
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Mata Beby berkedip beberapakali kali, ia melihat wajah pucat di depannya dengan seksama. Lalu ia mengerutkan dahinya bingung, "sepertinya tadi ada yang bersuara ? tapi siapa ?" tanyanya bingung.
Ia menelisik ruang kamar milik Clara ini, hanya ada dirinya dan Clara. Jika dirinya tidak berbicara, maka sumber suara itu berasal dari....
Sekali lagi mata Beby menatap Clara berbinar, "astaga nyonya sudah bisa berbicara ????" tanyanya dengan antusias.
Ia menaruh gelas berisi ramuan yang sudah habis di minum Clara itu di atas nakas, lalu ia bangkit dari duduknya berjalan keluar dari kamar Clara.
"Astaga!!! Aku harus memberitahukan hal bahagia ini ke semua orang!" Beby berjalan menuruni tangga dengan buru-buru.
Senyum diwajahnya tak luntur sama sekali, entah mengapa ia sangat senang saat mengetahui Clara ada perkembangan. Itu artinya sebentar lagi Leon akan mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
Kakinya menapak di ruang tengah rumah Sean, dilihatnya satu persatu wajah maid yang menatapnya dengan bingung.
"Kenapa non Beby berlari seperti itu ?" tanya seorang maid.
"Apa ada sesuatu yang salah non ?" tanya maid lainnya.
"Atau mungkin non membutuhkan sesuatu?"
Kepala Beby menggeleng, untuk menjawab pertanyaan para maid itu. "Bukan bik! Tidak terjadi apapun padaku. Bukan aku!" jawabnya.
Para maid itu saling tatap dengan alis yang berkerut. "Lalu siapa non ?"
"Nyonya Clara bik! Nyonya Clara! Dia sudah bisa berbicara. Tadi dia mengatakan kata 'tolong' padaku!" beritahu Beby dengan senyum manis.
Mata para maid itu membulat terkejut, lalu sedetik kemudian mereka bersorak senang. "Dewa pasti telah mengabulkan doa-doa kita!" jawab maid itu yang dibenarkan oleh Beby dan maid lainnya.
"Aku akan beritahu dokter pribadi Nyonya Clara agar segera datang kemari dan memeriksa Nyonya!"
"Aku akan menelfon tuan Sean!"
"Baiklah jika begitu aku akan menelpon nona Vania agar segera pulang kerumah. Ini benar-benar berita yang sangat menggembirakan hari ini!"
Beby menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan para maid itu.
Saat para maid tengah berlarian mengambil telfon, lalu ada juga yang berjalan menuju kamar Clara. Beby malah berdiam diri di ruang tengah itu dengan senyum kecil.
Tangannya terulur untuk mengelus pelan sang calon bayi. "Sayang, maafkan Mami jika suatu hari nanti kamu lahir tanpa ada seorang ayah di samping mu. Ayahmu sudah memiliki keluarga kecil yang bahagia, istrinya juga sudah hampir sembuh. Kamu berdua saja sama Mami yaa! Maafkan Mami karena tidak mungkin merebut Ayahmu dari istri dan anaknya! Tapi yang pasti Mami bisa menjamin kamu akan hidup bahagia bersama Mami!" monolognya pada snag calon bayi.
Setelah mengatakan itu, ia mengusap sudut matanya yang tiba-tiba menetaskan air mata dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Clara. "Nyonya sebentar lagi sembuh, itu artinya keberadaan ku di rumah ini sudah tidak berguna. Mungkinkah sebentar lagi aku akan kembali ke Indonesia ?" batinnya.
__ADS_1
...o0o ...
Seseorang tengah sibuk dengan berbagai e-mail yang masuk di jaringan laptopnya. Dinginnya AC tak membuat keringat dipelipisnya menghilang karena ia menggunakan otaknya dengan keras.
Jari jemari Sean dengan lihai mengetikkan sesuatu pada keyboard laptopnya, matanya juga fokus dengan layar laptop itu, sampai sama sekali tak memperhatikan ada seseorang yang masuk ke ruangannya dengan terburu-buru.
"Tuan!!! tuan Sean!!!" Jacob berlari kecil memasuki ruangan tuannya dengan memanggil nama Sean dengan sangat lantang.
Sean melirik sekilas kearah Jacob lalu memfokuskan dirinya kembali pada layar laptopnya.
"Tuan Sean! Tuan Sean!" panggil lagi dan Sean berdecak sebal dibuatnya. "Apa ? " tanya Sean dengan mata yang menyorot tajam Jacob. "Aku paling benci jika seseorang meneriaki namaku secara terus-menerus. Jika ada hal penting cukup panggil namaku sekali dan katakan inti masalahnya!" tegur Sean dengan keras.
Jacob menganggukkan kepalanya dan menelan salivanya dengan susah payah. Mata tajam Sean benar-benar sangat mengerikan di matanya.
Sean menghembuskan nafas panjang melihat keterdiaman Jacob. "Katakan sialan! Apa ada ?" tegasnya kesal.
"Nyo–nyonya Clara tuan!" mendengar nama istrinya di sebut, Sean menatap Jacob tanpa kedip. "Tadi kepala maid menelfon saya. Ia menginformasikan tadi saat Beby sedang menyuapi Nyonya makan, Beby mendengar dengan jelas Nyonya berbicara. Nyonya mengatakan kata 'tolong' tuan!"
Mata Sean membulat, ia berdiri dari duduknya dan menutup laptopnya cepat, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. "Clara berbicara ?" tanyanya dengan mata berbinar.
Segera Jacob menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Sean. "Kita pulang sekarang!" ucap Sean sebelum mereka berdua berlari kecil meninggalkan ruangan Sean untuk keluar menuju mobil yang berada di parkiran dan menuju mansionnya.
Tiga puluh menit perjalanan dari perusahaan menuju mansionnya. Menurut Sean ini adalah hari yang terlama menuju mansionnya, padahal ini sudah sangat cepat supirnya menyetir.
Tapi tetap saja menurutnya terasa seperti seharian perjalanan, sungguh Sean tak sabar mendengar suara Clara lagi.
Mobil Sean berhenti di depan pintu mansion bersamaan dengan mobil Leon yang terparkir. Jacob membukakan pintu mobil Sean dan disambut dengan wajah pucat Vania yang tengah menggendong Leon.
Tangan Sean mengelus kepala Vania pelan lalu mengambil alih Leon dari gendongan wanita itu. "Entahlah, kita lihat saja langsung ke kamar ya. Kamu pasti sangat senang mendengar kabar ini sampai pucat begitu wajah kamu," ucap Sean.
Vania meringis lalu menganggukkan kepalanya kikuk. "I–iya..."
"Ya sudah ayo masuk!"
Mereka berjalan menuju kamar Clara dengan sangat semangat, kecuali satu wanita yang nampaknya tidak menyukai berita ini.
Jacob berjalan di depan, ia membukakan pintu kamar Clara kepada tuannya. "Silahkan masuk tuan, nyonya Clara masih di periksa oleh dokter pribadinya."
Dengan jantung berdebar Sean masuk ke kamar Clara sembari menggendong Leon dan di susul oleh Clara.
Mata mereka melihat dua dokter tengah memeriksa keadaan Clara dengan sangat intens.
Beby yang melihat kedatangan Sean langsung mendekati pria itu. "Tuan, saya mendengar sendiri loh suara nyonya Clara!"
Sean tak menanggapi ucapan Beby, matanya masih terfokus dengan sang istri yang saat ini tengah tak sadar.
Hingga beberapa menit kemudian, kedua dokter selesai memeriksa Clara, namun raut wajah dokter itu tampak tak menunjukkan kebahagiaan.
"Bagaimana ?" tanya Sean tanpa basa-basi.
Kedua dokter itu saling tatap, lalu menghela nafas panjang. "Tidak ada kemajuan sama sekali tuan, kondisi Nyonya Clara malah semakin memburuk."
__ADS_1
Mata Beby menyorot dokter itu dengan tidak terima. "Tidak ada kemajuan ? Semakin memburuk ? Apa yang anda maksudkan dok ? Saya mendengar sendiri suara Nyonya Clara !!"
"Mustahil sekali nona, itu tidak mungkin. Nyonya Clara sampai saat ini belum bisa berbicara sampai saat ini, mungkin bisa jika Tuhan memberikan mukjizat nya, tapi tidak sekarang! Tolong jangan berbohong!" sergah sang dokter yang membuat Beby semakin meradang.
"Berbohong ? Siapa yang berbohong, huh ? Aku mendengar sendiri dengan kedua telinga ku ini!"
"Maaf nona, apa anda melihat sendiri mulut Nyonya Clara bergerak ?" tanya sang dokter dan mendapat gelengan kepala dari Beby.
Wanita itu mengigit bibir bawahnya, "ti–tidak aku tidak melihat wajahnya, aku hanya mendengar suaranya saja. Tapi tadi Nyo––"
"Cukup!!" ucap Sean menengahi.
Dada pria itu bergemuruh kearah Beby, ia memberikan anaknya pada Vania yang nampak terlihat lebih bugar dari sebelumnya, nampaknya wanita itu terlihat bahagia setelah mendengar kondisi kakaknya semakin memburuk ? Entahlah kita semua tak ada yang tahu isi hati seseorang.
"Kalian semua pergi kecuali kau!" tunjuk Sean pada Beby.
Semua orang segera melangkahkan kaki keluar dari kamar Clara. Tidak ada yang bisa melawan Sean.
Setelah semua orang keluar, dan tertinggal Sean, Beby, dan Clara yang tak sadar di ruangan ini. Pria itu menatap Beby dengan sangat tajam. Urat-urat lehernya bahkan tercetak jelas.
Plak.....
"PUAS?!?! PUAS MEMPERMAINKAN PERASAAN KU ?" tanya Sean setengah berteriak. "AKU SANGAT MENGHARAPKAN CLARA SIUMAN DAN KAU MALAH MEMBUAT CANDAAN TENTANG INI!"
"KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA AKU SANGAT INGIN MENDENGAR SUARA CLARA LAGI!"
Plak....
Plak....
Pipi kiri dan kanan Beby terus menjadi sasaran amarah dari Sean. Setelah puas menampar Beby, ia menjambak rambut wanita itu dengan sangat keras.
"JANGAN BUAT ISTRIKU MENJADI BAHAN CANDAANMU! WANITA SIALAN!" Sean berteriak di depan wajah Beby.
Tubuh Beby merosot ke lantai, ia terisak dalam diam. Sementara Sean berjalan keluar dari kamar Clara untuk mencari sasaran yang bisa ia gunakan untuk melampiaskan amarahnya.
"A–aku bersumpah telah mendengar suara Nyonya Clara...hiks..."
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1