
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Perlahan dengan tubuh lesunya ia melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk melihat kondisi anaknya yang telah dibawa Jacob ke atas.
Ia tersenyum menyedihkan dibalik pintu kamar Leon yang tertutup rapat. "Maafkan Daddy nak, karena sudah merusak masa kecilmu," gumam Sean pelan.
Serpingan-serpingan kenangan dirinya bercanda tawa dengan Leon juga Beby terlintas dengan jelas di kepalanya.
Anaknya itu memang tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah dan Ibu. Tapi dengan Beby, Leon bisa merasakan bagaimana kasih sayang sebuah keluarga. Berbagai cara wanita itu lakukan untuk mendekatkan dirinya dengan Leon.
Dan itu berhasil, ia dan Leon mulai berbicara dan bercerita. Tak jarang mereka juga sering bercerita tentang keadaan Leon saat di sekolah.
Lagi-lagi Sean tersenyum singkat, lalu sepersekian detik ia melunturkan senyuman mengingat hubungannya dengan sang anak merenggang semenjak kepergian Beby.
"Leon sayang, maaf.....hiks...." bisik Sean dengan lirih.
Ceklek.....
Pintu ruangan Leon terbuka perlahan, cepat-cepat Sean mengusap wajahnya kasar agar tak ada seorang pun yang menyadari jika ia menangis.
"Tuan ?" ucap Jacob dengan nada terkejut melihat tuannya ada di depan mata. "Anda di sini ?" tanyanya lagi yang diangguki oleh Sean.
"Iya," jawabnya singkat. "Kau pergilah ke ruang eksekusi. Aku akan segera menyusul ke sana," titah Sean kepada sang sekretaris.
Dengan cepat Jacob menganggukkan kepalanya dan segera menuruni tangga untuk sampai ke bawah.
Dari ekor matanya, Sean melihat Jacob yang menuruni tangga. Setelah benar-benar menghilang dari pengelihatan matanya barulah Sean memasuki kamar anaknya.
Ceklek....
Ia tersenyum tipis melihat sang anak yang sudah berganti pakaian dan kini tengah tidur di bawah selimut tebal dengan udara AC yang dingin.
"Pasti sangat nyaman, tidurlah dengan nyaman, Leon." Sean mengelus kepala sang putra dengan sayang. "Tunggu sebentar lagi, Daddy pasti akan membawa Beby kembali, apapun caranya..."
Setelah mengatakan itu Sean segera keluar dari kamar anaknya dan berjalan memasuki kamarnya dengan cepat.
Ia berjalan menuju lemari rahasianya yang berada di samping walk in closet dan mengambil salah satu alk0h0l yang berharga fantastis.
Sean berjalan memasuki balkon kamarnya dan duduk disalah satu kursi disana. Perlahan ia menuangkan minuman haram itu dalam gelas kecil dan menenggaknya dengan sekali tegukan.
Rasa pahit langsung menyapa tenggorakan Sean yang sedari tadi kering.
Ia menuangkan lagi, lagi dan lagi hingga botol minuman itu tersisa setengah. Tak lupa menyesap kuat r0k0k yang membuat hatinya merasa tenang.
"Beby, maaf, maaf....."
"Aku salah, aku menuduhmu yang tidak-tidak...."
"Aku melampiaskan amarah ku kepada keluargamu, berkali-kali aku berusaha membuat perusahaan ayahmu bangkrut hingga dengan sengaja membayar seseorang untuk berkhianat kepada ayahmu...."
"Maaf ya Beby, maafkan aku..."
__ADS_1
Glek....
Rancau Sean yang terlihat sangat menyesal, anda saja waktu bisa diputar kembali. Dan andai ia melakukan otopsi pada mayat sang istri enam tahun yang lalu. Kesialan ini tidak mungkin akan terjadi.
Tanpa sadar untuk yang kesekian kalinya Sean menangis, ia mengambil ponsel disaku celananya dan melihat foto Beby bersama sang anak yang tersenyum di depan kamera.
"Aku ingin keluarga kita berkumpul seperti dulu, hiks.....hiks...."
"Aku sudah menyesal Beb, kamu dimanaaa!!!!"
Pyarrr....
Sean membanting ponselnya kelantai hingga tak berbentuk. Lalu mengusap wajahnya yang basah dengan air mata secara kasar.
Pria itu berdiri dari duduknya dengan mata yang bengkak lalu tersenyum miring. "Waktunya menghukum ular biadab!" gumamnya sebelum memasuki kamarnya kembali untuk mengambil jaket kulit berwarna hitam dan menuju tempat dimana wanita itu berada.
...o0o...
Suatu pagi hari di Negera sebrang ada seorang wanita yang sudah memiliki anak tengah sibuk mempersiapkan keperluannya untuk pergi berlibur ke rumah orang tuannya.
Ia mengepak pakaian sang anak dan dirinya, lalu dimasukkan kedalam sebuah koper yang sangat besar.
Beby, wanita itu tersenyum sumringah saat melihat semua barang yang ia persiapkan sudah masuk sempurna kedalam koper.
"Syukurlah, kalo memang muat satu koper saja," gumamnya senang. Ia tak perlu lagi menyeret banyak koper nanti.
Beby keluar dari kamar untuk melihat keadaan anaknya yang sejak tadi memakan sarapannya dan bertelfonan dengan sang ayah.
"Papi, nanti jemput Lily kan ??? Lily gak mau jalan kaki dari bandara ke rumah kakek!" seru bocah bernama Lily itu dengan suara cemprengnya.
Seorang pria dewasa disebrang telfon tertawa kecil, lalu pria itu menganggukan kepalanya cepat. "Pasti dong, nanti Papi jemput Lily di bandara. Papi nanti bawain boneka beruang buat anaknya Papi!" seru Dominic disebrang telfon.
Beby mendesah kesal, ia melangkahkan kakinya dan merebut ponselnya dari tangan anaknya. "Lily makan dulu! Nanti telfonan lagi sama Papi! Nanti kamu tersedak, loh!" beritahu Beby yang membuat anaknya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Beby, jangan keras-keras sama anakku!" ucap Dominic dengan nada marahnya pada Beby yang sedikit meninggikan suaranya pada Lily.
Melihat keposesifan Dominic Beby memutar bola matanya malas. "Iya-iya," jawabnya dengan malas. "Udah dulu ya, Nic. Aku mau mandiin Lily bentar lagi,"
Dilayar ponselnya, kepala Dominic mengangguk beberapa kali. "Iya, besok aku jemput kami dibandara. Bye!" beritahu Dominic dan Beby segera menganggukkan kepalanya singkat dan menutup telfonnya.
"Mamiiiii!!! Kok dimatiin telfonnya! Lily mau bicara sama Papi...." Lily membulatkan matanya kesal pada Beby.
Beby menghembuskan nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya tak mengerti. Padahal Lily dan Dominic tak memiliki hubungan darah. Tapi kenapa mereka berdua sangat dekat....
"Udah, kan bentar lagi ketemu Papi. Ayo cepat makan terus mandi. Habis itu kita berangkat ke bandara..."
Mata Lily yang tadinya menajam langsung berbinar mendengar ucapan ibunya. Ia langsung memakan makanannya dengan lahap agar cepat habis dan ia bis segera berangkat ke bandara.
Sementara Beby tersenyum pedih, ia sangat bersyukur dengan hidupnya yang sekarang. Anaknya mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah meskipun bukan orang tua kandungnya.
"Bahagia lah selalu anakku. Semoga kita tidak akan pernah lagi bertemu dengannya. Tuhan pasti melindungi kita..."
...o0o...
Kaki Sean melangkah masuk ke sebuah bangunan rumah yang sangat luas tapi tak terawat sama sekali.
Lumut-lumut menghiasi dinding rumah mewah itu. Debu-debu setinggi 3 cm berada dilantai, jangan lupakan banyak sarang-sarang laba-laba di atas dinding.
"Dimana dia ?" tanya Sean kepada seorang anak buahnya yang berjaga di sana.
__ADS_1
"Kamar 7, tuan!" balasnya cepat.
Kepala Sean menganggukkan kepalanya mengerti dan segera menaiki tangga untuk memasuki kamar dengan ukiran angka tujuh yang diberi cat darah manusia yang telah mengering.
Perlahan tangan Sean memutar knop pintu, dan melihat pertunjukan yang dilakukan oleh anak buahnya kepada Clara di lantai.
"Hentikan dulu!" pinta Sean yang membuat tiga orang bodyguard Sean yang tengah m3ny3tubuh1 Vania berhenti.
Satu orang bodyguard memasukkan senjata panjangnya kedalam lubang p4ntt Vania. Bodyguard nomor dua mem4suki Vania dari depan sedangkan seorang bodyguard terakhir tak henti-hentinya mencambuk tubuh Vania membuat wanita itu agar terus bern4fsu.
"Ahh....kenapa berhenti ? Tolong lanjut....hmmm...ahhs....." Suara Vania memelas kepada ketiga pria berbadan besar berkepala pelontos itu.
Ketiga pria itu langsung berjalan mundur dan menundukkan kearah Sean. "Silahkan tuan," ucap seorang bodyguard yang membuat Sean melangkah kakinya menuju Vania.
"Ahh...ada Sean ? Sean tolong aku.....jangan siksa aku begini.... jangan berhenti menyentuhku sebelum aku mendapatkan p3l3pasan....ahhh....m4suki aku lagi, Sean...." pinta Vania dengan nada memelas.
Tak ingin mendengar suara Vania lagi yang bak radio rusak di telinganya. Sean segera menarik rambut Vania hingga wanita itu berteriak kesakitan dan berdiri dari posisinya yang sejak tadi menungging di rantai.
Cuih.....
"WANITA J4L4NG!!?" teriak Sean begitu kencang di hadapan wajah Vania. "WANITA MURAHAN!!"
Sang bodyguard langsung berjalan menghampiri Sean dan segera memborgol Vania di tiang yang berada di ranjang agar tidak bisa melarikan diri.
Lelehan sp3rm4 milik ketiga bodyguard itu langsung keluar begitu deras di paha dalam Vania. Wanita itu berontak ingin melepaskan diri dari borgol yang sudah mengunci tubuhnya.
"BISA-BISANYA KAU MENIKMATI HUKUMANKU!! WANITA J4L4NG TIDAK TAHU DIRI! DIS3TUBUH1 3 ORANG PRIA ENAK HA??? PADAHAL ITU HUKUMAN UNTUKMU!"
Mendengar itu Vania tertawa kecil, lalu menatap Sean dengan mata sayu bergairahnya. "Ya gimana kak Sean, habisnya enak sih..."
Tangan Sean terkepal kuat, wanita ini memang sepertinya memiliki penyakit mental yang serius. "Kau wanita gila!" umpat Sean lagi dan dibalas tawa oleh Vania.
"Hahahahah!!!" Ia tertawa bak orang yang sudah kehilangan akal. "AKU YANG MEMBUNUH CLARA! YA MEMANG AKUU! AYO SEKARANG BUNUH AKU! ATAU KAU INGIN KITA BERC1NT4 DULU SEBELUM AKU MATI ?" tawar Vania yang lagi-lagi dihadiahi lud4han oleh Sean.
"Dalam mimpi pun aku tidak sudi bersentuhan denganmu, apalagi sampai berc1nt4! Dan ya, kau akan mati. Tapi tidak sekarang, aku mau kau mati secara perlahan dan mengalami rasa sakit yang sama seperti istri tercintaku!" jawab Sean.
Prok...prok...
Sean menepuk-nepukkan tangannya beberapa kali hingga sepuluh orang bodyguard berkepala pelontos memasuki ruangan Vania.
"G1l1r dia, tapi ingat jangan sampai mati!" perintah Sean sebelum keluar dari ruangan Vania itu.
Mata Vania membelalak terkejut, ia menatap satu persatu tiga belas orang dewasa dengan badan kekar yang menatapnya penuh nafsu.
Ia menelan ludahnya susah payah, "TIDAK, SEAN TIDAK!!!! SEAN BUNUH AKU SAJA!!!"
"AKU MOHON SEAN!!! BUNUH AKU SAJAAA.... ARGHHHH!!!!!!"
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA