
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Hujan deras pada pagi hari itu sama sekali tak membuat suasana hati mereka tenang. Hujan deras ini juga sama sekali tak mengurungkan niat mereka untuk menyemayamkan jenazah Clara yang telah berpulang pada sore hari kemarin.
Para manusia yang berpakaian serba hitam itu mulai memasuki area pemakaman dengan raut sedihnya. Termasuk seorang pria yang kini ikut mengangkut peti mati sang istri.
Tak ada isak tangis yang keluar dari mulutnya, namun mata Sean sama sekali tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
“Tuhan yang mahakuasa sudah berkenan memanggil beliau kita ini ke pangkuan-Nya. Jenazahnya akan kita serahkan kembali kepada tanah. Akan tetapi kita percaya bahwa Kristus akan mengubah tubuh beliau yang fana ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang sangat mulia. Semoga Tuhan menerimanya dalam damai serta membangkitkannya untuk kehidupan yang kekal," ucap pemimpin upacara kematian itu yang di-aminkan oleh seluruh para umat.
Perlahan peti mati itu masuk ke liat lahat dan segera di timbun oleh tanah, hingga peti mati itu tak terlihat lagi oleh mata.
Leon menangis histeris dibuatnya, bocah laki-laki memberontak dalam gendongan Vania. Mulutnya tak henti-hentinya meneriaki nama sang ibu.
"MOMMY!!! KENAPA MOMMY DI TARUH DI TANAH ? hiks.....hiks.....MOMMY!!!!" teriak Leon dengan sangat keras.
Mata Vania menatap Leon dengan kesal, dalam hati ia menyumpah serapahi bocah itu. "Diamlah sebentar bocah ingusan! Kau itu sangat berat sialan!" batinnya.
Sementara di belakang Vania, Mommy dan Daddy Sean yang baru datang subuh tadi langsung berlari kearahnya dan segera merebut Leon dari gendongan Vania.
"Astaga cucu nenek, tenang lah sayang..." Mommy Sean mengusap punggung Leon dengan sayang, air mata juga terus mengalir di wajahnya.
Daddy Sean pun ikut menangis, ia mengelus pelan kepala sang cucu. Suaranya mendadak menghilang, ia sama sekali tidak bisa mengucapkan kata-kata untuk menenangkan sang cucu, karena dirinya juga masih sangat syok dengan berita meninggalnya sang menantu.
"Hiks....Mommy Sean....hiks....kakakku telah mati...." Vania langsung menyerempet Mommy Sean dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Kau juga tenanglah Van, sekarang kakakku sudah pasti bahagia di surga..." jawab Mommy Sean yang tersenyum tipis kearah Vania.
Senyum Vania seketika terbit, ia menganggukkan kepalanya semangat dan mengeratkan pelukannya pada Mommy Sean. "Jangan bersedih Mommy, karena pengganti kak Clara sudah di depan mata..." batinnya lagi.
Kini mata mereka kembali terfokus dengan ucapara pemakaman Clara di depan. Sean yang sedari tadi ikut mengubur Clara hanya diam sembari menitihkan air matanya.
“Semoga doa-doa kita ini mengiringi beliau kita ini dalam perjalanan menuju rumah Bapak.” Para umat pun kembali mengamini ucapan dari pemimpin.
Para peziarah itu menghampiri makam Clara yang sudah tertutup dengan tanah yang menggunung dan segera menaburkan bunga mawar merah di atasnya.
__ADS_1
Keluarga Sean juga melakukan hal yang sama, mereka mendekat dan menaburkan bunga diatas makam Clara.
Satu persatu para ziarah pamit pulang, hingga di makam itu hanya tersisa keluarga Sean, Vania dan juga Jacob.
"Ayo Leon, taburin bunga buat Mommy," ucap Mommy Sean sembari menurunkan tubuh bocah itu ke tanah dekat makam Clara.
Leon menggeleng dan mengeratkan rangkulannya pada leher sang nenek. "Kenapa Mommy di masukkan ke peti dan di taruh di tanah hiks....hiks...." tanya bocah itu.
Mommy Sean tersenyum dan mengelus kepala cucunya dengan sayang. "Karena Mommynya Leon ingin tidur dengan tenang. Jadi biar gak ada yang ganggu harus dimasukkan ke dalam peti. Mengerti ya nak..."
Perlahan bocah kecil itu menguraikan pelukannya dari neneknya. "Te–terus...hiks....kalo Leon kangen sama Mommy gimana ? Dibuka lagi kan petinya ?"
Sembari menggelengkan kepalanya, Mommy Sean tersenyum lagi kepada Leon. "Tidak sayang, Mommy akan selamanya di dalam peti. Kalo Leon rindu Leon bisa lihat Mommy di langit, karena Mommy selalu pengawasi Leon diatas langit."
"Sudah-sudah ayo taburkan bunga ke Mommy mu," potong Daddy Sean saat melihat cucunya akan bertanya lagi dan lagi.
Mata Sean terus mengawasi sang anak yang tampak begitu lemah. Bocah itu terus menangis saat menaburkan buang diatas makan Clara yang membuat Sean merasa menjadi ayah yang tidak berguna.
Ia gagal menjadi seorang suami dan ayah. Ia gagal menjaga keluarganya sendiri. Ia gagal membuat keluarga kecilnya bahagia.
Dan ini semua gara-gara kelalaian Beby, anda saja Beby menjaga Clara dengan baik, anda saja Beby memberikan obat Clara dengan tepat pasti Clara tidak akan seperti ini.
Senyum miring tercetak dengan jelas di wajah tampannya. Tangannya terkepal kuat disertai air matanya yang menetes pasa matanya yang memerah.
...o0o...
Mereka kini tengah berkumpul di ruang keluarga pada mansion Sean. Setelah pulang dari makam, keluarga Sean termasuk Vania dan Jacob pergi ke gereja untuk mendoakan kepergian Clara.
Dan kini mereka memutuskan untuk mendiskusikan sesuatu menyangkut kepergian Clara.
"Dimana Leon sekarang ?" tanya Sean dengan mata sayunya, pria itu benar-benar tak memiliki semangat hidup sepertinya.
"Dia di kamar sedang tertidur, dia menangis seharian itu membuatnya kelelahan hingga tertidur," jelas Mommy Sean yang diangguki oleh Sean.
Mata Daddy Sean melihat kesegala arah, ia menyadari jika ada seseorang yang sangat penting yang tidak hadir di ruangan ini.
Lalu matanya beralih kepada anaknya, Sean yang ditatap oleh sang ayah seperti itu langsung mengangkat sebelah aslinya bingung. "Apa ?" tanyanya dengan nada lesu.
"Pengasuhnya Leon yang cantik itu kemana ? Daddy tak melihatnya sedari tadi, apa dia sakit atau pergi ?" tanyanya yang membuat kekesalan Sean yang sempat menghilang kini kembali lagi.
"Ah iya benar! Dimana si berby itu ? Mommy tidak melihat Beby sejak tadi."
Di tempatnya Vania memutar bola matanya malas, "sial ternyata Beby sudah berkenalan dengan orang tua Sean!"
__ADS_1
Melihat keterdiaman Sean, Jacob langsung mengambil alih perbincangan ini. "Ehm begini, sebenarnya Beby sudah tidak bekerja di sini lagi," beritahu Jacob dengan mata yang sesekali melirik kearah Sean.
Kedua orang tua Sean saling tatap dengan raut wajah bingung. "Memang kenapa ? Sayang sekali jika dia di pecat. Pekerjaannya baik, dia juga dekat dengan Leon. Benarkan Vania ?" tanya Mommy Sean pada gadis itu.
Dengan senyum kikuk Vania menganggukkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sementara Jacob menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Beby telah melakukan kelalaian Nyonya, tuan. Dia tidak merawat nyonya Clara dengan baik hingga kondisi nyonya drop. Maka dari itu tuan memecat Beby," jelas Jacob dengan pelan.
"Benarkah ? Aku rasa itu tidak mungkin! Beby orangnya sangat cekatan dan telaten. Mana mungkin dia yang menyebabkan kondisi Clara drop ? Itu terdengar musta––"
"DADDY!!!" bentak Sean cepat kepada orangtuanya. "JANGAN PERNAH SEBUT NAMA WANITA SIALAN ITU LAGI DI DEPAN KU! DIA YANG MEMBUAT CLARA MATI! DIA TIDAK MEMBERIKAN OBAT PADA CLARA!" teriak Sean dengan nafas yang tersengal-sengal.
Pria itu bangkit dari duduknya dengan kedua tangan yang terkepal menahan emosi, matanya menatap tajam sang ayah terus membela Beby.
"Gara-gara wanita sialan itu aku harus merelakan kepergian Clara! Jangan sebut wanita itu lagi!" pintanya dengan nada memelas. "Aku bersumpah atas nama Clara, bahwa aku sendiri yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa itu wanita itu!" sambungnya sebelum melangkah pergi menaiki tangga. Sementara Jacob meminta ijin untuk kembali pulang ke rumahnya mengingat hari sudah sangat malam.
Vania mengigit ujung lidahnya agar tak tersenyum, wanita itu juga ikut bangkit dari duduknya. "Mommy, Daddy, Vania juga mau tidur ya sudah malam...."
Kedua orang tua Sean menganggukkan kepalanya. Saat ini di ruang tengah itu hanya tersisa mereka berdua.
"Aku yakin terjadi kesalahpahaman di sini," ucap Mommy Sean ditengah keheningan mereka. "Padahal Mommy sangat menginginkan Beby untuk mejadi menantu kita. Dia benar-benar sudah menjadi kesayangan Leon."
Daddy Sean menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan sang istri. "Aku yakin Beby tidak mungkin lalai mengurus Clara, apalagi sampai tidak memberikan obat pada Clara. Itu sangat tidak mungkin."
"Tapi bagaimana Dad, sepertinya kita akan gagal mendapatkan Beby sebagai menantu kita. Sean nampak sangat benci kepada Beby sekarang."
Seringai diwajah mantan mafia itu tercetak jelas, ia menundukkan kepalanya menatap lantai dan semakin melebarkan seringainya. "Benci dan cinta itu hany setipis kertas, Mom. Kita lihat saja kapan Sean akan menyadari cintanya dan hidup dalam penyesalan....."
...o0o ...
Yang salah siapa, yang disalahin siapa ☺️👍
Emang agak beg0 tuh Sean
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA