
"Siapa?" tanyaku.
Ketika ia disinari rembulan. Ternyata dia adalah pelayan tadi yang menyuruhku istirahat.
"Saya Rosa Maria. Saya seorang pelayan nona mulai sekarang. Ini adalah perintah Tuan Alder. mulai sekarang nona akan tinggal disini bersama Tuan Alder selamanya." Aku terdiam beberapa detik.
Entah kenapa aku ingin tertawa mendengar perkataan pelayan itu, yang benar saja aku tinggal bersamanya. Hanya karena ia tertarik padaku hingga menculikku lalu membawaku pulang ke rumahnya, bukankah ini seperti sebuah drama sandiwara yang selalu tayang setiap hari di televisi.
Rasanya aku ingin sekali melontarkan kata-kata itu, tetapi aku menutup mulutku menggunakan tangan kananku. Bagaimana cara menjelaskannya yak. Mungkin aku harus menghampiri dirinya.
Aku berjalan mendekatinya, dan mendekatkan ke telinganya, lalu aku berbisik lembut padanya.
"Aku dibohongi juga loh."
Mata pelayan itu terbelalak, ia tercengang mendengar kata-kataku, ia meremas tangannya dengan kuat, hatinya mulai bimbang sekarang.
"Kau pahamkan maksudku?"
Aku menunggu keputusannya, ia menggigit bibir bawahnya, aku tau apa yang sedang ia hadapi sekarang, drama ini akan kuubah hanya sekali kalimat saja, hingga sandiwara ini tak terlihat membosankan.
Tatapan pelayan yang tadinya terlihat patuh sekarang ia menatapku dengan tatapan yang berkobar dan membara seperti api.
"Baiklah, tunggulah disini sebentar Nona," jawab pelayan itu dan pergi lenyap ditelan kegelapan.
Sembari diriku menunggu, aku membalut perban di kedua tanganku, aku tak mau melihat darah lagi di telapak tanganku walau itu hanya sekedar mimpi.
***
Pukul 23:15 PM
"Nona saya kembali, saya akan menunjukkannya kepada Nona," ucap Rosa kepadaku.
Ia mengajakku keluar ruangan, kami melewati lorong dengan langkah yang pelan, hatinya pasti tidak tenang, aku menatap keraguan di matanya, aku pun mengabaikan pandangannya dan fokus ke depan.
Kami memasuki ruangan bawah tanah.
Tempatnya sangat kotor dan sunyi, aku tak akan betah tinggal disini, entah kenapa tempat ini seperti tahanan.
Aku melihat gadis bersurai merah, sedang berbaring di tanah dengan bantal yang kasar, kakinya dijerat oleh rantai, aku menghampirinya dan membangunkan si gadis yang malang itu.
"Niki... Bangun," ucapku membangunkannya.
Niki terbangun dan mengucek-ngucek matanya, ia memperjelas penglihatannya.
"Lucy!!"
"Sstttt" Kami berdua menyuruhnya untuk diam, Niki langsung menutup mulutnya.
"Ayo..."
"Kemana? " tanya Niki.
__ADS_1
"Nanti juga tau."
Kami bertiga membuka pintu tua yang sudah rapuh. Pintu itu sudah lama tak terpakai selama 5 tahun. Ketika pintu terbuka, angin semerbak menerpa wajah kami.
Benar, kami sudah ada di luar untuk melarikan diri.
"Ini barang-barang nona, pakaian nona sudah ada didalam tas," ucap Rosa dengan sopan tetapi wajahnya datar, ia tidak mudah tersenyum sepertiku.
"Terima kasih," aku mengambil barang barangku darinya.
"Dan ini punya anda." Rosa mengembalikan barang milik Niki juga.
"Terima kasih hiks." Niki tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan snack dari dalam tasnya dan memakannya dengan lahap.
'Kelaparan yak, ' pikirku.
"Rosa... " panggilku.
Rosa langsung menengok kepadaku. "Ada apa nona?"
"Kau juga akan melarikan dirikan dari tempat neraka ini?" tanyaku padanya, wajahnya lesuh mendengar pertanyaan itu, nampaknya ia tidak bisa terlepas dari Alder.
"Tidak.... Aku tidak bisa... Dia adalah orang terkaya ke-3 di negara ini, walaupun keadaanku begini, aku tidak bisa melarikan diri, karena ibuku sakit, aku tak punya biaya apapun untuk menjamin kesehatannya," keluhnya.
"Ini.." aku melemparkan sekantung emas padanya, ia terkejut dan spontan menangkapnya.
"Apa ini?" tanyanya dengan tatapan bingung.
"Apa Nona sungguh yakin? Ini lebih dari apa yang telah kudapatkan, darimana nona mendapatkan emas sebanyak ini?" kejutnya.
"Eh kamu tidak tahu yak."
"Tidak tahu tentang apa?"
"Itu semua adalah warisan orang tuaku, aku adalah anak terkaya pertama di negara ini," jawabku sambil memainkan ikal rambutku
"Su-sungguh, tolong maafkan aku," ia menunduk meminta maaf.
"Tidak apa-apa, lupakan saja, yang terpenting kau bisa mengubah masa depanmu lebih baik lagi," ujarku sambil memegang pundaknya untuk berdiri tegak.
"Aku benar benar berterima kasih atas pemberian nona. Ketika ibuku sehat nanti, saya akan mampir dan menjenguk kalian berdua."
Aku bisa melihat senyuman mekar di wajahnya, ia tersenyum tulus kepadaku.
Tu-tunggu perasaan apa ini? Kenapa perasaan ini sangat nyaman, aku harap ia tidak melihat muka meronaku.
"Nona... Ini untuk anda,"
Rosa memberikanku sebuah jaket merah muda kepadaku. "Eh kenapa?"
Ia tersenyum manis kepadaku dan menjawab dengan riang.
__ADS_1
"Aku harap nona akan mengingat saya dengan jaket rajutan ini, walau ini tak sebagus apa yang nona miliki, tolong terimalah dengan sepenuh hati."
Ini membuat jantungku berdetak lebih kencang, ada apa dengan perasaan ini!? "Iya..aku akan menganggap ini sebagai hadiah darimu, "
"Dan juga."
"Eh ada lagi?" tanyaku bingung.
"Nona memakai baju tidur saat ini, tidak mungkinkan nona keluar dengan pakaian begitu, apalagi disini dingin, nanti nona masuk angin lagi loh."
"Aah~ iya aku lupa, terima kasih Rosa..." jawabku dengan menangis dalam
hati.
"Iya sama-sama! Nona bisa memakai sepeda ini untuk menuju rumah Nona," ucap Rosa sambil menenteng sepeda yang ditata cantik.
"Eeh!! Memangnya tidak apa-apa? Bagaimana denganmu?"
"Tak apa, karena saya akan memanggil taksi di depan," ujar Rosa.
"Baiklah, selamat tinggal!"
"Selamat tinggal juga!"
Saat itu adalah pertemuan terakhir kami dengannya, aku dan Niki menaiki sepeda berdua. Posisiku adalah mengendarai dan Niki hanya duduk di belakang.
Kami berbincang-bincang atas apa yang telah terjadi kepada kami. "Bagaimana bisa kau lolos hanya mengucapkan kalimat itu!!" kesal Niki.
"Aku mengetahui dari lehernya yang terdapat luka gigitan."
"Apa maksudmu? Kau mengira si cowok mawar itu adalah vampir!" marah Niki yang menganggapku tidak masuk akal.
"Dia itu sudah berbohong pada Rosa, bahwa ia akan bekerja dengan bayaran besar untuk menyembuhkan ibunya," jawabku.
"Bagaimana dengan gigitan itu?" tanya Niki penasaran.
"Tentu saja saat ia menjadi pelayan, ia dihisap darahnya, Alder itu hanya mengicar gadis perawan yang darahnya segar, makanya kau jangan melarangku lagi untuk meminum racun!" jawabku agak sedikit keras, karena angin ribut menyembunyikan suara kami.
"HEI ENAK SAJA KAU!!"
Niki langsung menjitak kepalaku dengan keras. Hingga kami teroleng saat menaiki sepeda, untungnya aku langsung mengendalikannya dengan cepat.
"Rosa pasti berpikir akan melaporkan tindakan Alder tersebut, tetapi ia di ancam dan tidak akan menjamin kesehatan ibunya lagi, maka dari itu ia tidak bisa melarikan diri dari Alder, ia juga tidak punya uang cukup untuk mencari pekerjaan dan pulang ke kampung halaman lagikan," ungkapku panjang lebar.
"Kau benar," respon Niki singkat.
Kami akhirnya pulang dengan selamat dan Niki menginap di rumahku semalaman.
.....
"Sesuatu yang manis seperti cinta mungkin akan membuat kerusakan lubang pada hatimu."
__ADS_1