
Tidak. Aku tidak boleh menyukainya. Aku tidak boleh mempercayainya.
Dan aku juga tidak boleh mengenalnya lebih dalam lagi.
Aku melepaskan pelukan ini secara perlahan. Menjaga jarak kembali diantara kita berdua.
"Maaf... Seharusnya aku tidak mengkhawatirkanmu seperti ini."
Aku tidak tau kenapa aku bisa luluh dengan perasaan tadi, aku tidak boleh terjebak. Dia laki laki, aku bisa terjerumus lebih dalam lagi.
"Tidak apa-apa. Alder sebenarnya sekelas denganku. Aku akan memberitahunya untuk tidak mencoba mendekatimu lagi," ujarnya seraya tersenyum kembali padaku.
"Terima kasih, jika Alder menyakitimu karena aku. Tolong beritau aku yak?" ucapku serius.
"Baik."
Gabriel kembali pada tempat tidurnya, ia berbaring kembali sambil melihat jendela yang ada disamping ranjangku.
"Aku suka hujan, aku rindu aroma tanah yang terkena air," ucap Gabriel.
Aku menatap jendela, di luar masih hujan, kacanya menangkap embun air yang meleleh. Awan kelabu menutupi cahaya matahari membuat suasana ruangan jadi suram.
"Begitu yak."
"Permisi."
Dokter tiba-tiba saja masuk beserta dua Perawat cantik dengan membawa obat-obatan.
"Pasien bernama Lucy Aureista," panggil Sang Dokter.
"Saya dok," sahutku dengan mengangkat tangan sedikit.
"Hari ini adalah pemeriksaan terakhir. Kau hanya disuntik sekali ini dan besok kau bisa pulang," ucap Dokter dengan memasukan cairan kedalam suntikan.
"Besok?"
"Iya."
Perawat satunya membantuku untuk menggulung lengan bajuku. Dokter memberikan cairan pada kapas dan mengolesnya pada kulit yang akan ditusuk oleh jarum. Seremyak~
Hatiku berdetak kencang, paling seram ketika detik detik ingin disuntik. Aku harus melihat ke arah lain atau menutup mataku.
"Tenanglah. Ini tidaklah sakit sama sekali," ucap perawat itu lembut. Bagaimanapun aku tetap saja ketakutan akan rasa sakit. Aku benci rasa sakit. Tapi sekarang aku harus rileks dan tidak boleh tegang.
Ketika Dokter ingin menyuntikku. Aku menutup mataku.
'BRUK!!'
"Aaaaa!"
Aku kaget mendengar suara pukulan yang keras serta jeritan dua Perawat, ketika aku membuka mataku Dokter itu terkapar di lantai.
"APA YANG KAU LAKUKAN!!"
Gabriel yang memukul Dokter itu hingga pingsan, ia menggunakan tiang infus untuk memukul kepala Sang Dokter.
Wajah Gabriel menjadi seram dan aku merinding melihatnya. Aku tidak percaya apa yang telah dilakukan gabriel terhadap dokter malang itu.
Ia mengambil obat suntik tadi dan melepaskan kemasan obat tersebut, Ternyata ada lapisan lain lagi dibaliknya. Gabriel mengetahui obat tersebut. Itu adalah Potassium chloride. Potassium chloride adalah racun yang paling bagus untuk menghentikan kerja jantung.
"Ini obat racun. Atas dasar apa kalian melakukan ini pada pasien?" tanya Gabriel dengan suara serak dan berat.
__ADS_1
"Ini adalah perintah Nona Lina, keluarga Nona Lina adalah pemilik rumah sakit ini, mereka membayar kami untuk mematikan pasien bernomor 210," jelas perawat itu.
Gabriel dengan cepat mengambil kapas diantara obat obatan lainnya. Ia mencabut jarum infusku dan menutupinya dengan kapas alkohol lalu diplester, begitupun dengan dirinya sendiri.
"HENTIKAN, APA YANG KAU LAKUKAN!?"
Kedua Perawat itu hampir mencegat tindakan Gabriel, tetapi Gabriel langsung mengancamnya dengan suntikan bius mematikan.
"Jika kalian tidak ingin mati, diamlah dan tutup mulut kalian," ucap Gabriel menatap tajam pada kedua perawat itu.
Kemudian aku ditarik lari oleh Gabriel keluar ruangan. Kami berlari di lorong sunyi dan sepi. Aneh, semua orang tidak ada. Tak ada yang bisa kami minta tolong.
Dengan kaki telanjang, kami terus berlari mencari jalan keluar tetapi semuanya dihadang oleh Staff, Perawat, dan Dokter yang berpihak pada Lina. Mereka mengincar diriku. Mereka mengejar kami, kami tersesat layaknya di sebuah labirin.
Nafasku tersenggal, jantungku berdetak sangat kencang. Aku seperti dikejar oleh sekumpulan pembunuh atau zombie yang mengincar nyawaku. Aku ingin keluar dari bangunan seram ini secepatnya.
***
"Kita sembunyi sementara disini dulu dan jangan berbuat keributan sedikitpun," bisik Gabriel.
Untuk sementara kami bersembunyi di ruangan tak terpakai. Gelap dan seram. Gabriel menyalakan senter di handphonenya dan berusaha memanggil bantuan. Jaringannya hampir menghilang karena ruangan yang begitu tertutup. Aku juga mencoba untuk memanggil bantuan dengan handphoneku.
"Dimana kalian anak kecil~"
Seketika kami langsung tegang mendengar suara bapak bapak selaku dokter bedah dan Dokter gigi sedang melewati lorong pintu ini, kami menahan nafas dan tidak mencoba bergerak sama sekali. Tempat nya agak sempit tapi cukup untuk dua orang yang tengah bersembunyi seperti permainan petak umpet hantu, jika ketahuan nyawa adalah taruhannya.
'BRAK'
"Tidak ada."
"Sebelahnya."
'BRAK'
"Tidak ada."
Ketegangan sedang berlangsung. Kami tak punya tempat persembunyian lagi, apalagi mereka yang sedang memeriksa setiap pintu di lorong ini. Semakin mereka mendobrak pintu lainnya semakin kami akan ketahuan.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisikku.
"Diamlah."
'Tring~'
Kedua dokter itu secara bersamaan menengok asal suara itu.
Oh tidak itu adalah notifikasi handphoneku yang lupa kusunyikan.
Langkah demi langkah mereka mendekati pintu kami. Kami panik mencari sesuatu untuk berlindung diri. Gabriel melihat sebuah tiang infus yang nganggur dipojokan.
Saat Gabriel mengambilnya, sebuah kardus terjatuh dengan dentuman yang keras. Membuat kedua dokter itu yakin ada penghuni didalamnya.
'BRAK!!'
Kedua dokter itu masuk dan Gabriel langsung memukulnya dengan tiang infus. Mereka terkapar dilantai tak sadarkan diri.
Kami langsung lari menuruni tangga menuju pintu utama.
Lagi-lagi di ruang utama sudah ada dua perawat dan dua dokter, mereka mengejar kami tapi kami tak berlari dan malah melawan mereka. Gabriel memukul mereka semua berkali kali hingga mengeluarkan darah di kepala mereka. Aku tak dapat membantunya dan hanya merinding ketakutan.
"AAAAA!!"
__ADS_1
Aku berteriak keras ketika seorang Perawat menahanku dan mencekikku.
Aku tak dapat bernafas, kesakitan dan memberontak, leherku semakin ditekan lebih dalam.
Gabriel tak dapat menolongku karena ia sedang berhadapan dengan Dokter yang tengah membawa pisau.
Aku hampir melihat cahaya itu kedua kalinya. Nafasku sesak aku tak bisa menahannya lagi. Meringis kesakitan dan hampir menyerah.
Lagi-lagi hatiku menangis.
'Aku tak ingin dibunuh... Tolong berikan aku kesempatan '
Aku menutup mataku dan memohon.
'DOR!! DOR!! DOR!!'
Perawat itu terkena tembakan. Pelurunya melewati isi kepalanya. Darahnya melayang dan mengenai wajahku.
Aku terbatuk batuk memegang leherku ketika ia tertidur di lantai yang dingin. Matanya masih terbuka menampilkan wajah kaget yang tersenyum. Aku menutup kedua matanya. Sekujur badannya menjadi kaku dan perlahan wajahnya memucat. Begitupun dengan dokter yang melawan Gabriel juga tertembak.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gabriel yang membantuku untuk berdiri. Kami langsung meronggah isi saku mereka.
"Ketemu!" seruku.
Akhirnya kami menemukan kunci pintu utama. Langsung saja aku membuka pintunya.
Setelah kami berhasil keluar, di depan sudah ada banyak mobil polisi, ambulans, hingga wartawan yang berdatangan ramai.
Dua Polisi datang menghampiri kami.
"Kalian tidak apa apa?" tanya polisi itu.
"Iya."
Kami berdua saling menatap dan tersenyum. Akhirnya kita berdua selamat dari rumah sakit ini.
Kemudian aku melihat Niki sedang berlari kepadaku. Aku-pun juga mendatanginya, Niki langsung memelukku erat dan menangis.
"Syukurlah kau selamat... Hiks."
Aku juga bersyukur karena nyawaku masih terselamatkan. Aku melepaskan pelukannya dan mengatakan.
"Aku tidak akan selamat jika Gabriel tidak menolongku. Iyakan Gabriel?" Aku menengok ke belakang tetapi Gabriel sudah tidak ada.
"Siapa itu Gabriel?" Tanya Niki khawatir.
"Gabriel? GABRIEL??" Aku memanggilnya berulang kali tetapi Gabriel tetap saja tidak ada.
"Di mana dia?" tanyaku ketakutan.
"Lucy apa kau tidak apa-apa?" tanya Niki.
"Tadi dia ada di belakangku!"
"Tapi aku tidak melihat siapapun di belakangmu!?"
Aku memegang kepalaku. Pusing dan bingung. Kemana hilangnya Gabriel, apalagi aku melihat dia terluka di lengan tangan kirinya.
"Sudahlah. Ayo kita pulang."
Niki langsung menuntunku memasuki mobil polisi dan pergi dari rumah sakit itu.
__ADS_1
.....
"Kenapa kau tidak mewujudkan dirimu dikala aku terluka dan kesepian."