
"Serius?? Mati!!!" kejut kami semua.
"Yup, yang kalah nanti di akhir game, dipenggal kepalanya."
'SERAM.'
"Dimulai dari tim alien!"
Dadu jatuh dihadapan kami, Felix melempar dadu tersebut, benda kotak itu berguling tak terlalu jauh dari kami.
"6"
"Waah."
Niki dan Sarah tercengang melihat kami yang sudah mendapatkan langkah yang besar.
Kami melangkah menuju angka 6 dan kami melihat sebuah kotak. Aku membukannya, kotak itu berisikan sebuah soal matematika.
Soalnya berisikan,
Tentukan nilai X yang memenuhi kesesuaian nilai pada bilangan kuadrat dibawah ini.
24x+14 \= 64x+2
Aku menelan ludah ketika melihat soalnya, sumpah aku tak paham apa arti soal ini, kepalaku berputar putar mengingat sebuah rumus.
"Coba aku lihat?" Felix ikut mendekat padaku dan melihat soal yang rumit
itu.
"Ketua bisa menjawabnya?" tanyaku, aku sadar ia sedang berpikir keras,
terlihat dari wajahnya yang mengerutkan alis dan mulutnya yang sedikit memoncong.
"Haha lihat! Walaupun mereka mendapatkan angka yang besar, tetapi mereka sudah kesusahan begitu," bisik Sarah pada Niki.
"Itu benar, Lucy itu lemah dalam matematika hihi." jawab Niki.
"pulpen!"
Felix menggoyangkan tongkat sihirnya dan munculah sebuah pulpen.
__ADS_1
Felix menulis sebuah jawabannya di kertas soal tadi. Aku hanya diam tak paham apa yang ia tulis.
"Lucy sini, biar aku ajarkan," ajaknya senang padaku. Aku-pun ikut nimbrung bersamanya.
"Untuk mengerjakan soal bagian ini, kamu harus menyederhanakan bentuk persamaan tersebut menjadi bentuk sederhana dengan basis pangkat 2 seperti ini," jelasnya kepadaku, perlahan aku mulai sedikit paham dan aku membantunya untuk jawab soal matematikanya juga.
"Apa itu? Bikin cemburu saja!" gerutu Niki dengan melipat tangan dengan wajah kesal.
"Ah~ aku juga ingin diajarin begitu dengan ivan," rengek Sarah tak terima.
"Sudah!" seru Felix.
"Perlihatkan jawabannya padaku," pinta robot tersebut.
Felix memberikan kertasnya pada robot itu, iya juga yak felix dipilih menjadi ketua kelas karena ia serba bisa disegala bidang termasuk matematika.
"24x+14 \= 64x+2 24x+14 \=(26)x+2
24x+14 \=26x+12
4x + 14 \= 6x +12
14 – 12 \= 6x –4x
X \=1”
“Jawaban kalian benar!"
Aku bernafas lega saat itu juga dan Felix senang akan hal itu, ia memegang kedua tangaku dan mengangkatnya bersama sambil sorak sorai.
Aku diam tak ikut bersorak dengannya, aku malah memperhatikan wajah senangnya yang ada dihadapanku.
'Apa itu rasanya sebuah kesenangan? Rasa senang yang didapat dari buah hasil dari kerja keras, seperti itukah jenis rasa senangnya ketua,' ucapku dalam hati.
Pikiranku berkecamuk dengan hatiku, tak bisa merasakan kebahagiaanku sama sekali, justru aku merasakan kesenangan Felix didalam hatinya.
"Selamat anda mendapatkan mantra terlarang!"
Ia mengubah soal matematika itu menjadi sebuah kalimat terlarang yang hanya berpengaruh pada Felix.
"Apa maksudnya dari mantra ini?" tanya Felix pada si robot.
__ADS_1
"Mantra ini bisa kau pakai dalam keadaan kritis, kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dalam benakmu sambil mengucapkan mantra terlarang ini, ingatlah kalau ini hanya bisa diucapkan sekali," jelas robot itu.
"Oke, terima kasih banyak."
"Iya sama sama, selanjutnya tim drisia."
Dadunya berganti ada dihadapan sejoli pendek itu, mereka berebutan siapa yang akan melemparkan dadunya duluan.
"Aku saja, keberuntunganku sedang ada dipihakku!!"
"Tidak!! Aku itu pandai melempar dadu, lebih baik aku saja!!"
Di antaranya tidak mau mengalah, tanpa disadari dadu itu terlempar dengan sendirinya, dikarenakan waktu melempar sudah habis.
"1!"
Sayang sekali mereka hanya berjalan 1 langkah, kesedihannya terpapang jelas di wajah mereka. Lagi-lagi setelah melangkah mereka saling menyalahkan, karena berisik, si robot mengancam mereka untuk melangkah ke awal lagi, akhirnya mereka berdua tutup mulut.
"Ada apa Lucy? Kau dari tadi melihat mereka berdua? Apa kau memikirkan Niki? Apakah itu semua gara-gara aku yak yang menyebabkan kamu dan temanmu jadi bertengkar?" ucapnya dengan nada menyesal sambil meratapi dadu yang melebihi ukuran tangan yang ia pegang.
Kadang itu adalah sisi ketua yang aku tidak sukai, ia memiliki rasa bersalah diri yang tinggi, tetapi aku lebih menyukai sifat ketua yang selalu positif dan bersahabat.
"Tidak ketua, mari kita lanjutkan," jawabku dengan mengambil dadu yang dipegang ketua dan melemparnya.
"4!"
"Aku memang tidak seberuntung ketua yak," gumamku.
"Tidak kok, menurutku itu angka yang lumayan."
"Bukan itu, kau beruntung bisa merasakan kebahagiaan sekilas itu," jelasku.
"Eh?"
Aku tau Felix bingung apa yang aku bicarakan ini, aku berbalik badan dan melihat reaksinya.
Diluar dugaanku, dia memandangku dengan serius, dia tak pernah menatapku seperti itu ataupun dengan orang lain, apakah dia marah?
Felix mendekat padaku, ia menatapku dengan tajam, aku sempat berpikir kalau dia bukanlah ketua kelasku, tetapi itu adalah sebuah isyarat bahwa dia ingin memberitahuku sesuatu.
"Sudah kuduga ada yang tidak beres denganmu Lucy."
__ADS_1
.....
"Masa lalu memang nyatanya sakit, tetapi dimasa depan jangan membuat rasa sakit itu terulang lagi."