MENJADI PENGASUH CALON DUDA

MENJADI PENGASUH CALON DUDA
CHAPTER 26 - AKU BERI KESEMPATAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Malam semakin larut, dan udara di balkon di ruangan kamar Sean ini terasa semakin dingin dan mencekam.


Beby mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, berusaha menghangatkan tubuhnya yang berisi janin cintanya dengan Sean.


Belum lagi perasaannya yang semakin tidak karuan, menunggu keputusan apa yang keluar dari mulut Sean. Membuat suasana malam ini terasa begitu tegang.


"Baiklah, terserah padamu saja!"


Sean mengatakan itu setelah sekian menit obralan mereka dilanda oleh keheningan.


Beby mengerjapkan matanya perlahan, menatap Sean dengan wajah bingung. "Terserah bagaimana? Katakan dengan jelas tuan Sean!" tuntut Beby.


Pria itu mendengus dan menyalakan rokok yang baru saja ia keluarkan dari bungkus dan menyalahkan dengan korek lalu menyesapnya penuh nikmat.


"Tuan!!!" panggil Beby kesal karena pertanyaan diacuhkan, "katakan dengan jelas maksud tuan!"


"Tuan menginginkan anak ini ?" tanya Beby dengan berbinar.


Sean tertawa meremehkan lalu menggelengkan, "bahkan dalam mimpiku aku tidak akan pernah menginginkan anak itu!" jawabnya cepat.


"Lalu maksud tuan bilang terserah tadi apa ?" tanya Beby mengabaikan rasa sakit dihatinya saat Sean mengatakan tidak pernah menginginkan anak yang ia kandung.


Pria itu melirik Beby singkat sebelum menatap burung-burung yang terbang bebas di langit malam lagi. "Terserah artinya terserah padamu. Mau kau beri kehidupan anak itu atau bunuh anak itu, terserah. Asalkan sesuai janjimu dia tidak boleh tahu aku ayahnya, dan aku juga tidak akan mengeluarkan sepeserpun untuk kebutuhannya."


Beby menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, tak lupa senyum tipis menghiasi wajahnya. "Tentu tuan, aku tidak akan merepotkan Anda bahkan setelah anak ini lahir!"


"Meskipun hamil, kau harus terus menjadi pelayan untukku dan anakku."

__ADS_1


Lagi-lagi Beby menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Sean. "Pasti tuan, kalo itu sudah pasti."


Beby mengusap perutnya yang datar, wajahnya masih mengulas senyuman manis. "Sayang besok kita ke rumah sakit ya, Mami bakal cek kamu sudah umur berapa. Terus kita kasih tahu kakek dan nenek, mereka pasti kaget banget tau mami lagi hamil....hahaha...." Beby tertawa membayangkan wajah kedua orangtuanya yang sudah pasti terkejut mengetahui ia tengah hamil.


Sementara Beby asik bermonolog dengan calon bayinya, Sean sibuk memperhatikan interaksi wanita yang duduk berseberangan dengannya sembari terus menikmati nikotinnya.


Hingga tanpa sadar ia terserah tipis, kejadian ini mengingatkan dengan Clara yang begitu senang setelah mengetahui bahwa ia hamil 6 tahun yang lalu.


Sean tersenyum getir, dulu pun ia juga sangat menantikan kehamilan istrinya. Tapi jika saat itu ia sudah tahu jika saat melahirkan anak mereka, Clara akan mengalami pendarahan hebat hingga koma. Lebih baik ia dikatakan mandul dan tidak bisa memiliki anak daripada harus mendapati istrinya yang terbaring koma.


"Tuan, besok saya ijin ke rumah sakit dan pulang ke rumah orang tua saya sebentar ya ?" pinta Beby yang membuyarkan lamunan Sean.


Mata pria itu mengerjap perlahan lalu mengangguk kecil ke arah Beby. "Antarkan Leon dulu pulang ke rumah, lalu kau boleh pergi. Waktunya tidak boleh lebih dari 3 jam!"


Beby mengerucutkan bibirnya sebal, ingin menolak tapi masih untung ia berikan kebebasan oleh Sean. "Baiklah...." jawabnya dengan suara yang lemah.


Hening tak ada pembicaraan lagi, Beby memberanikan diri menatap wajah tampan Sean yang benar-benar mirip dengan Leon.


"Tuan," panggilnya yang hanya dibalas lirikan oleh Sean. "Jika boleh tahu, dimana istri tuan ?" ucapnya pada akhirnya.


Bibir Sean yang sudah terbuka ingin menyesap kembali nikotinnya terpaksa terhenti saat mendengar pertanyaan Beby, ia melirik Beby sekilas sebelum mematikan benda berasap itu di asbak.


Bukannya kesal dikatakan wanita murahan, Beby marah tertawa lepas, menatap Sean sembari menggelengkan kepalanya heran. "Tuan, kau tampak sangat mencintai istrimu. Dan ngomong-ngomong, aku memang tidak suci, tapi kau juga tidak sesuci itu bersanding dengan istrimu!" balasnya tajam.


"Tentu aku sangat mencintainya, sangat amat mencintainya, bahkan lebih dari diriku sendiri."


"Jika tuan memang mencintai istri anda, kenapa tuan malah tidur dengan wanita lain ?" tanya Beby heran.


Tadi saat Sean mengatakan jika laki-laki itu mencintai istrinya, dapat Beby lihat secara jelas jika tidak ada kebohongan sama sekali yang di dalamnya. Mata Sean nampak bergetar, yang membuktikan jika pria itu sungguh-sungguh mengatakan mencintai istrinya.


Mendengar pertanyaan Beby, Sean melototkan matanya. "Aku tidak pernah tidur dengan wanita lain, selain istriku!"


Beby mendengus sebal, "lalu ini apa, tuan ?" ia mengelus perutnya yang rata.


"Kau pembawa sial, kau adalah wanita pertama yang aku tiduri selain istriku. Tapi kau jangan besar kepala, aku men1dur1mu karena pengaruh alkohol saja!"


"Pembohong besar! Mana mungkin pria yang mabuk dan tidak sadar bisa menggendong seorang wanita untuk naik ke lantai atas dan membooking kamar ?" tanya Beby menantang.

__ADS_1


Sean mengalihkan pandangannya kearah lain, berusaha untuk tidak memperlihatkan senyumannya kepada Beby.


"Nah itu kan senyum-senyum, udah pasti gak mabuk!!" tebak Beby yang melihat wajah tuannya memerah dan tersenyum kecil.


"Tidak, aku tidak tersenyum!"


"Tapi, tuan tad–"


"Sudah cukup pembahasan kita, aku ingin tidur!"


Tanpa menunggu jawaban Beby, Sean memasuki kembali kamarnya dan langsung menjatuhkan dirinya di kasur.


Beby menggelengkan kepalanya heran, "sebenernya dia ini cinta atau tidak sih dengan istrinya? Lagipula dimana istrinya itu sekarang berada ?" tanyanya sebelum berdiri untuk menyusul Sean yang sudah masuk ke kamar.


"Tuan, saya permisi kembali ke kamar Leon."


"Tunggu!"


Baru saja Beby ingin membuka pintu kamar Sean, pria itu tiba-tiba kembali memanggil Beby dan meminta untuk mendekat kearahnya.


"Ada apa lagi tuan ?" tanyanya saat sudah duduk di tepi ranjang.


"Entah mengapa malam ini aku ingin dibacakan dongeng oleh mu dan di elus kepalanya." Sean menatap mata Beby dalam. "Ambilkan buku dongeng dikamar Sean, hari ini kau tidur di sini!" ucapnya tak terbantahkan.


Mata Beby hampir keluar mendengar penuturan tapi diam-diam ia menahan senyumnya. Tuan Sean mengidam?


...o0o ...


KALAU RAME, NANTI RATU DOUBLE UP


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2