
“AAAAHH!” jeritku yang tak tertahankan keluar dengan nyaring hingga yang di luar melihat kami... Lompat dari jendela lantai 2.
Aku benar benar akan berpikir kami bunuh diri bersama di saat itu, tetapi... Ia mendarat dengan kedua kakinya yang kuat dan berlari sambil tertawa riang membawaku menjauh dari tempat yang menyeramkan itu.
“Hahahaha, Gabriel kau sudah kalah dan terima kasih juga untuk Bibi yang sudah menggantikanku.”
Gabriel yang menonton kami dari jendela hanya terkejut dengan kelakuan Alder yang diluar nalarnya. Niki kesal melihat Lucy menjauh darinya. Gabriel dan Niki berusaha keras untuk mengejar mereka.
“Tunggu dulu, kamu mau kemana nak?” seorang pria dengan tinggi semampan beserta wanita dengan pakaian norak tersenyum sambil merokok.
“Mohon maaf kami ingin pergi mengejar--” belum sampai Niki menyelesaikan perkataannya, mereka langsung menyekap kami semua dengan bodyguard yang datang secara tiba-tiba.
“Bawa mereka ke gudang,” suruh wanita itu dan berlalu pergi.
Mereka membawa teman-temanku dengan terpotang-pating dan terus memberontak ke dalam gudang yang berada di belakang sekolah.
Di sisi lain, Alder membawaku kabur dari teman-temanku dan sampailah di suatu tempat yang sepi.
Alder menurunkanku disebuah ruangan yang sudah tak terpakai dan kumuh, ia mengatur nafas dulu sebelum menjelaskan apa yang ia lakukan padaku.
“Kenapa kau bersusah payah membawaku kesini Al-der?
“Ehh..hee...”
Eh ah ih eh oh, itulah kata yang ia keluarkan untuk menjawab pertanyaanku, cukup tidak menjelaskan apapun.
“Cih.”
Alder terkejut melihat wajahku yang sudah berubah ekspresi kesal dan masam.
“Baik-baik aku akan menjelaskannya,” ujar Alder dengan wajah kelelahan.
“Cepatlah.”
“Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu.”
Tangannya sekali lagi menyetuhku dan menarikku dari sana juga. Kami memasuki ruangan berikutnya. Ruangan satunya adalah sebuah goa yang cukup besar dan pemandangannya membuat mataku terbelalak hebat.
“Selamat datang di ruangan rahasia.” Ruangan perpustakaan alam.
Pemadangan indah dengan bunga dan tumbuhan yang menjalar di sepajang rak buku yang tejajar dengan rapih, pemadangan itu sungguh memanjakan mata. Air terjun yang mengalir deras membuat isi kepalaku menjadi rileks. Pemadangan yang spektakuler ini pantas mendapatkan sorotan banyak orang.
“I-i-ini...”
“Yup ini adalah perpustakaan alam, apa kau menyukainya?”
“Hmm iya lumayan, apa kau yang membuatnya?”
“Tentu saja,” jawab Alder dengan senyum bangganya.
“Luar biasa.”
“Haha terima kasih.”
“Kau bisa membuat bisnis dengan tempat ini,” ujarku.
“Apa...?”
“Tempat ini cukup menarik banyak orang loh nantinya, kenapa kau tidak mencoba untuk membuat tempat ini menjadi pariwisata?”
“Tu-tunggu..dulu..?”
__ADS_1
“Pasti kau akan memiliki banyak uang dengan tempat indah ini.”
Alder bingung apa yang aku katakan, baginya aku itu seperti sedang gagal paham karena aku yang mendadak memikirkan bisnis dan uang.
“Oh ya ampun...peka lah sedikit, ini untukmu Lucy.” ucap Alder.
“Hah...?” aku melongo sekejap.
“Ini untukmu, aku bersungguh-sungguh.”
“Serius?” tanyaku tak percaya sekali lagi.
“Iya aku serius, aku tidak akan memberikan tempat ini pada orang lain kecuali kamu Lucy.”
“Kenapa kau memberikan tempat ini padaku? Untuk apa?” tanyaku lagi. “Untuk apa lagi, tentu saja karena aku menyukaimu Lucy.” jawab Alder dengan senyum yang membuatnya agak malu.
Aku melamun sesaat, antara senang dan tidak enak bercampur dalam perasaanku. Bagaimana caranya aku kabur darisini, kalau aku kabur berarti aku tidak menghargai tempat ini sama sekali. Terima saja dulu.
“Terima kasih atas pemberianmu yang besar ini,” ucapku berterima kasih padanya.
“Haaa!! apa itu artinya kau menyukaiku Lucy.”
“Entahlah, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menerima ini semua. Kau sudah bersusah payah membuat ini, bagaimana caraku menolak pemberian yang cantik ini.”
“Sudah kuduga ideku berhasil.”
‘Tringggggg’
Tiba-tiba ponsel Alder bergetar, ia merogoh isi sakunya dan menatap layar telepon. ‘siapa yang meneleponku disaat-saat begini sih?’ batin Alder dengan kesal. Tetapi nama si penelepon tersebut cukup membuat Alder terkejut.
‘Tony?’
“Ada apa Alder?” tanyaku yang merasa tidak beres.
“Halo, ada perluh apa?” tanya Alder dengan jengkel.
“Kau ada di mana? Kau tidak digudang sekolah, kan?” tanya Tony dari seberang.
“Untuk apa aku di gudang yang sempit itu, tidak mungkin aku menculik Lucy kesana?” jawab Alder.
“Nahh tepat seperti yang kau katakan kami semua sedang diculik, tolong kami Alder... Kumohon.” ucap Tony sambil menangis tersedu-sedu.
“Kau serius? Siapa saja yang diculik?” tanya Alder dengan santai.
“Sebagian murid royalti diculik di gudang lama dan yang lainnya di aula, sebenarnya telepon semua murid disita, dengan kepintaranku aku bisa menyimpan teleponku dengan aman, hanya kesempatan ini aku bisa menelepon seseorang. Tolong telepon polisi atau semacamnya, aku yakin kau masih belum diculik oleh mereka.”
“Mereka siapa!?” tanya Alder yang penasaran.
“Mereka.. Merekaa...AAAHHH!”
“Tony? Tony? Hei tony?”
Tit tit tit
“Yahh sambungannya terputus.”
Wajahku berubah menjadi panik setelah ikut mendengar pembicaraan mereka lewat telepon. Aku berusaha untuk tenang agar tidak panik sendiri. Lihat saja Alder, dia nampak begitu tenang setelah mendengar kabar buruknya.
“Sudahlah, tidak diangkat juga, aku tidak peduli.”
“APA?”
__ADS_1
Ternyata aku salah menilai, dia ternyata tidak peduli pada apapun.
“Lucy maaf menunggu lama, tadi ada telepon masuk dari Tony.” ujar Alder sambil tersenyum.
“Apa yang Tony katakan?”
“Tidak ada.”
‘Tidak ada? Kalian teleponan tanpa bersuara gitu?’ ucapku dalam hati.
“Tidak perluh berbohong, tadi aku mendengar kata penculikkan. Apa yang terjadi di sekolah?” tanyaku berusaha untuk mengintrogasinya.
“Berbohong? Aah aku minta maaf ya seperti yang kau dengar ada penculikan di sekolah, tetapi... Kumohon tetaplah disini dan jangan kemana-mana yak Lucy.” pinta Alder sambil mengantupkan kedua tangannya.
“Kalau begitu mereka semua dalam bahaya?”
Wajah Alder mulai khawatir selepas mendengar perkataanku, ia tidak ingin menjawab apapun.
“Kalau begitu aku akan pergi dari sini.”
Alder panik dan menarik tanganku saat aku mulai berbalik.
“Tunggu, jangan pergi...aku takut kamu terluka!”
“Aku juga takut Alder!”
Alder terkejut melihat wajahku yang sudah bercucuran air mata. Aku tidak tau, tetapi perasaan ini tak tertahankan, gelisah yang berlebihan menghantuiku. Aku tidak mau perasaan ini terus berlanjut, aku harus menolong mereka untuk menghentikan perasaaan ini.
“Aku juga takut kalau mereka terluka Alder! Aku harus membuat mereka aman juga sepertiku.”
Alder tercengang mendengar alasanku, akan tetapi aku harus cepat menelepon polisi terlebih dahulu dan memberi laporan kalau ada penculikan di sekolah.
Setelah aku berbicara pada polisi, mereka menyetujui laporanku dan berangkat ke tempat kejadian. Di tengah itu semua Alder hanya berdiam diri saja, aku tidak tau apa yang ia pikirkan sekarang.
“Apa kau tidak takut Alder?” tanyaku.
“....”
“Kita tidak tau apa yang mereka akan perbuat pada teman kita.”
“....”
“Tidakkah kau takut apa yang akan terjadi pada Tony? Sepertinya ia ketahuan menelepon seseorang. Apa kau tidak takut jika ia dibunuh?”
“Hah!” mata alder terbelalak mendengar itu. Ia mengepal tangannya dengan kuat. Keringat dingin mengalir di tubuhnya. Jelas sekali rupa wajahnya yang sedang takut sesuatu. Namun...
“Jika kau takut... Tetaplah tenang dan berpikir positif,” ucapku sambil menepuk pundaknya memberi semangat padanya.
“Bukankah kau yang daritadi berpikir negatif?”
“Aah lupakan itu,” ucapku datar sambil balik badan menjauh darinya.
Alder terlihat menahan tawa sekarang, “Haha, sekarang kau banyak berubah yak Lucy.”
Aku merenung tentang yang aku perbuat barusan, kenapa aku tiba-tiba panik dan takut, sekarang hatiku yang sudah lama mati ini memiliki sedikit cahaya kepedulian sekarang.
“Karena aku benci melihatmu menangis jadi aku akan membantumu Lucy,” ucap Alder sambil memperlihatkan giginya yang terjajar rapih.
Aku tersenyum mendengarnya dan mengucapkan, “terima kasih.” ucapan itu membuat hatinya merasa tenang sekarang, sengilir angin menerbangkan rambut kami. Suasana Ini adalah momen dimana kami harus menyelamatkan banyak orang sekarang.
....
__ADS_1
“Karena aku benci melihatmu menangis jadi aku harus melindungimu mulai sekarang.”