
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Pukul lima petang, Sean sudah keluar dari perusahaan dan saat ini tengah berada dalam mobil untuk kembali ke mansionnya.
Semua pekerjaan sudah ia kerjakan dengan cepat, bahkan ia sengaja tidak keluar makan siang agar bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat.
Jacob yang duduk di samping kursi kemudi, diam-diam melirik Sean, karena tak biasanya pria super sibuk itu akan pulang cepat. Bahkan saat ulang tahun Leon saja pria itu lebih memilih lembur daripada harus repot-repot untuk pulang cepat dan merayakan ulang tahun anaknya.
"Jacob," panggil Sean.
Dengan tergugu-gugu sembari menatap jalanan kembali ia menjawab. "Ya ? Ada apa tuan ?" jawabnya, dalam hati ia was-was takut tuannya tahu jika ia sedari tadi memperhatikan Sean.
"Jika ada seorang wanita hamil anak mu, apa yang akan kau lakukan?"
Jacob mengedipkan matanya beberapa kali, berfikir. "Yang pasti saya akan senang, tuan."
Alis Sean terangkat sebelah mendengar penuturan asistennya itu, "senang ? kenapa kau senang ?"
"Tuan, anak adalah titipan Tuhan yang berharga. Siapa yang tidak ingin memiliki anak jika sudah hidup sejahtera dan memiliki pekerjaan tetap. Jika ada seorang wanita yang mengandung anak saya, pasti saya akan menjaganya sepenuh hati."
Sean termenung mendengar jawaban Jacob, ia mengalihkan pandangannya keluar jendela yang kini menampilkan gedung-gedung pencakar langit.
Wajah Beby seketika terlintas di otaknya, wanita itu benar-benar menganggu pikiran Sean sejak pertama kali mereka bertemu di Club.
"Bagaimana jika wanita yang kau kandung bukan wanita yang kau cintai ?"
Beberapa detik Jacob terdiam, tak menjawab pertanyaan Sean. Pikirannya tertuju pada pengasuh Leon, mungkin kah Beby hamil ?
"Saya akan tetap memilih mempertahankan anak itu. Saya tidak mau merasakan penyesalan karena menghilangkan nyawa bayi tak berdosa."
__ADS_1
Hening, Sean tak menyahuti ucapan Jacob yang seperti nampak menyindirnya. Ia menyibukkan dirinya dengan ponsel yang membuat Jacob makin dilanda bingung.
Pria itu memberanikan diri menanyakan hal yang mengganjal dalam hatinya pada Sean. "Ekhem," Sean melirik Jacob malas lalu menatap layar ponselnya lagi. "Apa Beby hamil tuan ?"
"Hamil atau tidak itu bukan urusanmu!"
Jacob menelan ludahnya susah payah mendengar nada ketus Sean. "Jika benar Beby hamil, semoga tuan tidak menggugurkan kandungan. Dan juga semoga tuan tidak memanfaatkan tubuh Beby hanya karena wajah Beby yang mirip dengan nyonya Clara."
Tangan Sean meremas ponselnya erat, menyalurkan segala emosinya setelah mendengar ucapan Jacob. Asistennya itu benar-benar sialan.
"Jika kau berbicara terus, aku habisi kau detik ini juga!"
Jacob merapatkan duduknya, dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Mobil kembali berjalan dengan keadaan hening, hingga beberapa menit kemudian mobil mewah yang ditumpangi Sean tiba dipekarangan mansionnya.
Jacob dengan segera berjalan keluar untuk membukakan pintu untuk tuannya. "Silahkan, tuan."
"Kau pulanglah, dan jangan lupa besok bawa dia kemari," titah Sean yang diangguki oleh Jacob.
Sean berlalu memasuki mansion sementara Jacob sudah menaiki mobilnya untuk pulang kerumah.
Ia mempercepat langkah kakinya untuk menuju Leon yang ia yakini berada di ruangan bermain.
Ceklek....
Ruangan penuh mainan dibuka oleh Sean, ia bisa melihat anaknya tengah di suapi oleh seorang maid sembari menangis keras.
"Ada apa ini ?"
Dua orang maid dan Leon yang tengah menangis keras langsung menghentikan aktivitas mereka saat mendengar suara Sean, mereka kompak menoleh kearah Sean.
"Saya tanya ada apa ?!?!"
"Eh a–anu tuan, tuan muda Leon dari pulang sekolah gak mau makan. Ini lagi dibujuk tapi tetap gak mau, terus nangis daritadi."
__ADS_1
Sean menghembuskan nafas lelah, ia menatap anaknya bingung. Tak biasanya bocah itu akan menangis keras begini. "Makan, Leon!"
"Mau makan sama kak Beby...hiks..hiks..." jawab bocah itu lirih dengan masih sesegukan.
"Bik, cepat panggil Beby!" titah Sean.
Bukan segera pergi untuk memanggil Beby, kedua maid itu kini saling bertatapan bingung.
"Saya bilang panggil Beby! Kenapa kalian jadi tuli begini ?" tanya Sean kesal.
"Maaf tuan, semenjak tuan muda pulang sekolah, non Beby belum pulang..."
Entah sudah berapa kali Sean menghela nafas panjang hari ini, ia nampak begitu kesal. Sean berjalan menghampiri anaknya. "Kak Beby belum pulang, ayo makan sama saya."
Mata Leon yang masih dipenuhi air mata yang menggenang di pelupuk mata hanya bisa mengerjap bingung.
"Tapi Leon maunya sama kak Beby, Dad... hiks..."
"Kenapa memang jika makan dengan saya ?" tanya Sean dingin dengan tangan terkepal dan rahang yang mengeras.
Ditatap tajam begitu, nyali Leon ciut, ia menganggukkan kepalanya setuju. "Ba–baiklah, Dad..." jawabnya lirih.
Dengan segera Sean menyeret tangan kecil Leon untuk dibawa makan ke sebuah restoran favoritnya. Sementara Leon yang saat ini sedang ditarik hanya bisa meringis kesakitan.
"Kenapa bocah seperti mu sangat merepotkan ku ?" gumam Sean.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA