
Manik mataku bercahaya, warna yang sama memantul ke dalam warna pupil mataku, di balik jendela yang memberikan pemandangan panorama alam yang indah.
"Cantik banget, warnanya juga sangat memanjakan mata, iya, kan?" seru Felix.
"Iya itu benar."
Air laut yang bersinar karena pantulan langit biru, serta burung camar berkicau sembari terbang bermigrasi ke suatu tempat.
Kami yang berada di bis menikmati pemandangan tersebut. Sayangnya, kami tidak bermain ke pelabuhan ataupun pantai untuk melihatnya lebih dekat lagi. Pagi yang cerah ini adalah hari wisata yang terakhir, kami harus kembali ke kota siluet. Kota siluet adalah kota tempat tinggal kami, kota yang penduduknya tidak terlalu ramai hanya saja penduduk di sana memang terlalu serius dan tidak main- main dalam menggampai sesuatu. Jika impiannya gagal dan ia putus asa, penduduk kota siluet akan mengurung dirinya di kamar kurang lebih 6 bulan bahkan bisa lebih seperti 1 tahun, memang tidak masuk akal tapi begitulah rasa sakit yang mendalam setelah usaha yang ia upayakan gagal sia-sia.
Bahkan bisa berujung bunuh diri. Dan dibalik keindahan fashionya yang unik dan elegan, kota siluet memiliki sesuatu yang gelap di dalamnya, kota yang memiliki kasus bunuh diri serta pembunuhan yang tertinggi di negara ini dikarena kebencian dan bullying di lingkungannya. Karena itu, aku harus waspada pada orang-orang yang ada di sekililingku dan tidak membuat kejadian yang sama terulang lagi.
Kota siluet itu ketat.
Setelah kami sampai di statiun kereta, kami menunggu kereta datang, aku memainkan ponselku sembari menunggu, tak lama kemudian aku merasakan sesuatu yang tidak enak, seperti ada yang mengawasi.
Dalam diam, mataku melirik ke sekitar. Tak berselang lama, aku menemukannya, orang yang mengawasiku! Aku telah menemukannya, dia adalah...
PETER!
'Jangan-jangan dia tidak tau caranya naik kereta.'
Peter nampak menyuruhku untuk menghampirinya dengan menganyunkan tangannya. Rasanya agak merepotkan.
"Maaf Bu, aku izin ke toilet sebentar yak," ucapku.
"Baiklah, jangan lama-lama."
Aku langsung bergegas menghampiri Peter yang jaraknya agak berjauhan, ia berusaha untuk menghindari manusia-manusia lainnya.
"Ada apa?" tanyaku.
Peter memberikanku kertas yang bertuliskan,
'Kenapa naik kereta? Bukankah tadi berangkat naik bis?'
"Maaf yak, sepertinya para guru ada urusan mendadak jadi biar lebih cepat kami naik kereta," jawabku.
Sepertinya ia agak sedikit kecewa, apa naik di atas bis semenyenangkan itu?
"Apa kau perluh bantuan?"
Peter menggeleng yang berarti ia tidak perluh pertolongan.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku kembali yak," ucapku yang tak boleh lama lama berpisah dari rombongan wisata.
Peter setuju dan menggangguk, aku pun berjalan cepat berharap keretanya masih belum datang.
Aku menengok kebelakang melihat apakah Peter masih di sana, seperti biasanya ia menghilang dengan cepat.
(Sebenarnya Peter sudah menyatu dalam bayangan Lucy dan berencana masuk ke dalam boneka lagi.)
"Saya kembali Bu," ucapku memberitahu.
"Bagus, sebentar lagi keretanya akan segera tiba."
Beberapa menit kemudian, kereta telah tiba di hadapan kan kami, aku masuk kedalam gerbong dan mencari kursi yang kosong.
Disaat yang tak terduga aku bertemu Sarah dan Niki, mereka melambaikan tangan padaku. Aku segera menghampiri mereka.
"Ayo duduk bersama kami Lucy," ajak Niki.
Aku pun bergabung dengan mereka, tetapi betapa mengejutkannya orang yang akan duduk disampingku adalah Karin, ia adalah mantan ketua OSIS Sekolah Royalty.
Aku membeku beberapa saat hingga ia pun berkata.
"Tunggu apalagi cepat duduk, sebentar lagi kereta akan berangkat," ujar Karin dengan ekspresi judesnya.
"I-iya."
Dengan jantungku yang berdetak lebih kencang aku pun duduk disampingnya sambil menahan keringat dinginku.
"Biasanya kamu dengan Snowy, dimana Snowy?" tanya Sarah.
"Aku tidak bisa bersamanya karena kursinya sudah penuh lagipula ia duduk bersama Fanny jadi aku bisa agak tenang," jawab Karin.
"Oh begitu, syukurlah ia duduk dengan orang yang ia kenal," ucap Sarah.
"Memangnya kenapa kalau dengan orang yang tak dikenal?" tanya Niki.
"Dia itu tak kan bisa diam dan ia akan bergumam hal-hal yang mengerikan, istilahnya ia tidak tahan dengan orang yang tak ia kenal kecuali jika orang itu berusaha untuk berteman dengannya," jawab Karin karena ia sudah berteman lama dengan Snowy.
"Begitu yak," gumam Niki.
Kereta pun berangkat dan mengantarkan kami ke kota siluet.
Dalam perjalanan ini aku hanya memeluk bonekaku sambil menahan kantuk. Karin yang sadar kalau diriku ingin tidur, langsung memegang pundakku.
"Jika kau merasa ngantuk, kita bisa bertukar tempat duduk agar kau bisa bersandar."
"Memangnya kamu tidak apa-apa?" tanyaku merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa."
Akhirnya aku bertukar duduk dekat jendela agar aku bisa bersandar pada dinding gerbong, sedangkan Niki dan Sarah mereka sudah tertidur sambil bersandar satu sama lain.
Jika mereka tertidur seperti itu, terlihat seperti mereka berteman akrab.
Kami akhirnya sampai di statiun kota siluet dan disinilah perjalanan wisata kami berakhir.
Setelah hari yang sangat panjang, aku pulang ke rumah dan langsung membersihkan diri.
Kemudian aku langsung memeluk bantal-bantal kesayanganku. Aku merasa nyaman kalau sudah di atas kasur seperti tak ingin diganggu.
Hanya saja...
Ada yang membuatku cukup terganggu. Kertas itu.
Kertas yang menyuruhku untuk pergi ke kantor polisi. Aku tidak bisa pergi kesana sekarang karena baru pulang dari wisata sekolah, jadi kupikir aku akan pergi besok saja.
'Tidak apa-apa kan?'
'Tak perluh terburu-buru untuk mencari tau.'
'Jadi biarkan aku istirahat sejenak untuk hari ini.'
Perlahan kantung mataku terasa berat, aku tak dapat kuat menahan rasa lelah ini dan akhirnya aku pun tertidur pulas.
'Klek.'
(Suara mematikanlampu.)
"MimPii indAah LuCy."
***
Keesokan harinya... 'Kring! Kring!'
"Jam berapa ini?"
Tanganku menggampai ponsel dan mematikan alarm sebelum aku melihat jam 10.00 pagi yang sudah kesiangan untuk pergi ke kantor polisi.
Mendadak aku terbangun dari kasur dan bersiap-siap mandi untuk pergi ke kantor polisi.
"Ya ampun, aku harus buru-buru."
Aku berusaha memakai sepatuku dan mengunci pintu rumah. Sebelum aku lanjut lari ke kantor polisi.
***
"Akhirnya ha... Ha.. Sampai juga," aku berusaha mengatur nafasku. Sebelum Alex muncul dan mengejutkanku sehingga membuatku gagal mengatur nafas.
"Hahaha maaf mengejutkanmu, ada perluh apa kau kesini?" tanya Alex.
Alex adalah Detektif yang bekerja sama dengan kepolisian, ia sudah banyak memecahkan kasus yang sulit sekalipun.
"Bolehkah aku bertemu dengan Tuan Baron?"
Permintaanku barusan merubah kepribadian Alex 180° derajat menjadi serius.
"Ada perluh apa kau dengannya? Tidak sembarangan orang bisa bertemu dengannya."
Aku menelan ludahku, tetapi dengan keyakinan hati aku menjawab, "ada hal yang ingin aku tanyakan padanya."
"Tanya tentang apa?"
"Tentang keluargaku, jadi saya harap Tuan Alex mengerti untuk mempertemukanku dengan Tuan Baron."
Detektif itu terdiam beberapa saat dan akhirnya ia berkata, "baiklah, ikut
aku."
'Syukurlah.'
"Tetapi dengan syarat kamu harus diperiksa terlebih dahulu dan yang kedua aku harus menyaksikan apa yang kalian bicarakan walau pembicaraan kalian itu merupakan privasi keluarga, jika tidak ada keanehan aku tidak akan menyebarkannya ke publik."
__ADS_1
Aku menyetujui persyaratannya dan mengikuti aturannya.
Aku hanya ingin tau dimana Ibuku berada dan siapa yang membunuh Ayahku di saat itu, aku ingin tau semuanya.
***
"Tuan Baron ada yang ingin bertemu denganmu?"
"Siapa?"
"Nona Lucy Aureista."
Seketika itu juga, cahaya bersinar dari mata sesosok pria yang sudah agak tua.
***
Aku menunggunya di balik pembatas transparan sambil duduk dikursi, dengan Alex yang berada di belakangku.
Lalu pintu pojok kiri terbuka dan memperlihatkan sosok pria pucat yang wajahnya sudah agak keriput.
Aku terkejut dengan fisiknya yang memprihatinkan, ia nampak kurus kering, kulitnya hanya dibalut oleh tulangnya saja.
"Tuan Alex dia... "
"Iya, dialah Tuan Baron."
"Tidak mungkin, kenapa tubuhnya kurus begitu?"
"Maaf, Ia tidak ingin makan dan terus memikirkan perbuatan jahatnya dimasa lalu, kami sudah semaksimal mungkin menyuruhnya untuk makan tetapi ia tidak memakan makanannya dan harus kami paksa agar ia ingin makan."
Hatiku seperti tergores, berbeda sekali yang kutemui di dunia ilusi. Tuan baron duduk dan menatapku lalu tak lama kemudian ia tersenyum.
"Senang melihat Nona lagi sekian lamanya, saya benar-benar bersyukur Nona akhirnya keluar dari mansion."
"Saya minta maaf, karena tidak menjenguk anda sekian lamanya," ucapku dengan nada lirih.
"Tidak masalah, ada yang bisa kubantu Nona? Saya tidak bisa membantu banyak seperti dulu lagi karena saya akan terus dipenjara seumur hidupku. Sejujurnya saya tidak ingin nona melihat saya dalam keadaan seperti ini," ucapnya dengan wajah kecewa.
'Entah kenapa agak kurang nyaman bila pertanyaan ini dilontarkan didepan polisi dan detektif, tapi aku harus mengikuti peraturannya.'
Aku meremas rok-ku, aku agak ragu kalau pertanyaan ini akan memunculkan kecurigaan, aku melirik Alex yang berada di belakangku.
Terlihat aneh ia tidak bergerak sama sekali ataupun bernafas.
'Ada apa ini?'
Aku melihat polisi yang berada di belakang Tuan Baron, mereka tanpa sadar mematung di posisi masing-masing.
Aku melihat jam dinding, ia tak bergerak sama sekali, apa jangan-jangan waktu sudah dihentikan?
Hanya aku dan Tuan Baron yang tidak terkena penghentian waktu ini.
'LAanJuUtKaN sAaJaa.'
'Itu suara Peter!'
"Apa yang bisa kubantu Nona?" tanya Tuan Baron sekali lagi.
"Saya hanya ingin bertanya tentang kejadian di teater itu. Aku ingin tau, sebenarnya siapa orang yang menembak ayahku, aku hanya ingat sesosok anak kecil berambut hitam yang memegang pistol lalu menembak si Penjahat dan Ayahku?"
Tuan Baron nampak sedih mengingat majikannya yang sudah tiada karena kejadian tersebut dengan tegar ia menjawabnya.
"Itu karena ulahku, aku harusnya tidak memberikan senjata api padanya."
"Apa!? Memberikannya pada siapa?" tanyaku sontak membuatku kaget.
"Pada anak kecil itu."
"Ke-kenapa? Tolong jelaskan."
"Ketika keluarga kalian pergi ke teater, saya hanya bisa mengawasi kalian sampai pintu depan dan tak bisa masuk kedalamnya, karena itu saya menunggu di luar teater. Lalu beberapa jam kemudian saya mendengar bahwa ada penjahat yang memegang senapan, karena itu saya bergegas dan berjaga-jaga membawa senjata api apabila dalam bahaya, saya masuk lewat pintu belakang, lalu saya menyelinap kedalam teater tidak sampai berlama-lama aku bertemu seorang anak kecil yang tersesat, ia bilang dia kehilangan orang tuanya, saya berusaha membujuknya untuk pergi keluar tapi ia tidak mau bila tak bersama orang tuanya, hingga kami ketahuan oleh mereka yang membawa senapan dan menembak kami yang sedang melarikan diri."
Flashback on
Tuan Baron dan anak kecil tersebut selamat dari kejaran Para Penjahat.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Tuan Baron sambil memeriksa kondisi anak itu.
"Tidak," jawab anak kecil tersebut.
"Kalau begitu, ayo bergegas menyelamatkan mereka." Anak itu mengangguk dan mengikuti Tuan Baron.
Mereka masuk ketempat panggung teater sambil bersembunyi, betapa terkejut nya mereka melihat orang-orang tergeletak dengan bersimbah darah di lantai.
"Jangan menangis, orang tuamu mungkin masih hidup, ayo kita cari ke tempat lain." bisik Tuan Baron.
Anak itu menurut dan mereka pergi ke tempat pintu darurat.
Saat mereka pergi di lorong pintu darurat, tak sengaja ada yang melihat kami. "Ada yang melarikan diri!"
Orang itu menembak kami, kami berusaha menghindar. Sialnya, anak itu tersandung,
"Awas!"
Tuan Baron langsung melindunginya alhasil peluru mengenai perutnya dan berceceran darah.
"Paman, bertahanlah!"
Tuan baron menutup lukanya menggunakan tangannya sambil menahan sakit.
"Hahaha tamatlah riwayatmu!"
'Dor!'
"Aarrrgghh!!!"
'Bruk.'
Anak tersebut sangat syok dan ketakutan. Melihat orang yang ditembak di hadapannya.
"Ha.. Ha.. Nak."
"Hah!.. Pa-paman.. "
"Ini."
Anak tersebut terkejut diberi pistol oleh Tuan Baron. Tuan Baron nampak melemah dan tak berdaya.
"Pergilah.... Bawa itu bila ada bahaya..."
"Bagaimana dengan Paman? Aku tidak bisa membiarkan Paman berada di sini."
"Tidak apa... Pergilah... Saya harap anda bisa selamat dan saya bisa menyelamatkan Tuan Besar dan Nona Lucy..."
Tuan baron sudah tak sadarkan diri dan meninggalkan anak itu sendirian.
"Nona Lucy..."
Mau tak mau ia harus meninggalkan Tuan Baron atau ia akan bertemu para penjahat itu.
"Aku akan mencari bantuan secepatnya Paman!"
Anak itu berlari tanpa henti, hingga ia mendengar bentakan seseorang.
"DIAM!"
Seketika membuat anak itu bersembunyi sebelum melewati tikungan.
'Itu Lucy! Aku harus menyelamatkannya,' pikir anak itu, anak itu terlihat sudah mengenal Lucy, gadis yang menurutnya adalah gadis yang ceria dan pintar.
'Tapi aku takut.'
Keberaniannya menghilang setelah melihat penjahat yang sedang mengancam para korban. Tapi ia tidak tega melihat mereka ketakutan seperti itu. Anak itu sudah bersiap dengan pistolnya, ia tidak tau apakah pistol ini bisa menyelamatkan mereka.
Ada yang membuatnya memperkuat tekadnya, tuan baron mengharapkan lucy bisa selamat.
'Karena itu... Aku akan menyelamatkannya.'
Anak itu keluar dan langsung menembak penjahat itu tapi penjahat itu masih bertahan membuat anak itu menarik pelatuk untuk kedua kalinya.
Sayang, tembakannya meleset dan membunuh seorang pria yang menurut lucy adalah orang yang berharga sebelum disusul oleh Penjahat yang ambruk dan kehabisan darah lalu tewas bersama dengan Ayahnya Lucy.
'Apa yang kulakukan? Apa yang ku perbuat!!!??'
Anak tersebut gemetar hebat.
Ia sudah salah sasaran, oleh sebab itu dia melarikan diri sebelum lucy menyadari wajahnya dalam gelap.
'Maafkan aku, kumohon maafkan aku Lucy, MAAFKAN AKU! AKU TELAH MEMBUNUH AYAHMU, AKU SEORANG PEMBUNUH, AKU ADALAH PEMBUNUH!'
Anak itu menangis sampai ia keluar dari pintu darurat.
"Ada anak kecil yang keluar!"
Betapa mengejutkannya ketika Para Polisi melihat anak tersebut membawa senjata api di tangannya, para polisi langsung memeriksa anak tersebut.
__ADS_1
"AKU BUKANLAH PENJAHAT, AKU TIDAK BERMAKSUD UNTUK MEMBUNUH HUWAA!!" Tangisannya menjadi pecah ketika pak polisi menghampirinya.
"Tenanglah nak, kami tidak akan menangkapmu, jadi tenang saja yak," ucap Sang Polisi lembut sambil menenangkan anak itu.
"Ada Paman yang menolongku.. Hiks.. Hiks, ia.. Terkena luka tembak, tolong selamatkan dia Pak Polisi!" ucap anak tersebut sambil menangis.
"Baik, baik para petugas polisi akan memeriksanya, jadi tenang saja yak." Anak itu dibawa kedalam mobil ambulance untuk ditenangkan.
Setelah ia sudah tenang. Pak Polisi menanyakan siapa namanya. "Siapa namamu?" tanya Pak Polisi.
"Namaku?"
"Iya, namamu."
"Hemm Apa aku akan dibawa kepenjara?"
"Tidak kok... Kamu tidak akan di penjara, jadi tenanglah dan beritahu namamu," senyum Pak Polisi yang wajahnya terlihat ramah.
"Rambutnya merah, sebelumnya tidak ada pengunjung berambut merah begitu, ketua?" tanya Polwan pada Kaptennya.
"Tidak, rambutnya hanya terkena noda darah karena itu warna rambutnya menjadi merah."
"Begitu yak."
"Beritahu namamu gadis manis." bujuk Sang Polisi.
Akhirnya anak itu membuka mulutnya dan mengatakan namanya.
"Namaku...Niki.. Terelia."
***
"Bohong! Tidak mungkin itu Niki," bentakku yang memotong ceritanya.
"Itu benar Nona." ucap Tuan Baron.
"Jadi selama ini... "
Aku tidak menduga Niki membunuh Ayahku, aku meremas kepalaku dengan kuat hingga rambutku menjadi kusut.
'Kenapa kepalaku terasa pusing? Sekarang aku merasa mual, Berhenti!
Berhentilah menyakiti isi kepalaku.'
Tidak disangka dibalik wajahnya yang ceria itu dia....
Dia menyembunyikan rahasia gelapnya dariku.
"Maaf Nona ini salah saya memberikan senjata api padanya. Nona harus tau kalau anak itu tidak sengaja menembaknya, ingatlah dia masih kecil, ia tidak mengerti apapun, tolong maafkan dia dan tolong maafkan aku Nona Lucy, aku memang salah," ujar Tuan Baron sambil menangis.
Aku hanya diam dan hanya aku merenung tentang kejadian yang di ceritakannya.
walaupun ruangannya sangat sunyi tapi berisik sekali. Suara ribut di kepalaku itu benar-benar mengaung sampai hati.
Aku berusaha menenangkan diri, berusaha menarik nafas dan hembuskan.
"Sudahlah, bagaimanapun itu adalah masa lalu, manusia memang selalu membuat kesalahan. Lalu bagaimana dengan Ibu? Saya dan Ibu bukankah waktu itu selamat, dimana Ibu?" Tanyaku.
"Apa Nona ingat terakhir kali bertemu beliau?"
"Saya hanya ingat satu hal, ketika kematian Ayah. Ibu sering mengurung dirinya dikamar, beliau sudah tidak terlihat seperti Ibu yang kukenal. Saya hanya ingat beberapa piring dan keramik dilempar olehnya lalu ia berteriak memaki- maki dan tertawa selepas itu dengan harapan bahwa itu hanya mimpi dan Ayah sedang bekerja di luar kota beberapa waktu yang lama."
"Apa yang kau ingat lagi Nona?"
"Ibu bilang ia tidak akan pergi lama karena itu aku harus tetap di mansion sampai Ibu pulang... Hiks... Hiks.. "
Tiba tiba saja aku menangis, mengingat kejadian itu rasanya sakit, luka dihati ini tak bisa teruraikan, tangisanku memotong perkataanku.
"Ibu... Sampai kapanpun ia tidak pernah kembali ke mansion.. Hiks.. Hiks..
Kenapa?.. Hiks.. Apa ibu sudah mentelantarkanku?"
Tuan Baron langsung membatah ucapanku, bagaimanapun Ibu tidak akan datang, ibu membuatku harus terkurung di mansion bertahun-tahun dan tinggal sendirian.
"Itu sama sekali tidak benar Nona, beliau tidak mungkin melakukan hal itu."
"LALU DIMANA IBU!"
Tuan baron tercengang, dia lagi-lagi segan untuk mengatakannya.
"KATAKAN PADAKU TUAN BARON! DIMANA IBU?"
Tuan baron tampak mengerutkan alisnya, keringat dingin membanjirinya. "Nona tenanglah terlebih dahulu. Saya akan memberitahu Nona, jadi tenanglah," ucap Tuan Baron dengan nada lirih.
Aku harus tenang, aku harus tenang, aku harus bisa tenang, bagaimanapun aku harus tenang, tahan, aku harus tahan, aku harus jadi tenang, perlahan saja, tarik nafas lalu hembuskan. Aku harus bisa merasakan ketenangan.
AKU HARUS TENANG
"Tentu saja Tuan Baron, tolong katakan padaku dimana Ibu?"
"Nona... Nona yakin ingin tau tentang Beliau?" tanya Tuan Baron dengan suara yang berat dan serak.
"Tentu saja, hanya Ibu satu-satunya yang kumiliki," jawabku.
"Nona saya tidak tau harus bilang apa..."
"Tetapi Nona harus kuat menerima kenyataan."
"Bahwa Beliau sudah tiada karena gantung diri."
"Gantung... Diri.. Tidak... Ibu tidak mungkin gantung diri. Itu tidak mungkin!"
Tuan Baron hanya diam sambil menunduk. Jika itu benar, aku sudah kehilangan satu satunya yang kumiliki.
"KENAPA!? Mengapa ibu meninggalkanku seperti ini... Hiks.. Hiks.. "
Air mataku sudah tak terbendung lagi, dadaku seketika menjadi sesak. Aku tidak tau perasaan apa ini?
Perasaan campur aduk memenuhi diriku.
Bertahun-tahun aku menunggu kedatangan ibu, tapi apa yang kudapatkan setelah penantian lamanya? pada akhirnya semua yang aku nantikan menjadi sia- sia.
Sudah tak ada siapapun yang hidup dalam keluarga ini. Hanya aku, hanya aku sendirian.
"Nona harus tabah dan merelakan Beliau yak," tambahnya.
Aku merasa sudah kehilangan seseorang berkali-kali. Aku sudah kehilangan cinta dan harapan. Aku kehilangan salah satu kebahagiaanku juga. Semuanya hancur berkeping-keping.
MEREKA SEMUA MENGHILANG TAK TERSISA.
Seketika itu juga menghacurkan hatiku yang sudah kuperbaiki seminggu yang lalu.
Terlebih lagi salah satu teman terbaikku yang sudah ikut menghancurkan seseorang yang kusayangi. Seseorang yang pemberani seperti ayahku. Ayahku adalah pahlawanku tetapi semua yang kubayangkan sudah tidak ada lagi sekarang. Tidak. Dia yang menyebabkan keluargaku hancur dan terbunuh.
Sudah tidak ada senyuman lagi dari mereka. Aku merindukan kebahagian mereka daripada kehidupanku.
Aku sudah kehilangan cinta dari orang tua.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
"Nona... Tenanglah, saya tau ini sulit, tetapi Nona harus bisa mengikhlaskan kepergian mereka."
Aku menghapus air mataku lalu menatap Pria kurus di hhadapanku ini "Maaf aku tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskanmu dari penjara."
"Tidak apa-apa, jangan pikirkan saya.... Saya hanya ingin Nona memulai kehidupan baru di dunia ini."
Dan sekarang waktu berjalan kembali, terlihat mereka tidak ada yang aneh setelah waktu berhenti.
"Terimakasih sudah menjawab pertanyaan dari saya. Saya hanya bisa mengirimkan anda makanan. Tolong, jaga kesehatan anda, makan yang banyak, saya ingin anda tetap sehat."
"Baik, Terima kasih banyak Nona Lucy. Sayangnya saya tidak dapat membalas apapun."
"Tidak apa-apa, saya ingin pamit terlebih dahulu."
"Semoga Nona tetap sehat dalam menjalani hari."
" Iya Terima kasih."
Aku keluar dari kantor polisi dengan perasaan yang begitu berat. Begitu aku melihat kertas yang bertuliskan.
'Nona sudah mengetahui kebenarannya, Terima kasih sudah mengikuti petunjukku, Nona Lucy' - Peter.
Yang jelas aku merobek kertas itu menjadi potongan kecil dan membuangnya ke tempat sampah.
Lalu aku melanjutkan perjalananku. Kakiku terus melangkah tanpaarah.
Dan akhirnya berujung pulang kerumah, tak ada wajah baik hari ini, hanya ada perasaan hampa yang membuatku tidak memiliki hati, karena aku sudah tidak punya cahaya dalam mataku lagi. Redup ruangannya kembali redup sekarang.
'Brak' (suara banting pintu.)
"Selamat tinggal semuanya."
....
"Apakah cerita ini sudah berakhir?"
__ADS_1