
Bel istirahat berbunyi, sedetik kemudian satu kelas merasa lega karena jam Bu Desi berakhir dengan meninggalkan mimpi buruk bagi kelas 12-A.
Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin sambil membaca pesan Niki.
'Lucy, maaf...aku tak bisa ke kantin. Aku masih ada urusan dengan guru matematika.'
'Jangan lupa makan, karena aku tidak mau tanggung jawab jika kamu sakit.'
'Ok.'
Langsung saja aku kantungi handphone ku dan melanjutkan perjalanan pergi ke dunia makanan. Aku harus fokus mulai sekarang. terkadang setiap detik pikiranku melayang dari kepalaku. Aku harus menghilangkan kebiasaan buruk ku ini.
Nampak seperti biasa semua bangku terisi, apa aku pergi ke atap lagi, disana tempat paling nyaman. Mungkin aku ke sana saja.
"Haaiii Lucy..."
Aku terkejut ketika seseorang menepuk punggungku tiba-tiba. Aku menengok kesal pada orang itu.
"Ada ap-- Aah Gabriel."
Aku tak menyangka Gabriel muncul dari balik tubuhku, karena di kantin begitu ramai aku tak menyadari kehadirannya yang begitu mencolok.
"Kau pasti bingung mau duduk dimana!" seru Gabriel. "Aku tadi mau pergi ke atap."
"Jangan. Disana anginnya kencang nanti kamu masuk angin. Kamu ikut aku saja."
"Baiklah."
Gabriel mengajakku mencari tempat duduk. Saking ramainya tempat duduk di kantin begitu penuh, tapi... Ada satu meja panjang yang begitu terbelangka. Di pojok dan paling belakang. Penuh berbagai coretan aneh, rasanya semua orang yang sedang mencari tempat duduk juga menghindar dari meja itu.
"Di sana kosong, ayoo!"
Gabriel tidak merasakan hawa aneh dari meja itu? dengan percaya diri dia duduk disana dengan riangnya.
"Semua orang melihat kita loh? Apa tidak masalah duduk disini?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak ada tempat lain. Jadi tidak apa apa kita duduk disini. Tak ada yang melarang kok," jawabnya tak peduli.
Aku pun ikut duduk di samping Gabriel dan fokus untuk makan siang.
"Lucy... sayang."
Suara yang menjengkelkan akhirnya terdengar kembali. Tindakan ku sekarang adalah mengabaikannya.
"Kejam sekali. Kau kabur dari rumahku. Kenapa kau duduk dengannya?
Kenapa tidak denganku?"
Dengan sikap dingin aku menjawab, "siapapun yang telah diculik oleh orang mesum tidak akan kembali pada orang itu lagi. Jadi jangan berharap aku menganggapmu ada di hidupku lagi."
"Kejamnya...” sikap lebay Alder berubah menjadi badass. Ia-pun melonggarkan dasinya sambil berkata, "aku tak akan melepaskanmu begitu saja, cintaku."
Aku langsung tak peduli dengan perkataannya, hanya melanjutkan makan siang seolah hanya angin yang sedang lewat.
"Jahat sekali kau mengabaikanku, baiklah aku duduk di sampingmu yakk."
"Sempit bodoh!!" Si Gabriel langsung ngamuk. Aku langsung mukul kepalanya suruh menyingkir tapi dia tidak pergi. Malah nambah nempel.
“Tidak aah~ aku lebih suka di dekat Lucy.” keluh Alder beralasan.
Tiba-tiba Gabriel merangkulku erat, membuat hatiku meledak-ledak tidak karuan. Tak lama kemudian Alder mengeluarkan tatapan seperti mengatakan ‘apa yang kau lakukan?’ lalu Gabriel membalas tatapan Alder dengan bersinar-sinar ‘dia sekarang adalah milikku.’
Apa barusan mereka melakukan telepati melalui tatapan?
“Hei kau tidak tau yak?” ujar Gabriel dengan senyum lembut walau tak menyakinkan.
“Apa?” tanya Alder dengan tatapan tajam. “Dia itu pacarku.”
(....)
Sudah kuduga dunia sedang tidak beres, hari ini aku tampak dijadikan bahan perhatian dari biasanya.
__ADS_1
“Kamu mau aku bunuh yak,” ujar Alder dengan senyum menyindir.
“Pergi sana orang mesum.” senyuman Gabriel semakin seram daripada yang
tadi.
Nampak terlihat banyak orang berbisik-bisik tentang kami, di banding meja kosong yang memiliki sejarah yang tak kuketahui, lebih menghebohkan adalah perebutan seorang gadis aneh yang tak disukai oleh kelasnya sendiri.
“Kalian berdua berhenti bertengkar!”
Satu lagi yang bikin aku muak adalah pertengakaran ini menarik perhatian ketua OSIS bernama Karin, ketua yang begitu tegas dan berwibawa serta semena-mena memerintah tanpa memikirkan perasaan orang.
“Kalian ikut aku ke ruang OSIS.”
‘Sial, aku belum menghabiskan makan siangku,' batinku miris.
Kami bertiga masuk ke dalam ruang OSIS yang terlihat rapih dan elegan. Disana ada wakil ketua OSIS bernama Snowy, Sekretaris bernama Fanny, Bendahara bernama Tony.
‘Dia gadis yang kutabrak tadi, kan? Aku lupa kalau dia wakil ketua OSIS,’ batinku.
“Kalian tidak tau peraturan disini yak, DILARANG MEMBUAT KEHEBOHAN! Dengarkan aku baik baik...bla...bla...bla.”
‘Berisiknya.’
Aku nyaris ingin menutup telingaku. pertama kali aku melihatnya, dia itu terlihat pemalu dan tak banyak bicara. aku pikir dia adalah putri cantik yang keluar dari cerita dongeng, karena dari perilakunya yang begitu anggun dan manis. Tapi dia sudah berubah ketika diangkat menjadi ketua OSIS saat kelas sebelas.
Sikapnya benar benar berubah drastis, dia nampak agresif dan ganas. Lebih banyak emosi negatif yang ia keluarkan semenjak jadi ketua OSIS. Bahkan ia paling ditakutkan satu sekolah, jika ada yang menetang perintahnya pasti ada hukuman yang menanti di depan. Awalnya aku kira itu bermula dari stress tetapi sepertinya itu lebih dari kata stress.
Aku tidak tau apa yang ia rasakan, yaa intinya aku tidak harus campur tangan dalam urusannya. Biarkan ia belajar dari apa yang ia alami. Karena itu adalah bagian dari pelajaran dalam bertahan hidup.
‘Kapan selesai nya sih.’ pikirku mulai jengkel.
Kami bertiga diceramahi panjang lebar untuk tak melakukan kehebohan lagi esoknya dan seterusnya. Hari yang melelahkan, apa dengan ini aku bisa kembali tidur?
.....
__ADS_1
“Jika kau stress dan merasa sudah melakukan kerja keras, maka kau berhak beristirahat untuk sementara waktu dan melanjutkannya kembali.”