannya yang sudah kosong di meja dan langsung meminum habis air mineralnya. Bersamaan dengan Jacob yang sudah datang ke ruangan Leon.
"Tuan, ini hasilnya!" Jacob memberikan surat berlogo rumah sakit itu kepada Sean dan segera di terima oleh Sean.
Dengan senyum menyedihkan ia menatap kosong amplop surat itu. "Tanpa tahu hasil tes darah Leon, aku sudah tahu apa yang terjadi pada anakku, Jacob," beritahu Sean.
Pria itu berdiri dari duduknya dan segera berjalan menuju ranjang sang anak. Diciuminya perlahan semua wajah remaja 12 tahun itu dengan sayang.
"Anak Daddy kuat!"
"Anak Daddy pasti bisa melewati ini semua!"
"Anak Daddy gak lemah!" ucap Sean secara beruntun dengan suara yang bergetar hebat.
Mendengar suara bising, perlahan mata Leon terbuka. Dilihatnya wajah sang ayah yang terlihat begitu dekat dengannya.
"Daddy...." ucapnya lirih sembari mengucek matanya pelan.
Sean tersenyum, ia mengecup kening anaknya sebentar. Sebelum menjauhkan wajahnya dari sang anak.
"Gimana badan Leon masih sakit ?" tanya Sean perlahan dengan tangan yang mengelus kepala Leon sayang.
Kepala Leon menggeleng pelan, "udah gak sakit Dad, Leon sudah sembuh. Makasi ya obatnya, tapi kalo boleh jujur lebih enak obat dari aunty Vania." Mata Leon menatap wajah Ayahnya dengan intens. "Hmm, bolehkan Dad kalo Leon minta obatnya lagi sama aunty ?"
__ADS_1
Dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca Sean menggeleng pelan. "Sekarang aunty Vania udah gak ada di sini, dia sudah pergi jauh. Dan Daddy gak tahu obat apa yang dikasih sama aunty," jawabnya berbohong.
Mata Leon bergerak tak tentu, ia mengigit kuku-kuku jarinya dengan perasaan yang tidak tenang. Ia cemas, ia takut, tak bisa menikmati obat itu lagi.
"Ga–gak boleh Dad! Cari aunty Vania secepatnya! Leon bisa mati kalo gak ada obat itu, Dad! Tolong bantu Leon, Dad...."
Mata Sean terpejam melihat anaknya lagi-lagi terbawa pengaruh ob4t-ob4tan terlarang itu. "Gak bakal kenapa-napa, kan sudah ada dokter di sini. Mulai hari ini sampai seterusnya Leon bakal tinggal di sini, sama dokter sama suster yang baik-baik. Nanti Leon bisa punya teman baru yang banyak di sini," jawab Sean dengan setetes air mata yang membasahi wajah tampannya.
"Maksudnya ? Daddy mau tinggal Leon di sini? Kenapa Dad ? Leon salah apa ? Kenapa Leon di tinggal ? Daddy udah gak sayang sama Leon ?" tanya remaja itu beruntun.
Mendengar itu dengan cepat kepala Sean menggeleng. "Tidak sayang, Daddy malah sangat menyayangi mu. Gini loh nak, kan aunty Vania sudah tidak ada, jadi dia gak bisa kasih Leon obat lagi. Jadi Daddy taruh Leon di rumah sakit ini biar Leon badannya gak sakit-sakitan lagi kalo Leon pengen obat itu. Daddy bakal hilangin kecanduan Leon sama ob4t yang dikasih aunty Vania." jelas Sean dengan halus.
Mata Leon berkaca-kaca menatap sang ayah. "Kenapa Leon harus ditinggal Dad ? Nanti Leon sendirian, ah tidak! Selama ini Leon selalu sendirian. Dari kecil Leon tidak dipedulikan Daddy, Leon selalu disiksa sama pengasuh Leon dulu juga Daddy gak peduli. Baru-baru ini aja setelah ada kak Beby dan kepergian Mommy baru Daddy mau menerima kehadiran Leon. Tapi kenapa sekarang Leon ditinggal sendirian lagi untuk yang kesekian kalinya ?"
Segera Sean memeluk putranya dengan erat diatas ranjang dan menangis meraung-raung dengan keras. Pria itu sudah tidak memperdulikan lagi image nya di hadapan sang anak dan sang asisten.
Ia menyesali perbuatannya yang terdahulu yang selalu menganggap Leon anak sial, karena setelah melahirkan Leon, istrinya mengalami pendarahan hebat hingga menyebabkan koma.
"Sayang....hiks...hiks...maafkan Daddy ya. Maafkan Daddy, maaf....." bukan hanya Sean tapi Leon dan Jacob juga menangis sepertinya. "Tolong nak, maafkan semua kesalahan Daddy ya, kita mulai dari nol bersama. Hanya Kuta berdua, Leon dan Daddy..."
Leon membalas pelukan sang ayah dengan erat lalu mengangguk di sela-sela pelukan itu. "Iya, Dad. Leon maafkan Daddy karena Leon sangat sayang pada Daddy..."
Cup...
Cup...
Kepala Leon menganggukkan kepalanya singkat. "Baiklah, tapi Daddy janji bakal jenguk Leon setiap hari ?"
Secara cepat kepala Sean mengangguk. "Tentu, sayang. Sudah pasti Daddy akan datang untuk melihat Leon setiap hari..."
Tok...tok...tok....
Seorang suster jaga mengetuk singkat ruangan Leon, lalu masuk kedalam. "Mohon maaf, tapi waktu jaga pasien telah habis. Silahkan datang lagi besok, terima kasih!" ucapnya dengan senyum tipis lalu segera meninggalkan ruangan Leon.
Kepala Sean mengangguk mengerti, ia mengalihkan pandangannya ke arah sang anak lagi. "Daddy pulang ya nak, sebentar lagi ada orang yang bakal bawain kebutuhan Leon. Baju, hp, PlayStation, semua mainan kesukaan Leon akan dibawa ke sini. Supaya Leon gak kesepian, jangan sungkan untuk menghubungi Daddy jika butuh teman bercerita."
Leon menganggukkan kepalanya mengerti, kepalanya beralih menatap Jacob yang mengelus kepala pelan setelah bangkit dari duduknya dan berjalan kepadanya. "Leon kalo mau pulang cepat jangan berontak ya sayang. Turuti dokternya, jangan lupa buat bersosialisasi sama teman seusia Leon."
"Baiklah, uncle!" jawab Leon dengan senyum yang dihadiahi kecupan kening dari Jacob.
__ADS_1
Setelah berpamitan, akhirnya Sean dan Jacob berjalan untuk keluar dari kamar, namun baru beberapa langkah berjalan, Sean berhenti mematung setelah mendengar ucapan Leon.
"Oh ya Dad, tadi siang saat sebelum aku bertemu dengan Daddy di depan sekolah. Aku melihat kak Beby sedang makan di cafe. Dia terlihat sangat cantik sekarang, Dad. Jauh berbeda dengan yang dulu," beritahu Leon dengan senyum kecil.
Sean menelan salivanya susah payah, ia membalikkan badannya menatap Leon dan memberikan remaja itu senyuman paksa. "Benarkah? Baiklah nanti Daddy akan mencari kak Beby dan dia akan segera mengunjungi Leon di sini!" Leon bersorak senang mendengar ucapan Daddy. Remaja itu benar-benar merindukan Beby, andai saja ia tidak dipengaruhi obat tadi cafe, ia akan segera memeluk tubuh mantan pengasuhnya itu sangat erat.
"Ya sudah, Daddy pulang ya. Jaga dirimu..."
Ceklek...
Jacob membukakan pintu untuk Sean dan mereka segera keluar dari ruangan Leon. Namun bukannya berjalan pulang, Sean malah duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan sang anak.
Tangannya bergerak cepat untuk membuka amplop yang berada ditangannya. Ia membaca isi surat itu dengan tangannya yang terkepal kuat.
"Bagaimana hasilnya tuan ? Tuan muda Leon candu dengan jenis n4rk0tika jenis apa ?" tanya Jacob yang juga sangat penasaran.
Tangan Sean mengepal surat itu hingga menjadi bola kecil dan melemparkannya ke dalam tong sampah. "H3roin! Anakku positif H3roin!" beritahu Sean dengan suara yang serak.
Melihat kesedihannya tuannya, Jacob segera berjalan mendekat untuk mengelus dada bidang Sean. "Semua akan baik-baik saja, hanya 6 bulan rehabilitasi. Setelah itu Leon akan bersih..."
Kepala Sean mengangguk mengiyakan, "Beby, cari Beby! Dia ada di Italia, kau dengar sendiri dari mulut Leon bahwa ia telah melihat Beby dengan mata kepalanya sendiri," ucap Sean yang segera diangguki oleh Jacob. "Datangi rumah orang tuanya, jika Beby tidak ada di sana dia pasti bersembunyi di suatu tempat. Cari informasi, ambil handphone milik Ayahnya, mereka pasti sudah berkomunikasi!" pinta Sean yang lagi-lagi diangguki secara cepat oleh Jacob.
Sean berdiri dari duduknya dan berjalan untuk keluar dari area rumah sakit bersama Jacob yang setia disampingnya.
"Untuk Vania, kau berikan dia ob4t-ob4tan itu, jangan lupa ibunya juga kau berikan. Setelah mereka berdua kec4nduan, stop berikan ob4tnya. Mereka berdua harus merasakan sakit yang sama seperti yang Leon alami!"
"Baik tuan, sesuai perintah anda!"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA