
Walau perasaan ini tak tersampaikan padamu. Aku ingin berterima kasih atas kehadiranmu yang selalu berada di sisiku.
Sebagai seorang teman aku ingin membagikan sebuah hadiah yang menarik di matamu. Aku tidak tau apa hadiah itu di perayaan valentine nanti. Tetapi Niki bilang kita akan membuatnya bersama kali ini. Sesuatu yang manis untuk dinikmati. Pada
kenyataannya:
“LUCY BUAT YANG BENAR!! Kenapa kau selalu mencetak coklatnya berbentuk kepala alien!” omel Niki yang sudah hampir kesal berkali kali.
“Sudah kubilang aku sedang membuat wajah mereka,” ucapku yang masih fokus mencetak coklat.
“Terserah! Bagaimanapun itu tidak terlihat seperti wajah mereka,” ujar Niki cemberut.
“Aku tidak pernah melihat bentuk bunga yang seperti itu, apakah itu domba?”
“Sudah kubilang ini bunga!! ini bukan urusanmu pokoknya,” ucap Niki membela coklatnya.
Aku hanya terdiam melihat Niki merajuk menghias coklatnya. Aku langsung mengambil coklat yang sudah kukemas dengan imut.
Coklat bentuk stawberry yang sudah dibungkus dengan motif love, diikat dengan pita berwarna merah.
“Jangan cemberut lagi. Ini untukmu,” ucapku memberikannya bungkusan tersebut. Mata Niki berbinar melihatku memberikan bungkusan coklat tersebut.
Seakan akan itu bukanlah diriku yang tidak peduli terhadap valentine. “Untukku?” tanyanya tak percaya.
“Oh ya sudah aku buang saja,” candaku yang ingin membuangnya lewat jendela.
“JANGAN!” cegat Niki dan ia-pun menerimanya dengan senang hati.
“Maaf karena aku tidak memberikanmu coklat tahun lalu,” ucapku sesal.
“Tidak apa-apa. Aku senang kau membuatkan coklat untukku juga,” seru Niki yang membuka bingkisannya dan memakannya dengan lahap.
“Waah imut, gambar stawberry.” senang Niki.
__ADS_1
Saat Niki memakannya, ia terkejut dengan rasanya.
“Kenapa?” tanyaku bingung selepas melihat ekpresi Niki yang penuh dengan tanda tanya.
“Enak...Tumben sekali kau membuatnya dengan normal?” ucap Niki.
“Oh syukurlah kalau itu enak. Jadi aku bisa tenang memberikan coklat ini pada mereka.”
***
Esok harinya adalah hari valentine. Di mana para murid perempuan sedang berlomba-lomba memberikan coklat pada orang yang ia sukai.
“Tolong terimalah coklat ini!!”
Kata-kata itu sedang ramai dipakai oleh sekolah Royalty dan di seluruh dunia, selain memberikannya secara langsung. Ada yang memberikannya sembunyi- sembunyi seperti meletakkannya di meja atau di loker.
“Waah bawaanmu pasti berat,” ujarku melihat ketua kelas membawa karung berisi coklat.
“Oh, lalu kau akan memakan semua coklat itu?” tanyaku polos.
“Aku akan membagikannya.” seru Felix dengan wajah berseri-seri sedangkan cewek cewek yang sedang mengintip langsung patah hati selepas mendengar hal tersebut.
“Begitu yak.” responku lemas sembari menidurkan kepalaku ke meja.
‘Sudah kuduga aku tetap tidak memiliki keberanian memberikannya, dia sendiri juga nampak kerepotan dengan coklat sebayak itu. Tapi Niki menyuruhku untuk memberikannya secara langsung. Untuk apa? Agar semua orang tau kalau aku merayakannya, tetap saja aku yang malu,’ batinku dalam hati.
“Ada apa? Kenapa kau lesuh begitu?” kecemasan ketua memang tidak ada hentinya.
“Tidak apa apa, aku hanya tiduran saja,” jawabku.
Kemudian Felix duduk di sampingku dengan diam seribu bahasa. Diam dan terus diam melamun menatap satu arah. Aku khawatir kalau saja ia kesurupan penghuni hantu belakang yang ada dipojok ruangan. Aku pun memberanikan diri bertanya karena aku tau ketua tidak biasanya seperti itu.
“Kenapa diam?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa.”
Aku menaikan alis sebelah, hah? Ada apa dengannya. Kok jawabannya seperti itu. Aneh, tapi aku cukup peka untuk mengetahuinya, sayangnya, aku tak punya keberanian pada waktunya.
“Ketua, kekasihmu sedang menunggumu di depan pintu,” ujarku memberitahu.
Sontak Felix melihat keluar pintu, rambut Bob berwarna hijau muda menunggu di luar kelas 12-A. Dengan kecepatan kilat, Felix langsung menghampiri gadis itu.
“Sarah?”
Terkejutlah Sarah yang tiba-tiba saja Felix datang padanya yang hatinya masih setengah berani.
“Apa yang kau bawa itu?” tanya Felix penasaran dengan senyuman usilnya.
Langsung saja Sarah memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah muda dengan berhiasan pita bunga merah di atasnya.
“Ini untuk ivan.” ucapnya dengan wajah yang melihat ke arah lain. Ia tak berani menatap wajah ketua. Tetapi terlihat sekali kalau Sarah sedang tersipu malu.
“Terima kasih! Aku sangat senang!”
“Syukurlah kalau kau senang.”
Sarah tersenyum manis pada Felix hingga ia ikutan nge blush bareng Sarah.
“I-iya sekali lagi terima kasih,” ucap Felix dengan mengusap leher belakang.
“Ya, sampai jumpa lagi.” ucap Sarah melambaikan tangan sembari berlari ke kelasnya.
Bel sekolah berbunyi. Pelajaran sastra akhirnya dimulai.
.....
“Tidak masalah untuk berbuat baik tetapi jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan oleh orang lain.”
__ADS_1