MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Apel


__ADS_3

Niki menundukkan wajahnya sambil berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang, tetapi tak berselang lama ia pergi ke luar dan membuka pintu. Noel yang berada di depan pintu kaget dan menoleh ke arah Niki, jarak mereka dekat dan saling menatap kejut.


"NOEL!"


"A-apa?"


Niki menjulurkan tangan kanannya pada Noel, sambil mengucapkan. "Tolong maafkan aku, maafkan aku yang telah membencimu, maafkan aku yang tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu, tolong maafkan apapun yang telah menyinggungmu, apakah kau memaafkanku?"


Noel tak menatap Niki dan malah memutarkan bola matanya dengan malas dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang.


"Aku tau kau berbohong soal kau tidak bisa istirahat karena ada urusan dengan guru, sebenarnya kau menjauh dariku, kan?" ucap Noel.


"Maaf..."


"Aku tau dan Lucy juga tau kebohonganmu itu, jelas saja kau sedang mengintip dari kejauhan di pintu masuk kantin." Jelas Noel. Iya aku juga tau karena Niki tidak pandai berbohong.


"Aku sudah meminta maaf, jadi apa jawabanmu?" tanya Niki sambil melumatkan bibirnya.


"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak mengabulkan satu permintaanku," ujar Noel yang sekarang melipat kedua tangannya.


Niki menatap Noel bermaksud ingin tau apa permintaannya. "Berikan Lucy kepadaku dan kau jangan pernah mendekatinya lagi."


"Apa!"


Kami semua terkejut mendengar permintaan Noel, kenapa harus aku? Dan sekarang Niki kebingungan apa yang harus dilakukannya, tidak dimaafkan atau memberikanku pada Noel.


"Seandainya kau tau, hidupku dikurung di mansion selama 10 tahun sangatlah berat, aku yang harus menempuh pendidikan dan mengembangkan bakatku hingga sukses dan menapung beberapa resikonya, salah satu resiko dibalik kesuksesanku adalah kesepian, aku tak punya teman baik di sana, disaat diriku bosan, aku melihat lucy sedang mengunjungi rumahmu, dia orang yang ramah dan sopan, aku ingin bermain dengannya, namun kau menariknya menjauh dariku, sekarang kau paham kan? Kenapa aku menginginkan Lucy?" jelas Noel.


Niki mengepalkan tangannya kuat, menggigit bawah bibirnya dan mengerutkan alisnya, ia tidak rela temannya diambil oleh Noel.


"Jadi bagaimana?" tanya Noel kembali.


"Tidak! Aku tidak akan memberikan Lucy padamu, dia adalah kenangan berharga bagiku, ia telah mengubah hidupku menjadi seperti ini, jika kau ingin berteman dengan Lucy bertemanlah dengan semua orang yang ada disekitarmu juga," itulah jawaban Niki, yang mengartikan bahwa ia tak akan menuruti jawaban Noel.


"Itu artinya kau tidak ingin dimaafkan. Baiklah tidak apa-apa, mulai sekarang kita tidak usah berteman lagi!"


"Tapi--"


"Sudahlah, besok aku akan pindah dari Sekolah Royalty dan kembali kesana," ujar Noel yang beranjak pergi.


"Jangan Begitu... Kau tidak harus pergi ke sana.... Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu, " ucap Niki dengan perasaan sedih sambil menarik lengan


baju Noel.


Noel menatap kosong pada Niki, tak seharusnya ia berada disini, ia bisa menghancurkan rasa kebahagiaan Niki dalam sekejap, tetapi ini berbeda dari dugaan Noel bahwa Niki ingin dimaafkan dan mengaku ingin kembali kemasa masa kecilnya yang akrab.

__ADS_1


"Kumohon kembali lah " ujar Niki dengan suara yang semakin menciut.


Noel mendekati Niki dan menutup jarak di antara keduanya, ia menatap serius pada niki yang telah menunduk sedih.


"Haa~kau ini," keluh Noel, ia pun menarik pipi Niki dengan kuat sambil mengatakan.


"TADI ITU CUMAN BERCANDA KOK, HAHAHA!"tawa Noel yang


melihat Niki tertipu.


Kami semua terbawa suasana sampai tercengang. Niki yang telah ditipu hanya malu dengan wajah memerah.


"Kau itu lucu yak, kalau sedang malu," senang Noel sambil menggoda Niki.


"DIAM KAU BODOH!!" Niki memukul Noel berkali kali karena malu, tetapi Noel menahan pukulannya sambil terkekeh.


"Kau ini bikin panik semua orang yak," ucap Felix sambil memegang jidatnya karena pusing dengan tingkah temantemannya.


"Haha maaf Felix," ucap Noel.


Hari semakin gelap, bulan mulai menjungjung tinggi, mereka ingin pamit pulang.


"Aku ingin bicara berdua dengan Lucy, bolehkan?" tanya Felix pada teman temannya.


"Iya boleh, asalkan jangan macam macam dengannya saja. Iyakan Niki?" ucap Noel dengan nada menggoda.


"Kau bilang ingin kembali ke masa-masa yang dulu," jawab Noel.


"Boleh kok ivan asalkan tak punya niat jahat dan berpaling dariku sih," jawab Sarah sambil memainkan rambutnya.


"Kau ini... " Niki menatap tajam pada Sarah, mereka ingat kalau sedang bersaing mendapatkan ketua.


"Kenapa? Masalah? Ayo diluar!" ujar Sarah.


"Oke ayo!"


Mereka akhirnya pergi keluar dengan rusuh.


"Terima kasih," ucap Felix.


"Jadi Ketua ingin membicarakan apa denganku?" tanyaku penasaran.


Felix duduk di kursi samping ranjangku, tatapannya menjadi sendu, wajahnya menjadi sedih. Kedua tangannya mengepal menjadi satu.


Ia ingin mengatakan sesuatu dengan nada yang begitu sangat ia sesali. Tetapi berat untuk mengatakannya, apakah ia melakukan kesalahan? Aku tidak merasakan kesalahan apapun yang ia lakukan padaku.

__ADS_1


"Aku minta maaf, aku tidak bisa melindungimu sebagai ketua kelas, seharusnya aku tidak lengah saat menghadapi Lina, teman temanku adalah hal yang berharga bagiku, aku tidak bisa menahan emosiku ketika salah satu temanku diperlakukan tidak pantas begini."


'jadi dia merasa bersalah karena ini,' batinku.


"Tidak apa, menjadi ketua kelas memang memiliki tanggung jawab yang besar, aku yakin kau memiliki banyak kesulitan untuk menghadapinya, tetapi kau selalu menyembunyikan kesulitan itu dengan senyuman tulusmu," ucapku dengan nada halus.


Felix mengambil satu apel dan memotongnya untukku. Ia tersenyum ketika sedang memotong buah apel menjadi beberapa bagian. Senyumannya melembut setelah mendengar jawabanku.


Lalu ia berkata. "Aku selalu salah menilaimu, penilaian manusia memang selalu salah, mereka dapat berubah sewaktu-waktu dan terkadang tak bisa ditebak kepribadiannya, sifat adalah sesuatu yang misterius bagiku. Terkadang aku selalu penasaran apa yang mereka rasakan setiap kali memasang wajah tanpa ekspresi."


Aku mengedipkan mata berkali kali, aku bingung kenapa Felix mengatakan itu kepadaku. Apakah ia ingin lebih mengenal manusia yang tidak memiliki ekspresi?


"Aku ingin lebih mengenalimu sebagai teman sebangkumu," ujar Felix sambil menyuapiku apel yang manis.


Aku pun pasrah hanya mengunyah apelnya, padahal aku sangat malu ketika ia menyuapiku.


"Haha... Terima kasih yak, ini sudah malam, mereka pasti menungguku, aku pamit dulu yak, ketika ada waktu senggang aku akan menengokmu lagi."


"Iya hati hati," aku melambaikan tangan saat ia berada diambang pintu.


"Sampai jumpa, jaga kesehatanmu," balasnya sambil melambai-lambai.


"Bye bye," ucapku ketika ia pergi.


Suasana seketika menjadi sepi. Hanya beberapa perawat yang sedang mondar mandir karena pekerjaan. Bosan dan kesepian telah melanda. keheningan yang sama sebelum aku bertemu dengan Niki.


Tiba-tiba saja perawat datang merapihkan tempat tidur yang kosong di sebelahku. Walau terhalang oleh tirai tetapi aku masih bisa melihat bayang bayangannya.


"Cepat bawa dia kemari."


Seorang laki-laki muda dengan rambut warna putih tertidur diatas kasur yang diseret masuk ke ruangan ini, perawat langsung menidurkan orang itu di ranjang sebelahku.


Dokter datang dan memeriksanya sekali lagi. Dia bilang bahwa keadaan nya telah stabil sekarang. Semua orang lega mendengarnya. Aku hanya mendengar apa yang dikatakan bayang bayang itu, dengan wajahpolos.


Ketika semua mereda, mereka meninggalkan lelaki muda itu tidur disana.


Tunggu dia satu ruangan denganku? Bohongkan!! Perawat tadi juga bilang kepadaku jika ada masalah dengan pasien sebelah tolong panggil bantuan dengan menekan tombol remote yang mereka berikan kepadaku.


Kenapa? Dia cowokkan? Memangnya boleh satu ruangan dengan cewek!? Gila!


Kemudian cowok rambut putih itu tersadar, lalu ia menyekat tirainya dan menatapku kosong, dia memiliki mata dua warna, biru dan kuning, ia nampak indah dan putih.


Aku bertanya tanya dalam benakku saat melihatnya.


'Apakah dia Albino?'

__ADS_1


.....


"Jangan menyepelekan sebuah janji, karena janjimu itu telah membuat harapan bagi orang yang telah kau janjikan."


__ADS_2