MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 78 - SIASAT TERAKHIR SEAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Dengan kaki yang terpincang-pincang, Sean berjalan memasuki lift untuk sampai kelantai dasar.


Penampilannya saat ini sungguh sangat kacau, kemeja yang sudah kehilangan beberapa kancing, lalu celana yang robek dan jangan lupakan wajah Sean yang terdapat beberapa luka lebam dan juga sudut bibirnya yang sobek.


Ting...


Lift sudah membawanya ke lantai dasar, buru-buru ia keluar dan menundukkan kepalanya untuk menghindari orang-orang yang menatapnya heran.


Ia tak mau ada seseorang yang mengenalinya, bisa-bisa reputasinya akan hancur seketika.


Ia berjalan memasuki mobilnya yang masih terdapat sang sekretaris. Sean mengetuk pintu kaca mobil, untuk menyadarkan anak buahnya itu jika dirinya sudah ada di sana.


Tok...tok...tok....


"Jacob segeralah buka pintunya bodoh! Aku malu menjadi bahan tontonan orang-orang!" bisiknya sesekali matanya melirik setiap orang yang menatapnya jijik.


Jacob yang sedari tadi bermain ponsel dan ditemani oleh supir Sean, segera mengalihkan pandangannya kearah kaca. Mata pria itu membulat terkejut saat melihat tuannya sedang mengetuk-ngetuk kaca pintu. Buru-buru Jacob membuka pintu mobilnya untuk menyambut Sean.


Brakkk....


"AWW!!!" Sean mendesah kesakitan saat keningnya tak sengaja terbentur pintu mobil yang dibuka oleh Jacob. "Kau ini bodoh atau apa, hm ?!?!" kecam Sean kesal, ia mengusap keningnya beberapa kali.


Sementara Jacob tak memperdulikan ringisan Sean, matanya terfokus pada penampilan Sean yang begitu kacau, belum lagi wajah pria tampan itu kini tengah babak belur.


"ASTAGA TUAN! APA YANG TERJADI PADA ANDA ?!?!" teriaknya terkejut.


Sean sengaja mengabaikan pertanyaan Dominic, pria itu segera masuk ke dalam mobilnya dan melepas jas serta kemeja yang sudah tak layak pakai itu.


Ia mengambil sebuah kemeja baru, dan di pasangkannya pada tubuh polosnya.


"Dominic, pria itu yang menyembunyikan keberadaan Beby. Mereka berdua adalah sepasang kekasih," beritahu Sean saat Jacob baru memasuki mobil mereka, sembari mengancing kancing kemeja.


Mata Jacob membelalak kaget, sebelah tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Dominic yang selalu mencari gara-gara dengan bisnis anda itu, tuan ?" tanyanya yang diangguki cepat oleh Sean.


Setelah memakai kemejanya, buru-buru ia mengganti celana kainnya dengan celana jeans hitam.


"Pantas saja, kita benar-benar kehilangan jejak Beby. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, dan kita sudah mengerahkan hampir semua anak buah kita, mulai dari hacker hingga detektif tapi tidak ada seorangpun yang berhasil menemukan keberadaan Beby," ucap Jacob seraya menggelengkan kepalanya heran. "Tenyata oh ternyata, orang yang melindungi Beby adalah seorang mafia. Dominic benar-benar sangat tahu bagaimana cara menyembunyikan harta karun...." sambungnya yang disetujui oleh Sean dalam hati.


Setelah memakai seluruh pakaiannya, Sean menyenderkan kepalanya ke kursi, ia memejamkan mata menikmati rasa denyut sakit yang tiba-tiba melanda kepalanya.


"Bagaimanapun, Beby harus menjadi milikku. Mau tidak mau, wanita itu harus menikah denganku. Aku harus mengambil anaknya secepat mungkin," beritahu Sean.


"Jika menurut saya, Dominic sepertinya benar-benar mencintai Beby sejak enam tahun lalu. Jika dipikir menggunakan logika, untuk apa seorang Dominic yang merupakan pria kaya, mapan, sukses mau memperdulikan seorang wanita hamil ? Bahkan tanpa meminta para artis dan model dengan suka hati melemparkan tubuhnya pada Dominic. Tapi pria itu malah memilih menjatuhkan hatinya pada wanita biasa yang saat itu tengah mengandung pula," Jacob mengeluarkan apa yang berada dalam otaknya.


Ia berfikir sebesar apa cinta Dominic yang diberikan pada Beby, hingga pria itu rela membantu Beby, membantu keluarga dari segi finansial, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah.


Sean menatap kesal sang asisten, kenapa pria itu jadi membela Dominic! "Jadi menurut mu apa, hm ? Cintaku tidak sebesar Dominic ?" tanyanya dengan nada kesal yang kentara. "Aku bahkan lebih lama mengenal Beby, aku yang menemukan perempuan itu pertama kali, aku yang membantu keluarganya untuk yang pertama kali. Itu artinya cintaku lebih besar darinya!"

__ADS_1


Jacob terdiam mendengar celotehan Sean, ia ingin menyangkal tapi takut jika pria itu akan membunuhnya saat ini juga.


"Berikan aku saran, bagaimana aku harus membalas Dominic atas apa yang sudah ia perbuat kepadaku! Pria itu telah mengambil Beby dan juga anakku!"


Tangan Jacob saling meremas di pangkuan pria itu, ia menatap Sean dalam dari spion kaca mobil.


"Jika saya jadi Beby, saya akan memilih untuk menikah dengan Dominic. Pria itu sudah membantunya selama enam tahun, bukankah egois dan bodoh namanya jika tidak bersama dengan Dominic ?" ujar Jacob yang membuat Sean menggeram marah, baru saja ia akan memukul keras kepala sekretarisnya, tapi terhenti setelah pria itu mengatakan kelanjutan ucapannya. "Kecuali jika Dominic sudah menghadap ke sang pencipta untuk selama-lamanya. Baru saya akan mencari pria lain untuk pengganti Dominic, karena sudah tidak ada hutang budi yang harus diganti," sambungnya yang membuat senyum di wajah Sean terbit seketika.


"Menghadap ke sang pencipta ? Mati maksud kamu ?" tanya Sean dengan seringai yang timbul pada wajah tampannya.


...o0o...


Ting....


"Silahkan tuan, ikuti saya...."


Pintu lift terbuka, membawa tubuh mereka ke sebuah lantai ruangan yang berada di salah satu gedung apartemen ini.


Seorang pria berjas rapi berjalan di depan, menuntut dua orang pria yang kedudukannya lebih tinggi daripadanya menuju sebuah ruangan rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu saja.


RUANG KEAMANAN


Manager gedung apartemen itu segera masuk ke ruang keamanan yang berisi pada karyawan yang bertugas untuk menjaga keamanan apartemen dari dalam gedung dan juga luar gedung.


"Ini tempatnya tuan, silahkan duduk di sini," ujar sang manager sopan kepada pemilik baru gedung Apartemen itu, siapa lagi jika bukan Sean yang rela membeli seluruh unit apartemen hanya untuk mencari tahu kata sandi apartemen Beby.


Mendengar itu Sean menganggukkan kepalanya mengerti, kedatangannya langsung di sambut oleh para pegawai diruangan keamanan itu, mereka semua menundukkan kepalanya hormat kepada Sean.


Sementara Sean, pria itu berjalan untuk duduk di sebuah kursi besar yang didepannya berisikan layar TV yang menampilkan tangkapan CCTV parkiran apartemen. Jacob, pria itu berdiri dibelakang tubuh tuannya, ia masih menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh tuannya itu.


"Aku mencari sebuah mobil dari seseorang, tapi aku tidak tahu mobil apa yang dia pakai dan juga aku tidak tahu plat nomornya," ucap Sean yang segera diangguki oleh sang manager.


"Dia punya apartemen di sini. Gedung C no. 18," jawab Sean cepat.


Lagi-lagi sang manager itu menganggukkan kepalanya mengerti, ia menyuruh anak buahnya untuk menampilkan situasi tempat parkir yang Sean maksud melalui layar TV yang menampilkan sorotan CCTV itu.


"Jadi begini tuan, jika ada mobil yang terparkir di sini tapi hanya berkunjung, dalam artian hanya mampir sebentar maka tidak diberikan parkiran khusus. Sementara untuk orang yang memiliki apartemen di sini, sudah di berikan parkiran khusus sesuai dengan nama apartemen," jelas sang manager itu yang membuat senyuman pada wajah Sean semakin lebar. "Ini parkiran untuk gedung C no. 18, di sana terdapat dua mobil tuan. Mobil sedan dan juga mobil sport," sambungnya.


"Dimana letak parkiran untuk gedung C no. 18 ?" tanya Sean lagi, karena ia tak mungkin mencari satu-satu plang yang bertulisan C-18 di sepanjang parkiran apartemen.


"Berada di sebelah barat di paling ujung tuan, dari kejauhan sudah terlihat jelas tulisan C-18."


Sean menganggukkan kepalanya mengerti, ia segera bangkit dari duduknya dan tersenyum kepada sang manager. "Terima kasih, kau sangat membantu. Lanjutkan pekerjaanmu!" titah Sean yang segera dijawab oleh sang manager.


Setelah Sean keluar dari ruangan keamanan itu hanya dengan Jacob seorang saja. Mereka berdua memasuki lift dengan keadaan hening.


Ting.....


Pintu lift terbuka, buru-buru Sean keluar dari lift untuk menuju mobilnya, bersama dengan Jacob yang masih linglung, karena tidak diberitahu rencana Sean.


Mata Sean menatap kesegala arah saat sudah berada didekat mobilnya. Ia kini sedang mencari-cari keberadaan seseorang, ia tersenyum kecil tatkala umpan kecil miliknya berhasil ditemukan oleh mata elangnya.


"Kau kemari lah!" titah Sean pada sang supir yang sedang merokok di luar mobilnya.


Supir itu menginjak rokoknya yang menyala secara spontan dan berjalan menuju kearah Sean dengan kepala yang menunduk hormat.


Sedangkan Jacob masih terdiam, ia berdiri dibelakang Sean dan menatap bingung tuannya itu.


"Ada apa, tuan ?" tanya supir itu pelan.

__ADS_1


"Berapa lama kau menjadi supirku ?" tanya Sean.


"Hampir sepuluh tahun, tuan!" jawab sang supir lantang dan hanya diangguki oleh Sean.


"Apa kau mengerti dengan dunia otomotif ? terutama mobil ?" pancing Sean lagi yang segera diangguki sang supir.


Senyum Sean kian melebar, ia membalikkan badan ke arah Jacob. "Antar dia ke parkiran C-18, potong kabel rem dari mobil sport milik Dominic!"


Mata Jacob membelalak kaget, ia menelan salivanya susah payah, begitu juga sang supir yang sudah pucat pasi ditempatnya setelah mendengar penuturan Sean pada Jacob.


"Ta–tapi tuan, ini terlalu berbahaya. Bagaimana jika mereka tahu jika anda adalah pelakunya ?" tanya Jacob dengan jantung yang berdegup kencang, ia sungguh tak habis pikir dengan jalan otak Sean.


"Lakukan saja perintahku, sialan! Cepat antar supir itu ke parkiran C-18 !!" titah Sean setengah berteriak yang segera dilakukan oleh Jacob.


Sang sekretaris itu segera membawa supir Sean memasuki apartemen bagian dalam(khusus parkiran pembeli unit apartemen) untuk menemukan mobil Dominic.


Jacob dan supir Sean kini tengah berjalan untuk mencari letak parkiran milik Dominic.


Seusai arahan sang manager, mereka berjalan menuju bagian barat, letak parkiran mobil Dominic.


"Nah itu dia, C-18!" unjuk Jacob dengan tangan kanannya, pada plang bertuliskan angka tersebut. Jarak tubuh mereka dari kedua mobil Dominic cukup jauh, jadi Dominic merasa aman di sini.


"Sana kamu kesana, dan ingat, tugasmu hanya memutus kabel rem dari mobil sport itu. Jika selesai langsung kembali ke sini!" titah Jacob yang segera diangguki oleh sang supir.


Supir itu berlari kecil untuk melangkah kakinya menuju sebuah mobil sport yang terparkir dihalaman C-18.


Beruntung keadaan parkiran ini sepi, jadi ia bisa melakukan tugasnya dengan cepat dan tanpa di curigai oleh orang lain.


Sang supir buru-buru membuka bagian depan mobil dan segera melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh Sean kepadanya.


"Astaga, aku sudah berdosa sekarang...." gumamnya ketakutan.


...o0o...


Berbeda dengan supir itu yang kini tengah berkeringat dingin karena sedang melakukan sebuah dosa besar, Sean saat ini tengah berjalan memasuki mobilnya. Ia duduk dengan tenang di kursi belakang kemudi, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya, dan mengambil sebatang r0k0k untuk dia isap dengan nikmat.


"Aku ketahuan ? Bagaimana bisa! Jika sampai rencana ini ketahuan, pasti yang akan dijebloskan ke penjara adalah supir itu saja," gumamnya seraya tersenyum lebar.


"Maafkan aku supir bodoh, kau harus menjadi kambing hitam ku. Dan untuk Dominic, bersiaplah untuk mendatangi ajalmu sebentar lagi...."


...o0o...


Penampakan Parkiran Mobil :



Setiap lahan Parkir mobil memiliki nomor, sesuai dengan nomor unit apartemennya...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2