
Perasaan bagaikan teka teki terkadang membuatku kebingungan harus menjawab apa? Merusak tanpa sengaja juga tidak hanya sekedar meminta maaf, tetapi memperbaikinya kembali walau itu membekas.
Kesan pertama yang pahit berlalu dengan kenangan manis. Cerita yang selalu diimpikan bagi sebagian manusia untuk memilikinya. Segala sesuatu akan berubah sikapnya jika sudah mempercayai seseorang.
Siapakah itu? Yaa hubungan, entah itu hubungan keluarga, sahabat, kekasih atau pacar. Itu adalah hubungan yang mengikat suatu perasaan secara utuh. Impian untuk dicintai atau mencintai. Pastinya kamu wajib memiliki suatu hubungan kepada seseorang. Jika tidak ada hubungan aku yakin kamu akan merasa kesepian dan bosan.
Sama sepertiku, seorang gadis yang awalnya kesepian dan bosan tinggal disebuah rumah sederhana yang hampir terlihat seperti kapal pecah. Gadis si jingga alias diriku awalnya didekati beberapa orang orang yang penasaran denganku dan akhirnya berteman.
Tak lama kemudian mereka menghilang dan menjauh. Mungkin hubunganku agak rentan dengan orang orang yang hanya sekedar numpang lewat, tetapi tak lama kemudian datanglah si rambut merah dalam hidupku. Awalnya aku membiarkan dia masuk ke kehidupanku dan aku sempat berpikir mengatakan ‘aah paling juga bakal pergi lagi. Orang-orang seperti itu hanya akan ada sekilas saja.’
Dan satu tahun kemudian dia tak kunjung pergi dariku. Mengapa? Mengapa ini bisa terjadi? Ada apa dengannya?
Pertamanya aku agak frustasi karena ia seringkali menyita dan memarahiku apa yang ingin aku lakukan. Segala yang aku lakukan pasti salah dimatanya. Memang begitulah jika seseorang mengenal diriku. Rasa tekanan emosi Niki tidak akan pernah ada habisnya. Terkadang ia kehabisan kesabaran dalam kemarahannya.
Mungkin kemarahan dan kekhawatirannya adalah cara Niki menunjukkan sebuah kasih sayangnya kepada sahabatnya. Terkadang Niki juga begitu humoris dan murah hati bila aku meminta sesuatu. Kecuali meminta untuk tidak menyita barang barang bunuh diriku itu hehe.
Kembali dalam masa kini, aku menjelaskan arti hubungan ini dikarenakan aku telah merusak suatu hubungan persahabatan seseorang. Menariknya yang satu aku benci dan yang satu bikin aku tertarik. Yang satunya aku agak sungkan untuk bicara karena terlanjur benci dan yang satunya bikin dag dig dug kalau mau bicara dengannya. Bisa di tebak dua orang persahabatan itu adalah Alder dan Gabriel, murid 12-B yang bagiku adalah kelas paling unik dan menarik.
Siapa sangka orang yang aku benci begitu sangat penyayang pada orang tercintanya. Padahal dia terlihat ngambek selepas mengungkapkan bahwa dirinya bersahabat dengan Gabriel.
Soalnya aku ada di rumah dia sekarang. Aku tidak tau kenapa kakiku gerak ke tempat ini lagi. Mungkin rasa bersalahku yang membawaku kesini.
Andai kamu tau, sekarang Alder sedang apa. Yaa dia duduk di depanku dengan senyuman yang bikin aku ingin lari dari rumah ini. Keringat dingin telah bercucuran karena suasananya menjadi canggung saat itu. Aku hanya meneguk teh yang kupegang dengan gemetar. Senyuman ia semakin lebar dan terlihat menyeramkan bagiku, lalu ia berbisik pada pelayan yang di dekatnya.
“Lihatlah calon tunanganku cantik, kan?”
“Iya tuan dia sangat cantik,” balas pelayannya.
Walau mereka berbisik entah kenapa aku bisa mendengarnya dan itu terdengar sangat menyebalkan jika yang bicara itu Alder.
Selepas itu Alder mendekatiku dan menjebakku dengan kedua tangannya yang berpegang pada sofa yang aku duduki, ekspresi nakalnya terlihat di wajahnya. Tatapan tajamku semakin pekat kepadanya.
“Tanpa basa basi lagi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucapku serius. “Coba katakan,” sahutnya.
“Lupakan aku dan kembali bersahabat dengan gabriel. Aku tau aku yang membuat kalian begini. Jadi kembalilah bersahabatan dengannya lagi,” pintaku.
Dengan senyumannya ia menjawab. “Oh memangnya aku peduli.”
‘BRUK’
Aku menonjoknya hingga terpental jauh, lalu pelayan yang berdiri tadi langsung panik melihat alder mengeluarkan darah dari hidungnya. Dengan watadosnya aku bilang.
“Maaf, refleks.”
__ADS_1
“Iya tidak apa-apa, tidak apa-apa,” ucap Alder yang berusaha sabar menahan rasa sakitnya tonjokkan-ku.
***
Setelah beberapa menit Alder berada di ruang lain untuk diobati, akhirnya dia kembali dengan hidungnya yang disumbat tisu.
Yang paling aku sebel cara ia duduk seperti bos yang tidak punya sopan santun.
“Ayo kita kembali dalam topik,” ucapnya seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
“Baiklah, sekali lagi saya meminta anda untuk kembali bersahabat lagi dan maafkan saya karena telah merusak hubungan kalian,” ucapku serius seperti sedang menjalankan sebuah ujian.
Alder menjawab dengan santai. “Aku memaafkanmu, tetapi aku tidak bisa kembali bersahabatan dengannya lagi.”
“Kenapa?”
“Karena takdir.”
“Kayaknya kamu belum puas dengan tinjuku yak?” ucapku dengan ekspresi kelewat serius.
“Tidak.. Jangan lagi... Jawabanku karena sudah takdirnya kami menjadi rival.” “Katakan lebih jelas.”
“Jadi aku dan Gabriel pernah berbicara tentang masa depan dan apa yang harus kami lakukan. Ketika aku ditanyai oleh Gabriel tentang seseorang yang disukai, aku menjawab orang yang kusuka adalah Lucy, lalu Gabriel mengatakan ‘suatu hari nanti aku yakin kita akan menjadi rival.’ awalnya aku terkejut apa yang ia ucapkan. Tetapi pada kenyataannya memang benar. Sekarang kami menjadi rival untuk Lucy,” jelas Alder dengan antusias.
“Aku tidak membicarakan cantik pada wajahmu tetapi auramu.”
“Auraku...?”
Alder mengangguk senang, ia bilang, “auramu itu estetik.”
“Eeh?”
Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan hal itu pada auraku, dia bohong, kan. Tidak mungkin ada seseorang yang menyukai auraku ini. Bahkan Niki suka mengeluh tentang auraku yang suram.
“Soalnya auramu itu penuh dengan misteri, mereka gelap dan aku suka warna hitam jadi itu benar-benar terlihat menakjubkan bagiku.” ujar Alder dengan gerakan yang melebih-lebihkan.
“Yaa kalau begitu, wajahku memang tidak cantik yak.”
Alder langsung panik dan merasa bersalah setelah aku mengatakan itu dan mulai menyangkalnya.
“Tidak! Tidak! Wajahmu tetap cantik seperti biasa, hingga aku tergoda oleh kecantikan double ini.”
“Iyalah,” aku meng-iya-kan saja.
__ADS_1
“Lucy...” panggilnya.
“Hmm.”
“Kau tidak perluh merasa bersalah karena ini bukan salahmu,” ujarnya dengan nada yang melembut.
“Tapi...karena aku, kalian menjadi berpisah, kan?” tanyaku sedih.
“Justru berkat kamu, perpisahan itu membuat kami menjadi pribadi yang dewasa,” seru Alder.
“Benarkah?”
“Iya.. jadi kamu tidak perluh khawatir. Masa depanlah yang akan menjawab apa yang kau nantikan. Semuanya akan baik-baik saja kok. Kami siap untuk menunggu jawaban darimu,” sekilas tatapan Alder berubah menjadi lebih lembut dan ini lebih baik daripada tatapan mesum tadi.
“Baiklah,” sahutku dengan senyuman lembut sambil menatap air teh dalam cangkir yang mewah.
Tiba-tiba saja Alder terkejut dan berjalan mundur beberapa langkah.
Membuatku bertanya tanya.
“Apa aku tidak salah lihat tadi, kau tersenyum tadi.” seru Alder dengan mata berbinar-binar.
‘Tadi itu hanya senyum kelegaan loh, bukannya aku senang sih.’
“Aah.. ini baru pertama kalinya kau melihatku tersenyum yak,” ujarku dengan wajahtersipu.
Alder mengangguk-angguk berkali kali.
Semangatnya langsung berkobar. “Hah! Tadi aku foto saja!”
“Tidak boleh,” larangku.
“Eeeehhh! Kenapa!!”
“Wajahku mahal, tidak boleh, aku pamit pulang yak,” ucapku langsung berdiri meninggalkan rumahnya.
Lalu Alder hanya merengek “laahh cepet amat, tidak tinggal di sini?” dan jawabanku adalah “tidak.”
Kemudian Alder berteriak “Oke. Kali ini aku akan melepaskanmu tetapi suatu hari nanti aku tidak akan membiarkanmu lolos dari sarangku.”
“Terserah,” jawabku tidak peduli dan berjalan menuju rumah.
......
__ADS_1
“Hanya karena kamu terluka bukan berarti itu salahmu.”