MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Foto


__ADS_3

Setelah aku melakukan pemeriksaan, aku dinyatakan sembuh dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Aku yang berada di mobil, memandang kaca mobil sambil merenung kejadian di rumah sakit tadi. diriku terpantul oleh cahaya lampu jingga yang mengiringi sepanjang jalan karena hari sudah menjelang malam. Aku masih memikirkannya. Gabriel menghilang kemana?


Padahal aku baru saja menemukan permata yang langka. Dia malaikat pelindungku yang datang ketika aku berada di detik-detik kematian karena terbunuh, apakah aku bisa bertemu denganya lagi? Dia bilang kita satu sekolah, dia ada di kelas 12-B. Haruskah aku menengok kelas itu walau aku bertemu dengan Alder?


Niki daritadi memandangku cemas melihatku merenung meratapi jalan yang dibasahi air hujan. Hujan daritadi mengguyur perkotaan ini, mereka seolah turut sedih kala hatiku sedang menangis.


'Kenapa aku memikirkannya terus? Bukankah bagus jika dia tidak berteman denganku?' pikirku.


***


Aku sampai di rumah. Niki menaruh barang barangku dikamar. Aku duduk diatas kasur. Tenagaku telah hilang, tatapanku kosong.


Dunia ini telah mengincar nyawaku sebelum aku menginginkan kematian, tapi caranya tidak seperti ini. Aku sudah bilang aku tidak ingin mati dibunuh, namun aku lebih suka jika meninggal karena bunuh diri atau meninggal karena hal lainnya. Aku tidak ingin membawa siapapun di akhirat nanti.


Aku harus berhati-hati mulai sekarang terhadap orang lain. Aku ingin mengurung diri rasanya sebelum para manusia diselimuti rasa kecemburuan dan melampiaskannya padaku.


"Jika kau merasa syok dengan kejadian tadi, surat izin masukmu akan kuminta diperpanjang lagi yak, Jadi besok mau masuk atau tidak?" tanya Niki.


Aku ingin melihat kedua mata itu lagi, namun sepertinya dia tidak akan masuk karena keadaan tangan yang terluka seperti itu.


"Tidak... Aku ingin mengurung diri saja," jawabku yang berbaring menghadap dinding.


Niki beranjak pergi dari kamarku, aku hanya bisa memeluk boneka alienku di dalam kamar yang hanya diterangi satu lampu.


***

__ADS_1


Pagi pagi buta, aku mendapatkan pesan dari nomor yang tak dikenal.


'Hei... Lihat ini haha.'


(Foto)


Yang pasti tidak jauh dari nomor orang-orang yang ada dikelasku. Mereka mengirimkan foto yang menggambarkan mejaku yang ditaruh banyak bunga- bunga, bermacam aneka warna yang semerbak. Doa-doa dari mereka yang mengharapkan aku telah meninggal.


'Setelah teman temanku memberikan bunga di mejamu, ketua langsung marah dong haha. Memangnya apa yang salah dari kita hahaha.'


Aku tak membalas pesannya, hanya aku diamkan dan langsung mematikan hand phoneku, lalu tidur.


"Lucy!"


"Siapa lagi sih!?" geram diriku.


Dengan kaki lemas aku melangkah pelan membuka pintu rumah.


Niki menyerahkan sekantung belanjaan padaku. Isinya beberapa roti, susu dan sereal untuk sarapan.


"Terima kasih," ucapku datar.


"Jangan lupa Istirahat yak, catatan tugasmu numpuk tuh."


"Iya~"


Niki dengan seragam sekolahnya berlari menuju sekolah sambil terburu-buru karena dia hampir terlambat. Dia tidak perlu repot repot memberikanku ini kalau dia sendiri kerepotan ke sekolah. Aku bisa membelinya jam 9 nanti, tetapi dengan kepedulianmu kau telah mendahuluiku.

__ADS_1


Sangat drop, ketika aku khawatir akan terbunuh. Aku harap Lina tidak menyuruh bawahan atau orang lain untuk membunuhku lagi. Aku masih ingin mencari seseorang untuk bunuh diri bersamaku atau kebahagiaan untuk melengkapi kehidupanku.


Aku rindu senyuman semua orang meskipun itu terasa menyakitkan, tetapi itulah yang membuatku jadi candu akan kehidupan ini.


Aku memendam semua rasa dan emosi dari orang lain. Kalian semua tidak akan mengerti apa yang aku rasakan ini dan hanya diriku saja yang paham dengan keadaanku.


Sunyi. Kata yang tepat untuk menggambarkan suasana ruangan ini sekarang.


Kesepian. Kata pelengkap dari sebuah kesendirian.


Depresi. Hal ini mencangkup dari penderitaan hidup dan stress.


Itulah aku. Itulah yang terlihat sekarang. Tak ada warna lagi yang menghiasi pikiranku dan hatiku. Perasaan hangat itu hanya sekejap kurasakan. Lalu menghilang seperti debu yang berterbangan.


Aku meniup panasnya susu yang ingin kuminum, Roti dan telur adalah sarapan utama. Sembari melihat beberapa postingan karya lukisan seseorang yang aku gemari di layar handphone, tanpa sadar kakiku mengayun-ayun riang.


"Hidup santai di rumah adalah impianku," gumam diriku.


Kadang kesendirian sangat dibutuhkan untuk merenung dan dijadikan ketenangan hidup. Walaupun sedikit bosan tetapi ini sangat damai dan tentram.


'Ting tong'


Bel rumah berbunyi, baru saja aku mendapatkan ketenangan hidup. Ada saja manusia yang menggangguku. Seandainya aku punya tongkat sihir seperti harry Potter. Sudah kuubah seluruh manusia menjadi alien.


Aku pun membuka pintu. Nampak berdiri pria lebih tinggi dariku, aku awalnya terkejut karena dia hampir tidak kukenali.


"Eh? Ada perluh apa...?"

__ADS_1


....


"Rasa pahit ini menyisakan candu yang berlebihan."


__ADS_2