
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Beby merapikan barang bawaan yang berada di kamar ruang inapnya, selagi menunggu Sean yang masih harus mengurusi administrasi tagihan biaya rumah sakit ini.
Wajah wanita itu nampak tak bersemangat, bukan karena tak ingin pulang ke mansion Sean. Tapi ia terus mengingat ucapan Dominic yang entah mengapa terus berputar di otaknya.
"Menikah dengannya? yanga benar saja!" gumamnya sembari memasukan buah-buahan yang berada di atas nakas ke paper bag. "Tidak mungkin dia mau menerima wanita yang tengah hamil sepertiku. Dia kaya dia sangat mapan, pasti seleranya artis, model, atau bintang sinetron terkenal," sambungnya mengusir pikiran mustahil yang bersemayam di otaknya.
Meskipun dari lubuk hati yang paling dalam, ia ingin menerima tawaran itu dan pergi secepatnya dari kehidupan Sean. Tapi jika dipikir secara logika, tidak mungkin Dominic benar-benar akan menikahinya.
Mungkin Dominic berkata begitu hanya sekedar memancing amarah Sean. Secara mereka berdua sama-sama pengusaha dan pasti mereka bersaing dan saling menjatuhkan.
Beby menganggukkan kepalanya cepat dan duduk di kursi dekat ranjang rumah sakit. "Benar-benar, pasti niat Dominic begitu! Dia mendekati ku hanya untuk memancing emosi Sean!" sungutnya.
Lalu keadaan ruang inap itu hening seketika, Beby memikirkan kembali ucapannya, "sebentar...." celanya. "Memang kenapa Sean harus di pancing emosinya hanya karena aku ? Memang aku siapa ? Dia juga tidak mencintaiku, Sean kan hanya mencintai istrinya seorang!" sangkalnya.
Benarkan Sean tidak mencintai Beby, atau selama ini Sean hanya menampik perasaannya sendiri ?
Ceklek....
Suara pintu di buka membuyarkan lamunan Beby, ia segera mengalihkan pandangannya kearah pintu. Ia melihat Sean datang dengan wajah dinginnya.
"Ayo pulang!" titahnya dan Beby segera mengikuti langkah Sean untuk keluar dari rumah sakit.
Saat akan berjalan ke pintu utama rumah sakit, mereka berpapasan dengan Dominic yang hari ini juga keluar dari rumah sakit dengan beberapa anak buahnya yang juga sama diperban sepertinya.
Beby tersenyum kikuk membalas senyum Sean, sementara Sean mengepalkan tangannya menatap Dominic tajam.
"Kenapa pulang sekarang ? Memang keadaan mu sudah membaik ?" tanyanya, ia berjalan mendekati Beby dan mengelus lembut kepala wanita hamil itu.
Dengan cepat Beby mengangguk, dan berjalan kedepan sedikit untuk menyudahi elusan di kepalanya. "Ah iya tuan, saya sudah lebih baik. Dokter sendiri kok yang memperbolehkan Beby pulang."
Dominic memberengut tak suka, "meski begitu harusnya kamu tidak perlu pulang hari ini juga. Ingat kamu di suruh bedrest," peringat Dominic. "Jika memang Sean tidak mampu membayar tagihan rumah sakit, biar itu diserahkan padaku saja."
Diliriknya Sean yang semakin kesal, Beby menggaruk kepala yang tak gatal. Jika didiamkan begini terus Sean sudah pasti akan mengamuk di rumah sakit ini.
"Ah tidak perlu, tuan Domi–"
"Aku tidak miskin pria brengsek! Aku dan kau jauh lebih kaya aku!" sombong Sean yang membuat Dominic tertawa kecil.
__ADS_1
"Begitukah ? Bagaimana kalo kita adu!" tantang Dominic.
Sean menganggukkan kepalanya setuju dan langsung mengeluarkan isi dompetnya. "Tiga buah blackcard dan 5 gold card!" sombongnya.
Didepannya Dominic juga ikut mengeluarkan dompet. "Dua buah Blackcard dan 7 buah gold card. Bukan hanya itu aku juga memiliki sejumlah unit apartemen, rumah dan satu mansion. Dan kau tahu sendiri apa pekerjaan ku, Mr. Alejandro!"
Tangan Sean terkepal, kenapa bisa Dominic memiliki 7 buah gold card sedangkan dirinya hanya memiliki 5 ?!?!
"Kalau apartemen, rumah dan mansion aku juga punya brengsek! Lihat saja, aku akan mengirimkan fotocopy surat tanahnya kepadamu!"
"Ya, aku juga akan mengirimkan itu ke ruamhmu malam ini juga. Lihat saja!" balas Dominic cepat.
Mereka terus beradu mulut, hingga membuat pasang mata menatap mereka. Beby menundukkan kepalanya malu. "Sial, kedua orang kaya ini kenapa adu harta di sini sih!" batinnya kesal.
Tak henti-hentinya mereka memamerkan kekayaannya, hingga saat ini Sean menunjuk isi saldo rekeningnya melalu M-banking kepada Dominic dan tak mau kalah juga, Dominic juga mengeluarkan ponselnya.
Beby memutar otaknya, ia harus segera menghentikan kegilaan dua pria kaya dihadapannya itu, atau akan semakin banyak orang yang menonton juga memvideokan mereka.
"Ah, aduh...." ringis Beby yang sontak mengentikan perdebatan mereka. "Kepala ku sakit!" sambungnya sembari memegang kepalanya dengan sebelah tangan.
Mata Dominic dan juga Sean langsung melebar menatap Beby cemas. "Kamu tidak pa-pa?" tanyanya bersamaan.
Beby menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan itu. "Kepala Beby sedikit berdenyut, tuan."
"Ini gara-gara mu yang mengajakku berbicara terus! Hingga menghambat perjalanan ku kembali ke mansion!" kesal Sean pada Dominic.
Tashhhh....
Sean langsung menepis tangan Dominic yang menyentuh Beby, tanpa aba-aba ia langsung menggendong wanita hamil itu cepat. "Sudah kubilang berapa kali, jangan menyentuh milikku!" tegasnya. "Ini terakhir kalinya kau bertemu dengan Beby, tidak ada kali kedua, ketiga, atau keempat!" sambungnya, lalu ia segera berlalu meninggalkan Dominic dan beberapa anak buahnya, dan berjalan memasuki mobilnya.
"Aku akan menghubungi mu nanti, Beby! Jangan lupa balas pesanku!" teriak Dominic sebelum mobil itu berlalu pergi.
"Sial! secepatnya aku harus segera mendapatkan Beby!!" tekadnya.
...o0o...
Dengan perlahan Sean menjatuhkan tubuh Beby di kursi ruang makan. Saat tiba di rumah tadi, jam sudah menunjukkan waktu makan malam. Jadi Sean langsung menuju ke mari tanda berganti pakaian terlebih dahulu.
Semua mata langsung menuju kearah Sean, termasuk Vania–adik Clara dan juga Leon yang menatap keduanya dengan pandangan yang berbeda. Vania menatap keduanya penuh kesal, sedangkan Leon menatap mereka bingung
Setelah menaruh Beby di samping Leon, barulah ia mendudukkan tubuhnya di kursinya.
"Kita mulai makan malamnya!" titah Sean sembari membuka piringnya.
Melihat itu Vania langsung mengambil piring Sean dan di isinya piring itu dengan nasi. "Segini cukup ?" tanyanya yang diangguki oleh Sean. "Lauknya mau apa ?"
"Udang dan ayam."
__ADS_1
Setelah selesai, barulah Beby yang mengambil nasi untuknya dan juga Leon. "Hari ini Leon mau lauk apa ? ayam sama kangkung kak!" serunya dengan semangat.
Beby tersenyum kecil, lalu mengambil lauk untuk Leon. "Tadi kak Beby kemana ? Kok seharian gak di rumah sih! Kenapa Leon gak diajak ?" tanya bocah itu sembari mengerutkan bibirnya kesal.
"Iya! Kalian itu sebenarnya dari mana sih!" gerutu Vania yang nampak juga kesal.
Baru saja Beby akan membuka mulut, menjawab pertanyaan kedua manusia itu. Sean langsung menyerobot ucapannya. "Tadi kak Beby habis dari rumah sakit, kakinya berdarah," jelasnya pada Leon yang diangguki oleh Leon.
"Mulai besok sampai beberapa Minggu, kak Beby gak bisa antar jemput Leon di sekolah. Karena sama dokter gak boleh keluar dari rumah sering-sering."
Mendengar itu, senyum Leon menghilang seketika, ia menatap Beby dengan raut wajah sedih. "Benar, kak Beby ?"
Dengan sedih, Beby menganggukkan kepalanya. "Maaf ya sayang, tadi kak Beby disuruh istirahat yang banyak sama dokter. Jadi sampai kak Beby sembuh, kek Beby gak bisa antar jemput Leon...." ia mengelus kepala Leon dengan pelan, berharap bocah itu bisa mengerti keadaannya.
"Te–terus Leon sama siapa dong ke sekolah ?" tanyanya dengan wajah sedih.
"Sama aunty Vania!!!" jawab Vania cepat, ia menatap berbinar kearah Leon. "Biar aunty aja yang antar dan nungguin Leon di sekolah, boleh kah Kak Sean ?" tanya wanita itu dengan nada super lembut kepada Sean.
Sembari menghela nafas panjang, Sean menganggukkan kepalanya. "Terserah saja."
Vania bersorak senang dalam hati, "jika begini kan Leon dan dirinya bisa lebih dekat. Jadi jika Leon tidak akan susah memanggil ku Mama..." batinnya.
Lalu ia menatap kearah Beby, "terus dia kerja apa dong ? Masa cuma tidur-tiduran di mansion Kak Sean ? Dia kan di bayar!" tanya Vania menatap Beby kesal.
Sean membenarkan ucapan Vania, masa Beby tidak melakukan pekerjaan apapun di rumah ? ya meskipun wanita itu mengandung anaknya, tapi Beby kan hanya seorang pengasuh.
"Bagaimana jika mulai sekarang Beby yang merawat kak Clara ? Jadi tugas Leon serahkan saja padaku!" tawar Vania.
Pria itu berfikir sebentar lalu menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Vania. "Mulai besok, Clara kamu yang pegang!" titah Sean sembari melanjutkan acara makannya.
Sementara Beby terdiam, entah mengapa perasaannya mengatakan ini bukanlah hal yang baik. Menjadi pengasuh istri Sean ? Kenapa perasaanku jadi tak enak begini ? ah! semoga tidak akan ada hal buruk yang terjadi...
Ya, semoga saja....
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1