MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Rahasia


__ADS_3

“Apa ingatanmu sudah pulih?”


Pertanyaan dari Peter setelah kami berkunjung ke tempat teater. Tidak membuatku lupa tentang betapa mengerikannya kenangan tersebut.


“Entahlah, rasanya masih mengganjal di pikiranku,” jawabku sambil memijit dahiku.


“Tentu saja, itu masih awal dari kebenaran.”


“Masih awal?”


“Iya, setelah Nona pulang dari wisata sekolah. Nona harus mencari tau di kantor polisi dan bertemu dengan Tuan Baron secara langsung di sana.”


“Kenapa kau bisa mengenal Tuan Baron?” tanya-ku dengan menatap tajam padanya.


“Itu rahasia.”


Hanya itu percakapan kami, kini aku kembali ke dalam bis. Aku mulai mengantuk setelah semua yang terjadi, aku tidak boleh tidur sebelum aku sudah sampai di hotel.


‘Dan aku harus menyembunyikan kesedihanku.’ Sekarang aku mengingat sedikit tentang orang tuaku. Ayah.


Ayah-ku yang hangat dan ceria, sudah pergi lalu menghilang, ia tak akan pernah kembali lagi dan hanya bisa dikunjungi batu nisannya saja, kalau tidak salah ibu masih hidup dan kami selamat dari kejadian tersebut, tetapi setelah kematian ayah...aku tidak tau kemana Ibu pergi.


Itu yang membuatku bertanya-tanya, saat di dunia ilusi aku juga bertanya pada Tuan Baron tetapi ia terlalu segan mengatakannya. Kenapa? Katakanlah, apa yang terjadi pada Ibu, Tuan Baron? karena hanya kau satu-satunya yang mengetahui tentang keluarga kami.


Sepertinya tidak, ada satu lagi makhluk hitam yang membantuku mencari kebenaran tentang misteri ini, dia memberikanku petunjuk seolah sudah tau apa yang keluargaku alami. Kenapa ia tidak langsung mengatakannya semua kebenarannya?


‘Oh aku mengerti sekarang.’


***


“Anak-anak, tujuan terakhir kita adalah ladang bunga, silahkan jika ingin berfoto-foto di wisata kali ini, tapi jangan lama-lama yak!” ucap Bu Desi.


“Baik!”


“Ini yang kutunggu-tunggu, ayo Lucy kita harus berkumpul dengan yang lain,” ajak Felix sambil menarik tanganku.


“Pelan-pelan saja Felix,” ujar Noel yang ngeri tanganku akan patah. Kami menuruni bis dan sudah disambut oleh yang lainnya.


“Lucy, senang melihatmu lagi daritadi kami tak dapat menemukanmu di taman hiburan,” ucap Gabriel dengan membawa kamera.


“Itu benar, darimana saja kau? padahal aku ingin bermain boneka capit dan memberikannya padamu,” rengek Alder.


“Kau tidak tau yak padahal kami dekat dengan pintu masuk taman hiburan, disana ada permainan tembak hadiah, kau tidak melihat kami bertiga,” ucap Niki.


“Ooohh pantas saja, aku tidak bisa mendeteksi Lucy karena ada kamu yang menghalangi,” ucap Alder yang membuat Niki agak tersinggung.


“Tapi dengan begitu kau tidak akan merebut Lucy-ku dan kau tidak akan mengganggu kesenangan kami,” balas Niki yang membuat Alder cemburu.


Alder geram ingin melawan tetapi dibantah oleh Gabriel dengan halus. “Sudah-sudah jangan banyak berkelahi karena waktu kita sudah tidak banyak lagi, ayo kita ke pohon itu soalnya warnanya sangat indah.”


Semuanya berkumpul ke pohon berbunga warna ungu yang terlihat menarik untuk di foto. Kami berjejeran rapih untuk mendapatkan foto yang bagus.


“Oke siap yak, semuanya senyum,” ucap Gabriel.


Gabriel langsung menekan tombol kamera dan langsung berlari ke tempat yang kosong.


‘3..2...1...cekrek.’


Setelah berfoto bersama, kami langsung melihat banyak bunga-bunga yang bermekaran dengan indah, sambil kami sibuk memandang sana sini, Gabriel mengambil banyak foto disaat-saat tak terduga.

__ADS_1


“Lihat Lucy bunganya cantik banget, sepertinya aku tertarik menanam bunga di halaman rumah deh,” seru Niki.


Aku hanya memandang wajahnya yang tersenyum, rasanya hangat, sepertinya ia sangat menikmati wisata ini. Aku harusnya bisa menikmatinya juga bersama dengan yang lainnya.


“Lucy?”


“O-oh iya ada apa?” tanyaku yang baru saja sadar dari lamunanku.


“Ayo foto berdua,” ajak Niki, aku-pun menerimanya.


Kami foto berdua menggunakan ponselku Aku mengklik tombol kamera,


'Cekrek.'


Aku segera melihat hasilnya, mataku terbelalak karena di belakang kami ada bayangan hitam sedang tersenyum mengerikan dengan gaya peace.


“Coba aku lihat gambarnya Lucy,” pinta Niki, ponselnya langsung ku jauhi darinya.


“??”


“Ga-gambarnya tadi sangat buruk! Ayo kita foto di tempat lain,” ucapku dengan panik.


“O-oke.” terima Niki yang agak sedikit heran padaku.


Kami pergi ke tempat lain yang agak ramai dan mencoba foto lebih dekat daripada jauh. Aku merasa parno kalau bayangan hitam itu muncul lagi, tapi setelah kami berfoto di tempat yang berbeda, ada hitam-hitam buram yang tidak jelas di sisi pinggir sudut.


“Ini apa sih yang hitam-hitam?” tanya Niki yang agak sebal karena ada warna hitam walau tak terlalu fokus di mata tapi cukup mengganggu penglihatan.


“Kucing lagi lari kayaknya,” jawabku datar.


“Lucy... ada yang memanggilmu tuh,” ucap Niki sambil tersenyum tidak jelas. Aku menengok ke arah yang Niki tunjuk. Gabriel melambaikan tangan padaku.


“Ikut aku ke suatu tempat yuk,” ajak Gabriel.


“Berdua saja?”


“Apa berdua saja... Membuatmu tidak nyaman?”


Aku terkejut dan langsung menerima ajakannya secara spontan. “Tidak apa-apa, ayok.”


Kami berdua pergi ke tempat yang agak jauh dari keramaian. Gabriel jalan di depan sambil membawa kamera. Lalu berhenti di depan gua dengan tumbuhan yang menjalar panjang dari atas.


“Tenang saja, aku hanya ingin memperlihatkanmu sesuatu yang indah.”


Gabriel langsung masuk kedalamnya, terlihat dari luar seperti gua yang tak pernah ditemukan sama sekali bahkan hampir terlihat seperti jalan buntu, aku pun mengikutinya dan masuk kedalam.


Aku tertegun beberapa saat, melihat keindahan alam yang tak pernah kurasakan sebelumnya.


Sebuah danau cantik yang dikelilingi oleh bunga bunga yang bermekaran.


Kupu-kupu menari ke sana-kesini, seperti suasana dongeng. Aku sempat berpikir, apakah aku sedang bermimpi?


"Lucy, bagaimana menurutmu? " tanya Gabriel memandangku penuh harapan.


"Ini indah," Balasku sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau kau suka," lega Gabriel.


"Darimana kau tau tempat ini?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Tempat ini dulunya adalah tempat rahasia ketika diriku masih kecil," jawabnya.


"Oh iya, kah? Kenapa kau memperlihatkan tempat rahasia sepenting ini?" Dengan angin yang meliuk-liuk dan menerbangkan sedikit helai rambutnya.


Gabriel dengan senyuman lembut ia berkata.


"Aku hanya ingin berbagi tempat rahasia pada orang yang kucintai."


(Blush!)


Entah kenapa wajahku tiba-tiba memanas.


Pemandangan yang lebih indah dari tempat ini adalah dirimu Gabriel. Kau membuatku merasa kikuk sekarang. Aku tidak tau harus bagaimana membalas ini semua.


"Terima kasih."


"Uh?"


"Terima kasih sudah memperlihatkan tempat seindah ini," ucapku dengan wajah malu.


"Iya, sama-sama," balasnya.


Senyuman itu tidak akan pernah ku-lupakan bahkan pada perasaan ini.


Tatapan unikmu membuatku semakin menarik.


Aku ingin mencoba merendam kakiku di danau tersebut. "Sejuknya," gumamku.


Aku memandang pantulan diriku dengan kelopak bunga yang mengambang di air.


'Cekrek'


Dan Gabriel mengambil gambarku dari sisi danau. Hasil yang didapatkan sangat bagus, dengan cahaya alam serta suasana yang sangat alami membuat efek dari gambar tersebut sangat luar biasa.


"Lucy, ayo kita kembali ke bis," ajak Gabriel.


Aku bahkan tidak ingat waktu karena terlena dengan keindahan tempat ini.


"Ayo."


Aku langsung menarik kakiku dari sana dan meninggalkan tempat rahasia itu. "Lain kali ayo kita kesini lagi," ucap Gabriel yang mengundangku datang ke


tempat rahasianya.


Aku mengangguk senang mendengar undangan tersebut. Kami berpisah dan kembali ke bis masing-masing sesuai kelas.


Gabriel duduk di samping Alder yang masih saja menatap sinis rivalnya itu.


"Darimana saja kau?" tanya Alder dengan wajahnya yang judes.


"Tadi aku terlalu sibuk memotret bunga disana," jawabnya santai.


"Oh... " Alder nampak tidak peduli pada kegiatan Gabriel, bis mulai berjalan dan Gabriel memandang jendela sambil bergumam.


"Lucy... Aku ingin tempat itu menjadi saksi kebersamaan kita selamanya."


....


"Banyak kenangan masa kecil yang kurang membahagiakan hingga sesuatu yang sederhana menjadi kebahagiaan kecilnya."

__ADS_1


__ADS_2