MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
NASIB SEAN


__ADS_3

Jacob, sekretaris Sean kini tengah sibuk dengan pekerjaan perusahaan yang harusnya dikerjakan oleh Sean, tapi harus berpindah tangan kepadanya.


Ini bukan hal uang pertama baginya untuk menggantikan posisi Sean, saat pria itu tidak berada di perusahaan. Namun bukan berarti ia senang, ia merasa muak, dan juga letih secara bersamaan.


"Kenapa pria itu selalu saja mendahulukan masalah pribadinya daripada perusahaan ?" gumam Jacob tak habis pikir.


Bahu laki-laki itu terasa sangat berat karena terus menerus duduk tegap menghadap komputer yang menampilkan dokumen-dokumen yang harus ia revisi ulang.


"Semangat Jacob, biarlah tuan Sean mengejar cintanya dulu. Jika dia sudah mendapatkan Beby kembali, pria itu akan kembali fokus pada masalah perusahaan," sambungnya lagi dengan senyum kecil.


Tok....tok....tok...


Saat tengah bersemangat mengerjakan sesuatu dalam komputernya, tiba-tiba ruang kerja Sean diketuk dengan sangat keras, tak seperti biasnya.


Alis Jacob terangkat sebelah menatap pintu, tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak. Buru-buru ia menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk kedalam.


"Masuk!"


Ceklek....


Dua orang satpam berlari kecil menuju meja kerja Sean yang ditempati oleh Jacob setelah pintu itu selesai mereka buka.


"Ada apa kalian ini, berlari cepat begitu ?" tanya Jacob yang berusaha tenang meskipun ia juga merasa ketakutan.


Kedua satpam itu saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan Jacob.


"Anu tuan, ta–tadi––"


"Anu-anu apa ? Katakan yang jelas!" sergah Jacob kesal dengan mata yang menatap tajam kedua satpam itu.


"Supir tuan Sean tadi dibawa polisi, mereka bilang atas kasus kecelakaan," beritahu mereka pada akhirnya.


Mulut Jacob terbuka lebar mendengar itu, ia berdiri dari duduknya karena rasa terkejutnya. "Ke–keluar! Kalian keluar semua!" titah Jacob kepada dua orang satpam itu yang segera dilakukan oleh mereka.


Setelah mereka pergi, Jacob langsung menjatuhkan dirinya pada sandaran kursi, otaknya seakan blank seketika. Ia sungguh tak tahu harus melakukan apa.


Dengan tangan yang masih gemetar, Jacob buru-buru mengubungi tuannya, untuk memberitahu berita gawat darurat ini.


Kring....kring....kring....


Kring....kring....kring....


Jacob menghela nafas kasar saat panggilan yang sekiannya masih belum diangkat oleh Sean.


"Inilah yang aku takutkan, kenapa tuan Sean selalu tidak menggunakan otaknya untuk merencanakan sesuatu. Pria itu selalu menggunakan emosi saat akan bertindak sesuatu!" sesal Jacob.


Ia tak berhenti berusaha, ia terus mengubungi nomor tuannya, hingga panggilan yang keempat Sean baru mengangkat telfonnya.


"Apa ada ? Kau menganggu, Jacob!" kesal Sean dalam sambungan telfon.


"Tuan ? Tuan dimana ? Cepat bersembunyilah! Supir kita, supir kita telah ditangkap oleh pihak kepolisian!" sergah Jacob dengan cepat. Pria itu benar-benar tidak sanggup melihat penderitaan Sean lagi, lagi dan lagi.


Sean disebrang telfon masih belum memberikan tanggapan. Hingga membuat Jacob panik sendiri.


"Tuan ?"


"Tuan ? Halo ?"


"Hm ? Ya aku masih di sini," balas Sean setelah beberapa detik berdiam diri. "Biarkan saya dia di penjara, aku yakin dia tidak akan membuka mulut!"


Jacob berdecak sebal mendengar penuturan santai dari tuannya. Kita tidak tahu apa benar supir itu aka terus menutup mulutnya.


"Tapi tu––"


"Sudah jangan berisik! Lanjutkan pekerjaanmu! Aku sedang perjalanan menuju rumah sakit Leon!"

__ADS_1


Tut...


Panggilan telepon diputus sepihak oleh Sean, pria itu benar-benar tidak cemas setelah mendengar kabar sang sopir telah tangkap polisi.


Berbeda dengan Jacob yang kini sedang gusar. Ia memikirkan nasib tuannya, Leon, dan juga dirinya sendiri.


"Tuhan, ku mohon maafkan semua kesalahan tuanku, beri dia keselamatan!" doanya lantang.


...o0o...


Setelah keluar dari rumah sakit tempat Dominic dirawat, Sean segera memasuki mobilnya untuk menuju ke tempat rehabilitasi n4rk0tika sang anak, Leon.


Pria itu ingin memberikan kabar bahagia kepada sang anak. Ia ingin memberitahu kepada sang anak, bahwa setelah ini awan gelap yang menyelimuti hari-hari mereka akan menghilang dan digantikan oleh cahaya matahari yang bersinar dengan hangat.


Ya, Sean sangat yakin jika Dominic akan segera meninggal dunia dan Sean akan dengan cepat menikahi Beby.


Membangun keluarga kecil yang bahagia, dan juga tidak ada lagi kesedihan dikehidupan mereka.


Tiga puluh menit berkendara, akhirnya mobil Sean berbelok memasuki area rumah sakit.


Dengan suasana hati yang baik dan senyum sumringah yang menghiasi wajah tampannya ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit.


Tak henti-hentinya, Sean menyapa seluruh pegawai rumah sakit yang melintas di depannya dengan ramah.


Tok...tok...tok....


Ceklek...


Perlahan Sean memutar kenop pintu ruangan sang anak, dilihatnya remaja SMP itu yang kini sedang sibuk dengan setumpuk buku di meja sofa yang berada di samping ranjang tidur Leon.


"Anak Daddy lagi ngapain ?" tanya Sean seraya melangkahkan kakinya menuju sang anak.


Leon yang sedaritadi mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh pegawai rumah sakit, langsung meletakkan pulpennya dan membalikkan badan untuk melihat seseorang yang datang.


"Daddy!" serunya dengan semangat. Leon segera berdiri dan berhampur memeluk erat tubuh sang ayah.


"Kamu ngapain? Kok sedih gitu mukanya ?" tanya Sean seraya duduk di kursinya.


Leon menghela nafas berat dan menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Leon lagi garap tugas," balasnya cepat, remaja itu mengusap matanya dengan kasar, hingga air mata jatuh di wajahnya. "Teman Leon ada yang sudah keluar dari sini, kata suster tadi dia sudah sembuh. Leon kapan pulang, Dad ? Memang Leon masih sakit ya ?" tanyanya dengan suara berat, Leon berusaha untuk menahan air matanya.


Sean tersenyum sendu mendengar penuturan dari anak lelakinya itu. Ditariknya tangan sang anak untuk kembali masuk kedalam pelukannya.


"Sebentar lagi nak, sebentar lagi Leon bakal sembuh dan keluar dari rumah sakit ini. Sebentar lagi Leon bakal punya Mommy baru, kak Beby bakalan jadi Mommy baru Leon, Daddy janji, nak..." ucap Sean penuh tekad.


Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang anak. Pandangannya menerawang kedepan, mau bagaimana pun, Beby harus segera menjadi Ibu untuk Leon!.


...o0o...


Setelah mengetahui dalang di balik kecelakaan Dominic Moon Ragues, lima orang polisi yang diketuai oleh seorang polisi berpangkat Letnan jendral.


Dengan sebuah mobil patroli mereka langsung menuju titik lokasi GPS yang memperlihatkan lokasi dimana mangsanya berada.


"Rumah sakit rehabilitasi n4rk0tika," ucap seseorang yang terus memegangi smartphone-nya.


Polisi lain yang kini bertugas sebagi supir itu langsung bergegas menuju lokasi yang disebutkan oleh seseorang di sampingnya.


"Kita di sini ada enam orang, nanti 3 orang jaga mobil pria itu, takut-takut nanti pria itu akan kabur, dan 2 orang lainnya termasuk dengan aku, akan masuk ke dalam rumah sakit!" titah ketua mereka.


"Siap, Ndan!" seru mereka kompak.


Beberapa menit berkendara akhirnya mobil polisi itu memasuki area rumah sakit. Sesuai dengan instruksi sang ketua, para polisi itu berpencar. Tiga orang menjaga mobil Sean, dan dua orang lainnya ikut masuk dengan sang ketua untuk menangkap sang dalang kecelakaan Sean.


"Ada yang bisa kami bantu, pak ?" tanya resepsionis rumah sakit disertai senyum sopan nya.


Ketua satuan polisi itu melakukan kepalanya sekilas, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan diberikan kepada resepsionis itu.

__ADS_1


"Sean Alejandro, dia di sini kan ? Bisa diberitahu dia dimana sekarang ?" tanya polisi itu sopan.


Beberapa detik meneliti foto yang diberikan polisi itu, sang resepsionis menganggukan kepalanya. Ia mengatakan lantai dan nomor kamar milik Leon.


Setelah mendengar itu, ketiga polisi itu buru-buru memasuki lift untuk menuju ruang rehabilitas Leon.


"Ini sepertinya Ndan, kamarnya!" seru salah seorang polisi seraya menunjuk ruangan yang memiliki nomor yang sama, seperti yang diucapkan oleh resepsionis itu.


Kepala ketua satuan itu mengangguk kecil, ia berjalan mendekat untuk melihat seseorang di dalam ruangan melalui kaca buram yang terletak di pintu ruangan itu.


"Ya, dia ada di sana, bersama dengan anaknya!" beritahu polisi itu saat melihat Sean tengah berbicara bersama sang anak.


"Lalu bagaimana Ndan ? Kita langsung dobrak saja atau––"


"Jangan!" serunya cepat, ia berbalik badan dan berjalan untuk duduk disebuah kursi yang disediakan di sana. "Kita tunggu saja sampai Sean keluar, kasian anaknya jika harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri ayahnya ditangkap oleh polisi!" sambungnya yang diangguki oleh dua orang anak buahnya.


Mereka bertiga menunggu dengan sabar keluarnya Sean dari ruangan. Para polisi itu mengobrol dan tertawa.


Sementara di dalam ruangan, Sean tak hentinya mengucapakan kata-kata pujian kepada sang anak saat melihat Leon dengan mudah menyelesaikan semua tugas sekolah homeschooling-nya.


"Wah, hebat sekali anak, Daddy!" puji Sean untuk yang sekian kalinya dan Leon hanya tersenyum malu.


Cup....


Sean mengecup lama kening anaknya, "anak Daddy makin pintar, kalo kayak gini terus bisa cepat keluar dari rumah sakit!"


"Iya Dad, Leon bakal cepat sembuh dan terus rajin belajar biar bisa keluar dari sini!" jawabnya dengan semangat.


Sean tersenyum seraya mengelus kepala anaknya dengan sayang, dilihatnya jam di dinding sudah hampir petang.


"Sudah jam empat sore, nak. Daddy pulang ya ?" pamitnya yang diangguki oleh sang anak.


Saat Sean ingin melangkah kakinya keluar dari kamar ruangan Leon, ia berhenti dan berbalik untuk mencium lagi kening sang anak lama.


"Jaga diri baik-baik ya sayang, Daddy pasti kembali!" Leon menganggukkan kepalanya semangat, ia membereskan buku-bukunya sementara Sean melangkah kakinya mendekati pintu ruangan Leon.


Ceklek...


Pintu dibuka, ia langsung disambut oleh tiga orang polisi yang mengelilinginya.


"Tuan Sean Alejandro ?" tanya polisi itu langsung.


Mata Sean membulat terkejut dengan kedatangan polisi-polisi ini. "Apa yang kalian lakukan di sini ?" tanyanya dengan suara berbisik, ia tidak mau jika anaknya mendengar ada polisi di depan.


Seorang polisi mengeluarkan surat kuasa dari saku seragamnya. "Kami sudah mendapatkan izin untuk menangkap anda, Mr. Sean. Dengan kasus sabotase kecelakaan Mr. Dominic," beritahu mereka.


"Langsung borgol tangannya!" seru sang ketua.


Sean langsung berontak dan menghindar, tapi dengan cepat seorang polisi menahan lengannya dan langsung memborgol kedua tangan Sean.


"Kenapa langsung tangkap, ha ? Dengarkan dulu penjelasan ku!" Sean berbisik seraya memberontak dengan keras.


"Anda bisa mengatakan itu di kantor polisi, Mr. Sean! Cepat seret dia ke mobil!" titah polisi itu yang segera dilakukan kedua anak buahnya.


Tubuh Sean diseret dengan keras untuk menuju lift, sementara Sean tak henti-hentinya menatap pintu ruangan anaknya dengan raut wajah sedih.


"Leon, untuk yang kesekian kalinya Daddy gagal lagi menjaga kamu...."


...o0o...


MAMPIR YA SAYANGNYA RATU KE CERITA KE-4 RATU 🙏🙏🥺🥺


AMAN UNTUK YANG LAGI PUASA, KONFLIK RINGAN TANPA ADA PELAKOR


BANTU MASUKAN KE FAVORITNYA YAA...

__ADS_1


KLIK PROFIL RATU UNTUK CARI CERITA "MANTAN ISTRI SULTAN" 🙏🙏🥺



__ADS_2