MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 79 - AKHIR


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Setelah membawa Sean keluar dari apartemennya, Dominic kembali lagi masuk kedalam apartemennya.


Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, dimana ada Beby dan calon anaknya di sana. Dominic menghentikan langkahnya kakinya di dekat meja makan, matanya terus menatapi sang anak yang menangis hebat dipelukan Beby.


Ia merasa gagal menjaga dua orang wanita yang sangat ia sayangi itu.


Ia merasa tidak becus melindungi Beby dan juga Lily.


Tanpa sadar, sudut mata Dominic mengeluarkan air mata. Pria itu melanjutkan langkahnya ke ibu dan anak yang saling berpelukan di sudut ruangan, lalu ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua wanita itu.


"Sudah jangan menangis sayang, om jahatnya sudah Papi usir," ujar Dominic dengan suara bergetar menahan air mata.


Tangannya mengusap lembut kepala Lily dengan sayang. Sementara Lily di sana masih terus memeluk tubuhnya erat, ia sangat takut jika ibunya akan disakiti oleh pria asing itu lagi.


"Iya sayang, udah ya nangisnya. Mami udah gak pa-pa kok, om-nya kan juga udah diusir sama Beby," beritahu Beby dengan pelan, seraya tersenyum pedih.


Lily, anak kecil itu hanya terisak sembari bergumam kata 'takut' secara terus menerus dalam pelukan Beby.


"Kamu berdiri Beb, duduk di sofa aja. Lily kayaknya masih syok itu," pinta Dominic yang segera dituruti oleh Beby.


Dengan kedua tangan yang masih merengkuh tubuh anaknya, Beby berdiri dengan dibantu oleh Dominic. Mereka berjalan saling berpegangan untuk duduk disebuah sofa panjang.


"Jelaskan, bagaimana dia bisa datang dan masuk ke sini! Bukankah sudah aku beritahu, jika ada yang bertamu kamu lihat dulu, jangan main asal buka pintu apartemen!" geram Dominic dan Beby hanya bisa menundukkan kepalanya takut. "Kalo ditanya itu jawab! Buka mulutnya, jangan diam aja!" gerutunya lagi sebal, karena pertanyaannya tak segera dijawab oleh Beby.


Beby menghela nafas panjang, ia menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa, dan memposisikan kepala anaknya untuk bersandar pada bahunya.


"Aku sama sekali gak ada buka pintu, Nic!" beritahunya, "setelah selesai masak pada sore hari tadi, aku bersih-bersih. Rencanaku tadi adalah ingin merayakan hubungan kita yang baru saja membaik dengan acara makan malam. Tapi waktu aku baru saja selesai mandi, tepat semenit setelah aku mengirimkan pesan padamu, Sean tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang saat aku baru saja keluar kamar untuk menuju dapur."


Beby menatap mata Dominic dalam, ia benar-benar mengatakan yang sebenarnya pada pria itu. "Aku gak tahu bagaimana cara dia bisa masuk ke apartemen, aku sama sekali gak bukain pintu buat dia."


Pria di samping Beby itu memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Dari cerita yang ia dengar, ternyata Sean sudah melangkah jauh. Pria gila itu sepertinya sudah benar-benar bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan Beby.


"Apa yang dia lakukan kepadamu ? Apa dia menyakitimu ?" tanya Dominic yang membuat Beby lagi-lagi terdiam, tak bisa menjawab.


"Beby!" panggil Dominic dengan nada tajamnya.


Beby menelan salivanya susah payah, ia mengalihkan pandangannya kearah lain tak berani menatap Dominic. "Jika saja kamu tidak datang tepat waktu tadi, mungkin Sean sudah memp3rk0sa ku tadi...."


Tangan Dominic terkepal mendengar itu, dada pria itu naik turun karena nafas yang tidak beraturan. Dominic benar-benar marah sekarang, ia tidak suka miliknya dilecehkan oleh orang lain.


"Nic," panggil Beby seraya mengelus punggung lebar pria itu dengan lembut, gerakan tangan Beby yang luwes, membuat pria itu nyaman seketika. Perlahan emosi Dominic mulai menurun. "Jangan khawatir, dia tidak melakukan hal lebih kok. Aku juga terus menghindar, saat pria itu menyentuhku."


Kepala Dominic mengangguk, ia mencoba mempercayai ucapan sang kekasih.


"Sean semakin berbahaya, bisa saja sebentar lagi pria itu akan menculik dan menghamilimu lagi," ucapnya yang membuat bulu kuduk Beby berdiri seketika. "Dan tentu aku tidak ingin hal itu terjadi, aku ingin kita segera menikah. Secepat mungkin, kamu harus sudah berganti status menjadi istriku!" sambung Dominic tanpa bantahan.


Pria itu terlihat begitu serius sekarang dan Beby tak bisa menghindar lagi dari topik pernikahan ini. "Menikah ?" ulang Beby yang segera diangguki dengan cepat oleh Dominic. "Apa kamu benar-benar yakin akan menikah dengan perempuan seperti ku ?" tanya Beby dengan senyum yang dipaksakan. "Kamu yakin ? Menikah itu tidak hanya sehari atau dua hari Nic, tapi selamanya. Seumur hidup...."


"Tanda ragu aku menjawab, aku sangat yakin akan menikahimu. Aku, kamu dan Lily, kita bertiga akan bersama untuk selamanya. Biarkan aku mengambil alih posisimu menjadi kepala rumah tangga di keluarga kecilmu, Beby," jawab Dominic yang membuat Beby berkaca-kaca.


Dengan cepat kepala Beby mengangguk, dan Dominic segera merengkuh tubuh wanita itu yang masih memangku Lily di pahanya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk menjadi istrimu, Nic. Terima kasih karena sudah memilih wanita yang hina ini untuk menjadi istrimu," ucap Beby disela-sela pelukan mereka.


Dominic merenggangkan pelukannya, tapi lengannya masih memegang kedua pinggang Beby. "Tanpa berusaha kamu sudah menjadi yang terbaik, sayang," jawab Dominic yang membuat senyum mereka kembali mereka.


"Aku benar-benar sangat mencintaimu ..."


"Akupun juga mencintaimu, Nic, terima kasih atas seluruh kebahagiaan yang sudah kamu berikan kepadaku dan Lily," jawab Beby cepat dan mereka berc1um4n secara intens.


Tangis bahagia Beby, seketika pecah. Ia menyalurkan rasa senangnya melalui c1um4n mereka.


Beberapa menit, b1bir dan l1dah mereka saling bermain, Beby menghentikan permainan itu karena nafasnya yang sudah hampir menipis.


Diusapnya dengan pelan bibir calon sang suami dengan jempolnya. "Sudah malam, ayo kita tidur, Nic," ajak Beby. "Lihatlah ini, Lily juga sudah tertidur sedari tadi."


Mata Dominic beralih pada Lily yang nampak tak terganggu dengan aktivitas mereka. Bocah perempuan itu tertidur dengan air mata yang masih keluar dari sudut matanya.


"Bawa Lily ke kamar, anak kita pasti sangat ketakutan tadi," titah Dominic seraya berdiri dari duduknya.


Melihat Dominic berdiri, Beby juga seketika ikut berdiri. "Kamu mau kemana ? Gak tidur di sini aja ? Ini sudah larut, Nic. Aku gak mau kamu kenapa-napa," ujar Beby dengan firasat yang tiba-tiba tidak enak. Wanita itu merasakan jantungnya berdebar kencang saat ini, dan itu bukanlah pertanda yang baik.


Kepala Dominic menggeleng, "aku harus pulang sayang. Besok ada meeting penting dan aku sama sekali belum menyelesaikan bahan untuk meetingnya. Aku harus pulang untuk menyelesaikan itu."


"Nanti siang, aku bakal jemput kamu. Kita sama-sama ke rumah orangtua kamu, untuk mencari tanggal baik pernikahan kita," sambung Sean kepada Beby.


Beby menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya setuju. "Baiklah, Nic. Hati-hati dijalan, jangan ngebut dan nyalakan lampu mobil. Kita bertemu lagi besok," jawabnya yang segera diangguki oleh Dominic.


Cup.....


Dominic mengecup lama kening Beby, dan menatap lama mata wanita itu. "Aku pulang, mimpi indah. Dan sampai ketemu besok," pamitnya seraya meninggalkan ruangan tengah itu untuk menuju pintu apartemen.


Beby menatap punggung Dominic dengan hati yang tak tenang. "Sampai jumpa...." jawabnya lu berjalan ke kekamar untuk menidurkan sang anak yang sejak tadi terlelap.


...o0o...


Dominic memencet tombol buka kunci pada kunci mobil sportnya. Dan ia sesegera memasuki mobilnya itu untuk kembali pulang ke mansionnya.


Tadi saat menjemput Lily di rumah kakek neneknya, Dominic diantar oleh sang supir dan juga supir dengan membawa mobil perusahaan.


Dan malam ini, nampaknya ia harus pulang dengan menyetir kendaraannya sendiri karena tak enak hati harus menelfon sekretaris untuk minta dijemput, sekarang sudah hampir dini hari, sudah pasti jika sang sekretaris sudah pergi kealam mimpi saat ini.


Beruntungnya dia selalu menaruh salah satu mobilnya di apartemen Beby, jadi ia tak perlu repot jika harus pulang tengah malam begini.


"Sudah jam 1 dini hari, aku harus segera pulang dan menyelesaikan bahan meeting," ujarnya seraya menghidupkan mesin mobilnya.


Vroom....vroom....


Dominic segera menginjak pedal gas dan kini mobilnya sudah bergerak meninggalkan area apartemen Beby.


"Sangat sepi, lebih baik kita nyalakan radio..." Tangan Dominic segera terangkat untuk menghidupkan radio mobilnya.


Unconditional, unconditionally


**Tanpa syarat, tanpa syarat


I will love you unconditionally


**Aku akan mencintaimu tanpa syarat


There is no fear now


**Jangan takut sekarang

__ADS_1


Let go and just be free


**Ayo pergi dan bebas


I will love you unconditionally


**Aku akan mencintaimu tanpa syarat


song : Katy Perry - Unconditionally


Bibir Dominic bergerak, untuk bernyanyi bersama dengan lagu yang berputar pada radio untuk mengusir keheningan yang berada di dalam mobil itu.


"Sepi sekali ternyata jalanan jika dini hari seperti ini, hanya ada truk-truk pengangkut barang," gumamnya seraya menambahkan kecepatan mobilnya.


Kini ia menyetir dengan kecepatan mobil yang diatas rata-rata, sungguh saat ini ia benar-benar ingin cepat pulang ke mansionnya. Berendam air hangat, dan segera menyelesaikan bahan untuk meetingnya besok.


"Selesai meeting, aku akan segera menemui kedua orang tua Beby, untuk merencanakan pernikahan kami," ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya.


"Aku gak sabar, sangat tidak sabar menjadikan kamu sebagai cinta terakhir dalam hidupku, Beby...." sambungnya lagi.


Senyum diwajah Dominic kian mengembang, ia terus membayangkan mengenai acara pernikahan mereka, dan juga membayangkan jika diwaktu bangun tidurnya nanti, sudah ada Beby yang merawatnya.


Namun senyuman itu tak lagi bersemayam, tatkala saat ia ingin mengurangi kecepatan mobilnya, tapi rem mobilnya sama sekali tidak berfungsi.


"Sial, rem-nya blong!" ucapnya dengan nada kebingungan dan panik secara bersamaan. Tak henti-hentinya kaki Dominic menginjak pedal rem. Namun bukannya malah berhenti, kecepatan mobil Dominic semakin bertambah.


Wajah Dominic pucat pasi seketika, sekitar 500 didepannya ada sebuah truk kontainer bermuatan barang sudah berhenti di depan rambu lalu lintas yang kini menampilkan lampu merah.


Saat mobil sport yang ia tumpangi hampir mendekati truk kontainer itu, Dominic sesegera mungkin membanting stirnya ke kiri karena tak ada pilihan lain.


BRAKKK.....


Mobil sport yang ditumpangi Dominic membentur pembatas jalan disisi kira yang terbuat dari beton hingga mobilnya terpental ke sisi kanan dengan posisi mobil yang sudah terbalik beberapa kali. Kaca mobil bagian depan sudah pecah dan mobil terus bergerak tak tentu arah.


Sementara Dominic di dalam hampir tak sadarkan diri karena kepalanya menghantam keras stir mobilnya dan juga ada beberapa kaca mobil yang tanpa sengaja menancap pada bagian tubuhnya.


Tubuh Dominic terjepit di kursi merasakan nyeri yang begitu menyakitkan.


"ASTAGA KECELAKAAN...."


"KECELAKAAN TUNGGAL!"


"TOLONG SIAPAPUN TELFON POLISI DAN AMBULANS SECEPATNYA...."


Samar-samar dalam kesadarannya, Dominic mendengar teriakan para warga di sekitaran tempat kecelakaannya mulai mengelilingi mobilnya yang sudah penyok dan hancur dibagian depan.


Pandangan Dominic kian mengabur bersamaan dengan semakin banyaknya orang yang melihat keadaannya.


"Be–by....mm–ma–af....." ucapnya tergagap, seluruh tubuhnya benar-benar merasakan sakit. Terlebih kakinya yang harus terjepit dengan bagian depan mobil yang penyok.


Aliran darah membasahi kepalanya, tubuhnya pun kian mati rasa. Perlahan Dominic menutup kedua matanya erat, ia sudah tidak sadar lagi dengan sekeliling. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil ambulans sudah mendekat kemari.


"Bbb–be–bby......" panggilnya lagi menyerukan nama Beby sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


...o0o ...


MOBIL DOMINIC



__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE + KOMEN + VOTE DAN GIFNYA KAKAK 🤩🤩🤩


__ADS_2