
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Astaga, apa yang sedang anda lakukan nona ? Biar saya saja yang melakukannya!" seorang maid berlari kecil untuk menghampiri Vania yang tengah membuat teh di dapur.
Sementara Beby masih sibuk memakan makanannya dan tak mau ambil pusing dengan wanita yang ia yakini sebagai adik kandung Clara itu.
Ia lebih memilih diam dan memperhatikan wanita itu yang sedari tadi sibuk berkutat di dapur.
Vania melirik malas kearah maid yang menghampirinya, lalu menggeleng pelan. "Ah tidak perlu! Aku akan buatkan ramuan tes khusus turun temurun dari keluarga ku ini untuk kak Clara."
Maid itu menganggukkan kepalanya mengerti, matanya berbinar melihat bagaimana Vania dengan cekatan membuat ramuan itu.
"Anda memang luar biasa, non. Masih mau mengurus kakak anda yang tidak bisa melakukan apapun itu!" puji sang maid.
Beby yang mendengar itu memutar bola matanya malas. "Haruskah wanita itu dipuji? Padahal tadi secara terang-terangan wanita itu mengatakan akan segera menjadi nyonya rumah ini. Bukankah itu berarti ia akan melenyapkan nyonya Clara?" gumamnya yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Sementara di dapur, Vania tersenyum lebar mendengar pujian yang dilontarkan kepadanya. "Tentu saja, mau bagaimana pun dia tetap kakakku. Nanti saat dia sudah sekarat aku akan membujuknya agar menyerahkan suami dan anaknya padaku untuk ku urus. Jadi dia bisa beristirahat dengan damai di atas."
Maid itu menganggukkan kepalanya setuju, "benar non, pasti banyak sekali yang ingin menjadi nyonya rumah ini saat nyonya Clara sudah tidak ada nanti."
Vania menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan maid itu. "Tentu, siapa yang tidak ingin memiliki suami kaya raya ?" tanya Vania cepat. "Tapi tenang saja, akan kupastikan aku menikah dengan Sean tepat di detik-detik terakhir kakakku hidup."
"Bukannya di doakan sembuh, ini malah menginginkan kakak kandungnya sekarang. Waras gak sih ?" batin Beby sembari menggelengkan kepalanya heran. Ia berdiri dari duduknya dengan membawa piring kotor menuju wastafel untuk di cuci.
Saat sedang asyik-asyiknya berbincang, ramuan yang dibuat oleh Vania akhirnya jadi juga. Maid yang senantiasa berdiri di samping Vania menelan salivanya susah payah melihat tak bersemangat ramuan itu
"Ke–kenapa warnanya sangat hitam non ?" tanyanya menatap segelas air itu heran, maid itu menunduk untuk mencium aroma ramunan yang dibuat oleh Vania. "Hoek....astaga baunya seperti makanan basiiiii!!!!!" sargah maid itu cepat sembari menutup hidungnya dengan satu tangan.
Beby yang berada di belakang mereka, melirik sekilas gelas itu. Ia langsung merinding seketika. Air itu sama sekali tidak tampak seperti teh, malah seperti sebuah racun yang mematikan.
"Ya namanya juga ramuan! Ini tuh obat herbal, tentu saja baunya tidak sedap." Vania melototkan matanya kearah maid itu.
Maid itu langsung terdiam dibuatnya. "Sudah, ayo bawa ramuan ini untuk kakakku. Aku juga belum menyapa kak Sean dari tadi..."
Dengan hati-hati maid itu membawa nampan berisi ramuan yang dibuat Vania bersama dengan wanita itu yang berjalan di depannya.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke kamar Clara yang berada di lantai tiga.
Tok...tok...tok....
"Permisi, ini Vania, kak Sean..." teriaknya dengan nada manja.
"Masuklah!"
Ceklek....
Vania membuka pintu kamar Clara dengan perlahan, dan berjalan dengan sangat anggun menuju sofa yang diduduki Sean juga Jacob. Kedua pria itu sama sekali tidak menghiraukan kedatangannya dan malah asik dengan lembaran-lembaran keras.
Diliriknya pria itu yang masih berkutat dengan selembar dokumen bersama dengan Jacob, lalu di ranjang ia melihat sang kakak yang sudah bisa membuka mata dan sedang memperhatikan anaknya yang memeluk tubuh Clara.
"Hiks.....hiks...hiks....kak Claraaaaa!!!!" teriaknya dengan air mata berderai, Vania berlari kecil untuk memeluk tubuh sang kakak yang terbaring lemah di ranjang.
"Ini Vania kak!!! Vaniaa!!!! hiks...hiks...." teriaknya kencang sembari mengguncang tubuh wanita lumpuh itu.
Sean yang melihat itu meringis ngilu, ia memberikan dokumen kepada Jacob. "Dilanjutkan nanti saja setelah makan malam. Kau kembalilah ke perusahaan!" titah Sean yang diangguki oleh Jacob.
Setelah tangan kanannya keluar dari kamar, barulah Sean berjalan menuju kearah istrinya untuk melepaskan cekalan tangan Vania ketubuh istrinya.
"Vania tenanglah, kakakmu mengalami kelumpuhan dan kebisuan sementara. Dia tidak bisa melakukan apapun kecuali makan dan minum. Tersenyum saja dia tidak bisa," beritahu Sean pada adik istrinya dengan nada parau.
Vania mengigit bibir bawahnya agar tak tersenyum, ia berbalik dan memeluk erat tubuh kakak iparnya.
"Hiks.....hiks..... aku tidak tega. Kakakku...KAKAKKU....KAKAKKKUUU!!!!!" tangisannya meraung-raung.
Sean mengelus punggung adik istrinya itu pelan, "sabar Van, sabar. Pasti kakakku sembuh, percayalah..."
Vania melepaskan pelukan itu dengan masih sesegukan, ia melangkahkan mendekati maid yang membawa ramuan rancangannya. "Kak aku bawakan ramuan turun temurun dari keluarga ku, aku harap setelah minum ini kak Vania mengalami kemajuan."
Sebelah alis Sean terangkat menatap cairan yang dibawa Vania dengan wajah bertanya-tanya.
Vania mengikuti arah pandang Sean lalu tersenyum tipis. "Ini sudah terjamin kak, dulu mendiang ibuku juga meminum ini setelah sadar dari koma. Dan akhirnya ia sadar dan berangsur membaik..."
"Baiklah, kau bisa berikan itu pada kakakmu."
Vania tersenyum senang, ia menyuapkan ramuan itu ke mulut sang kakak. "Kak...hiks...hiks...cepat sembuh..." agar kau bisa melihat pernikahan ku dengan Sean...
...o0o...
Makan malam pada hari ini, terasa lebih berisik karena sedari tadi Vania tak henti-hentinya bicara. Mulai dari dengan Leon hingga Sean yang Beby sangat tahu kedua pria itu sangat malas melandeni Vania.
__ADS_1
"Jadi Leon sudah masuk TK ya..." gumam Vania yang diangguki oleh Leon. "Ya sudah, gimana kalo besok sampai seterusnya biar tante Vania yang antar dan jemput Leon ? Leon mau kan ?" tanyanya dengan senyum secerah matahari terbit.
Mendengar itu, mulut Leon berhenti mengunyah ia menatap Beby yang sama sekali tidak perduli dengan pertanyaan Vania. Wanita itu terus memakan makanannya dalam diam.
Sementara Vania yang melihat keterdiaman Leon, tersenyum kikuk. Matanya memperhatikan Beby yang ditatap oleh Leon.
"Kenapa kau lihatin pengasuh kamu terus ? Kamu diancam ya sama dia supaya kalo sekolah sama dia terus iya ?" tanya Vania dengan mata melebar. "Kau di siksa ? Kamu di pukul ? Iya ? Bilang sama tante, biar tante hajar pengasuh baru kamu itu!" sambungnya cepat.
Lalu matanya beralih pada Sean, "tuh kak kamu lihat sendiri. Kayaknya Leon ketakutan deh sama Beby. Lebih baik mulai sekarang aku saja yang jemput dan antar Leon sekolah!" usulnya cepat.
"Tidak perlu, Van. Biar Beby saja yang melakukannya, itu memang sudah tugas dia. Lagipula sikap Beby sama Leon selalu baik kok," balas Sean cepat.
Vania memutar bola matanya malas, "ya namanya juga pengasuh kak, kalo didepan majikan pasti selalu baik. Tapi kalo di belakang? Siapa yang tahu, benar kan Leon ?"
Dengan cepat Leon menggeleng, ia menatap Vania kesal. "Enggak gitu! Sejak kapan kak Beby jahat sama Leon ? Gak pernah tuh! Leon gak mau diantar sama tante Vania! Pokoknya Leon cuma mau sama kak Beby!!!"
"Kak Sean lihat deh! Pasti pengasuhnya Leon udah hasut banyak banget sama Le–"
Ctrangg....
Sean membanting sendok dan garpu dipiringnya dengan keras. Hingga menimbulkan dentruman yang cukup kuat.
"Berhenti berbicara dan makan! Jika sudah makan, segera pulang! Besok jika ingin melihat kakakku kau boleh kemari. Tapi tidak untuk menginap!"
Setelah mengatakan itu, Sean bangkit dari duduknya dan menaiki tangga untuk sampai di kamarnya. Namun baru sampai di anak tangga ketiga, ia membalikkan badan lagi. "Beb, siapkan aku air hangat. Malam ini aku akan tidur bertiga bersama kalian!" perintahnya yang diangguki oleh Beby.
Sean melanjutkan langsung untuk ke kamarnya.
Hingga di meja makan itu hanya tersisa Leon, Beby dan Vania yang kini menatap garang Beby.
"Sudah dengerkan kata tuan Sean ? Husss! Sana pergi! kamu gak di undang di sini!" ucap Beby dengan tawa kecil.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA