
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Mobil yang ditumpangi Beby akhirnya berbelok kesebuah gedung apartemen yang sangat besar ditengah kota. Gedung apartemen itu dekat dengan perusahaan Dominic, dan memang sudah rencana Dominic yang ingin Beby tinggal berdekatan dengannya.
Jika sewaktu-waktu ia merindukan Lily, Dominic tak perlu kejauhan untuk bertemu sang anak.
Dan jangan bertanya, kenapa selama tinggal di Itali ia tidak bersama saja dengan orangtuanya. Alasan utamanya adalah karena Sean. Mereka takut jika sewaktu-waktu pria itu datang ke rumah untuk mencari Beby seperti yang sering mereka lakukan.
Seperti beberapa bulan lalu contohnya, Sean datang dengan puluhan anak buahnya mengacak-acak mansion Beby, hanya untuk mencari keberadaannya.
Beby tidak berhasil di temukan, tapi hampir setengah dari mansion Beby hancur ditangan anak buah Sean.
Maka dari itu ia tidak ingin jika saat tiba-tiba Sean kembali datang dan melihat ada keberadaan Beby. Pria itu akan menculik Beby atau membunuhnya secara langsung. Mereka tidak mau. Jadilah Dominic memberikan saran untuk tinggal di apartemen sana. Jadi setiap Beby pulang ke Italia, ia akan menetap di apartemen.
"MAMII!! AYO TURUN! KOK BENGONG SIH!" teriakan sang anak membuat lamunan Beby buyar seketika. Wanita itu melihat pintu mobil sudah terbuka, dan Dominic tengah menatapnya intens seraya menggendong Lily.
Buru-buru Beby keluar dari mobil sembari membawa tasnya dan menutup pintu mobil.
"Sudah, ayo!" ajaknya seraya tersenyum kikuk.
Dominic berjalan di depan dengan menggendong Lily yang terus berceloteh, sedangkan Beby di belakangnya menggeret kedua koper yang amat berat.
Mereka bersamaan memasuki lift, didalam lift itu tak ada yang membuka suara kecuali sang anak yang terus bercerita.
Ting...
Pintu lift terbuka saat tabung itu berhasil membawanya ke lantai kamar apartemen Beby.
Dominic menekan nomor pin di kunci pintu dan pintu segera terbuka, ia menurunkan Lily ke bawah dan membiarkan anak itu untuk segera berlari memasuki apartemen.
"Makasi ya, Nic udah di jemput tadi. Kamu bisa lanjut bekerja sekarang! Maaf sudah membuat waktu kerjamu terpotong," ucap Beby dengan senyum kecil.
Saat ia berbalik ingin memasuki apartemen, dengan cepat Dominic menahan lengan Beby agar tidak masuk ke apartemen sekarang.
Beby membalikkan badan dengan kedua alis yang terangkat bingung. "Ada apa, Nic ?" tanyanya.
"Siapa anak kecil itu ? Kamu kenal ?"
"Anak yang di kafe tadi ?" tanya Beby lagi yang diangguki kaku oleh Dominic. "Namanya Leon, dia itu anaknya Sean. Dulu aku yang ngasuh dia dari umur 4 tahun," jawab Beby dengan senyum lebar.
Dominic menghela nafas kasar dan memojokkan Beby ke dinding samping pintu apartemennya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kau berhubungan lagi dengan Sean atau anaknya dan juga keluarga pria itu. Tidak ada lagi berbicara dengan mereka! Lain kali, jika kamu bertemu secara tidak sengaja cukup abaikan!" Hidung Dominic bersentuhan dengan hidung mereka.
Mata mereka saling bertatapan, dari jarak yang hanya tersisa beberapa centi saja ini, Beby bisa merasakan wangi nafas Dominic yang begitu menyegarkan.
"Mengerti, Beby ?" Dengan cepat Beby menganggukkan kepalanya cepat. "Mengerti."
Cup...
Dominic *****4* kasar bibir Beby hingga beberapa menit yang membuat wanita itu kehilangan nafas.
Tangan Dominic yang berurat mengusap pelan bibir Beby yang basah akibat ulahnya. "Good girl! Aku pulang!" pamitnya lalu segera berbalik dan berjalan memasuki lift.
Sementara di sana Beby masuk ke apartemen dengan senyum yang menghiasi wajahnya, tangannya terangkat untuk memegang dadanya yang berdegup kencang akibat ulah Dominic.
Sepertinya rasa sayangnya pada pria itu semakin bertambah saja, setiap harinya.
"Mami! Papi mana ? Kok gak masuk sih!" tanya Lily yang sudah bermain dengan bonekanya di lantai.
Beby tersenyum singkat lalu berjalan mendekati sang anak dan mengelus bocah itu sayang. "Papi yah kerja sayang, nanti malam baru ke sini lagi," jawab Beby yang membuat bibir gadis kecil itu mengerucut ke depan.
Ibu itu tertawa kecil, dilihatnya lagi wajah cantik sang anak yang merupakan perpaduan dirinya dengan Leon. Meskipun jika dilihat lebih lama Lily akan cenderung lebih mirip sang ayah kandung.
"Beruntung kamu ikut sama mami nak. Kasian nasib kakak mu di rumah Daddy. Dia sampai minta-minta uang buat makan gitu. Pasti sama Sean gak di rawat itu," batinnya sembari menatap langit-langit apartemennya.
...o0o...
Supir mobil Sean mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang melaju ke sekolah Leon.
Jacob segera membukakan pintu untuk tuannya, Sean keluar dan melangkah dengan tegas menghampiri supir pribadi Leon yang sudah menunduk karena kedatangannya.
"Maafkan saya, tuan Se––"
BUGHH.....
Tanpa basa-basi Sean langsung memberikan bogem mentah kepada supir Leon itu. Snag supir langsung terjatuh di aspal dengan hidup dan bibir yang mengeluarkan darah.
"KAU MENGURUS SEORANG REMAJA SMP SAJA TIDAK BECUS!!!" teriak Sean yang sudah frustasi.
Ia takut jika Leon diculik oleh musuhnya yang mempunyai dendam atau bisa saja remaja itu dibunuh untuk diambil organ dalamnya.
Tidak! itu tidak boleh terjadi! Sean tidak mau kehilangan seseorang orang lagi!
Sean berbalik badan dan menatap anak buahnya satu persatu dengan mata elangnya. "BERPENCAR!!! CARI LEON DIMANA PUN! KALAU SAMPAI HINGGA SORE LEON TIDAK DITEMUKAN, MAKA NYAWA KALIAN TARUHANNYA!!!" teriak Sean.
"Baik, tuan!" jawab mereka serentak.
Para pria berbadan kekar itu langsung berlari menuju sekolah, ke gang-gang kecil di samping sekolah untuk mencari Leon.
Sementara Jacob masih berusaha menenangkan tuannya yang masih terguncang karena berita kehilangan Leon.
__ADS_1
Berbeda dengan ayah serta anak buah dari ayahnya yang panik setengah mati karena mencarinya. Seseorang dikafe malah nampak asik dengan uang-uang berhamburan itu.
Leon sudah mengambil semua uang berhamburan di lantai. Uang yang diberikan Dominic padanya adalah sebanyak 5 juta rupiah.
Senyum Leon kembali mereka, ia harus segera kembali ke bengkel tadi untuk menukar uangnya dengan obat serbuk putih itu.
Tubuhnya kian melemas dan dirinya sudah tak mampu lagi untuk berfikir. Dengan cepat, ia keluar kafe tanpa memperdulikan tatapan tajam dari seluruh pengunjung kafe dan juga pegawai kafe itu.
Ia harus cepat ke sana untuk membeli obat itu!
Tring...
Bel bel pintu Cafe berbunyi setiap pintu itu dibuka, bersamaan dengan kaki yang melangkah keluar dari kafe.
Baru beberapa langkah ia melangkah keluar dari kafe ada seseorang yang meneriaki namanya dengan keras.
"ASTAGA! ITU TUAN MUDA LEON TUAN!" teriak seorang pria berbadan kekar yang baru akan memasuki kafe.
Mata Leon membulat terkejut, ia segera ingin berlari menghindari pria berbadan kekar itu dengan memasuki kafe.
Tapi sang bodyguard lebih dulu menangkap tubuh Leon dan dibawanya ke hadapan Sean. "Tuan Sean, ini tuan muda Leon sudah saya temukan!!" teriaknya sembari menarik tubuh Leon ke sang ayah.
Sean yang sibuk menyesap r0koknya langsung membuat putung r0kok itu keaspal dan menginjaknya.
Senyum diwajahnya terangkat sempurna melihat keberadaan sang anak yang akhirnya ditemukan.
"LEPAS!!! LEPASKAN LEON!!! LEON MAU BELI OBATT!!! TUBUH LEON SAKIT!!"
Namun beberapa detik kemudian, senyum diwajahnya perlahan memudar. Ia melihat keadaannya anaknya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
Bibir yang pucat, tubuh yang bergetar dan tangan Leon memegang banyak sekali uang.
"LEON MAU BELI OBAT! KASIH LEON OBAT! TUBUH LEON SAKIT....hiks..."
"TOLONG!!!!"
Mata Sean dan Jacob saling bertatapan dengan pikirannya yang sama.
"Le–Leon ada apa, nak ? Obat apa ??" tanya Sean cemas. Meskipun dalam otaknya ia tahu jawabannya, tapi ia berdoa agar anaknya tidak membutuhkan obat yang ia pikirkan.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA