MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 83 - END... ???


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Renz, asisten Dominic sudah berada di ruang keamanan apartemen ROXY JANE, yang merupakan apartemen yang ditinggali oleh kekasih tuannya.


Dengan bersama dengan sang ketua satuan polisi, ia terus mendesak sang manager agar mau menampilkan video saat dimana mobilnya telah disabotase oleh seseorang yang ia sendiripun tak tahu itu siapa.


"Sekali lagi saya katakan, ini untuk kepentingan penyelidikan!" tegas sang polisi kepada manager itu.


Kepala manager itu menggeleng, tanda menolak untuk memperlihatkan tangkapan CCTV kepada mereka berdua, tatapan matanya beralih pada Renz yang juga terus menatapnya.


Tangan manager itu terangkat untuk memegang pelan bahu asisten Dominic. "Tuan, bukan saya sudah memberitahu melalui telfon tentang seseorang yang ingin mengetahui parkir mobil milik apartemen atas nama tuan Dominic. Hanya itu yang bisa saya bantu, saya tidak bisa memperlihatkan hal yang lebih lagi!" jelas sang manager dengan senyum tipis.


"Ya, aku sangat berterimakasih kepadamu, karena sudah menghubungiku saat tahu jika ada seseorang yang ingin mencelakai mobil milik tuanku. Tapi kali ini, kamu harus melihat rekaman CCTV untuk mencari tahu siapa orang yang berniat ingin membunuh tuan!" jawab asisten Dominic.


"Jika anda tidak mau bekerja sama dengan pihak kepolisian, bukan cuma anda yang bisa saya seret ke pengadilan. Tapi juga pemilik apartemen ini, dengan pasal hukum 266 CT atas dasar penghilang barang bukti, masa hukumannya 3 tahun penjara!" ancam sang polisi.


Keringat sebiji jagung terus keluar dari dahi sang manager. "Ba–baiklah, tuan," jawabnya dengan gugup.


Dengan segera sang manager meminta anak buahnya untuk memperlihatkan tangkapan layar pada saat mobil Dominic diotak-atik oleh orang tak dikenal.


"Nah ini, ini dia orangnya!" unjuk asisten Dominic saat ada seseorang pria berpakaian formal membuka penutup mesin mobil Dominic di bagian depan.


Sang kepala satuan polisi itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Benar, ini orangnya yang memotong kabel rem mobil Mr. Dominic. Tapi belum tentu jika pria ini adalah dalangnya. Kita harus segera menemukan orang tersebut untuk mencari tahu kebenarannya!"


Asisten Dominic menganggukkan kepalanya setuju, "benar, tidak mungkin jika dia adalah dalangnya. Bisa saja ini hanya umpan!"


"Tenang, saya sudah mengutus anak buah saya untuk membawa sidik jari pelaku ke INAFIS. Kita akan segera menemukan pelaku kecelakaan itu!" ujar sang polisi dengan sangat yakin. "Aku minta copy dari video ini. Kirimkan ke kantor sebelum jam 1 siang!" titahnya pada sang manager.


Setelah disetujui oleh manager itu, asisten Dominic dan juga ketua satuan polisi itu segera pergi dari ruang keamanan itu untuk menuju rumah sakit tempat dimana Dominic berada.


"Tapi Mr. Dominic baik-baik saja kan ?" tanyanya pada asisten Dominic.


Mereka berdua memasuki lift, untuk menuju lantai dasar. "Tentu, tuanku langsung membanting stirnya ke kiri berusaha untuk menghentikan mesin mobilnya. Tapi dia juga sempat menelfonku kok!" balas Renz cepat.


Polisi itu tertawa seraya menggelengkan kepalanya heran. "Mr. Dominic memang benar-benar seorang aktor yang hebat," jawabnya lalu mereka tertawa bersama.


Saat lift terbuka buru-buru mereka berjalan keluar untuk menuju mobil. "Ingat saat sampai di rumah sakit, beraktinglah seperti tidak tahu apapun!" ucap asisten Dominic yang segera diangguki oleh sang polisi.


...o0o...


Tim INAFIS langsung menyelidik barang bukti yang diberikan oleh polisi tadi.


Mereka lakukan fingerprint atau bisa dibilang sebagai mencetak sidik cari disebuh alat seperti printer dan nanti hasilkan akan terlihat di layar komputer.


"Bagaimana?" tanya seorang polisi yang sejak tadi menunggu hasil dari penyelidikan INAFIS.


Seorang lelaki yang masih berkutat dengan komputernya itu memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan rekannya.


"Sebentar lagi," jawabnya.


Sang polisi berdecak sebal, "cepat! Lakukan semuanya dengan cepat. Ini bukanlah masalah yang biasa. Kita sedang menyelidiki kasus kecelakaan yang disengaja dari seorang penguasa terkenal!" beritahunya. "Kalau bisa melakukannya dengan cepat, kemungkinan bonus yang kita dapatkan dari komandan akan semakin besar!" Mata polisi itu berbinar mendengar ucapannya sendiri.


Membayangkan dirinya berbicara didepan Televisi tentang kesuksesannya menangkap dalang dibalik kecelakaan Dominic dan juga pundi-pundi uang yang ia dapat dari pengusaha itu membuat dirinya melayang-layang seketika.


Triing.....



Bunyi komputer itu membuyarkan lamunan sang polisi, dengan cepat ia berjalan menuju pegawai INAFIS itu untuk melihat hasil kerjanya.


"Hasilnya sudah keluar!" beritahunya cepat dan polisi itu tersenyum semakin lebar.



Mereka terus memperhatikan layar komputer yang menampilkan informasi tentang seorang pria muda, mulai dari nama, tempat tinggal, hingga golongan darah.

__ADS_1


"Sidik jari yang berada didalam kabel rem itu cocok dengan pria ini!" ucap penyelidik itu.


Dahi sang polisi berkerut bingung, "siapa dia ?" tanyanya.


"Chris, bekerja sebagai supir di perusahaan milik Sean Alejandro," beritahu setelah membaca lengkap data pribadi pria bernama Chris ini.


Kepala polisi itu menganggukkan kepalanya mengerti, setelah menerima print hasil biodata pria bernama Chris itu. Ia dan beberapa polisi lainnya segera memasuki mobilnya menuju alamat perusahaan yang berada di sana.


Setelah mengendarai mobil selama tiga puluh menit lamanya, akhirnya keempat polisi itu sampai di depan perusahaan besar dimana pria bernama Chris itu bekerja.


Mereka memarkirkan mobilnya dengan rapi di tepi jalan, lalu masuk ke kawasan perusahaan yang langsung disambut oleh dua orang satpam.


"Pagi, Ndan! sapa kedua satpam itu dengan kompak.


Seorang polisi di sana mengeluarkan sebuah foto dari seragam mereka dan diberikan kepada kedua orang satpam itu.


"Kalian mengenal mereka ? Bawa kami ke orang itu!" titahnya cepat.


Dengan segera dua orang satpam itu mengambil foto yang diulurkan kepadanya. Dengan kompak kedua orang pria itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja kita kenal, Ndan! Ini kan supir pribadi Mr. Sean!" jawabnya.


"Dimana dia sekarang ?"


"Tadi saya lihat ada di basement parkiran, masih memakirkan mobil setelah mengantar tuan Jacob," beritahu satpam itu lagi seraya mengingat jika supir itu baru sampai ke perusahaan dua menit yang lalu hanya dengan bersama asisten Sean.


"Bawa kami ke sana!" titah seorang polisi lain yang segera diangguki oleh kedua satpam itu.


Mereka berjalan bersamaan menuju area parkir perusahaan. Dan benar saja, kedua satpam itu melihat supir Sean tengah baru saja keluar dari dalam mobil.


Dengan cepat polisi berlari kearah pria yang mereka duga bernama Chris itu.


"Apa benar anda bernama Chris Gonzales ?" tanya polisi itu dengan cepat setelah mereka sudah sampai dihadapan supir itu.


Supir itu membulatkan matanya terkejut melihat kehadiran keempat pria berpakaian polisi yang kini menghadangnya.


"Apa benar ada adalah Chris Gonzales?" tanya polisi itu lagi.


Dengan jantung yang berdegup kencang, supir itu menganggukkan kepalanya pasrah.


Seorang polisi di sana langsung mengeluarkan surat perintah dari saku seragamnya. "Kami dari kepolisian mendapatkan surat perintah untuk menanggap anda yang terduga sebagi pelaku dari kecelakaan naas yang ditimpa oleh Mr. Dominic!" beritahu polisi itu.


"Sampaikan alasanmu itu di pengadilan! Cepat bawa dia!" titah polisi itu yang segera dilakukan oleh ketiga polisi lain.


Sementara polisi itu membawa paksa, supir Sean menuju mobil polisi. Kedua satpam itu masih terdiam mematung dan tak percaya dengan apa yang ia dengar dan juga ia lihat.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang ? Perlukah kita memberitahu tuan Jacob ?"


...o0o...


"Jadi begitu kejadiannya, non Beby. Tapi kita masih terus menyelidiki kok tentang kasus ini," ucap sang ketua pasukan polisi itu yang sedari tadi mengatakan masih belum bisa menemukan pelaku dari kecelakaan yang dialami oleh Dominic.


Beby menghela nafas pasrah, ia memilin-milin jari-jarinya karena gugup. Sementara Sean yang sedari tadi ikut mendengarkan obrolan mereka tertawa senang dalam hati.


"Dominic sebentar lagi mati, dan polisi tolol ini juga masih belum menemukan pelakunya. Sungguh kemenangan yang sempurna untukku...." batin Sean dalam hati.


"Tolong pak, tolong temukan pelakunya secepat mungkin....hiks..hiks...." tangis Beby lagi-lagi pecah, ia sungguh tak tega jika melihat Dominic sakit-sakitan di sini. Sementara pelakunya masih bebas berkeliaran dan hidup dengan tenang.


Kepala polisi itu menganggukkan kepalanya mengerti, baru saja ia akan menjawab ucapan Beby, suara telfon membuatnya harus menutup mulutnya kembali.


"Sebentar ya, non..." ucap polisi itu seraya meggeser ikon hijau pada layar ponselnya.


"Halo ?"


"Siap, Ndan! Saya sudah berhasil membekuk pelaku pemutusan kabel rem pada mobil Mr. Dominic," ucap seseorang dari sebrang telfon yang membuat senyum diwajah polisi itu langsung melebar.


"Baiklah, aku ke sana sekarang!"


Tut....


Polisi itu memasukkan kembali ponselnya dalam saku celananya. Lalu ia menatap Beby dalam. "Maafkan saya non, saya harus kembali ke kantor. Ada seseorang yang harus saya temui. Tapi saya berjanji akan menemukan pelakunya secepat mungkin!" ucap polisi itu dengan secara terang-terangan melirik Sean.


Kepala Beby menganggukkan semangat, ia tersenyum kecil seraya mengiyakan sang polisi untuk pergi.


"Gak perlu di cari pelakunya, ikhlaskan saja. Toh ujung-ujungnya Dominic bakal mati, jadi ngapain pakai cari pelakunya segala ?" tanya Sean yang heran dengan tingkah Beby.

__ADS_1


Beby menutup telinganya, ia berjalan untuk memasuki kamar Sean kembali, namun saat baru akan memutar knop pintu, suara Sean membuatnya membatalkan tindakannya itu.


"Aku pamit dulu, sudah waktunya anakku makan. Aku akan datang lagi saat sore hari. Oh ya, jika Dominic sudah dinyatakan mati, tolong telfon aku segera!" pamitnya lalu langsung meninggalkan Beby dan berjalan keluar dari rumah sakit.


Sementara Beby hanya menatap tajam punggung Sean yang semakin menjauh. "Pria brengsek, kenapa tidak kau saja yang kecelakaan, huh!"


Ceklek....


Beby memutar kenop pintu dan memasuki ruang inap Dominic. Ia menatap heran asisten Dominic yang seketika gugup melihat kedatangannya.


"Kenapa Renz, kok gugup gitu sih ?" tanya Beby bingung.


Dengan cepat kepala sang asisten itu menggeleng, "ti–tidak Nya," jawabnya cepat. "Sial! Hampir saja aku ketahuan berbicara dengan tuan Dominic," batinnya ngeri.


"Nyonya, saya ijin untuk ke perusahaan ya. Ada sesuatu yang harus saya urus," pamitnya ya segera diangguki oleh Beby.


Dengan sedikit berlari, asisten Dominic keluar dari ruangan tuannya. Dan meninggalkan tuannya dengan Beby berdua saja.


Beby berjalan mendekati ranjang calon suaminya dan menggenggam tangan kanan dengan lembut.


"Bangunlah sayangku, kamu janji mau nikahin aku. Gak perduli keadaan kamu bagaimana, yang jelas aku akan menerima keadaanmu sedang ikhlas," ucap Beby lembut seraya mengelus kepala Dominic pelan.


Dominic yang sedari tadi berpura-pura memejamkan mata, berusaha mati-matian agar tidak tersenyum setelah mendengar ucapan manis dari sang kekasih.


"Pasti sayang," batin Dominic menjawab.


...o0o...


Sang ketua kepolisian itu, baru saja tiba di kantor kepolisian nya. Iya segera menuruni mobil dan memasuki ruangan di mana letak seseorang yang harus ia selidiki berada.


Dengan seringnya yang menghiasi wajah tampannya, iya membuka ruangan dengan cat berwarna hitam itu dengan keras.


Brakk.....



"Ndan, dia adalah Chris, orang yang sudah memotong kabel rem dari mobil sport Lamborghini Aventador Mr. Dominic," beritahu anak buaya saat dirinya sudah menduduki kursi kebesarannya yang berhadapan dengan sang terduga.


Sang kepala satuan itu menerima data diri milik Chris dan membacanya dengan seksama. "Sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan, hm ?"


Bibir pucat supir itu bergetar hebat, dengan kedua tangan yang masih diborgol dibelakang tubuhnya.


"To–tolong jangan sentuh anak saya...."


Brakk....


Polisi itu menggebrak meja dengan kuat-kuat. "Apa alasan anda memotong kabel rem itu ? Siapa yang menyuruh Anda memotongnya ?" tanya kepala polisi itu.


"Sa–saya hanya iseng...." jawabnya asal dengan tubuh yang gemetar.


Semua polisi di ruangan itj tertawa terbahak mendengar penuturan asal dari pelaku yang duduk di kursi interogasi itu.


"Kalau mau cari alasan itu yang pintar!" ucap tegas polisi itu. "Sekali lagi saya tanya, apa alasan anda memotong kabel rem itu dan siapa yang menyuruh ?"


"Anda tahu kan siapa Mr. Dominic itu ?" tanya polisi itu lagi yang membuat sang supir semakin bergetar ketakutan. "Polisi tidak bisa membantu seandainya Mr. Dominic melibatkan istri dan anak anda apabila anda tidak mau mengatakan siapa dalam dibalik kecelakaan ini!"


Supir itu mengehela nafas kasar, disatu sisi jika dia tidak mengatakan siapa yang menyuruhnya pasti pihak Dominic akan mengincar keluarganya. Tapi jika ia bilang siapa yang menyuruhnya, bukankah sudah jelas jika pihak Sean yang akan mengincar keluarganya.


Posisinya benar-benar sangat sulit....


"Kenapa tidak bisa menjawab ? Kamu takut jika orang yang menyuruhmu itu akan membunuh keluargamu ? Tenanglah, ada polisi yang bisa menjaga keluargamu jika orang yang menyuruhmu itu mengancam. Tapi jika sudah Mr. Dominic yang melakukannya, pihak kepolisian tidak bisa membantu..."


Chris–supir itu mengigit bibir bawahnya bingung.


"Sa–saya disuruh oleh seseorang," ucap Chris pada akhirnya dengan suara yang berbisik.


Alis ketua satuan polisi itu terangkat sempurna setelah mendengar jawaban Chris.


"Siapakah orang itu ?"


"Se–sean Alejandro...."


...o0o...

__ADS_1


TAMAT DI SINI OKE GAK GAISSS ? 🧞🧞


JANGAN LUPA KOMEN+LIKE+VOTE SAMA HADIAHNYA BUAT RATU 💘💘💘💘💃💃


__ADS_2