
Sesampainya dirumah, kami menunggu Niki di teras sembari menikmati beberapa cemilan dari dapur dan memakannya bersama.
Tak ada satupun dari kami yang berbicara. Aneh, biasanya dia paling berisik hingga tak ada celah untuk seseorang bicara menyela ucapannya. Karena khawatir aku mulai mempertanyakannya.
"Ada apa? Kok diam? Tidak seperti biasanya?"
Wajahnya murung, tak ada perasaan senang sama sekali dihatinya. Apa yang membuatnya berubah seperti ini? Apakah dia memiliki masalah?
"Jika kau punya masalah, kau bisa berbagi masalahmu denganku," tawarku sambil melanjutkan makan cemilan.
"Aku... Kesepian."
Aku mengedipkan mata berkali-kali dengan kripik yang masih ada dimulutku. Kak Alvin tak pernah merasakan kesepian selama sisa hidupnya. Ia hidup dengan kecukupan, ia juga sanggup membeli barang yang ia sukai walau semahal apapun itu. Orang tuanya tak akan pernah membuatnya sedih atau kesepian, keinginannya pasti akan selalu dipenuhi apapun itu.
Tapi apa yang membuatnya kesepian?
"Apa yang terjadi?" aku memandang wajahnya, pikiranku begitu haus dengan jawaban dari pertanyaan yang terus berputar dalamkepalaku.
"Semenjak lulus dari sekolah, rasanya teman dekatku selalu sibuk pada pekerjaan yang ia dapatkan. Ia meneruskan perusahaan ayahnya, hingga tidak ada waktu untukku," keluh Kak Alvin.
"Begitu yak."
"Dan parahnya ia memblokir nomorku, karena aku mengganggunya bekerja. Padahal aku hanya kesepian," Sedih Kak Alvin.
"Jadi itu yang membuat Kak Alvin kesepian," gumamku.
"Rasanya hatiku kosong karena ia semakin jauh dariku," Kak Alvin memeras baju bagian dadanya, sepertinya ia merasakan sakit hati yang mendalam.
"Kalau begitu, kak Alvin juga bekerja seperti dia saja," ujarku.
"APA KAU GILA!"
__ADS_1
"Kak Alvin tak perluh berteriak seperti itu. Mohon kasihanilah telingaku." ucapku yang sempat menutup kedua telingaku.
"Habisnya~"
Ia mengembungkan pipinya karena kesal. Aku tersenyum miring melihat tingkahnya yang kekanak kanakan.
"Hei kalian berdua!!"
Akhirnya Niki datang dengan membawa cemilan yang lainnya.
"Pantas saja lama. Ternyata kau beli cemilan," ucapku sambil mengemut permen di mulutku.
"ASIK CEMILAN!!" girang Kak Alvin.
"Makannya didalam yuk bentar lagi kayaknya mau hujan deh," ujar Niki yang melihat langit-langit yang mulai mendung.
"Ya sudah ayo..."
"Aku dapat kabar dari temanku yang satu klub denganmu," ujar Niki sambil memainkan handphonenya.
"Kabar apa?" tanyaku penasaran.
"Memangnya apa benar kalau kau sudah membabak belur Master Kendrik?" Aku mengerutkan keningku tak percaya apa yang dikatakan Niki.
"Apa!?"
"Itu tidak mungkin. Seburuk buruknya Lucy, aku tidak pernah melihat Lucy melukai seseorang, apalagi jika itu adalah Master klubnya," ujar Kak Alvin menangkas gosip itu, Niki-pun mengangguk setuju.
"Tapi... Masalahnya ini sedang trending, seolah-olah kau bikin rekaman live di mana kau sedang merencanakan hal tersebut Lucy," ucap Niki yang memperlihatkan rekaman live dengan komentar penuh hujatan kepadaku.
Aku merasa resah akan hal ini. Aku hanya berniat menolong Master saja. Kenapa semua orang begitu sensitif dengan gosip hoax ini. Mereka terlalu cepat berburuk sangka sebelum mengetahui kebenarannya lebih jelas.
__ADS_1
"Lucy, jangan dengarkan orang lain, mereka hanya iri karena kau dapat menolong orang terkenal itu," ucap Kak Alvin sambil mengunyah kripik dengan duduk yang bisa dibilang sangat santai.
"Benar, jangan pedulikan kata-kata mereka, yang terpenting Master selamat dan bisa memberitahu kebenaran yang akan membuat mereka menunduk minta maaf kepadamu," tambah Niki.
Aku merenung dan tak melanjutkan makan cemilannya lagi, ini semua membuat hatiku jadi badmood. Tapi dari kejadian ini aku bisa menyimpulkan bahwa semua ini memang sudah direncanakan.
"Aku pikir hujatan ini termasuk rencana Lina," ucapku mengeluarkan kata- kata yang ada di pikiranku.
"Iya kau benar! Mungkin saja ia ingin balas dendam padamu." Niki pun juga berpikiran sama denganku.
"Pasalnya dia tidak akan berani menusukku tanpa persiapan yang matang, pasti ia telah merencanakannya duluan sebelum menusukku dengan pisau kecil yang menyebalkan," ujarku, kejadian yang kualami semakin masuk akal, jika dihubungkan oleh rencana balas dendam.
"Kita hanya menunggu Master sembuh? Kenapa kau tidak mengirimkan pesan padanya, aku yakin saat ia istirahat pasti handphone yang tak jauh darinya akan ia otak atik untuk dimainkan," ucap Kak Alvin memberikan saran.
"Baiklah akan kucoba."
Aku mencoba untuk mengirim pesan padanya, tetapi tiba-tiba saja Master menelepon duluan sebelum aku selesai mengetiknya.
"Ada panggilan dari Master."
"Rekam dan angkat."
"Baik."
Aku-pun mengangkat teleponnya, suaranya berbeda dari biasanya Master ucapkan. Suaranya berbeda dan tak terdengar seperti gayanya Master. Ini membuatku semakin merinding ketika ia mengucapkan kalimat per-kalimat.
'Anda akan kehilangan orang yang berharga dari si pemilik nomor ini, jika anda ingin menyelamatkan nyawanya. Serahkan diri anda ke polisi untuk mengakui kalau anda adalah pelakunya.'
....
"Kuncup bunga tak akan kunjung mekar bila tak dikasih air dan cahaya layaknya kehidupan manusia."
__ADS_1