MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 44 - PENGAKUAN DOMINIC


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Vania–adik Clara kini tengah meracik ramunan herbal yang setiap hari selalu ia berikan pada kakaknya semenjak wanita itu membuka matanya kembali ke dunia.


Dengan pelan, ia menaiki tangga untuk menuju kamar sang kakak sembari membawa nampan berisi ramuan herbal.


Tok...tok...tok...


Ceklek....


Perlahan Vania membuka pintu kamar Clara dan di sambut pemandangan wanita itu melihat kearahnya dengan tatapan kosong. Dan Leon yang bermain ponsel di temani oleh salah seorang maid di sofa yang terletak di samping ranjang.


"Permisi Kak Clara, Leon..." ucapnya menyapa.


Leon melirik Vania sekilas lalu kembali beralih pada ponselnya. "Aunty datang lagi ?" tanyanya.


Vania tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi yang disediakan samping ranjang Clara. "Aunty setiap hari datang kok, kan bawa obat buat Mommy nya Leon biar cepat sembuh," jawabnya di sertai seringai iblis.


Mata Leon berbinar menatap Vania, lalu beralih ke cangkir yang dibawa oleh tantenya itu. "Itu obat untuk Mommy ya, aunty ?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Vania. "Kalau minum itu terus Mommy bakal cepat sembuh ?"


Dengan tertawa kecil, Vania lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Ia menaruh nampan di lantai dan memajukan tepi gelas itu ke bibir sang kakak.


"Pasti dong, kalo minum ramuan ini terus Mommy nya Leon pasti gak bakal ngerasain sakit lagi. Mommynya Leon bakal bebas dan akan tenang."


Leon bersorak senang, matanya beralih memperhatikan Clara yang menetaskan air mata sembari menelan minuman yang dibawa oleh Vania.


"Mommy, ayo habiskan biar gak sakit-sakitan lagi!" serunya dengan semangat.


"Benar kak Clara, ayo minum sampai habis, biar gak sakit selamanya..." gumamnya menatap bengis sang kakak.


Selesai memberikan minum itu, Vania meletakkan cangkir di atas nakas dan menyambar tasnya yang berada di atas sofa.


"Sean belum pulang, lebih baik aku pulang saja sekarang," gumamnya.

__ADS_1


Maid itu memperhatikan Vania yang akan berjalan keluar kamar. "Tuan Sean, sudah pulang non," beritahunya yang membuat Vania menatap maid itu dengan mata berbinar.


Tangannya yang memegang knop pintu terhenti di udara dan kini berjalan menghampiri maid itu.


"Benarkah ?" serunya senang. "Lalu dimana kak Sean sekarang ? Lima hari tidak bertemu, aku benar-benar merindukannya!"


"Tuan Sean masih di rumah sakit non, tadi subuh-subuh tuan Sean mengantar Beby ke rumah sakit."


Alis Vania terangkat keatas, senyum diwajahnya mendadak luntur. "Memang ada apa dengan wanita itu ?"


Kedua bahu maid itu terangkat keatas bingung, "saya juga tidak tahu non, tapi tuan Sean sangat cemas sekali tadi subuh."


"Ck!" Vania berdecak sebal, "wanita caper! maunya cari perhatian terus!" sambungnya. "Awas aja bentar lagi, habis kamu Beb sama aku!"


...o0o...


Beby sudah dipindahkan ke ruang inap VIP di rumah sakit, wanita itu kini sudah sadar namun masih terlihat sangat linglung.


"Ahh, kepala ku..." desisnya mencekram kuat kepalanya.


Sean dan Dominic yang sedari tadi menunggu Beby membuka mata, langsung berlari kecil menuju ranjang Beby yang sudah siuman.


"Mana yang sakit Beby? Katakan padaku ?" ucap Sean cepat.


"Mau aku panggilkan Presdir rumah sakitnya agar kamu ditangani oleh dia ?" tanya Sean menatap Beby cemas.


"Bagaimana jika kita ke Jerman saja ? Teknologi rumah sakit di sana pasti bisa menyembuhkan sakit kepala mu!" tawar Dominic.


Mata Beby menatap kiri dan kanannya yang saat ini tengah di tempati oleh Sean dan Dominic. Sean berada di sebelah kanan dan Dominic di sebelah kirinya.


"Ti–tidak perlu," jawab Beby, lalu matanya menatap kearah Sean dengan berkaca-kaca. "A–anakku bagaimana? Dia masih ada di sini kan ?" tanyanya sembari mengelus perutnya dengan tangan yang masih menggunakan infus.


Mata Sean beralih ke perut rata Beby, ia menganggukkan kepalanya sekilas. "Dia baik-baik saja, dia kuat seperti ayahnya. Dia sehat karena dia adalah bibitku yang unggul!" jawab Sean, ia melirik kearah Dominic yang sedang mengepalkan tangannya menahan kekesalan.


Sementara Beby mendesah lega, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Syukurlah jika anak Mami baik-baik saja, maafkan Mami ya sayang," sudut ujung mata Beby meneteskan air mata.


Melihat itu Dominic segera menghapus air mata Beby dengan jempolnya. "Dia kuat karena ibunya juga kuat, jangan menangis nanti dia juga akan ikut bersedih," ucap Dominic dengan senyum tipis.


Beby menjawab senyuman Dominic dengan senyum indahnya. "Aku tidak akan berhenti menangis, aku tidak ingin anakku bersedih."


Senyum Dominic melebar ia mengelus kepala Beby dengan sayang, yang perbuatan itu membuat Sean kebakaran jenggot di tempatnya.

__ADS_1


"Hei, kau sebenarnya mau apa kemari, huh? Kau sudah tahu kan keadaan Beby dan calon anakku sudah membaik, jadi tolong segera pergi dari ruangan Beby sekarang!!" Sean menekan kata calon anakku di setiap ucapannya agar Dominic tahu posisinya dan tak lagi menganggu Beby.


"Oh iya, tuan Dominic kenapa bisa di sini juga ?" tanya Beby penasaran.


Mata Dominic yang sedari tadi menatap tajam Sean langsung berubah lembut saat menatap mata bening Beby. "Aku di rawat di rumah sakit ini, lihatlah sekarang aku memakai pakaian rumah sakit," jawab Dominic dan mata Beby langsung meneliti penampilannya yang memakai pakaian rumah sakit. "Aku terlibat kecelakaan kecil kemari, bahuku sedikit sobek. Tapi sekarang sudah lebih baik!"


Beby menganggukkan kepalanya mengerti dan mengucapakan doa-doa pada Dominic, sementara Sean yang mendengar itu mendecih malas.


"Tolong segera pergi, Mr. Ragues. Beby dan calon anakku butuh istirahat!"


"Calon anakku ? Menurutku kau tidak cukup pantas menjadi seorang ayah, Mr. Alejandro. Jika Beby mau, aku bersedia untuk menjadi ayah dari anak yang Beby kandung saat ini. Aku bersedia menikahnya!" jawab Dominic cepat.


Nafas Sean memburu, tangannya terkepal kuat ingin melayangkan tinjunya lagi pada Dominic, tapi suara ponselnya berdering membuat niatnya untuk menghajar pria itu habis-habisan menjadi gagal.


Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat nama Jacob di layar ponselnya, mata Sean beralih pada Beby. "Tunggu sebentar, aku akan menjawab telfon." dan Beby hanya menganggukkan kepalanya sekilas.


Mata Sean beralih pada Dominic. "Saat aku masuk ke ruangan Beby lagi, aku harap kau sudah pergi. Jika tidak akan ku habisi kau saat itu juga!" ancamnya sebelum pergi menuju luar ruangan, meninggalkan Dominic dan Beby berduaan.


Mata Beby melirik Dominic kesal, "tuan, jangan bercanda seperti ini. Tuan Sean benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya!" beritahu Beby karena ia menganggap jika ucapan Dominic yang mengajaknya menikah tadi hanya sebuah candaan belaka.


Senyum kecil di wajah Dominic terbit, ia mengelus kepala Beby singkat. "Aku Dominic Ragues, sama sekali tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Aku benar-benar mau menjadi ayah dari anakku, Beby. Sean sudah menikah, dia tidak mungkin menikahimu. Biarkan aku yang menikahimu, aku jamin hidupmu dan anakku akan selalu terjamin. Kita akan hidup bahagia selamanya." Dominic memegang kedua tangan Beby dengan erat.


"Jangan bercanda, tuan. Untuk apa tuan menikahi wanita seperti ku ? Aku sudah kotor, bahkan aku akan memiliki anak sebentar lagi. Sedangkan tuan Dominic anda tampan dan kaya raya. Tinggal pilih saja, semua wanita pasti akan mendekati Anda!"


"Kamu percaya atau tidak dengan cinta pandangan pertama ? Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi sejak pertemuan pertama kita, aku sama sekali tidak bisa membuang pikiranku dengan bayangan wajahmu, jantung berdetak tak normal saat kita saling bertatapan. Bahkan saat aku berbicara denganmu, ada sensasi menggelitik dalam perutku. Aku mencintai mu, Beby. Sejak pertama kali melihat mu," jujur Dominic.


"Jangan larang aku untuk dekat denganmu, jangan larang aku untuk perhatian dengan calon anakmu. Dan tolong beri aku kesempatan!" Setelah mengatakan itu, Dominic mencium punggung tangan Beby dan keluar dari ruangan Beby, meninggalkan Beby yang masih terpaku dengan ucapan mafia itu.


Tangan Beby terangkat untuk menyentuh jantungnya dan berdebar kencang setelah mendengar pengakuan Dominic.


"Sayang, apa kamu membutuhkan seorang Ayah ?" monolognya pada sang janin.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2