MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Sejarah


__ADS_3

Kunjungan selanjutnya adalah tempat yang penuh banyak misteri. Satu hal yang kutahu adalah tempat itu hampir mendekati kebenaran. Apakah kebenaran itu ada kaitannya denganku?


‘Wonder theater yak... Haruskah aku mencari tau sekarang?’


Aku membuka handphoneku untuk mencari lebih lanjut tentang teater tersebut. Teater yang muncul dalam gambar internet terlihat seperti panggung mewah dan megah walaupun umurnya sudah sangat tua. Panggung tua itu tetap memberikan kesan yang alegan agar terlihat layak dipandang. Nampaknya teater tersebut sering dikunjungi oleh orang-orang elite dan orang yang sangat berkepentingan.


‘Apa hal tersebut ada kaitannya denganku?’


Aku semakin mengeratkan tanganku pada boneka yang kupeluk, entah kenapa perasaan sakit ini tiba-tiba datang begitu saja.


Rasanya hatiku sangat bergejolak, aku semakin penasaran, tapi bagaimana kalau itu adalah kebenaran yang tidak bisa kuterima? Bagaimana kalau kebenaran itu mengubah kehidupanku? Seberapa pentingnya aku harus mengetahui tentang kebenaran ini?


Aku terus bertanya-tanya, tanganku gemetar dan keringat dingin bercucuran sakinggugupnya.


“Wuah Lucy, sepertinya kau benar benar menantikan kunjungan berikutnya sampai gugup begitu,” seru Felix yang membuatku buyar dari pertanyaan- pertanyaan yang mengambang di pikiranku.


“Yaa begitulah, aku memang tidak sabar seperti apa nanti di sana,” jawabku diselingi senyuman.


“Apa kau menyukai sejarah Lucy?” tanya Noel karena dia tidak mau diam sendirian ketika temannya asik mengobrol.


“Iya, aku agak suka dengan sejarah,” jawabku, walau sejarah bagiku biasa- biasa saja.


“Wuah pasti kau suka kunjungan kali ini, sepertinya kau akan tertarik dengan masa lalu yang dimiliki tempat itu karena banyak pelajaran yang bisa diambil,” ucap Noel.


‘Justru aku agak ragu apakah aku tertarik yang namanya masa lalu?’ tanyaku dalam hati.


Sekitar 1 jam kami sampai pada tujuan, aku turun dari bis dan langsung melihat pemandangan yang tidak biasa. Cantik itu yang terlintas di pikiranku untuk pertama kalinya, berbeda dengan gambar yang kulihat dari internet. Ini diluar dariekspetasiku.


Boneka yang kutinggalkan di bis, tanpa disadari selama ini Peter bersemaya didalam boneka tersebut agar ia mudah sampai di tempat tujuan tanpa terlihat oleh manusia. Setelah murid kelas 12-A keluar. Peter perlahan mengeluarkan diri dari dalam boneka dan membenarkan jas serta topinya.


***


Aku celingak-celinguk mencari Niki dan Sarah, apakah mereka sudah turun?


‘Hah! Akhirnya ketemu.’


Disaat aku ingin menghampiri mereka berdua tiba-tiba saja aku berhenti di tengah jalan. Aku melihat wajah Niki yang runyam, sulit menggambarkannya. Wajahnya benar benar kusut.


“Niki ada apa denganmu?” tanya Sarah yang khawatir.


“Haa...Hahaha aku sepertinya agak mabuk karena tidak biasa naik bis,” jawabnya dengan senyum cecengesan.


Aku berbalik badan dan mengurung niat bertemu dengan mereka, lagipula kunjungan kali ini harus secara berkelompok dan bersatu dengan kelas masing- masing.


Tepat di pintu masuk, perasaanku menjadi takut untuk melangkah lagi.


Kenapa?


‘Lagi-lagi aku ragu untuk melangkah masuk ke sana, seperti aku tidak mau tau... Tetapi aku harus tau atau rasa penasaran ini tidak akan hilang,’ batinku. Aku diam membeku sedangkan yang lain mereka sudah masuk meninggalkanku.


Tiba-tiba saja ada yang seperti mendorongku dengan pelan, membuatku bisa melangkah maju lagi. Aku menoleh ke belakang.


“Wuuaah. Tuan mengejutkanku saja,” ucapku yang sontak berjalan mundur beberapa langkah.


Masalahnya orang yang di hadapanku ini tidak biasa, ia memakai topi dan jas hitam yang formal dan memakai sarung tangan putih serta membawa payung hitam, pakaian yang ia pakai memang biasa tetapi yang membuatku terkejut adalah kepalanya yang berubah menjadi beruang putih yang imut.


‘Apa dia salah satu maskot di sini?’ tanyaku dalam hati.


“LuuCy Ini Aaku... Peter.”


“Peter! Kenapa kau...” Kejutku tiba-tiba saja ia berbicara. Peter memberikanku secarik kertas yang bertuliskan.


‘Bergegaslah Nona, kau akan tertinggal dengan rombonganmu.’


Aku langsung berlari menyusul rombonganku yang sudah ingin pergi ke ruang selanjutnya. Disaat aku berlari aku menengok kebelakang, maskot itu sudah menghilang dari tempatnya.


“Di mana Lucy?” tanya Felix yang sadar kehilangan satu anggotanya.


“Perasaan dia ada di belakang kita tadi,” balas Noel yang lihat sana-sini.


“Hoss.. Hoss... Hoss,” derah nafasku membuat mereka menatap kejut padaku.


“Lucy, darimana saja kau?” tanya Felix khawatir.


“Tadi... Tali sepatuku lepas, jadi aku kehilangan kalian. Apa aku kelewatan sesuatu?” ucapku berbohong.


“Belum, kami sedang menunggu pemandunya di sini,” jawab Noel.


“Oh syukurlah aku tidak melewatkan apapun,” ujarku.


“Selamat datang di Wonder Theater anak anak!”


“!!!??"


Sosok yang menyambut kami kini hadir dengan penampilan yang tidak biasa.


Dengan tingkahnya yang aktif membuatku menjadi sangat-sangat lebih terkejut.


Jas dan topi hitam serta membawa payung hitam yang ia jadikan seperti tongkat, yang paling uniknya adalah ia berkepala beruang yang kulihat di pintu masuk.


‘PETER!!! SEDANG APA DIA DISANA?’


“Wuah lihat ada maskot lucu di sini.”


“Wuah imut dan juga keren.”

__ADS_1


‘Mereka memuji orang itu,’ batiku yang tidak disangka-sangka.


“Mulai sekarang saya adalah pemandu dalam acara ini, jadi mohon kerja samanya yak,” ucap Tuan Beruang sambil mengangkat topinya.


“Baik!”


‘Pemandu!?’


Aku tidak menyangka makhluk hitam itu menjadi pemandu kami. Terlebih lagi suaranya berubah menjadi pria yang normal pada umumnya, itu yang membuatku lega. Aku tidak tau apa yang terjadi bila mereka mendengar suara aslinya yang berat dan mengerikan itu. Jelas suara itu seperti bisikan teror bagiku. Aku merinding membayangkannya lagi.


Tapi pada kenyataannya dia adalah makhluk yang baik. Semuanya akan baik-baik saja selama dia tidak melukai siapapun. “Sebelah sini anak-anak.”


Satu persatu kami memasuki tempat yang memiliki misteri terbesar dari yang kami nantikan. Teater. panggung itu terlihat jelas dimataku sekarang.


Pundakku tiba-tiba saja dipegang oleh Beruang bertopi, sontak membuatku menoleh heran padanya. Seakan ia memberikan kode untuk siap mendengarkan kebenarannya.


“Di sinilah tempat yang penuh tragedi berdarah sepuluh tahun yang lalu. Jiwa-jiwa yang sudah berguguran disini tidak akan pernah kami lupakan. Dimana satu hal dari sejarah yang kita kenal. Wonder Theater-lah yang menjadi peninggalan besar yang bersejarah di negeri kita.”


“Wow...”


“Aku akan menceritakan ulang sejarah ini agar bagi yang belum tau bisa mengetahui seperti apa tragedi yang menimpa tempat ini,” ucap pemandu acara yang mulai bercerita.


Flashback on


Di mulai dari teater yang terus menghadirkan penampilan baru setiap tahunnya, teater ini dikhususkan untuk para bangsawan, kalangan atas serta orang- orang penting di negara ini.


Teater ini menghadirkan sebuah drama terbaru yang akan tayang perdana pada tanggal 27 juni 19XX. masyarakat kalangan atas begitu tertarik mendengarnya, akan tetapi mereka tidak tau apa yang akan menimpa mereka ke depannya.


Acara tersebut diselenggarakan tepat pada pukul 8 malam, tidak ada seorang- pun tau bahwa dibalik acara tersebut ada rencana gelap didalamnya.


“Wuahh tempat ini sangat luar biasa.”


“Nak... Jangan berisik yak saat acaranya dimulai,” ucap lembut Sang Ibu.


“Baik,” jawab anak tersebut dengan ceria.


“Jika kamu dapat pelajaran dari drama ini. Ayah akan memberikanmu apa saja yang kamu mau,” ucap Ayah.


“Sungguh?” kejut anak tersebut karena ia hampir tidak mendengar ayahnya menghadiahkannya berlebihan seperti begitu.


“Iya. Ayah bersungguh-sungguh.”


“Wuah asyik.”


Gadis cantik itu bernama....


“Lihat... Anak berambut jingga itu, bukankah dia sangat cantik? pasti dari kalangan bangsawan,” bisik seorang wanita dengan gayanya yang ngentrik.


“Iya, keluarganya sepertinya terlihat sangat bahagia, bikin iri saja,” sahut Wanita sebelahnya yang juga ikut berbisik.


“Benarkah? Itu terdengar sangat hebat.”


“Tapi apa kau tau ayahnya kalau tidak salah, pernah masuk penjara karena dia pernah melakukan penjualan gelap di perusahaannya.”


“Itu sangat mengerikan.”


“Ibunya juga hampir berselingkuh dengan pria lain saat suaminya di penjara, mungkin karena dia malu punya suami seperti itu haha.”


“Percuma punya anak sehebat itu tapi orang tuanya tidak punya nama baik, seperti pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin anaknya akan seperti itu suatu saat. Hahaha.”


Bisikan-bisikan tersebut membuat keluarga yang terlihat bahagia itu menjadi tertekan. Pujian dibalik kritikan yang dipenuhi fitnah, memenuhi teater tersebut.


‘Itu bohong Ayah dan Ibu tidak pernah melakukan hal seperti itu,’ batin si gadis kecil.


Sedangkan kedua orang tuanya sudah berwajah suram, gelap dan terlihat memaksakan senyuman. Mereka sudah mendengar itu berkali-kali, bahkan fitnah yang keji itu belum dapat dihapuskan, karena kesalahpahaman yang sudah semakin parah.


Padahal Ayahnya terjebak dan ditipu oleh perusahaan gelap dan harus di penjara selama 3 tahun dan ibu si gadis itu hanya melakukan kerja sama dengan orang lain untuk mencari penghasilan tambahan bukan untuk berselingkuh. Semua itu hanya salah paham, mereka hanya melihat luarnya bukan isinya. Sekarang mereka hanya meluruskan gosip-gosip tentang keluarganya agar nama mereka tidak tercoreng lagi.


Terutama pada anak mereka yang masih kecil. Anak satu-satunya yang harus mereka lindungi saat ini.


***


“Semuanya sudah siap dalam posisi?”


“Siap.”


Acarapun dimulai, tirai merah terbuka menampilkan seseorang ditengah- tengah dengan senyum lebarnya.


“SELAMAT DATANG PARA HADIRIN SEKALIAN... Selamat malam untuk semuanya, sebelum acara dimulai saya sangat berterima kasih bagi yang sudah hadir untuk menikmati acara ini, saya mengerti anda sekalian sudah tidak sabar menunggu acara ini. Baik, tak usah berlama-lama lagi mari kita mulai acaranya!!”


Semua penonton bertepuk tangan berharap acara yang mereka tonton tidak mengecewakan.


Pembawa acara tersebut menjetikkan tangannya dan seluruh lampu mati total, tak berselang lama kemudian sorot cahaya bergerak tak menentu kepada penonton, membuat para tamu menjadi bingung.


Dan pada waktu tertentu lampu sorot itu berhenti pada sesosok pria dengan jas rapih serta sosoknya yang sangat penting ia adalah Wali Kota.


“Selamat!! anda telah terpilih menjadi TARGET kami! Silahkan terima hadiah ini!!”


“Hadiah? Hadiah apa itu?”


‘DORR!’


Tiba-tiba darah muncul dibalik jas putih yang dikenakan Sang Wali Kota tersebut. Peluru yang runcing telah mengenai dadanya dan tumbuhlah mawar merah.


Keadaan menjadi sunyi seketika, seluruh orang yang ada didalam teater tersebut membeku dan syok apa yang mereka dengar dan lihat.

__ADS_1


“Lihatlah Para Permisa! Tokoh yang terpilih terlihat sangat bahagia setelah menerima hadiahnya, ada yang mau mencobanya?” seru Sang Pembawa Acara yang sudah menjadi sesosok badut psikopat.


Semuanya langsung berlarian dan panik, sorot lampu kembali menyorot secara acak dan menembak setiap orang yang terkena cahaya sorot tersebut.


Rasa takut, panik dan tegang menghantui seluruh teater. Teriakan histeris terdengar sampai luar, para polisi langsung mengevakuasi tempat tersebut.


“Cepat lewat sini, apa ada lagi yang masih terjebak di dalam? Halo? Lapor regu 2A, adakah orang yang masih belum keluar?”


***


Orang yang di seberang sana tidak menjawab dikarenakan ia sudah mati. Bercucuran darah di lantai membuat para tamu semakin panik tidak terkendali, tak lama kemudian senapan disodongkan pada para tamu tidak terkecuali keluarga gadis kecil berambut jingga.


Penjahat tersebut menyuruh mereka untuk tetap diam.


“DIAM!”


Secara mengejutkan entah asalnya darimana ada bocah berambut hitam membawa senjata api, tidak ada yang tau ia dapatkan darimana akan tetapi....


‘DOR DOR’


Dengan gemetar, ia langsung melepaskan tembakan ke arah Penjahat tersebut, alhasil ia tewas seketika, bukannya bocah itu terlihat senang justru ia terkejut dengan perbuatan yang tercela itu, tembakan pertama berhasil mengenai penjahatnya, lalu bagaimana dengan tembakan keduanya?


“AYAHH!!”


Jeritan dari gadis berambut jingga yang ia kenal terdengar jelas di telinga bocah itu. Air mata yang berlinang itu jatuh di atas mayat yang ia sanyangi. Dalam lubuk hatinya ia menyesali perbuatannya itu, ia berlari menangis.


Tembakan kedua tepat mengenai kepala ayah dari gadis berambut jingga. Sosok yang penting dalam keluarganya sudah tiada, ibu dan anaknya harus rela kehilangan kepala keluarga dan mereka hidup dalam kesedihan yang mendalam.


Sejak saat itu teater tersebut dinamakan malam mawar berdarah.


Flashback off


“Jika aku diposisi itu aku tidak tau harus apa,” ucap Felix yang merasa iba dengan korban-korban yang berjatuhan.


“Agak sedih bila kita mengingat masa lalu yang menyakitkan seperti itu,” ucap Noel.


Semuanya berbincang-bincang tentang sejarah yang kelam tersebut. Sedangkan aku teringat lagi kepingan-kepingan pahit itu.


Selama aku mendengar cerita itu kepalaku menjadi pusing, bahkan telingaku terasa sakit mendengarnya, sepertinya aku benar benar tidak menyukai masa lalu.


“Lucy bagaimana menu--rut--mu? Lucy?” tanya Noel dengan wajah yang berubah menjadi agak cemas.


Sebelum ia menyadarinya, aku membalasnya dengan senyum yang dibuat-buat.



“Terdengar menarik seperti cerita fiksi saja yak.”


“Sejarah itu memang nyata bukan fiksi,” ucap Noel. Menyebalkan.


‘KReek.’ (suara retak)


“Iya, tidak semua sejarah berakhir dengan bahagia yak,” ujarku dengan senyum yang semakin lebar di pipiku membuat Noel dan Felix menjadi agak takut.


“Oh- i-iya pemandu-- bukankah kita harus ke ruang berikutnya,” ucap Felix terbata-bata.


“Masih ada 1 menit lagi, baiklah anak-anak apakah ada pertanyaan tentang sejarah Wonder Theater?”


Ada satu anak mengacungkan tangannya dan bertanya, “Apa ada motif tersembunyi dari para penjahat itu?”


“Memenuhi hawa nafsu mereka tentunya, mereka haus akan hiburan jadi mereka mencoba melakukan hal gila dengan menyewa teater untuk membunuh para tamu yang tertarik untuk menonton acara mereka. Ada lagi?” jawab pemandu tersebut.


Lalu ada satu murid laki-laki, ia tidak terima dengan jawaban yang menurut dia tidak masuk akal.


“Tidak mungkin, kenapa dia menembak Wali Kota dulu daripada yang lain, pasti mereka orang-orang yang dipekerjakan untuk melakukan pembunuhan terhadap Wali Kota.”


“Begini nak, saat kau ingin bermain tembakan-tembakan, terdapat hadiah yang terjajar rapih di rak, ada sebuah hadiah yang mewah dan mahal tetapi barangnya biasa saja bagimu dan ada satu hadiah yang terlihat langka berkualitas tinggi jika kau mendapatkannya kau bisa menjadi terkenal, kira-kira kau pilih hadiah yang mana?”


“Tentu saja yang hadiah kedua, apalagi yang menarik daripada itu,” jawab anak itu dengan percaya diri.


“Benar, kau sudah layak menjadi seperti penjahat-penjahat itu nak.”


“A-Apa... Apa yang kau bicarakan Tuan..”


“Hadiah pertama ibaratkan hanya tamu kaya raya tetapi tidak akan berdampak terlalu besar, tamu-tamu seperti itu jika dibunuh lebih dulu tidak akan terlalu terkenal sampai kota-kota lainnya bahkan kematian mereka bisa ditutupi oleh pemerintahan demi nama mereka tidak tercemar, demi mencegah itu para penjahat lebih memilih pemerintah seperti hadiah kedua, tamu yang memiliki kedudukan penting dan terkenal di mata warga, jika kau membunuhnya semuanya akan heboh dan namamu akan diingat sebagian besar dari negara ini, itu sebabnya para penjahat tidak hanya ingin menjadi pembunuh biasa saja tetapi pembunuh terkenal di sepanjang masanya. Tolong jangan ditiru yak anak-anak,” ucap Pemandu berkepala beruang.


“Noel, kira-kira kau sudah dapat pelajaran dari sejarah ini?” tanya Felix.


“Sudah kok.”


‘Tidak ada, tidak ada nilai di dalamnya, tidak ada sama sekali, yang ada hanyalah duka dan kesedihan serta rasa pahit yang melebihi apapun.’


Aku mengepal tanganku dengan keras. Menggigit bagian bawah bibirku.


Entah kenapa aku menjadi kesal saat ini.


Peter yang masih menggenggam pundakku, menatapku diam dan hanya memiringkan kepalanya saja. Kemudian jam tangannya berbunyi.


“Baik anak-anak waktunya habis, mari kita istirahat di ruang berikutnya.”


“Baik!”


“Dan acara pun selesai.”


....

__ADS_1


“Jangan berkecil hati karena tidak semuanya akan berakhir dengan bahagia.”


__ADS_2