MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 23 - MARAH ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Semoga aku tidak hamil," gumamnya seraya memasukkan alat tes kehamilan itu pada gelas kecil berisi air seninya.


Sebenarnya Beby ingin sekali dan sudah tidak sabar mencoba beberapa alat itu kemarin. Namun saat melihat tayangan di YouTube tentang penggunaan tes kehamilan yang sama persis dengannya.


Sang vlogger mengatakan akan lebih efektif jika menggunakan air seni yang diambil pada pagi hari setelah bangun tidur dan disinilah Beby sekarang.


Sedang menunggu hasil dari beberapa alat tes yang dia masukan kedalam gelas kecil itu. "Dua menit ternyata lama sekali, astaga...."


"Aku benar-benar penasaran!"


Tok....tok...tok....


Pintu kamar Sean diketuk dari depan, Beby panik dibuatnya. Segera di menyembunyikan gelas berisi tes urine itu di belakang closet dan segera membuka pintu kamar mandi.


Tok...tok...tok....


"Iya sebentar!!!" jawab Beby berteriak.


Ceklek....


Pintu kamar Sean terbuka, terlihat seorang maid setengah paruh baya berdiri di hadapan Beby. "Apa ada ?"


"Maaf menganggu non, tapi tuan Sean meminta nona untuk segera datang ke ruang makan..."


Beby menganggukkan kepalanya mengerti, "satu menit lagi ya, Beby mau dandan dulu, Bi!"


Sang maid itu mengangguk lalu turun ke bawah mengatakan apa yang dikatakan Beby kepada Sean.


Sementara Beby yang kembali masuk ke kamar mandi, cepat-cepat mengambil kembali alat tes kehamilannya. "Kayaknya udah 2 menit deh.."


Tak ingin menunggu lagi, Beby segera mengeluarkan 3 tes alat kehamilan yang ia celupkan untuk dilihatnya. Mata Beby membola bingung dengan garis yang tidak jelas di alat itu. "Ada dua garis merah sih, tapi yang satunya samar banget. Kayaknya aku gak hamil deh..."


"Tapi kemarin aku lihat di YouTube kalo samar berarti sudah hamil, tapi janinnya masih muda banget," Beby menggaruk kepalanya bingung.


Lalu ia keluar kamar mandi dan memasukkan 3 alat tes kehamilan itu kedalam tas-nya dan segera turun ke meja makan. "Sepertinya aku harus memberitahu Sean, mau bagaimana pun dia adalah ayah dari janin ini!"


...o0o...


"Kau lama sekali!" Sean berdecak malas, dengan mata yang masih memperhatikan Beby yang duduk disebelah Leon.


Beby mendengus samar, "Beby kan harus tuan dan tuan muda dulu, jika kedua tuan Beby sudah siap baru Beby yang membersihkan diri. Jadi wajar jika Beby terlambat."


"Sudah-sudah, ayo kita makan. Daddy gak mau telat ke bandara!" ucapan Daddy Sean membuat perbedaan sengit Sean dan Beby terpotong.


Setelah Daddy dan Mommy Sean mengambil makanan, barulah Beby mengisi penuh piring Sean dan Leon secara bergantian dan dia baru Beby yang terakhir.


Berbeda dengan hari kemarin Beby yang begitu terasa mual, hari ini wanita itu makan dengan sangat lahap. Entah mengapa masakan ini yang terasa sangat nikmat atau karena ia sudah sangat kelaparan karena kemarin tidak makan dengan benar ? Tapi apapun itu Beby saat ini sudah menambahkan nasi dalam piringnya untuk yang kedua kali.

__ADS_1


Ia mengabaikan tatapan kedua orang tua Sean dan juga Sean sendiri yang menatapnya heran.


"Makan perlahan, Beby!" peringat Mommy Sean yang langsung diangguki oleh Beby, kini ia memelankan kunyahan di mulutnya.


"Hoek...."


Mereka semua mengalihkan pandangannya ke arah Sean yang tiba-tiba berdiri dari duduknya s berlari kecil menuju wastafel yang berada di dapur dan memuntahkan isi perutnya.


"Sialan!" umpatnya.


"Hoek....Hoek...."


Sean terus memuntahkan isi perutnya membuat kedua orangtuanya panik, sementara Leon dan Beby tampak acuh tak acuh kepadanya.


"Astaga, kau kenapa sayang ?" tanya Mommy Sean yang kini tengah memijat tengkuk leher Sean agar bisa memudahkannya untuk mengeluarkan isi perutnya.


Sean menggeleng, "sakit perut Sean tiba-tiba, Mom..." lirihnya.


"Dad dan Mommymu akan batalkan perjalanan kembali ke Jerman, kita akan kembali setelah kamu sembuh, nak," ucap Daddy Sean sembari mengotak-atik ponselnya.


Sementara Sean yang mendengar itu membulatkan matanya terkejut, ia menggeleng ditengah muntahan.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


"Tidak perlu, Dad! Sean hanya masuk angin. Kemarin Sean lupa makan malam. Tidak perlu ke rumah sakit, ayo sekarang Sean antar kalian berdua ke bandara!"


"Tapi kamu sedang sakit, nak!"


"Hanya sakit biasa, Mom!" Sean menyela cepat. "Sudah ayo kita ke Bandara!" titah Sean tak terbantahkan setelah membersihkan mulutnya dengan air.


Mommy dan Daddy Sean saling berpandangan lalu menghembuskan nafas panjang dan mengangguk kecil. "Baiklah, Leon, Beby ayo ikut." pinta Daddy Sean yang langsung diangguki Leon dan Beby.


...o0o...


Tiga puluh menit menyetir mobil, akhirnya mereka sampai di depan Bandara. Setelah menurunkan barang bawaan Daddy dan Mommy Sean, mereka berjalan bersama memasuki bandara.


"Sean antar sampai sini saja, Leon harus sekolah sekarang," ucapnya sembari memeluk tubuh kedua orangtuanya bergantian.


"Leon ucapakan selamat tinggal pada Oma dan Opa," pinta Beby dengan lembut.


"Oma, Opa semoga sampai dengan selamat, kalo sudah sampai jangan lupa kirimkan mobil remot yang kemarin, ya..." pinta Leon dengan mata bulat yang nampak menggemaskan.


Mommy dan Daddy Sean tertawa lalu memeluk cucu tunggalnya itu dengan erat tak lupa memberikan kecupan- kecupan singkat pada dahi Leon. "Pasti sayang, Oma dan Opa akan segera kirimkan mobil itu untuk Leon."


Setelah mendengar nama pesawat mereka di sebut, mereka berdua langsung berjalan meninggalkan anak dan cucunya.


Sementara saat ini Leon sudah diantar oleh Sean menuju sekolahnya, mobil Sean yang juga membawa Beby langsung kembali ke mansion mewah Sean.


"Loh, tuan tidak berkerja ?" tanya Beby sembari menatap wajah tampan Sean yang memucat.


Sean melirik Beby sekilas, lalu segera keluar dari mobil untuk memasuki mansionnya.


"Dasar, es batu!" umpatnya saat menyadari ucapan tak di jawab. "Eh, mumpung di rumah sepi dan Sean tidak ke kantor, bukankah bagus jika aku mengatakan pada Sean jika kemungkinan aku sedang hamil ?"


Beby mengacak isi tasnya dan mengeluarkan tiga tes kehamilan yang memiliki tanda samar, lalu dimasukan ke sebuah amplop. "Gak tahu gimana reaksi dia, tapi semoga baik. Kalo mau anaknya kita besarkan bersama, tapi kalo dia tidak mau, aku tidak bisa mengugurkan janin tak bersalah ini. Jadi jika dia tidak mau, terpaksa aku harus menjadi orang tua tunggal," ujarnya mantap


Ia keluar dari mobil untuk menyusul Sean yang mungkin kini sudah berada di kamarnya.

__ADS_1


"Non Beby, di suruh ke kamar tuan sekarang," ucap seorang maid saat Beby baru membuka pintu mansion.


Kepala Beby mengangguk kecil, lalu segera menaiki tangga menuju kamar Sean. "Sekalian ngomong kalo aku hamil, wish me luck...." batinnya.


Tok...tok....tok...


"Tuan Sean...." panggil Beby di depan pintu kamar pria itu, meskipun sudah beberapa hari tidur di sana, tapi Beby tidak bisa lancang keluar masuk kamar tuannya.


Ceklek....


Pintu kamar itu dibuka oleh sang pemilik mansion, dengan wajah datarnya ia menyuruh Beby masuk ke kamarnya.


Ia mengantar Beby untuk duduk di sofa yang berada di kamarnya dan Sean sudah duduk terlebih dulu di depan Beby.


"Ada apa tuan memanggil saya?"


"Langsung saja, saya tidak suka berbasa-basi," ucap Sean yang masih mempertahankan wajah datarnya. "Kemarin pagi, kamu ke apotek dan membeli banyak sekali alat tes kehamilan," tembak Sean langsung.


Mata Beby membelalak kaget, ia menatap Sean tak percaya. "Ba–bagaimana tuan bisa tahu ?" tanyanya bingung. "Tuan menyewa seseorang untuk memata-matai saya ?" tuduhnya.


Sean mendengus geli, lalu kembali menatap Beby dingin. "Kamu tidak sepenting itu untuk saya intai! Saya tahu kamu membeli banyak alat tes kehamilan dari notifikasi m-banking kartu ATM yang saya kasih ke kamu!" beritahu.


Jantung Beby berdegup kencang, ia memejamkan matanya dan mengumpati dirinya sendiri dalam hati. "Sialan, bagaimana aku bisa lupa fakta itu!"


"Jadi pernyataan saya, kamu hamil?"


Beby sudah terpojokkan, tak ada pilihan lain selain mengakuinya toh juga ia sudah sangat ikhlas jika di dalam rahimnya ini dititipkan nyawa oleh Tuhan.


"Iya."


"Siapa ayahnya ?"


Mata Beby menatap Sean tidak suka, maksudnya apa bule gila ini mengatakan itu kepadanya, padahal jelas-jelas mereka pernah tidur bersama dan Beby juga bukan wanita murahan yang tidur banyak lelaki.


Melihat keterdiaman Beby, Sean menghela nafas lelah. "Saya tahu kalo saya yang mengambil kesucian kamu saat itu, tapi saya yakin jika kamu sudah banyak tidur dengan banyak pria setelah saya, jadi siapa ayah anak itu ? Karena saya tidak mau dianggap menghamili kamu oleh keluarga mu ataupun keluarga saya!"


Tangan Beby terkepal mendengar hinaan tidak langsung yang keluar dari mulut bosnya itu. "Ini anak tuan! Dan Beby hanya tidur bersama 1 pria dan itu hanya tuan!" jawabnya dengan menekan setiap katanya.


"Tapi saya hanya meniduri kamu satu hari! Bagaimana bisa hamil?" ucapnya frustasi.


"Kita memang melakukan hanya satu malam, tapi apa tuan lupa berapa ronde yang kita habiskan bersama. Ya, memang hanya tidur semalam, tapi tuan menembakkan benih tuan pada saya berkali-kali!" jawab Beby lagi setengah berteriak.


Sean menjambak rambutnya frustasi, otaknya kembali teringat kejadian panas mereka beberapa hari yang lalu yang memang Sean akui sangat dahsyat, bahkan lebih nikmat dari Clara. Tapi tak bisa, ia tidak bisa mengkhianati Clara.


"Gugurkan! Anak saya hanya keluar dari rahim Clara!" ucap Sean tak terbantahkan.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2