MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Palsu


__ADS_3

“Lucy!!” teriak Niki dari luar memanggil namaku.


“Sebentar.”


Diriku yang lain membuka pintu dengan pakaian yang berwarna lembut. Biru langit dan merah muda mendominasi fashion-ku. Senyuman ceria terlukis di wajahnya membuat Niki sangat terkejut, seperti tidak biasanya seorang Lucy menjadi ceria begitu.


Aku menamai bayangan itu adalah Luna, agar bisa membedakan kami apabila kami berdua ketahuan berganti kehidupan.


“Lucy itu kamu?” tanya Niki yang melongo di tempat.


Luna menggangguk antusias dan menarik tangan Niki yang masih kicep dengan perubahan Lucy palsu itu.


“Cepat, nanti kita terlambat ke sekolah loh.” seru Luna.


“Haa-i-iya”


Mereka berdua berlari seperti menginjak pelangi yang indah, burung-burung mengitari mereka berdua, begitu pula dengan bunga bunga bermekaran selepas mereka melewatinya.


Mereka berpisah di lantai dua dikarenakan berbeda kelas, Luna berlari di sepanjang lorong dan Niki hanya melihat punggungnya yang perlahan menjauh.


“Lucy... Berubah yak? Syukurlah kalau begitu,” ujar Niki tanpa merasa ada sesuatu yang menjanggal dan pergi ke kelasnya.


Luna menginjak kakinya ke dalam kelas dan mengucapkan selamat pagi pada satu kelas.


“Selamat pagi semua!”


Semua yang ada didalam kelas syok mendengarnya, seolah mereka tidak percaya apa yang telah menimpa diriku.


“Oh kamu sedang baca apa?” tanya Luna pada salah satu gadis yang sedang membaca buku.


“Membaca novel romantis,” jawabnya agak takut dan malu.


“Aku tau novel itu, ceritanya tentang gadis pendiam dan kaku bertemu dengan cowok yang humoris dan ceria, kan?” seru Luna sok tau.


Seketika gadis pemalu itu menjadi bersemangat dan tersenyum, seakan akan ia menemukan teman yang sama-sama suka novel tersebut.


“Kau tau Ryan dan Elsa?”


“Iya aku tau, mereka berdua adalah pasangan yang sangat indah walau awalnya si cewek begitu judes... Bla bla... Bla.”


Semua orang yang ada di kelas seketika akrab dengan keberadaan Lucy yang baru, gadis ceria dan mudah bergaul itu akhirnya disukai oleh satu kelas.


Luna duduk disamping ketua dan menyapanya dengan riang. “Selamat pagi ketua, apa kau sudah sarapan?” sapa si Luna.


“Pagi, sudah kok.. Hmm.. Anu.. Siapa yak?” tanya Felix yang membuat Luna terdiam.


Seketika dada Luna begitu sesak mendengarnya, tetapi Luna harus bisa mencuci otak ketua bahwa Luna itu adalah Lucy.


“Aku Lucy loh...Teman sebangkumu-hm, ingat?” ujar Luna berusaha mengingatkan Felix akan Lucy yang pernah ia kenal.


“O-oh gitu yak, ternyata kau sudah berubah yak. Apa yang membuatmu menjadi senang?” tanya Felix sembari duduk di kursinya.


“Aku bepikir aku harus berubah menjadi seorang yang lebih baik, jika aku memiliki kepribadian yang buruk terus menerus, semuanya tidak akan ada yang berubah. makanya aku harus menjadi gadis yang periang.” jawab Luna.


“O-oke itu bagus.”


Luna menatap sinis pada Felix, seolah pemuda tersebut masih belum mengenalnya, bagi luna hal seperti itu akan berbahaya karena bisa menyebabkan dirinya ketahuan bahwa dirinya hanyalah sebuah bayangan.


***


Di sisi lain aku terus melihat gadis kecil itu bersama pelayannya, hingga senja menerangi langit-langit. Pelayan tersebut berkata, “Nona, sebentar lagi malam akan datang, akan berbahaya jika kita terus disini bila sudah gelap, terlebih lagi kita berada di hutan, maka dari itu ayo kita pulang.”


Dan apa yang di jawab gadis kecil itu dengan senyuman terukir di wajahnya, “Tidak.”


Pelayan itu terkejut dengan jawaban dari sang gadis cilik.


“Kenapa?”


“Di saat-saat seperti ini kita harus menikmati langit senja bukan? Anda pernah bilang padaku bahwa rambutku bagaikan langit senja yang indah, bukankah disaat seperti ini kita bisa melihat keindahan itu?”


“Ha-a itu benar Nona.”

__ADS_1


“Kalau begitu duduklah kembali.” suruh gadis itu.


Pelayan tersebut kembali duduk di kursinya bersama dengan gadis kecil tersebut, suasananya membuatku menjadi nostalgia, aku juga menikmati keindahan itu.


Hingga sang pelayan terus menoleh semak semak, membuat sang gadis kecil juga ikut menoleh.


“Apa yang anda lihat?”


“Tidak ada. Sepertinya langit senja sudah hampir hilang, jadi ayo kita pulang.”


“Haa- iya.” jawab gadis itu sambil bergandeng tangan dengan pelayannya.


Aku yang bersembunyi di balik pohon tidak akan menyangka kalau tubuhku bisa dilihat oleh pelayan tersebut, aku pikir ini adalah dunia masa laluku yang di mana aku tak terlihat.


‘Oh iya aku harus mengikuti mereka,' pikirku sambil berlari mengejar mereka berdua.


Hingga aku sampai di sebuah mansion mewah yang berdiri tepat dihadapanku, aku mengikuti mereka dari belakang, nampaknya mereka masih tidak menyadari kehadiranku.


“Silahkan masuk nona,” rujuk sang pelayan yang mendahului tuan-nya terlebih dahulu.


Gadis kecil itu masuk, aku juga ingin melangkah kaki kedalam sana, tiba-tiba saja aku ditarik dari belakang oleh pelayan gadis kecil itu.


‘Sudah kuduga dia bisa melihatku.’


“Kenapa anda tidak masuk?” tanya gadis itu menoleh ke belakang.


“Nona duluan saja, saya ada urusan sebentar,” ucapnya sambil hormat. Gadis kecil itu pun masuk kedalam mansion-nya.


“Dia tidak melihatku yak?” gumamku.


“Ayo ikut aku,” katanya sambil menarik tanganku dari tempat itu.


Pelayan itu membawaku ke belakang mansion, ditemani dengan lampu lentera yang menyala pada tempat gelap itu. Hanya kami berdua, awal yang hening tapi tiba tiba saja ia berucap dengan nada yang dingin.


“Kenapa kau ada disini?”


“Aku...”


“Itu...”


“Apa itu benar? Siapa namamu?”


Pelayan itu tidak memberiku waktu untuk menjawab, menyebalkan.


“Lalu kau dari--”


“LUCY! Lucy Aureista,” jawabku atas pertanyaan barusan.


Pelayan itu menjadi kaget mendengar nama tersebut dan raut wajahnya seperti tidak percaya dengan diriku.


“Hufft kenapa kau tidak memberiku waktu untuk menjawab, tuan ini harus bertanya pelan-pelan agar aku bisa menjawabnya,” kesalku.


Tiba-tiba saja pelayan tersebut mengenggam lenganku dengan sangat kuat. “Jangan bohong! Bagaimana bisa namamu sama dengan tuanku.” bentaknya.


“Hah!? Apa? Gadis kecil itu.. Namanya sama?” kejutku.


“Darimana asalmu?” tanyanya marah.


“Aku tidak tau, tapi aku memakan sebuah macaron lalu aku berada di dunia ini,” jawabku agak takut.


“Macaron?”


Aku-pun langsung memperjelas masalah yang terjadi.


“Ada sebuah bayangan yang bisa berubah menjadi siapapun, dia memaksaku untuk memakan macaron itu, ia bilang itu bisa membuatku nostalgia.”


Pelayan tersebut bergegas masuk lewat pintu belakang mansion, aku hanya mengikuti dirinya pergi. Soalnya aku penasaran apa yang Pelayan itu pikirkan setelah aku menjelaskan masalahku.


Pelayan itu membuka pintu coklat yang nampaknya itu adalah kamarnya. isi kamarnya begitu sederhana, tidak kekecilan dan tidak terlalu luas.


“Apa yang kau cari?” tanyaku melihat dirinya mengacak-acak rak buku.

__ADS_1


“Aku pernah mendengar bayangan yang kau ceritakan itu,” jawabnya.


“Benarkah?”


“Ini dia,” pelayan itu segera membuka halaman demi halaman dengan cepat, mata cekatannya tidak melewatkan setiap judul halaman pun. Gadis cilik itu beruntung memiliki pelayan seperti dia.


“Tertulis disini bahwa ada sebuah bayangan yang suka berubah menjadi manusia, ia bangkit setiap 3 tahun sekali. Jika seseorang bertemu bayangan tersebut dan memberikan barang kepadamu, maka anda akan kembali ke ingatan masa lalumu yang terlupakan dan akan terus terjebak kedalamnya untuk selamanya bila tak seorangpun mengingatmu,” jelas Sang Pelayan yang langsung menutup bukunya.


“Kalau begitu aku tak akan bisa kembali ke dunia asli-ku lagi bila tak seorangpun mengingat tentang diriku.”


“Itu benar, apa boleh aku tau nama panjangmu sekali lagi?” pinta Sang Pelayan.


“Lucy Aureista.”


“Hah!” seketika Pelayan tersebut terkejut, padahal sebelumnya sudah aku beri tau namaku walau dia tidak percaya.


“Ada apa?” tanyaku.


“Jadi Nona Muda ini adalah majikanku. Berapa umur Nona!?”


“17 tahun,” jawabku.


Pelayan tersebut tiba-tiba saja memelukku dengan erat, seperti ada rasa terharu dan sedih.


“Syukurlah, aku bisa melihat Nona dari masa depan,” ucapnya dengan rasa syukur dan senang.


‘Jadi memang benar gadis kecil itu adalah diriku, tetapi entah kenapa aku tak mengingat pelayan seperti dia. Padahal gadis kecil itu sangat begitu dekat dengan sang pelayan ini. Kenapa aku tak bisa mengingat tentangnya?’


“Kau tetap cantik dan manis seperti dulu,” senang sang pelayan.


“Ha- iya terima kasih,” balasku tersipu malu.


“Tapi Nona harus kembali ke tempat asal Nona. Di sini bukanlah tempat Nona sekarang berada,” ucap Sang Pelayan yang langsung melepas pelukannya.


“Aku tidak mau,” tolakku.


“Apa? Kenapa?” bingung Sang Pelayan yang mendengar penolakkan-ku.


“Di dunia asliku, aku begitu frustasi akan kepribadianku ini, mereka semua membenciku bahkan aku seringkali membuat temanku khawatir. Aku tidak bisa bergaul dengan yang lain seperti bayanganku itu. Aku juga muak dengan kebahagian orang lain.”


Pelayan itu menyentil dahiku sangat keras, hingga aku berteriak kesakitan. “Ouch!! apa yang anda lakukan?” aku mengelus dahiku yang kesakitan saat aku melihat Pelayan itu, wajahnya menjadi serius padaku. Seketika ketegangan terjadi saat ini.


“Dunia ini tidak lebih dari dunia ilusi, jika ini benar adalah ingatan masa lalu Nona. Bukankah saya harusnya tidak melihat Nona?” ucap sang pelayan.


“Sepertinya begitu...” ucapku cemberut.


“Nona sudah ditipu oleh bayangan licik itu, buku ini juga adalah suatu kebohongan. Nona sekarang ini berada di dunia kepalsuan yang di mana dunia ini akan binasa pada waktunya begitu pula dengan Nona yang akan merasa kesepian bila dunia ini menjadi kosong dan hitam. Jadi kembalilah ke dunia asal Nona dan jangan pernah kembali lagi kesini,” jelas Sang Pelayan.


“Bagaimana caranya aku bisa keluar? Semuanya mungkin sudah melupakanku,” ucapku dengan hati yang terasa perih.


“Nona hanya bilang ‘aku ingin kembali’ itu saja,” senyum sang pelayan.


Senyuman itu membuat hatiku bertambah sakit.


“Kenapa? Kenapa anda menolongku? Bila ini adalah dunia yang dibuat oleh bayangan itu, harusnya anda membujukku untuk tetap tinggal di sini selamanya, kan?”


Hatiku semakin sakit dan perih membuat mataku terasa panas yang membuat air mataku harus memadamkannya. Pelayan itu menghapus air mataku yang mengalir di pipiku. Aku tidak tau harus bagaimana cara membalas kebaikannya, kalau saja aku bertemu dia secara nyata... Di dunia nyata... Mungkin aku akan kembali ke dunia asliku dan mencari tentang keberadaan pelayan ini.


“Sebelumnya saya minta maaf karena tidak mengingat Tuan, tetapi saya akan menemui Tuan di dunia sana,” senyumku tiba-tiba terukir karena dorongan keinginan bertemu dengannya.


“Jangan panggil saya Tuan, panggil saya Kepala Pelayan saja. Apabila Nona ingin mencari saya sebut saja nama saya,”


“Maaf aku tidak ingat nama anda?” “Baron Gracious.”


“Baron?”


‘Entah kenapa namanya terdengar familiar di telingaku.’


.....


“Hembuskan nafasmu pada udara yang berembun dan taruh kehidupanmu pada sebuah takdir yang tidak bisa diubah ataupun dihindari, salah satunya adalah kematian.”

__ADS_1


__ADS_2