
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Sean menarik tangan Beby keluar dari ruangan rapat itu dengan kasar, tak memperdulikan ringisan yang keluar dari mulut wanita hamil itu.
Emosinya sudah berada diluar batas wajar saat melihat wanita ini berdekatan dengan laki-laki lain selain dirinya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, Beby!" teriakan dari pria asing itu masih terdengar sebelum mereka bertiga–termasuk Jacob keluar dari ruang rapat itu.
"Tidak ada lagi-lagi, ini yang pertama dan terkahir kalinya," desisnya tajam sebelum berjalan masuk menuju lift.
Di dalam lift tidak ada obrolan yang terjadi, dan juga tidak ada yang berani membuka mulut apalagi saat melihat wajah dan leher Sean yang memerah.
Ting...
Saat pintu lift terbuka, dengan segera Sean menyeret Beby untuk keluar dan berjalan menuju mobil Sean yang sudah menunggu di basement kantor.
Jacob berjalan mendahului mereka dan membukakan pintu untuk Sean juga Beby. "Silahkan masuk, tuan..."
BRAKKK.....
Sean menghempaskan dengan kasar tubuh Beby untuk masuk ke dalam mobil setelahnya ia baru masuk ke dalam mobilnya.
"Bisakah tuan, memperlakukan saya dengan baik sekali saja ?" tanyanya dengan emosi yang sudah tersulut. "Saat ini saya sedang hamil anak tuan! Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada saya atau calon anak saja!" gerutunya kesal.
Beby mengalihkan pandangannya kearah lain saat ditatap tajam oleh Sean. Namun Sean mencekram kuat dagu Beby, hingga kepala wanita itu kembali menatap kearah wajahnya.
"Sudah tahu hamil tapi masih tetap ganjen, huh," jawabnya dengan smirk. "Kau tidak perlu bersikap jal4ng di hadapan pria lain. Jika ingin uang katakan saja padaku! Ingat kau sedang hamil. Tidak ada pria apalagi seorang pengusaha kaya raya sepertinya yang mau menerima wanita bekas sepertimu!" sambungnya cepat.
Tangan Beby terkepal kuat menyalurkan rasa sakit pada hatinya saat mendengar perkataan Sean, ia melepaskan cengkraman tangan Sean pada dagunya dan kembali menatap luar mobil melalu jendela.
"Aku bukan j4lang dan aku hanya tidur denganmu," desisnya berbisik disertai air mata yang menggenang dimatanya.
...o0o...
__ADS_1
BRAKKK...
Sean membanting pintu mobilnya, lalu berjalan masuk ke mansionnya meninggalkan Beby dan Jacob yang masih duduk didalam mobil.
"Sudah, jangan menangis Beb, jangan dengarkan ucapan pria itu. Kau harus tetap semangat, ini juga demi calon anakmu," ucap Jacob yang iba dengan keadaan wanita yang duduk di kursi belakang itu.
Beby menyeka air matanya dengan tangan lalu menganggukkan kepalanya kepada Jacob. "Tentu, Jacob. Aku tidak akan memasukkan perkataan Sean dalam hatiku, aku sudah melupakan ucapan menyakitkan itu," beritahunya dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah berpamitan dengan Jacob, Beby segera keluar dari mobil dan ikut masuk ke dalam mansion milik Sean itu.
Ia berjalan masuk menuju kamarnya untuk mandi dan menggunakan pakaian yang lebih santai.
Lima belas menit ia membersihkan badan akhirnya ia selesai dan berjalan keluar dari kamar untuk mengecek keadaan tuan mudanya, apa sudah tidur siang atau belum.
Tok...tok...tok...
Ia mengetuk perlahan kamar milik Clara itu. "Tuan, saya Beby. Ingin melihat tuan muda Leon," teriaknya.
"Masuk!"
Ceklek....
Beby memutar knop pintu itu perlahan dan di sambut oleh pemandangan yang sangat menyakiti matanya.
"Kak Sean, ini ayo aak dulu, nanti sakit magh loh," ucap Vania sembari membuka mulutnya lebar.
Sean melirik sendok yang berada di depan mulutnya sekilas lalu membuka mulutnya lebar, mempersilahkan Vania untuk menyuapinya.
Vania tersenyum lebar, Sean sama sekali tak menolak perhatian yang ia berikan. Diliriknya Beby yang duduk di tepi ranjang dengan tangan yang mengelus kepala Leon yang tengah tertidur tapi mata yang memperhatikannya dengan Sean.
Dalam hati Vania bersorak kemenangan, akhirnya ia bisa memperlihatkan pada Beby jika hanya dirinya lah yang pantas menjadi kandidat satu-satunya calon nyonya di mansion ini.
"Enak gak kak, masakan Vania ? Ini Vania buat sendiri loh. Dari pagi dan baru selesai sekarang masaknya, ini semua buat Leon dan kak Sean," tanyanya dan tak lupa ia membanggakan dirinya sendiri.
Mendengar itu Beby memutar bola matanya malas, "masak dari pagi matamu! Perasaan dari pagi dia di sini hanya bermain ponsel deh. Gak pernah tuh ke dapur buat masak," batin Beby geram.
"Enak," jawab Sean tanpa melirik kearah Vania, ia masih fokus dengan laptop dan juga dokumen-dokumen yang harus ia check.
Vania bersorak senang, ia kembali menyuapkan nasi serta lauk yang sejujurnya ia beli dari restoran kepada Sean. "Kalo kamu mau lagi, aku bisa masakin kamu terus. Sebenarnya ini tuh resep dari kak Clara, dia kan hobby banget masak. Dan dia selalu tegasin ke aku kalo jadi perempuan itu harus mandiri, bisa masak, bisa kerja, dan jangan bergantung sama laki-laki. Jadilah aku yang sekarang, mandiri dan disiplin. Sesuai dengan apa yang diajarkan kak Clara. Seandainya kak Clara bisa berbicara dia pasti juga akan memujiku," ucapnya melemah.
Sontak mata Sean dan Vania melirik kearah Clara yang kini mata wanita itu tengah menatap wajah adiknya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Andai saja kak Clara sembuh, dia pasti akan selalu membanggakan aku. Tapi sekarang dia...hiks....hiks....dia tidak bisa melakukan apapun...hiks...."
Sean menyingkirkan laptopnya dari pangkuannya dan segera menarik adik iparnya itu kedalam pelukannya. "Sstt, tenanglah Vania. Bukan cuma Clara yang bangga, aku juga sangat bangga kepadamu. Tenanglah sebentar lagi dia pasti sembuh..."
Didalam pelukan Sean, Vania semakin mengeratkan tubuhnya pada kakak iparnya itu. "Semoga saja dia segera sembuh dari sakit lum-puh nya itu.." jawabnya dengan menekan kata lumpuh.
Tok...tok...tok...
"Tuan, saya membawa paket dari seseorang," ucap seorang maid dari luar kamar.
Sean melepaskan pelukannya, dan menyuruh maid itu untuk segera masuk. Vania berkomat-kamit menyumpah serapahi maid yang mengganggu kedekatannya dengan Sean tadi.
Sedangkan Beby di tempatnya menahan tawa melihat wajah kesal Vania. "Dasar rubah licik!" batinnya.
"Ini tuan, barusan ada paket untuk non Beby," beritahu maid itu dan menyerahkan box berwarna merah muda itu kepada Beby.
Dengan raut wajah bingung Beby menerima box cantik itu. "Dari siapa, bik ?" tanyanya.
Maid itu menggeleng, tanda tak tahu. "Tadi orang yang nganter paketnya gak bilang ini dari siapa non," jawab maid itu lalu meminta izin untuk keluar dari kamar Clara.
Beby membuka box cantik itu perlahan, membuat Sean dan juga Vania menatapnya penasaran juga.
"Dari siapa ?" tanya Sean dengan suara dinginnya.
"Aku tidak tahu, tuan," jawab Beby dengan jujur. Setelah dibuka box itu hanya berisi kotak perhiasan dan sebuah dress berwarna merah yang cukup seksi.
Tangan Beby terangkat itu mengangkat kota perhiasan itu dan dibukanya di sana. "Oh astaga, ini sangat cantik dan mahal sekali...." pekiknya senang bukan main.
"Buang!" titah Sean sembari menutup laptopnya, ia berdiri dan berjalan menghampiri Beby dengan wajah kesalnya. "Aku bisa memberikan mu yang harganya 10 kali lipat dari perhiasan itu! buang sekarang!!!!!" sambungnya sebelum merampas box itu dan membawanya keluar dari kamar Clara.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA