MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Hari Terakhir


__ADS_3

Hari demi hari, minggu demi minggu, aku mengurung diri kurang dari satu bulan. Kini tanganku sibuk menulis sesuatu di kertas.


Mataku melirik sekali lagi isi pesan di grup kelas.


‘Selamat pagi untuk seluruh kelas 12, besok adalah hari kelulusan, diharapkan semua murid kelas 12 wajib datang di jam 08:00 di aula sekolah.’


‘Sret, sret.’


Kata demi kata yang terlukis dalam kertas putih, membuatku semakin terluka, air mataku satu persatu turun mengalir membasahi pipiku.


Esok hari adalah hari dimana semuanya akan berakhir, aku tidak dapat bertahan lagi dalam roda waktu yang terus berputar, rasanya aku ingin menghentikan segalanya. Segala sesuatu yang membuatku terganggu.


Orang-orang itu terus mengetuk pintu hatiku. Tapi apa dayanya mereka jika aku merantai seluruh yang ada.


Aku mendapatkan satu fakta lagi dan itu sangat tidak terduga. Membuat pikiranku menjadi kacau balau sekali lagi. Satu fakta itu tidak lain dan tidak bukan adalah seorang teman lama.


Setelah kupikir-pikir.


Ternyata aku bukanlah orang yang paling bahagia di dunia. Sekali lagi aku bukanlah orang yang paling menderita disini. Jadi aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini? Kenapa aku terus menerus di sakiti oleh kebenaran itu dan kenapa aku terus menerus menyakiti orang lain?


Apa salahku? Apa karena aku bersikap bodoh pada mereka? Aku hanya ingin menghilang, sekali lagi aku hanya ingin menghilang dari mereka semua. Aku hanya akan mengacaukan segalanya jika terus begini.


Pergilah dan tinggalkan aku sendiri.


Aku menaruh surat yang kubuat di atas meja dan meninggalkannya begitu saja di sana.


“Kebahagiaan yang kau buat selama ini adalah kebohongan belaka.”


Niki membohongiku selama ini, pertemanan yang kita bangun bukanlah hanya setahun lebih tetapi sudah 10 tahun kita sudah berteman. Kau hanya mengubah rambutmu agar aku tak terlalu mengenalmu. Kenapa kau tak ingin menceritakan semuanya padaku dari awal? Apa kesalahanmu yang tidak sengaja itu membuatmu takut dan malu untuk mengatakannya?


Maafkan aku.


Ini salahku juga. Aku bersalah karena tidak bisa melindungi Ayah dan Ibu. Salahku, karena aku mengajak Ibu dan Ayah ke taman hiburan dan mereka terpesona oleh drama teater itu.


Jika aku tidak mengajak mereka mungkin aku masih memiliki kedua orang tuaku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun saat ini. Di posisi ini semuanya bisa terjadi. Selama perjuangan dari awal dan saat ini, aku mengira aku adalah pahlawan tetapi aku sadar bahwa aku bukanlah pahlawan sesungguhnya.


Aku hanyalah gadis biasa. Anak perempuan yang memiliki hati yang sangat gelap. Aku bagaikan mentari yang tenggelam dan membangkitkan malam hari tanpa ujung. Semua yang kuperbuat adalah dosa besar. Aku minta maaf telah menyakiti hati kalian.


Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Meringkuk seperti anak kecil dan menangis dalam kesendirian.


‘Aku putus asa.’


‘Apa yang harus kuperbuat?’


Hari Terakhir.


Hari kelulusan telah tiba, semuanya memasang wajah bahagia saat ini, dengan pakaian serba hitam aku menaiki sebuah tangga aula.


Tidak apa-apa, setelah semuanya selesai aku akan mengakhiri hidupku. Tidak apa jika aku melakukannya dengan baik semuanya akan berakhir dengan baik juga.


Waktunya telah tiba, aku pergi ke dalam aula dan duduk di kursi yang sudah ditetapkan namanya di sandaran kursi.


‘Kumohon, jangan ada yang mengusikku.’


“Diharapkan jangan berisik yak... Acara akan segera dimulai,” ucap Miss Lisa.


Acara kelulusan pun dimulai dari pembukaan Sang Pembawa acara dan sambutan dari Kepala Sekolah, kini para kelas 12 harus dipanggil namanya satu persatu untuk maju ke depan dan mendapatkan mendali serta hasil nilai ujian sekolahnya.

__ADS_1


“Lucy Aureista.”


Sekian lama kumenunggu, akhirnya namaku terpanggil. Aku segera berdiri dan berjalan menuju panggung sebelum mataku melirik ke arah Niki yang ternyata ia sudah duluan menatapku.


‘Hufft... Ya sudahlah... Aku sudah tidak peduli lagi padanya.’


Setelah semuanya mendapatkan mendali dan hasil nilai ujianku. Semua murid sibuk mengambil foto dan merayakan hari kelulusan tersebut. Sayang, aku tidak akan pernah merayakan hal tersebut, karena satu hal yang tidak membuatku lulus adalah kehidupanku ini. Segeralah aku bergegas pergi dari aula.


“Dimana Lucy?” tanya Gabriel celingak-celinguk mencariku.


“Apa dia keluar dari aula?” tanya balik Alder.


“Heiii! Kalian ayo kita foto bersama!” ajak Felix.


“Baik, tunggu sebentar yak! mungkin Lucy sudah bersama mereka,” ucap Gabriel.


“Benar juga, si rambut merah itu, kan sering kali nempel dengan Lucy kesayanganku,” ucap Alder dengan percaya diri.


“Sekali lagi kau bilang begitu, aku akan melakban mulutmu,” kesal Gabriel disertai senyuman.


***


Aku menaiki tangga demi tangga yang anak tangganya lumayan membuatku sesak nafas. Sampai akhirnya aku sampai pada tempat yang kurindukan namanya. Atap se-- maksudku menara sekolah.


Tidak ada siapapun disini, perasaanku mulai menjadi takut. Rasanya masih membekas, terlebih lagi aku yang harus meninggalkan mereka semua tanpa berpamitan. Sedih rasanya tetapi inilah yang harus kurelakan. Hidupku. Aku merelakan hidupku yang jauh sangat pahit.


Tidak apa-apa, selama mereka tidak menghentikanku. Semuanya akan baik- baik saja.


Tidak apa-apa Lucy, melangkahlah ke alam bawah sadarmu. Dengan begitu semuanya akan berakhir.


Tidak masalah seberapa takut pun dirimu, inilah jalan pilihanmu yang sesungguhnya bukan?


Aku menaruh barang-barangku di sana. Langkah demi langkah aku menuju tebing menara. Tebing yang amat tinggi dapat membuatmu mendapatkan kerusakan yang fatal bila kau terjatuh. Apakah ini adalah tindakan yang sangat bodoh?


“....”


Menurutku tidak, ibu melakukannya bukan? Jadi aku bisa mengikuti apa yang ibu lakukan. Ibuku adalah orang yang sangat baik, hanya saja semenjak ayah meninggal ibuku menjadi sedikit agak gila, begitupun denganku. (tersenyum)


Aku teringat kembali apa yang dikatakan orang-orang di teater tentang keluargaku.


“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”


Seperti itu bukan? Mereka mungkin benar, kami tidak jauh berbeda sekarang.


Kami melalui banyak hal yang menyenangkan dan harus berakhir dalam kemirisan.


...


“Dimana Lucy?” tanya Gabriel sekali lagi.


Niki mulai takut sekarang, pasalnya ia mengira Lucy bersama Gabriel dan Alder. Dan sekarang ia kehilangan Lucy saat ini.


“Aku akan mencarinya, jadi kalian duluan saja berfoto,” ujar Niki.


“Apa semuanya baik-baik saja Niki?” tanya Felix.


“Tidak apa-apa, kalian duluan saja.”

__ADS_1


Niki berlari untuk mencariku, ia mencari satu persatu setiap kelas. Mungkin ia akan terlambat jika ia mencariku seperti itu karena aku sudah berada di tepi menara. Angin membuat keseimbanganku semakin goyah.


“LUCY!!” panggil Niki.


Tidak masalah walau suaranya masih terdengar di telingaku.


Aku melangkahkan kaki kiriku ke udara yang terbuka karena tak ada pijakkan untuk kaki keduanya.


“LUCY!!!!”


Maafkan aku, aku benar-benar putus asa setelah kehilangan kedua orang tuaku. Aku minta maaf. Aku harus melakukan ini. Aku minta maaf.


Aku menangis lagi. Air mataku tidak bisa menahannya lagi.


“Selamat tinggal semuanya, maaf. Aku harus pergi,” ucapku untuk terakhir kalinya.


“TIDAAKK!!”


Sontak tanganku seperti ditarik kembali dari tepi menara. Aku mendelik siapa orang yang menarikku itu. Ia sudah menghalangiku dan membuat keberanianku hancur seketika.


“Jangan lakukan ini Lucy!”


Suara itu jelas terdengar di telingaku tadi.


“Niki!?” aku terkejut ketika ia menarikku menjauhi tepi menara.


“Kumohon, jangan lakukan ini. Jangan bertindak bodoh seperti ini Lucy, aku benar-benar minta maaf bila kau sampai berbuat seperti ini, aku minta maaf,” isak tangisnya membuat hatiku semakin terluka. Air matanya sudah bercucuran di wajahnya. Terpapang jelas ekspresinya kalau ia tidak akan membiarkanku terjun bebas dari menara.


“Lepaskan aku!” aku berusaha melepaskan pegangannya yang kuat ini. Tangannya mencengkram lenganku begitu sangat kuat, sampai-sampai aku harus tarik ulur dengannya.


“Aku tidak akan melepaskanmu Lucy. TIDAK AKAN!” balasnya dengan nada memaksa.


“Kumohon... Untuk kali ini saja kau tidak mencegahku melakukan ini,” ucapku dengan nada sendu.


“Jika aku melepaskanmu, itu hanya akan membuat dosa terbesarku kembali lagi Lucy!”


“Aku tidak peduli! Aku tidak punya siapapun sekarang, karena itu aku tidak ingin mengingat kebenaran itu dan mencoba untuk melupakan semuanya, semua yang ada saat itu. Tapi orang itu membuatku teringat kembali dengan kenyataan yang pahit...”


“Siapa yang kau maksud?” tanya Niki.


Aku tak ingin menjawabnya. Tetapi aku hanya ingin ia melepaskanku dari cengkeraman ini. Apapun yang bisa membujuknya untuk melepasku. Harus ku utarakan walau hatinya tersakiti.


“Harusnya kau lelah denganku yang seperti ini atau kau menyembunyikan rasa lelahmu dan memasang wajah palsumu itukan?”


“A-APA! Aku tidak pernah melakukan itu bodoh!”


“Jika itu benar, lepaskan aku Niki. Aku sudah putus asa dengan kehidupanku. Lepaskan aku sekarang juga!!”


“TIDAK, AKU TIDAK AKAN MENYERAH. Aku hanya ingin kita bersama lagi seperti dulu, kumohon, kita bisa melakukannya lagi dari nol, kita bisa kembali seperti dulu lagi!!”


Semakin kami beradu argumen, semakin kami mendekati tepi menarannya lagi, tetapi tetap saja Niki akan terus menarikku dari sana, harus ada tindakan untuk mengakhiri ini semua.


PEMBERITAHUAN : di sini pembaca sudah bisa memilih ending yang diinginkan, pilihan dan keputusan para pembaca akan mempengaruhi ending cerita itu sendiri, kamu bisa memilih tindakan sesuka hati kamu, ingat setiap ending memiliki konsekuensi yang besar, berhati-hatilah dalam memilih tindakan yang kamu putuskan pada pilihan yang ada di bawah ini.


Aku sudah memutuskannya, maaf Niki aku harus melakukannya, jika aku tidak bertindak sama sekali, ini semua tidak akan ada ujungnya sama sekali, karena itu aku tidak punya pilihan lain selain...


A.Menarikmu.

__ADS_1


B.Mendorongmu.


Pikirkan baik-baik sekali lagi setiap apa yang para pembaca pilih, karena cerita ini memiliki dua ending yang berbeda. Dan tetap akan ada satu ending yang akan dinamakan TRUE ENDING


__ADS_2