MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Mahkota


__ADS_3

Di pagi harinya kami langsung mandi dan sarapan, sarapan kali ini kami tidak turun ke bawah melainkan diantar ke kamar masing-masing.


"Wuah sepertinya kita akan pergi ke tempat bersejarah," seru Sarah yang tidak sabar.


"Tempat bersejarah seperti apa?" tanyaku yang penasaran.


"Sejarah yang memiliki tragedi kelam sekitar puluhan tahun, aku tidak akan menceritakan lebih lanjut, takut kalian kena spoiler nanti," ucap Sarah.


"Sejarah kelam yak... Niki menurutmu seperti apa tragedi yang ada disa--kau kenapa?" tanyaku yang melihat Niki agak memiliki ekspresi yang berbeda.


"A-ah maaf aku kurang suka hal yang bersejarah," jawab Niki dengan nada yang kurang bersemangat.


"Tidak apa apa, kita bisa berfoto bersama disana, pasti disana banyak tempat untuk berfoto-foto," seru Sarah.


"Apa tidak masalah berfoto ditempat seperti itu?" tanyaku karena agak tidak menghormati orang-orang yang berguguran di sana.


"Hmm entahlah, tapi ada tempat foto terbuka selain di tempat bersejarah kok," ucap Sarah yang agak tidak enak karena merasa tidak sopan.


"Baiklah kawan, sepertinya kalau sudah siap kita harus sudah ada di bis," ucap Niki yang sudah siap duluan.


"Oke aku sudah siap," ujar Sarah.


"Aku juga," sahutku yang menggendong tas kecil.


"Oke ayo kita berangkat," ucap Niki dengan senyum cerianya.


***


Kami berkumpul di tempat bis pariwisata, sayangnya aku dengan Niki dan Sarah harus berpisah dikarenakan bis yang berbeda.


Aku menaiki bis dan terlihat di kursi belakang Felix yang masih molor dan Noel yang sibuk memainkan ponselnya.


"Selamat pagi," sapaku.


"Selamat pagi Lucy," sahut Noel yang disebelah ikut terbangun dan mengucapkan salam pagi dengan menguap.


"Apa ketua tidak bisa tidur kemarin malam?" tanyaku sambil duduk disampingnya.


"Yaa begitulah aku terlalu bersemangat untuk hari ini," ucap Felix dengan senyum miring.


"Kau sekamar dengan siapa saja semalam? Tanya Noel pada Felix.


"Dengan Gabriel dan Alder. Bagaimana denganmu?"


"Kalau aku dengan Tony dan Henry. Kalau Lucy?" tanya Noel.


"Niki dan Sarah," jawabku singkat.


"Eehh sepertinya kita punya teman sekamar yang diharapkan yak," seru Noel.


'Sepertinya tidak,' batin Felix dan aku tersenyum miris. Bagaimana tidak? Mereka berdua sering bertengkar hanya memperebutkan lawan jenis entah itu malam atau pagi.


"Oke, apa anak-anak sudah hadir semua?" tanya Bu Guru.


"Sudah."


"Ibu absen dulu yak."


"Baik."


Setelah di absen dan merasa murid sudah lengkap, bis perlahan melaju dan kita berangkat untuk pariwisata. Semua penumpang merasa senang dan bersemangat dengan tempat wahana yang katanya terkenal sebagai tempat hiburan yang menyenangkan.


"Lucy kenapa kau membawa buku?" tanya Noel yang penasaran.


"Ouh ini untuk menulis beberapa diaryku selama dalam perjalanan," jawabku.


"Oh begitu, baiklah silahkan lanjutkan," seru Noel yang kembali menatap ponselnya.


Aku menghela nafas lega, pasalnya buku ini hanya untuk komunikasi diantara aku dan Peter. Barangkali dia ingin mengatakan sesuatu padaku.


'Oh iya aku penasaran sekarang dia ada di mana yak? Jangan bilang kalau dia masih menaiki atap bis lagi. Coba aku bertanya padanya.'


Aku menulis pertanyaan di kertas tentang keberadaaan sosok hitam itu. Lalu tak berselang lama tulisan itu menghilang seperti diserap sesuatu lalu tinta hitam itu muncul kembali dan membentuk kata-kata.


'Aku ada di belakang panggung teater.'- Peter.


'Sedang apa kau di sana?'


'Menunggumu datang ke sini.' - Peter.


'Kau sedang ada di teater yang mana?'


'Wonder theater.' - Peter.


'Apa itu tempat bersejarah?' tanyaku menebak.


'Iya itu benar.' - Peter.


'Sepertinya kami tidak akan kesana terlebih dahulu, menungguku itu akan terasa sangat lama, kau tau itu?'


'....'


'Tidak masalah, aku akan berkeliling sambil menunggumu, bersenang-senanglah.' - Peter.


'Terima kasih.'


Aku tidak melanjutkannya sementara ini, entah kenapa berkomunikasi dengan makhluk asing begitu sangat menyenangkan.


Walau dia menampakkan dirinya dan membuatku takut tetapi saat berbicara dengannya lewat kertas dia terlihat seperti seorang yang gentleman.


Sungguh berbeda dari apa yang kupikirkan. Aku hanya tersenyum dengan menutup wajahku pada buku. Aroma kertas adalah yang terbaik.


Beberapa menit kemudian kami sampai di wahana Magic Land, tempat komedi putar, bianglala, sirkus dan pesulap ada disini.


Semua murid turun dan mulai bersenang-senang.

__ADS_1


"Kumpul kembali di jam 09.30 yak!" teriak Bu Desi.


"Baik!" sahut murid yang sudah bubar duluan.


"Wuaaah indah sekali, kan Lucy?" seru Niki yang sangat bersemangat, matanya saja sudah berbinar-binar dan tidak sabar untuk memainkan banyak hal.


"Ayo kita coba itu," tunjuk Sarah pada permainan yang bernama roller coaster.


"Apa kau gila?" ucap Niki dan aku secara bersamaan dan bersamaan juga dengan wajah kami yang berubah jadi kecut. Sarah langsung berkeringat dingin dan mencari-cari permainan yang lain.


"Haha, ya sudah mau coba yang itu?" ucap Sarah sekali lagi yang mengarah pada permainan tembak hadiah.


Aku, Niki dan Sarah menghampiri permainan yang terlihat sangat menyenangkan. Aku menatap beberapa hadiah yang menurutku agak menarik.


"Hei kawan bagaimana kalau kita bertanding?" tantang Niki.


"Bertanding?"


"Yup, yang dapat hadiah lebih dulu ialah pemenangnya."


"Apa hadiahnya kalau bagi yang menang?" tanya Sarah karena ia tidak ingin hanya mendapatkan hadiah dari permainan ini.


"Yang menang bisa duduk bersama felix di bianglala," ucap Niki dengan senyum menatang.


"Oke setuju," terima Sarah dengan aura yang sudah memanas.


Kami bertiga memberikan uang pada pria berkumis tipis. Pria tersebut tersenyum semeringai dan memberikan beberapa senapan pada kami.


Kami mengambil posisi yang terbaik untuk menembak. Targetku adalah pada si boneka


"Bersiap Mulai!!"


'Tet tet tet tetererere'


Dengan fokus yang penuh aku berusaha menembak target. Beberapa saat kemudian niki bersorak senang,


"Heiiii aku mengenainya tadi...itu artinya "


"Tidak, tidak."


Kami terkejut dengan apa yang di ucapkan si penjual game ini.


"Kau tidak bisa mendapatkan hadiahnya karena hadiahnya tidak jatuh." ucap Si Pria berkumis itu.


"Apa?" Niki memiringkan alis sebelahnya bertanda bingung dan kecewa.


'Hahaha, anak-anak ini sangat bodoh, kalian sampai tua pun tidak akan dapat memenangkan permainan ini. Itu karena aku sudah mengelem di alas hadiah agar mereka tidak akan jatuh, hihi,' batin Si Pria kumis. Ternyata Si Pria kumis itu memiliki sifat licik, egois dan penipu.


Aku menatap sinis pada setiap hadiah... Jujur saja aku agak kesal mengakuinya, setiap tembakan memiliki dorongan yang kuat apalagi memakai bola, mustahil bila mainan yang dikenakan Niki yang terbuat dari bahan yang ringan tidak terjatuh.


"Apa anda menaruh lem di bawahnya?" tanyaku curiga.


"Yaa itu benar, apa kau menaruh lem di bawahnya agar kami tidak bisa menang?" tambah Niki.


"Jika itu benar, aku akan melaporkannya pada polisi," ucap Sarah yang sudah siap melapor.


'Door.'


Mainan tersebut terjatuh saat mengenai bolanya. "Bagaimana bisa?" ucap Niki yang tidak percaya.


"Sudah paman bilang-kan? Kalau game ini tidak ada kecurangan sama sekali, jika kalian tidak menang kaliannya saja yang tidak profesional dalam bermain," ucap Pria berkumis dengan tatapan meremehkan kemampuan kami.


'Hihi sebenarnya tadi itu adalah hadiah yang baru saja ku keluarkan dan tidak terdapat lem di bawahnya, saat penglihatan mereka terahlikan, aku menekan tombol dibalik saku celanaku sehingga hadiah yang kusembunyikan keluar dari bawah rak hadiah,' batin Si Pria berkumis yang bohongnya sudah kelewatan.


"Baiklah aku akan coba lagi," ujar Niki dengan kesal.


"Aku juga," dan Sarah tidak mau kalah.


"Apa kita bisa bermain yang lain, ada banyak tempat yang sepertinya lebih bagus daripada ini," bujukku karena aku masih tidak percaya pada Pria berkumis tipis itu.


Tiba-tiba saja aku merasa buku yang kupegang agak bergetar, aku langsung melihat isi buku-ku dan menyiapkan pulpen untuk menjawab permintaannya.


'Lucy... Apa kau ingin bermain?' - Peter.


'Bermain? Tunggu kau ada di sini?'


'Iya, saya ada di sini dan saya bisa menolongmu dalam permainan ini.' - Peter.


'Apa kau yakin? Bukankah itu perbuatan curang?'


'Memangnya kalian tidak boleh curang saat si pemiliknya juga melakukan kecurangan pada kalian.'- Peter.


'Perkataan Peter benar, kalau aku tidak melakukan kecurangan aku akan tetap dibodohi olehnya,’ pikirku.


'Baiklah tolong bantu aku dan teman temanku juga, kalau bisa jatuhkan hadiahnya secara bersamaan agar bisa seri.'


'Baiklah sesuai permintaan anda.' - Peter.


'Entah kenapa aku seperti minta pada jin yang ada di teko yak cuman ini bedanya ada di kertas,' batinku sambil tersenyum miring.


Lalu aku mencoba untuk bermain sekali lagi. Kali ini aku yakin pasti bisa menang. Oh iya aku akhirnya memiliki ide yang cemerlang untuk membuka kedok jahatnya itu.


"Paman, hadiah mana yang memiliki harga yang mahal," tanyaku.


Lalu Si Pria itu menunjuk pada salah satu hadiah yang terbuat dari emas dan berlian sebuah mahkota yang ia beli dari ratu negeri sebelah.


'Ternyata orang ini lumayan kaya tapi pelitnya minta ampun.' pikirku.


"Oke, aku akan mencoba untuk mendapatkan itu," ucapku.


"Haha coba saja Nona, kalau nona mendapatkan itu Nona bisa mengambil semua hadiah yang ada disini," ucap Si Pria berkumis dengan tersenyum kemenangan, benar tersenyumlah sebisa mungkin, namun selepas aku mendapatkannya ia tidak akan tersenyum seperti itu lagi.


"Baik. Paman tidak akan menarik kata-kata itu kan?" "Tentu tidak."


'Cobalah sebisamu kau tidak akan mampu mendapatkannya,' batin Si Pria.

__ADS_1


"Niki, Sarah kalian masih memiliki peluru?"


"Masih kok, mau main bareng?" tanya Niki.


Aku mengangguk sambil tersenyum, kami kembali membidik dan mulai menembak secara bersamaan.


Peter beraksi dibelakang permainan ini, ia memiliki kemampuan menggerakan benda dan bayang-bayang dalam sekejap mata. Bola-bola dan hadiah kini ada dalam kendalinya.


Tak berselang lama Niki dan Sarah menjatuhkan hadiahnya, seperti permintaanku hadiah jatuh bersamaan dan menyebabkan seri.


"Aku dapat," seru Niki dan Sarah secara bersamaan.


"Apa? kenapa bisa hadiah itu jatuh," gumam Si Pria itu yang terkejut dengan kejadian tersebut.


'Apa lemnya sudah tidak lengket?' pikirnya.


Dan sekarang giliranku membidik sebuah mahkota yang mengkilap yang akan membuatnya bertobat atas perbuatannya.


'Door!!'


Bola menjadi slow motion dan menggeser pergerakan untuk mengenai target.


Seperti harapanku bola itu mengenai mahkota yang tergantung dan terjatuh, seketika itu juga Si Pria berkumis melongo lebar.


"Tu-tunggu, bagaimana bisa?" ucapnya yang masih tak percaya.


"Seperti kata paman, aku bisa mengambil semua hadiah yang ada di sini," ucapku.


"Apaan apa ini? Kau melalukan kecurangan apa?" pria itu yang tadinya tersenyum kini ia naik pitam tak terima apa yang ia lihat barusan.


"Aku tidak melakukan kecurangan apapun, paman tadi lihatkan kalau aku menembaknya dengan jujur dan adil, paman sendiri yang menjadi saksi matanya."


"Lagipula Lucy tidak pernah curang sebelumnya," ucap Niki membela.


"Iya itu benar. Lucy itu cerdas permainan seperti ini pasti baginya itu sangat mudah," tambah Sarah.


Si Pria berkumis itu tidak bisa berkutik sama sekali tetapi yang namanya orang sudah naik darah dan terbawa emosi mesti tanpa sadar mengungkapkan apa yang menyebabkan dirinya tidak bisa menerima kejadian tersebut, dan ia mengatakannya dengan sangat-sangat lantang.


"BOHONG! ITU TIDAK MUNGKIN, KAU HARUSNYA TIDAK BISA MENDAPATKANNYA KARENA JELAS JELAS AKU MENGELEM SEMua hadiah...nya."


Perkataannya yang lantang itu menjadi pelan dan kini ia sadar bahwa dia telah mengungkapkan aksi kejahatannya sendiri.


Dan terlebih lagi semua orang yang ada di tempat hiburan tersebut mendengar ungkapan jahatnya. Mereka langsung berbisik-bisik, mencemoohkan serta merekam kejadian itu ke sosial media.


"Tidak, tidak, tidak.. ini tidak seperti yang kalian kira, perkataanku cuman lelucon tadi." ujar si pria berkumis dengan keringat dingin yang sudah membanjiri tubuhnya.


Lalu tiba-tiba saja ada yang memegang pundaknya dengan keras, perlahan si pria berkumis menoleh orang yang memegang pundaknya.


"Ikut kami ke kantor polisi."


Dan permainanpun berakhir. Si Pria berkumis itu di tangkap atas penyalahgunaan permainan. Aku masuk kedalam rak-rak hadiah yang terjajar semuanya tidak bisa kuambil karena masih ada lem yang melekat pada setiap hadiah.


"Wuah dia benar-benar licik memberikan lem pada semua hadiah," ucap Sarah.


"Lucy apa kau yakin akan membawa semua hadiah sebanyak ini? Dan lagipula mereka semua sangat lengket." ujar Niki.


"Tidak, aku akan mengambil boneka ini saja," jawabku sambil tersenyum lembut.


Aku langsung mengambil boneka beruang putih, anehnya boneka ini tidak memiliki bekas lem ataupun sesuatu yang lengket.


"PiiLiiHaaN YAng BAgusS LuCy."


Sontak aku langsung menoleh cepat, tak ada siapapun sekitarku hanya ada sarah dan niki itupun jaraknya sangat jauh. ketika aku menatap bonekanya, ada yang berbisik di telinga kiriku barusan.


'Siapa?' pikirku.


"Lucy!!"


Aku terkejut karena Niki memanggilku dari belakang. "Ayo kita kembali ke bis," lanjutnya.


Aku merenung sambil menatap boneka yang kupegang, aku sadar kami terlalu menghabiskan waktu disini sehingga tidak dapat bermain wahana lainnya.


Niki menghampiriku dengan wajah yang bersalah.


"Aku minta maaf Lucy, gara-gara aku kita tidak bisa bermain ke tempat yang lain, tapi dilain waktu ayo kita datang ke sini lagi."


Dalam sekejap reaksiku menjadi tertarik dan senang mendengarnya. "Nah sekarang ayo kita kembali ke bis," ajak Niki.


"Iya."


"Oh iya kamu tidak mengambil mahkota yang mewah itu, sayang loh kalau dibuang begitu saja?" ucap Niki.


"Aku tidak tertarik pada benda itu, mungkin saja itu adalah benda curian," balasku dengan wajah datar.


"Oh...Baiklah." Niki berlari menyusulku yang sudah maju ke depan.


Tiba-tiba langkahku berhenti dan menyebabkan Niki tertabrak punggungku.


"Aduh...Lucy kenapa kau berhenti tiba-tiba?" tanya Niki sambil meringis


kesakitan.


"Jika kau sangat menginginkan mahkotanya, kau bisa mengambilnya." Lalu Niki dengan suara murung mengatakan,


"Aku tidak bisa mengambilnya, mahkota seperti itu hanya akan merusak kepribadianku saja, lagipula tidak keren aku mengambil sesuatu yang bukan dari hasil usahaku."


"Begitu yak."


"Anak- anak kembali pada bis kalian masing-masing," teriak guru dari kejauhan.


"Baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke tempat selanjutnya," seru Niki.


Aku mengangguk setuju dan kembali melangkah sambil membawa boneka beruang.


'Boneka?'

__ADS_1


....


"Cinta, sahabat, keluarga, mereka tidak dapat ditukarkan dengan uang atau harta. Walaupun kau membeli cinta dan ikatan yang lain tetap saja kasih sayang mereka tidak dapat tergantikan."


__ADS_2