MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 62 - APA YANG TERJADI


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Tuan, anda yakin tidak ingin makan siang ? Sejak tadi hanya sibuk dengan pekerjaan. Bahkan juga saat sarapan Anda belum memasukkan makanan dalam tubuh anda," ucap Jacob yang sekian kalinya dalam satu jam terakhir.


Sean tak bergeming, tangannya terus saja bergerak dengan lincah kearah keyboard komputernya sedangkan matanya menatap dengan intens sebuah dokumen di atas meja.


Dalam diam, Jacob menghela nafas panjang. Belakang ini Sean selalu saja mengabaikan kesehatannya. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Bukan hanya kesehatan, Sean juga sudah sama sekali tak memperhatikan penampilannya.


Rambut yang semakin gondrong, kumis nampak tubuh sedikit panjang dari biasanya. Dan berat badan Sean semakin menurun. Mungkin dimata kaum hawa Sean terlihat lebih tampan. Tapi pagi sang asisten ini adalah bencana, karena ini bukan sama sekali gaya Sean.


"Tuan, bagaimana ? Saya pesankan makan saja ya ? Biar kita sama-sama makan di kantor ?" tawar Jacob lagi untuk yang sekian kalinya.


Ekor mata Sean melirik sekilas pada sang asisten lalu kepalanya menggeleng pelan. "Aku tidak ingin makan. Alu harus cepat menyelesaikan ini semua lalu pulang. Aku ingin segera bertemu anakku."


Mau tak mau Jacob menganggukkan kepalanya, "baiklah, kalau begitu saya akan beristirahat di kantin. Saya permisi, tuan," pamitnya yang hanya diangguki sekilas oleh Sean.


Sean kembali melancarkan aksinya pada setumpuk pekerjaan di depan matanya setelah Jacob menutup pintu kerjanya kembali.


Walau pikirannya masih berada pada anaknya yang nampak berbeda akhir-akhir ini, tapi ia berusaha untuk tetap profesional pada pekerjaannya. Ia tidak ingin karena masalah pribadi, perusahaannya menjadi terganggu.


Tidak hanya sang anak yang menjadi beban pikiran Sean. Tapi proses pencaharian Beby yang tidak kunjung ditemukan juga membuatnya tertekan.


Ia sangat membutuhkan, Beby. Ingin rasanya Sean memeluk Beby erat dan menceritakan semua masalahnya pada wanita yang diam-diam telah mencuri hatinya.


Sebentar Sean menggelengkan kepalanya, mengusir rencananya yang ada di otaknya. "Bagaimana bisa memeluk Beby ? Jika sampai saat ini aku belum bisa menemukan wanita itu..." batin Sean tersenyum pedih. "Sebenarnya kamu pergi kemana ? Aku harap kamu masih hidup, bukan hanya kamu tapi anak kita. Tunggu aku sampai bisa menemukan mu..."


Sean kembali fokus pada setumpuk pekerjaan kembali, tak ingin berlarut memikirkan Beby. Tapi tak berselang lama, ponselnya yang berada di atas meja berdering nyaring.


Ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya, mendadak perasaannya menjadi tak enak saat melihat nama seseorang itu. "Supir Pribadi Leon"


Sean menghela nafas panjang, untuk mengurangi debaran pada jantungnya yang menggila sebelum mengangkat panggilan suara itu.

__ADS_1


"Ada apa ?"


"Tu–tuan, tuan muda masih belum keluar dari sekolah. Padahal semua murid sudah berbondong-bondong keluar sejak setengah jam yang lalu...."


Genggaman telfon Sean semakin erat, ia menelan salivanya beberapa kali. "Cari! Cari dia, masuk ke sekolahnya! Aku akan langsung kesana sekarang!"


Tut...


Sean menutup panggilan telfon itu secara sepihak, ia bangkit dari duduknya dan segera berlari menuju lift.


"Leon, jangan buat Daddy takut kehilangan seseorang lagi..." gumamnya dengan rasa takut yang menguasai dirinya.


...o0o...


"Le–Leon ?"


"Kak Be–Beby ?"


Seorang wanita dan remaja laki-laki itu saling tatap dengan ekspresi terkejut. Tapi tatapan mereka harus berhenti karena Leon segera mengalihkan pandangannya kearah lain dan langsung berdiri dari posisinya.


Perlahan Beby ikut berdiri dan memandang takjub remaja yang dulu ia asuh itu. Leon benar-benar duplikat Sean. Semakin bertambah usianya maka semakin bertambah pula kemiripan mereka.


Dominic di sana menatap heran wanitanya yang tiba-tiba menangis memeluk remaja SMP yang nampak berantakan. "Papiii, aak lagii!!" suara bocah wanita cempreng di sampingnya membuyarkan lamunan Dominic, ia langsung mengalihkan lagi perhatiannya pada calon anak angkatnya itu dan menyuapi lagi makanan pada mulut Lily yang terbuka lebar.


Sementara Beby sudah memeluk dengan erat Leon, ia menangis dalam pelukan remaja yang sudah lebih tinggi darinya itu.


"Setiap hari gak ada kak Beby gak mikirin Leon. Kak Beby selalu mikir gimana nasib Leon sama Daddy. Maaf ya kalo kak Beby ninggalin Leon dulu, keadaan kak Beby benar-benar terancam dulu, nak..."


"Lepaskan pelukannya! Kasih sayang uang!" ujar Leon dengan kasar mendorong tubuh Beby yang memeluknya hingga wanita itu terjatuh di lantai dengan sangat keras.


Dugg....


Tubuh Beby terpental di lantai, dengan kepala menjadi bagian pertama yang terkena lantai.


Mata Dominic langsung membulat melihatnya, segera ia membantu kekasihnya itu untuk berdiri lagi dengan cepat.


"MAMII.....hiks....hiks...." tangis Lily pecah melihat ibunya terjadi setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika sang ibu telah didorong dengan kasar.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA WANITAKU, BRENGSEK!!" teriak Dominic setelah membalikkan badan menatap Leon yang tubuhnya kian semakin bergetar, bibir remaja itu berwarna keunguan.

__ADS_1


Tangan kanan Dominic terangkat untuk memberikan bogem mentah pada Leon, tapi dengan cepat Beby menahan lengan kanan Dominic.


"Nic!! sudahlah! Aku gak pa-pa, lagian mas kamu mau mukul anak SMP sih!" teriak Beby berusaha meredakan emosi pria dewasa itu.


"UANG!!! KASIH AKU UANG BEBY!!" teriak Leon lagi pada Beby. Remaja itu sama sekali tidak takut dengan Dominic yang menatapnya tajam dengan urat-urat leher yang menonjol.


Yang ada dipikirannya hanyalah ia harus segera mendapatkan uang untuk membeli obat itu.


Sementara Beby menatap Leon prihatin. "Astaga kamu belum makan ya, nak ? Makannya butuh uang, Daddy kamu gak kasih kamu uang pasti ya ?" tanya Beby sembari menduga kenapa Leon terus mendesaknya untuk memberikan remaja itu uang. Karena Beby sangat tahu dengan sikap Sean dulu yang acuh terhadap anak kandungnya sendiri.


"Kasian sekali kamu, sayang. Makanya kamu terlihat sangat kurus sekarang. Ayo sini makan bareng sama anak dan om Domi–"


"UANG! AKU CUMA BUTUH UANG TOL0L!!!"


Beby termenung dengan hinaan yang dikatakan oleh Leon, ia tak menyangka Leon yang sudah ia anggap menjadi anaknya malah mengatainya dengan kasar.


Sementara di tempat Dominic mengepalkan tangannya kuat, ia segera merogoh saku celana kerjanya dan mengeluarkan dompet tebalnya. Ia mengambil puluhan lembar uang berwarna merah dan didekatkannya uang itu pada wajah Leon.


"MAU UANG KAN ?? INI UANGG!!!" ucap Dominic sarkas dan setelahnya ia melemparkan uang itu ke depan muka Leon hingga berhamburan di lantai.


Dengan cepat, Dominic meraih tubuh anaknya yang menangis di kursi lalu ia gendong dan ia juga menarik tangan Beby secara kasar untuk keluar dari kafe itu. "Kita pulang!"


Dengan tangan yang ditarik oleh Dominic, mata Beby menengok ke belakang, ia terus memperhatikan Leon yang sedang mengumpulkan uang Dominic yang berhamburan di lantai.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Leon ?" gumamnya sebelum memasuki mobil Dominic.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2