
“Hari ini... Ayo kita coba berlatih untuk membuat senyuman,” seru Niki sembari memainkan pipiku dan menariknya hingga membuat senyuman.
“Huh?”
Niki menarikku ke tempat yang sunyi, dekat dengan danau yang di kelilingi pohon yang lebat, tempat ini benar-benar hampir tidak dikunjungi oleh seorang- pun, hanya beberapa binatang seperti burung, tupai dan serangga.
“Mau apa kau ke tempat seram ini, Bukankah kau takut tempat yang beginian?” tanyaku ragu.
Niki hanya diam saja sambil tersenyum di tempat, itu membuatku merasa kejanggalan pada dirinya.
“Berhentilah tersenyum tidak jelas, itu menakutkan.” ujarku dengan ekspresi aneh.
“Ayoo tersenyumlah Lucy, kamu pasti bisa.”
‘Apa sih kau makin aneh.’ firasatku semakin memburuk, hawa dingin terasa di sekitarku, entah kenapa udaranya jadi lembab seperti ini.
Niki memegang kedua tanganku sembari tersenyum, mengajakku untuk tersenyum juga, tapi yang benar saja, kan? Disuruh tersenyum di suasana seperti ini sangatlah aneh. Aku tau aku aneh, namun hal seperti ini lain lagi ceritanya. Yang bikin tidak enaknya lagi tangannya tambah pucat dan dingin begitu.
“Apa kamu sakit, wajahmu pucat begitu loh?” tanyaku cemas. Entah kenapa aku dari awal di ajak beginian sudah merasa tidak tenang.
“Sudahlah, hal seperti ini apa gunanya? aku juga kadang-kadang tersenyum jika aku mau, lebih baik pulang saja. Aku ingin pulang mengurusi kucingku,” ujarku beralasan.
Kata-kataku tadi membuat genggamannya sangat kuat sampai membuat dadakku bedebar kencang dan pupil mataku semakin mengecil. Kakiku sampai dibuat gemetar olehnya.
“Tidak boleh, tetaplah di sini bersamaku, mari kita berjamu sebentar yak~” ajaknya lagi.
“Berjamu... Di tempat seperti ini?” tanyaku keheranan.
“Aku sudah menyiapkannya loh, dengan begini kita bisa melakukan canda tawakan?”
‘Dia itu sedang kenapa sih?’
Aku mencoba untuk melarikan diri dari tempat ini, tetapi auraku seperti tersangkut disini dan tidak bisa kemana mana, seolah-olah aku sudah terhubung olehnya.
Tidak ini bukanlah terhubung tetapi terkurung di permainanya.
“Hei kamu bukan Niki, kan?” tanyaku dengan keberanian penuh.
__ADS_1
Senyuman dari gadis berambut merah itu mencuat menjadi kesuraman, matanya menjadi sanyu dan tak bercahaya. Kosong, padangannya sangat kosong seperti hatinya tak terisi apapun. Hal itu tidaklah asing bagiku. Oh tidak aku baru saja mengingatnya...
“Sudah ketahuan yak?” ujarnya lesuh.
“Kamu itu adalah diriku yak?” ucapku yang terkejut.
Sesosok gadis itu merubah wujudnya, rambut yang kemerahan menjadi berwarna jingga, matanya yang berwarna keemasan berubah menjadi permata safir. Wajah putihnya persis menyerupai diriku. Sayangnya senyumannya kembali lagi seperti orang gila.
“Ayo duduk sebentar dan mari kita bicarakan baik baik tentang ini.” ajaknya ramah.
Aku pun duduk di kursi yang telah disediakan dan di hadapanku adalah meja yang dipenuhi macaron yang cantik, meja dan kursi sudah seperti di restoran cuman tempat seperti ini kurang cocok saja untuk berjamu.
“Silahkan dimakan.”
“Iya terima kasih. Jadi kamu ingin bicarakan apa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku adalah kamu dan kamu adalah aku,” ucapnya sambil menuangkan teh kedalam cangkir yang terlihat antik.
“Apa apaan itu? Bahkan dari ekspresimu tentu bukanlah aku, meskipun kita mirip tetap saja kamu itu berbeda dariku,” bantahku tak terima.
“Haha kau itu tidak tau yak. Mereka lebih suka Lucy yang beginikan? Tidak suram dan tidak membosankan,” ujarnya serius.
“Aku sejujurnya ingin menolongmu untuk mengurangi penderitaanmu saja, aku yang akan menggantikan posisimu, kau tetaplah bersantai seolah-olah tidak akan ada seorangpun yang mengganggumu untuk sendirian lagi.”
‘apa ini? dia mencoba membuka diriku yang dulu?’ ucapku dalam hati.
“Dengan begitu kau tidak perluh merasa sakit lagikan? Kebahagiaan orang lain adalah mimpi burukmu, kau selalu mengganggapnya begitu. Tetapi disini kau tidak perluh merasakan keirian itu lagi. Aku yang akan mengisi kekosonganmu nanti.”
“Kenapa kau tau akan hal itu?” tanyaku.
“Tentu saja karena aku adalah kamu,” serunya dengan wajah yang berseri-seri.
Entah kenapa auraku berbanding terbalik dengannya, dia nampak seperti gadis normal yang ceria, tidak seperti diriku yang selalu suram membuat orang lain akan bosan melihatku. Mungkin Niki dan lainnya akan senang melihatku menjadi ceria dan bahagia, mereka tidak akan lagi merasa cemas padaku tiap kali aku cemberut, karena aku ini sangat merepotkan. Tidak harusnya aku ada disini.
“Bagaimana?” tanyanya lagi.
“Entahlah aku tidak tau, tetapi bila kau bahagia dengan temanku Niki, aku akan lebih iri lagi. Kau tau itu, kan?” ucapku menatap tajam dirinya.
__ADS_1
“Kau tidak berpikir dia sangat mengganggumu, lebih baik kau menjauh dan beristirahatlah. Bagimu dia sangat merepotkan, bukan?” ujarnya dengan wajah yang tak bersalah.
“Aku tau dia suka mengganggu tetapi tanpa dia aku tidak akan mengenal kebahagiaanku sendiri,” balasku.
“Kau itu keras kepala sekali yak Lucy,” geramnya.
“Kau juga keras kepala sekali membujukku untuk tetap tinggal disini,” ujarku dingin.
“Ayolah disini adalah tempat yang pas untuk dirimu, sunyi dan suram. Aku lebih mengenal dirimu dari siapapun,” ucapnya.
“Kau bilang kau lebih mengenalku, aku bahkan menganggap tempat ini sangat aneh,” ucapku jujur.
“Tempat ini sejujurnya adalah tempat yang special bagimu, ingatlah kembali tempat ini, dulu disini adalah tempat favoritmu menjamu makanan manis.”
“Apa...? aku bahkan tidak ing... Huggh!” sontak kepalaku mulai sakit, apa ini bertanda aku akan mengingat kejadian yang dulu?
“Serta pelayan yang begitu setia padamu dan menjagamu dari kecil.”
“Tunggu kenapa ini?”
“Efek macaron ini membuatmu akan menjadi nostalgia, jadi makanlah.” dia memaksaku untuk memakan macaronnya.
“Cepat telan.”
Dan aku menelannya, macaron itu sungguh membuat pandanganku berkunang-kunang, penglihatanku menjadi gelap tetapi terlihat gambaran samar- samar lainnya. Pemuda dengan seragam rapih dan seorang gadis kecil berambut bob jingga sedang memakan macaron dengan lahap sembari melihat pemadangan indah di danau.
“Macaron ini sangat manis dan tempatnya begitu sangat cantik, aku menyukai tempat ini,” ujar gadis kecil itu dengan senang.
“Syukurlah kalau nona menyukainya,” ucap sang pelayan dengan sopan. “Aku akan sering ke tempat ini untuk menghabiskan waktu dengan pelayanku. Ayo kita berjamu bersama,” ajak gadis kecil itu. “Baiklah jika itu permintaan nona.”
Mereka berdua nampak begitu sangat bahagia dan damai seolah mereka tidak pantas untuk diganggu gugat karena saking serunya.
Kenapa aku begitu ikut tenang dan nyaman padahal mereka-lah yang sedang menikmatinya. Rasanya aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Aku ingin terus disini dan merasakan perasaan ini terus menerus.
‘Hei diriku yang lain, aku serahkan Niki dan lainnya padamu.’
....
__ADS_1
“Jangan mau diperdaya oleh orang lain, kamu harus lebih kuat mental dan iman dan kamu harus lebih pintar dalam bergaul.”