MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 31 - MINUMLAH.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o ...


Jam kini menunjukkan sudah pukul sebelas malam, ya ini sudah tengah malam tapi sampai saat ini Beby masih sibuk berkelana dengan pikirannya sembari telfonan dengan sang ayah yang juga sama sepertinya. Sedang uring-uringan


Entah sudah berapa lama mereka bertelfonan tapi tidak berujung menemukan solusi dari masalah yang sedang mereka hadapi.


"Sungguh Beby, Ayah tidak melakukan kesalahan apapun kali ini."


"Jika Ayah tidak melakukan kesalahan, kenapa perusahaan kita terancam bangkrut ?"


Hening, Ayahnya belum menimpali ucapan Beby lagi. Ia juga bingung dengan perusahaan yang tiba-tiba mengalami penurunan saham yang gila-gilaan dan terancam bangkrut jika dalam 24 jam tidak mengalami kenaikan saham.


"Sumpah demi Tuhan Beby, Ayah sudah melakukan semua hal yang terbaik untuk perusahaan kita ini. Ini semua demi kamu, Ayah gak mau perjuangan kamu sia-sia jika perusahaan tidak ditangani dengan benar."


"Bahkan sampai kemarin saham perusahaan kita tetap naik. Tapi hari ini, lebih tepatnya tadi pagi harga saham kita anjlok Beby, banyak perusahaan memutus kontrak secara sepihak. Jika begini terus, mau tidak mau kita harus berhutang lagi..."


Beby menjatuhkan dirinya disofa yang berada di ruangan itu. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.


"Jangan berhutang lagi, Yah. Aku tidak mau kita kesusahan seperti dulu. Lagipula aku sudah menjadi tawanan di sini, jika sampai ayah berhutang dan tidak mampu membayar seperti kemarin siapa lagi yang akan menjadi tumbal?" tanya Beby dengan nada lelahnya, ia juga mendengar ayahnya disebrang telfon menghela nafas lelah.


"Ayah bingung, nak. Ayah takut mengecewakan ibu mu..."


"Memang berapa uang yang ayah butuhkan ?"


"40 juta euro, nak. Untuk membayar seluruh kerugian memutuskan kontrak itu."


****lima ratus milyar rupiah****


"AYAH ITU BANYAK SEKALI!!!" seru Beby tidak terima, ayahnya ini benar-benar sangat payah mengolah perusahaannya.


Disebrang telfon ayahnya yang menginap diperusahaan karena tak berani pulang dan harus menyelesaikan beberapa masalah yang tiba-tiba menghadang perusahaan juga tahu jika itu bukanlah nominal yang sedikit.


Tapi jika tidak meminta tolong pada Beby siapa lagi yang bisa membantunya ?


"Ya sudah, aku akan pinjam uang Sean."


"Ya Beby, tolong Ayah. Ayah janji ini terakhir kalinya. Pastikan Sean memberi uangnya..."


Tak menjawab lagi, Beby langsung mematikan sambungan telfon itu secara sepihak. Kepala serasa mau pecah karena masalah tak henti-hentinya menyerang kehidupannya.


Tak ingin berlarut memikirkan masalah, Beby segera bangkit dari duduknya untuk menuju tempat Sean.

__ADS_1


Meskipun dalam hati yang paling dalam ia sungguh sangat malas untuk melihat lagi wajah pria itu, apalagi ia bukan sekedar melihat wajahnya, tapi juga harus memohon dan meminta bela kasih dari pria itu.


"Ck, malas!" decaknya sebal, ia menaiki tangga menuju lantai 4 tempat ruang kerja Sean yang berdampingan dengan ruangan GYM.


Saat sudah berada didepan pintu ruang kerja milik Sean, tiba-tiba saja Beby merasakan mual yang teramat sangat.


Ia mengelus perutnya yang masih rata itu sembari meringis ngilu. "Yaampun nak, kamu juga malas banget ya liat muka bapakmu ?" monolognya dengan sang janin.


Ceklek...


Tak ingin berlarut, Beby segera membuka pintu itu untuk menemui Sean yang sedang sibuk didalam.



Hanya dengan menggunakan dres tidur satin favoritnya, ia mengendap memasuki ruang kerja Sean.


"Tuan Sean," panggilnya dengan nada rendah.


Sementara Sean yang sedari tadi berkutat dengan laptopnya, langsung mendongak melihat siapa yang memanggil namanya.


Senyum miringnya tercetak dengan jelas saat mengetahui sang target sudah berada di lokasi penyerangan.


"Tuan Sean," panggil Beby lagi seraya berjalan mendekat kearah Sean dan duduk tepat di hadapan Sean.


Pria itu berusaha nama senyumnya dengan mengigit pipi dalamnya, mengangkat sebelas aslinya menatap Beby tajam. "Apa ?"


Beby mengalihkan pandangannya kearah lain, dalam hati ia mengumpati Sean. "Bule gila pendendam!"


"Ekhem," ia berdehem untuk mengurangi kegugupannya, tangan Beby setia bergerak tak nyaman di bawah meja. "Bantulah aku, tuan. Perusahaan ayah ku sedang berada di masa krisis, jika tuan berkenan saya ingin meminta bantuan berupa uang...." cicitnya pelan.


"HAHAHAHA....." Sean tertawa keras mendengar ucapan Beby, padahal dari raut wajah hingga intonasi nada bicara yang saat ini Beby ucapkan sudah sangat memelas.


Ia mengusap sudut matanya yang berair, lalu menatap Beby dengan pandangan meremehkan. "Baru saja tadi pagi kau membentak ku, mengatahiku brengsek. Sekarang kau ingin meminta bantuan dariku ?"


Beby mendudukkan kepalanya, jika mau juga pasti Beby tidak akan meminta bantuan dari pria arogan sepertinya.


"Wow...." Sean bertepuk tangan melihat keterdiaman Beby. "Tadi pagi membentak seperti anjing, sekarang kau sangat diam seperti orang tuli," Sean menggelengkan kepalanya heran yang dibuat-buat.


"Baiklah-baiklah, aku akan membantu perusahaan yang hampir bangkrut itu. Pasti ayahmu saat ini kebingungan mencari dana untuk menutup semua kontrak kerja yang terputus tiba-tiba. Katakan berapa uang yang kau butuh–"


"Kenapa tuan Sean bisa tahu jika perusahaan ayah saya sedang kesulitan dana untuk membayar uang kerugian akibat pemutusan kontrak?" tanya Beby mencela ucapan Sean.


Sean diam, ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Sial, mulut ini kenapa selalu berbicara di luar batas!


"Tak perlu kau tahu aku dapat darimana informasi itu, jika kau memang tidak memerlukan bantuan ku, silahkan pergi saja dari ruang kerjaku! Aku sedang sibuk!"


Sean kembali memfokuskan dirinya pada layar komputernya hingga membuat Beby geram.


"Saya butuh bantuan anda, tuan. 40 juta euro, bisa saya pinjam segitu ?"

__ADS_1


Pria itu menyadarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya dengan tangannya yang dilipat di depan dada menatap Beby. "Hanya segitu ? Akan ku berikan. Tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan terlebih dahulu."


Alis Beby terangkat sebelah, menunggu Sean melanjutkan kalimatnya. "Apa tuan ?"


"Minum itu! mata Sean menatap segelas air putih yang berada di samping gelas kopinya.


Beby menghembusnya nafas panjang menatap Sean dan gelas itu bergantian. "Baiklah," putusnya.


Beby segera meminum air putih yang terasa sangat pahit itu dengan sekali tegukan, Sean tersenyum puas melihatnya.


"Good girl," puji Sean sinis.


"Sudah kan tuan ? Bisa anda mengirim uang itu ke rekening ayah saya saat ini juga ?"


Sean menganggukkan kepalanya singkat, lalu membuka ponselnya untuk menghubungi sang tangan kanan agar bisa mengirimkan uang pada ayah Beby.


Selama Sean melakukan panggilan telfon dengan asistennya, suhu tubuh Beby tiba-tiba naik drastis. Badannya terasa panas bukan main, padahal saat ini ia sudah menggunakan pakaian yang kurang bahan.


"Shh... panas...." ringisnya sembari menggosok-gosokkan badannya dengan tangan.


Sean yang sedari tadi memperhatikan Beby tersenyum miring, ia mematikan telfon dan menaruh kembali ponselnya. "Aku sudah transfer uangnya, kau boleh pergi!" usir Sean, ia melanjutkan kembali pekerjaannya.


Namun Beby tak beranjak dari posisinya, matanya sudah memerah menahan tangis. "Tu–tuan Sean....shh....."


"Apa lagi ?"


"To–tolong sentuh saya tuan, shh....."


"Ha ? Sentuh yang seperti apa Beby ?" tanyanya pura-pura tak mengerti.


"Tolong....hiks....hiks....tiduri Beby, Beby mau itu....hiks...hiks..." tanpa menunggu jawaban Sean, Beby sudah berdiri dari duduknya dan duduk di pangkuan Sean.


Mereka saling mengecap satu sama lain dengan Beby yang memimpin permainan ganas dan kasar itu.


"Sekali menjadi j4l4ng maka selamanya akan menjadi j4l4ng," bisik Sean di daun telinga Beby.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2