
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Hawa dingin AC membuat tubuh Beby merinding seketika, wanita hamil itu membuka matanya perlahan tatkala rasa dingin semakin menusuk kulit tubuhnya.
Saat kelopak matanya sudah terbuka sempurna, pandangan pertama yang ia lihat adalah dada bidang pria dewasa yang dipenuhi oleh bulu.
Otak Beby mencoba berfikir kejadian sial yang baru menimpanya kemarin malam. Seketika ia membuka matanya lebar-lebar saat mengingat ia baru bermalam dengan majikannya.
"Sial! Dia memberikan ku obat p3r4ngsang. Brengsek!" gumamnya.
Ia melihat dirinya dan Sean yang menyatu, ternyata saat ini ia sedang berada di sofa yang berada di ruang kerja Sean dengan posisi ia diduduk diatas paha Sean dengan wajah yang saling berhadapan dan yang paling parah adalah....
Milik Sean masih tertidur cantik dalam miliknya yang hangat ☺️👍
"Astaga, ini sangat mengganjal!" umpat Beby kesal. Ia berusaha untuk mengeluarkan benda panjang itu namun tak bisa, karena Sean memeluk erat pinggangnya. "Tuan, bangun....." Beby mengguncang bahu Sean.
Bukannya membuka mata dan bangun, Sean malah semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat wajah Beby kembali bersandar pada dada bidang Sean.
"Tuan tolong bangun!" Beby berusaha melepaskan kukungan pada tubuh Sean padanya. "Apa tidak puas anda menyiksa saya semalam hingga dini hari ?"
Sean tertawa kecil mendengar ucapan Beby, ia mengurai pelukan mereka dengan jarak kecil. "Aku menyiksamu ? Apa tidak keliru? Sudah jelas-jelas kau yang menggodaku terlebih dahulu ? Kau yang pertama duduk dipangkuan ku dan menciumiku!" sergah Sean cepat.
"Tapi tuan memberikan saya obat!"
Alis Sean terangkat sebelah, ia menatap Beby tak terima. "Aku tidak memberikanmu obat itu! Kau sendiri yang mau minum!"
Lidah Beby terasa keluh, ia tak bisa menjawab ucapan telak Sean karena faktanya memang ia yang memilih untuk meminum itu. "Tapi kan saya gak tahu, tuan, jika minuman itu adalah obat p3r4ngsang!" sanggahnya cepat.
Sean tersenyum miring, dengan tangan yang merangkak naik menyentuh sumber air anaknya nanti. "Memang kalau sebelumnya kau tahu itu obat, apa kau tidak akan meminum ? Kau pasti akan meminum itu Beby! Karena kau butuh uang!" bisiknya.
"Ahh.....SEANN!!!!" teriak Beby nyalang saat pria itu kembali menindihnya diatas sofa, mata Beby melotot merasakan milik Sean kembali mengeras.
"Lihatkan, kau menggodaku lagi," desis Sean membenarkan posisinya dengan nyaman.
Beby merintih merasakan sakit pada inti dan bersamaan dengan rasa kram yang terasa melilit perutnya.
__ADS_1
"Aku tidak...shh...menggodaahh...tuan!"
"Pembohong ulung kau Beby! Tadi kau dengan sengaja menggoyangkan pingganmu! Kalau begitu rasakan ini!"
"AHHH....SEANNN!!!!!"
...o0o...
Sementara dengan asik dengan Beby dilantai 4 mansionnya. Saat ini Jacob tengah kesusahan menghentikan tangisan Leon yang mencari-cari Beby.
Tadi pagi saat merasakan ketidakhadiran Beby disampingnya saat membuka mata pertama kali, Leon langsung menangis histeris sembari memanggil-manggil nama Beby.
Untungnya di depan kamar Sean ada Jacob yang setia meneriaki Sean untuk segera berangkat kerja karena sedaritadi tidak keluar kamar. Jadilah Jacob menyusul ke kamar Sean untuk menjemput tuannya itu.
Namun bukan mendapati kehadiran Sean, kini ia malah harus memenangkan Leon yang menangis mencari pengasuhnya.
"Kak Beby....hiks...hiks..."
Jacob mengusap punggung kecil Leon, berusaha menenangkan. "Tenanglah tuan muda, sepertinya Beby tengah pergi sebentar bersama dengan tuan Sean."
Pria itu membawa Leon yang berada di gendongannya menuruni tangga menuju ruang makan.
"Tuan muda makan dulu ya, biar uncle siapin makannya," ujar Jacob sembari menaruh Leon dalam kursinya.
"Iya sayang, mungkin sebentar lagi kak Beby pulang. Jangan nangis yaa..."
Leon kembali menggeleng dipelukan Jacob. "Kak Beby.....hiks...."
Karena tak tahu harus berbuat apa, Jacob menjatuhkan dirinya di salah satu kursi di meja makan itu. Dengan berkali-kali menghela nafas lelah.
Tangannya masih setia mengelus punggung kecil Leon, meskipun pria kecil itu masih terisak memanggil-manggil nama Beby.
Hingga tak berselang lama kemudian, Beby turun dengan rambut yang masih basah dan raut wajah cemberut berjalan menghampirinya dan Jacob. Sementara Sean, wajah pria itu nampak bercahaya dan penuh semangat dengan rambut basahnya.
Jacob mengangkat alisnya tinggi melihat wajah bercahaya Sean, ia tersenyum miring. "Oh ini yang katanya cuma cinta sama istrinya ? Kok tidur sama perempuan lain ?" batin Jacob.
"Leon kenapa sayang ?" tanya Beby berlari kecil untuk menggapai tubuh Leon.
Leon yang mendengar suara Beby langsung mengangkat kepalanya tinggi untuk mencari Beby. Ia merentangkan tangannya meminta di gendong oleh Beby.
Dengan perlahan Beby membawa tubuh Leon dalam gendongannya. "Sstt...kenapa nangis sayang ?" tanyanya yang tak dijawab oleh Sean. Lalu mata Beby beralih menatap Jacob, seolah menanyakan hal itu pada Jacob. "Kenapa nangis dia ?"
"Cari kamu tadi, kamunya gak ada pas dia bangun tidur."
__ADS_1
Beby menganggukkan kepalanya mengerti, ia menciumi ceruk leher Leon beberapakali. "Maaf ya sayang. Tadi kakak ada urusan sebentar, udah yuk nangisnya. Kita makan..."
Sean yang memperhatikan bagaimana cara Beby menenangkan Leon dengan diam. Ia menganggukkan kepalanya kecil seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya. "Lumayan, sudah bisa menjadi ibu dia," gumamnya yang hanya didengar oleh Jacob.
"Kak Beby....hiks....hiks...." tangisan Leon lagi-lagi kembali pecah padahal sudah sedari tadi Beby menenangkan bocah kecil itu.
"Sayang sudah ya jangan menangis, kan kak Beby gak kemana-mana. Daritadi cuma di rumah aja..."
"Tapi kak Beby...hiks...hiks...ninggalin Le–"
BRAKK.....
Sean memukul meja makan dengan keras menggunakan tangan kanannya membuat tangisan anaknya seketika berhenti.
"Hei daritadi mulutmu itu tidak bisa diam ya ? Kau ini laki-laki, tapi kenapa seperti banci saja dikit-dikit menangis!"
Tubuh Leon bergetar mendengar bentakan dari sang ayah. Ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Beby.
"Tuan! Dia masih lima tahun! Tolong jangan dibentak begitu! Dia masih anak-anak!" tegur Beby kesal.
"Benar tuan, sangat wajar jika tuan muda menangis. Tuan juga saat masih kecil pasti menangis, jangan bertingkah seperti anda tidak pernah menangis seumur hi–"
Glek...
Jacob menelan ludahnya susah payah setelah dilirik tajam oleh Sean. Ia menundukkan kepalanya dan kembali memakan makanannya dalam diam.
Sementara Sean kini mengalihkan pandangannya kearah Beby sembari berdiri dari duduknya yang diikuti oleh Jacob.
"Dan kau pengasuh, apa tugasmu, Ha ??? Ajari dia untuk tidak menangis! Kau kan sudah ku bayar mahal untuk menjaga Leon. Jadilah pengasuh yang berguna!"
Setelah mengatakan itu Sean langsung berjalan pergi bersama dengan Jacob meninggalkan Beby yang terlampau kesal oleh ucapan pria tua itu.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA