MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 55 - SELIDIKI....


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Bagaimana pesawatnya sudah siap ?" tanya Sean sembari memasuki mobil yang pintunya sudah dibuka oleh sang sekretaris.


Jacob segera memasuki mobilnya, lalu menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan tuannya itu. "Sudah tuan, kita akan kemana memang ?"


Sean mengalihkan pandangannya kejendela mobilnya. "Mencari Beby," jawabnya dengan lesu. "Wanita sialan itu membuat anakku menangis. Leon tadi dikamar menangis memanggil-manggil nama Ibunya."


"Ini semua salah Beby! Dia telah membunuh Clara! Aku tahu dia pasti sengaja tidak memberikan Clara obat," tuduhnya lagi.


Jacob menghela nafas panjang, ia memilin-milin tangannya yang berada dipangkuannya. "Maafkan saya menanyakan ini setelah 6 tahun. Tapi saya sangat penasaran dengan ini, boleh saya bertanya tuan ? Tapi maaf jika pertanyaan saya ini menyinggung anda," tanyanya dengan sangat sopan.


Ekor mata Sean melirik Jacob sekilas lalu menganggukkan kepalanya singkat, "Katakan saja!"


"Ehm, begini..." Jacob memperhatikan jalanan di jendela mobilnya. Mobil sport yang ditumpangi oleh Sean dan dirinya ini berjalan cepat menuju garasi pesawat milik Sean. "Maaf sebelumnya, tapi kenapa anda sangat yakin sekali jika Beby adalah pembunuh istri anda ? Ini sudah 6 tahun dan jujur sampai saat ini kita tidak tahu alasan sebenarnya nyonya Clara meninggal karena anda menolak untuk otopsi. Jadi kenapa anda kekeh menuduh Beby membunuh Clara ?" tanya Jacob pada akhirnya.


Sean menghembuskan nafas panjang, tangannya terkepal kuat mendengar pertanyaan Jacob. Ia jadi berfikir, "apa Jacob tidak mempercayai instingnya, instingnya kuat mengatakan jika Beby adalah pembunuh istrinya!"


"Alasan Beby membunuh istriku adalah dia cemburu pada Clara! Kau tahu tidak jika Beby sebenarnya mencintaiku ?" tanya Sean yang dijawab gelengan oleh Jacob. "Beby itu mencintaiku, maka dari itu dia ingin melenyapkan Clara karena Beby ingin memiliki ku sepenuhnya!" sambungnya dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Alis Jacob terangkat heran dengan jawaban Sean. Beby mencintai tuannya ? Itu mustahil! Beby bahkan tidak menyukai kehadiran Sean, mana mungkin wanita itu mencintai Sean sampai nekat membunuh istrinya.... batin Jacob.


"Tapi tuan ini tidak masuk akal! Beby tidak terlihat seperti wanita yang tengah cemburu. Bahkan wanita itu juga sangat tulus merawat mendiang nyonya Clara. Apa tuan lupa, dia bahkan merawat Clara dengan baik," beritahu Jacob pelan.


"Jangan buta sama fakta Jacob! Dia itu wanita ular, dia bisa berpura-pura baik dan dibelakang kita dia merencanakan hal licik! Kau lupa apa ?!?! Beby dengan sengaja tidak memberikan istriku obat, hingga kondisi wanita itu lemah dan berujung tiada!" jawab Sean cepat.


Jacob yang duduk di kursi samping penumpang hanya bisa menghela nafas panjang. Kebencian Sean kepada Beby semakin bertambah setiap harinya.


"Saya setuju dengan ucapan tuan yang mengatakan bahwa hati manusia bisa berubah cepat, di depan baik tapi di belakang bisa saja busuk! Tapi jika saya boleh memilih, saya akan menuduh Clara daripada Beby!" ucap Jacob yang melirik Sean dari kaca spion dalam mobil.


Sean menatap Jacob dengan alis terangkat, ia mencoba memikirkan ucapan sekretarisnya itu yang terdengar begitu ambigu.


Mobil berbelok pada sebuah lapangan yang sangat amat luas ditumbuhi rerumputan yang cukup rimbun. Di sanalah pesawat Sean berada.


"Berani sekali menuduh adik dari istriku ?!?" kecam Sean langsung, ia menatap Jacob tajam. "Meskipun Clara telah meninggal tadi aku akan tetap menganggapnya sebagai adik kandungku sendiri!" sambungnya tak terima Vania dituduh oleh Jacob.


Jacob melepas sabuk pengamannya, dan membalikkan badan menatap Sean dengan dalam. "Coba tuan pikir, mana ada seorang adik dari seorang istri yang sudah meninggal masih berani menginap di rumah suaminya ? Coba tuan pikir, dia berlaga seperti istri anda di mansion selama 6 tahun. Dia memenuhi kebutuhan tuan setiap pagi, bak seorang istri..."


"Dia menginap karena ingin menjaga Leon, mau bagaimanapun dia adalah tante kandung Leon. Tidak ada maksud lain," bela Sean lagi.


Dengan sedikit tertawa, Jacob menatap tuannya tak percaya. Ternyata kebencian Sean pada Beby membuatnya pria itu benar-benar menutup matanya.


"Kau lupa Jacob, bahwa Vania sangat menyayangi Clara, wanita itu bahkan rela berhenti kuliah demi merawat Clara. Tolong jangan tuduh adik dari Clara, karena seorang pembunuh yang sebenarnya di sini adalah Beby!"


"Jika memang dia sangat menyayangi mendiang nyonya Clara, pasti dia tidak akan meminta dinikahi oleh kakak iparnya sendiri. Sadarlah tuan, Vania mencintai anda selama ini. Aku sangat yakin jika yang membunuh mendiang Nyonya Clara!" jawab Leon dengan mantap.

__ADS_1


Sean kembali diam, karena perdebatan ini menyudutkannya. Otaknya masih mempertahankan egonya yang mengatakan jika Beby adalah pembunuh istrinya, tapi hatinya menyetujui tuduhan Jacob.


"Lalu kau mau apa ? Kau tidak ada buktinya yang menyatakan jika Vania adalah dalang di balik pembunuhan istriku!" Sean masih mempertahankan egonya.


Tangan Jacob bergerak mengambil sesuatu dari saku jasnya, lalu dilihatkanya pada Sean. "Ini tuan, saya harap tuan masih ingat ini...."


Perlahan Sean mengambil alih benda itu lalu dilihatnya dengan jelas, setelah sekian detik matanya membulat terkejut saat tengah mengingat benda ini.


"Ini bukannya ramuan teh yang dulu sering diminum oleh istriku ?" tanyanya yang diangguki oleh Jacob. "Ya tuan, ini adalah ramuan dari Vania yang katanya bisa mengobati mendiang Nyonya Clara..." beritahu Jacob.


"Lalu ?" tanyanya bingung, kenapa sekretarisnya itu memberikan ramuan ini kepadanya.


"Jadi tadi pagi, aku mendengar di meja makan Vania merengek ingin dinikahi oleh tuan. Dan rasa kecurigaannya saja semakin menjadi-jadi. Setelah tuan keluar dari ruang makan, saya berniat menyusul anda, tapi tidak jadi. Entah dorongan dari mana saya memasuki kamar mendiang Nyonya karena rasa penasarannya yang menggebu..."


Flashback on...


Setelah melihat Vania meninggalkan meja makan, Jacob langsung berbalik badan dan berlari kecil menaiki tangga.


Ada satu tempat yang membuatnya penasaran, kamar dengan cat berwarna kuning terang disamping kamar tuannya ini yang menjadi incarannya.


Ceklek....


Jacob memberanikan diri membuka pintu kamar Clara yang tidak dihuni selama 6 tahun itu. Sejujurnya tidak ada yang berani memasuki kamar ini lagi, karena memang Sean sudah memerintahkan semua orang dilarang masuk ke kamar itu kecuali maid untuk membersihkan debu.


Tapi kali ini Jacob masuk, untuk mencari sekiranya barang bukti dari kejahatan pembunuhan yang dialami Clara.


Ia menyingkap bantal, guling serta menarik seprei untuk mencari benda yang mencurigakan. Namun nihil, ia tidak menemukan apapun.


Tangannya beralih membuka nakas di samping ranjang dan nakas yang berada di meja rias. Namun sama seperti sebelumnya, tidak ada apapun di sana.


"Astaga apa itu ?" gumamnya mengamati sebuah serbuk warna hitam yang berada di tumpukkan baju. Serbuk itu berada di dalam peti kecil berwarna merah yang diberi pengawet di dalamnya. Dilihatnya dengan jelas serbuk itu. "Ramuan milik Nyonya yang dibuat oleh Clara...." gumamnya.


Jacob tersenyum miring, ia mengantongi sebuk itu di saku jasnya dan bergerak keluar dari kamar Clara.


"Tolong rapikan ulang, kamar Nyonya Clara!" titah pada seorang maid yang lewat di hadapannya.


Flashback off....


Sean sibuk mendengarkan dengan seksama cerita Jacob. "Setelah itu saya langsung turun takut tuan menunggu saya lama didalam mobil ..."


Mata Sean terus memandangi benda serbuk itu, ia mendengarkan benda itu dihidungnya dan mendengusnya perlahan. "Astaga! Baunya sangat parah!" adunya yang diangguki cepat oleh Sean.


"Tuan, daripada kita mencari Beby dengan tidak tahu arah, bukannya lebih baik sekarang kita pergi ke rumah sakit untuk meneliti ramuan itu ?"


Sean menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya singkat. "Baiklah, kita ke laboratorium sekarang!" titahnya dan setelahnya sang supir menghidupkan kembali mesin mobil dan mereka bergerak menuju rumah sakit.


...o0o...


Vania tersenyum lebar, melihat Leon menghirup rakus serbuk berwarna putih susu yang berada di lantai. Sengaja memang Vania menaburkan serbuk itu dilantai, ia tersenyum senang saat melihat Leon yang baik seorang 4nj1ng mengendus makanan lezat.


Ia berjalan memasuki kamar tak lupa mengunci pintu itu, agar tidak ada satu orangpun yang tahu kesenangan mereka malam ini.


"Bagaimana Leon ? Enak kan ? Leon jadi tenang kan ?" tanyanya beruntun yang segera diangguki oleh bocah itu.

__ADS_1


Mata Leon memerah, kadang bergerak memutar karena merasakan nikmat yang tiada tara.


"Enak, aunty. Leon mau ini setiap hari boleh ?" tanyanya dengan penuh harap. Remaja 12 tahun ini benar-benar terlihat s4kau sekarang.


Vania berjongkok di depan Leon dan tangannya bergerak mengelus kepala bocah itu singkat. "Antara iya dan tidak..." jawabnya langsung.


"Kenapa memang aunty ? Kenapa aunty tidak memberikan Leon obat ini setiap hari ?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Ya kalau Leon setuju aunty Vania menikah dengan Daddy Sean ya sudah pasti aunty kasih terus obatnya. Tapi kalo Leon tetap gak izinin Daddy menikah dengan aunty yah gak bakal aunty kasih lagi!"


Tangan Leon langsung segera menggenggam kedua tangan Vania erat. "Tidak aunty! Leon akan izinkan aunty menikah dengan Daddy. Tapi setiap hari berikan Leon seperti ini lagi ya..." pintanya.


Dengan cepat Vania menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar. "Tentu saja, kalau nanti Daddy marahi aunty pokoknya Leon harus bela aunty! Leon harus lebih sayang aunty daripada Beby!"


"Akan aku lakukan aunty, tapi berikan aku lagi obatnya, pliss....." pintanya yang membuat Vania melebarkan senyumnya.


Kena juga kau!


...o0o...


"Astaga tuan, ramuan ini sudah basi," ucap seorang dokter di laboratorium salah satu rumah sakit ternama yang didatangi oleh Sena dan Jacob. "Saya tidak yakin bisa mencari kandungan di dalamnya," sambungannya.


Sean bergerak maju dan mencekram erat kerah kemeja yang digunakan oleh dokter itu. "Teknologi di rumah sakit ini paling maju! Jangan banyak bicara dan selidiki cepat ramuan itu!" ujarnya seraya melepas cengkraman tangannya.


Dokter itu menghirup banyak-banyak udara setelah Sean melepaskan cengkeramannya, ia berjalan mundur dan menundukkan kepalanya.


"Sesuai ucapan anda jika ramuan ini sudah berumur 6 tahun. Jadi bisa saja ada kandungan yang tidak bisa kami deteksi. Tapi akan saya coba semaksimal mungkin!" titah sang dokter yang segera memulai penyelidikan untuk mencari tahu zat-zat kimia apa yang terdapat di dalam ramuan itu.


Mata Sean terus mengamati dokter itu yang sibuk dengan alat-alat medis. Hatinya bergerak tak nyaman melihatnya.


"Semoga ramuan buatan Vania itu tidak ada hal aneh! Karena aku yakin jika Beby adalah pembunuhnya!" batin Sean.


"Aku yakin jika ramuan itu sudah berisi zat-zat beracun!" batin Jacob yang duduk di sebelah Sean, ia juga mengamati terus kegiatan sang dokter.


...o0o...


TUNGGU BESOK UNTUK LIAT HASIL LABORATORIUM YAH....


RATU GAK BISA DOUBLE UP 😭😭


DEADLINE HARI INI TERAKHIR, JADI HARUS NGEBUT....


MAAF KALAU UPDATENYA TELAT DAN BUAT KALIAN NUNGGU LAMA πŸ™πŸ˜£πŸ˜£


RATU BARU BISA BUKA NT SEKARANG ❀️😘


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA πŸ₯°


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2