
“Tinggalah bersamaku Lucy...”
***
“Lucy tidak masuk sekolah lagi?”
“Apa dia bolos?”
“Gadis aneh itu tidak pantas berada di sekolah elite ini, dia itu hanya menghamburkan uang saja.”
“Hahaha, kau benar. Aku juga agak takut dengannya, bukankah lebih baik menjauh daripada berurusan denganya.”
“Dia itu tidak level dengan kita, aku ingin sekali menjatuhkannya dari sekolah ini.”
“Kau benar, gadis itu pantas untuk mati.”
Semua bisikan itu, sangat menganggu di pikiranku. Rasanya aku tidak ingin kembali lagi ke kehidupan nyata, di sana menyakitkan, mereka tidak akan pernah menganggapku ada di muka bumi.
Aku tidak mau menderita lagi, aku tidak mau merasakan kesepian lagi, aku tidak ingin diejek lagi dan aku tidak ingin hidup lagi.
Pikiranku kosong dilahap oleh aura kegelapan, tak ada cahaya lagi dimataku yang berkilauan. Pergilah parasit bumi. Aku tidak akan kembali lagi kesana. Tidak akan!!
Seseorang menutup kedua mataku dan membiarkan aku bersandar dalam pelukannya. Rayuan mematikan itu telah membuat pendengaranku mati rasa.
“Benar Lucy, kau tidak akan kembali ke dunia yang menyakitkan itu lagi.” Bagaimana aku sekarang? Apakah aku terlihat menyedihkan di mata manusia.
Noah, terkadang kau benar, aku butuh istirahat sejenak untuk rutinitas yang merepotkan itu. Tapi sepertinya aku terlalu lelah untuk bangkit dari tidurku.
Aku kadang khawatir dengan niki yang harus kehilanganku. Apa tidak apa-apa membuatnya menangis, seharusnya aku tidak memperdulikan apapun lagi tentang siapapun.
“Ayo kita lanjutkan permainan ini,” Noah nampak bersemangat setelah ini.
Tetapi sayangnya pemandangannya tidak berubah menjadi ceria lagi.
Kerajaan ini nampak terlihat seperti kastil raja iblis. Semuanya berubah menjadi monster. Bukankah ini seram, tidak? Tentu saja Lebih seram melihat wajah mereka yang membenciku diriku.
Pemandangan yang tidak biasa, Membuat segalanya menjadi kejam dan jahat.
Aku berubah menjadi seorang ratu alien.
“Kenapa ada antena dikepalamu?” tanya Noah dengan tatapan bingung.
“Aku ini ratu Alien yang akan menghacurkan manusia jahat di muka bumi,” ucapku dengan bangga diri.
“Bukankah kita harus kelihatan serasi?” Bujuk Noah yang berubah menjadi raja iblis.
Dengan tatapan sadis aku-pun menjawab, “Membosankan.”
‘Jleb’
Noah tiba-tiba diam kaku di tempat, wajahnya berubah pucat sambil tersenyum.
“Kenapa?”
“Tidak apa apa,” jawabnya dengan senyum miris.
“Jadi kita akan bermain apa?”
“Bagaimana kalau kita adakan pesta teh?” seru Noah dengan senang.
‘PLAK’
Aku pun langsung mencambuknya dan ia meringis kesakitan. “Membosankan.”
“KENAPA KAU TERUS MENGATAKAN BOSAN!!”
“Aku punya sesuatu yang menarik,” ucapku setelah mendapatkan ide.
Aku mengajaknya ke sebuah bukit, di sana ada restoran mewah dengan penghuninya yang begitu kaya dan pelit memberikan harta pada fakir miskin.
“Lihat ini.”
Aku pun langsung melempar sebuah bola berwarna putih mengarah pada restoran mewah tersebut. Dan hasilnya...
‘DUAAARRRR’
Ledakan besar menghacurkan seluruh restoran beserta isinya. Noah yang menyaksikan hal tersebut merinding di tempat.
Aku-pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
“Bukankah ini terlalu kejam, Lucy?” ujar Noah yang agak ketakutan.
“Oh iya tolong temukan korban yang ada didalam restoran tadi, jika ada yang masih bernafas tolong bakar mereka hidup-hidup,” suruhku tanpa melihat mata Noah yang sudah panik tidak ketolong.
“Kau serius? Mereka hancur loh...”
“Ledakannya terlalu ringan, pasti ada yang selamat,” ujarku tak peduli.
Noah akhirnya menurutiku dan pergi ke tempat itu bersama pasukan lainnya.
Setelah misinya selesai, Noah kembali dengan badan yang lemas.
“Aku tak mau melihat orang-orang itu lagi,” rengek Noah sambil berbaring dikasur.
“Kau benar, kita lanjut ke tempat berikutnya.”
Aku langsung menyeret noah jalan jalan ke luar lagi. Awalnya ia menolak karena telah melihat hal yang menjijikan. Tetapi aku membujuknya kalau ini lebih mengasyikkan daripada ledakan ringan tersebut.
“Lihatlah sekitarmu,” seruku.
Noah melihat orang-orang berjualan dengan raut wajah senang, itu benar, kami sekarang berada di pasar, toko-toko berjajar disepanjang jalan seperti sebuah festival. Disana banyak penjual dan pembeli yang datang, membuat semuanya tambah semangat dan bergairah.
“Apakah kita akan membeli beberapa kue dan buah?” ucap Noah dengan mata berbinar.
“Aaahh~ tidak,” jawabku.
“Eh? Terus kita ngapain disini kalau tidak berbelanja?” tanya Noah yang memasang ekspresi bingung.
“Lihatlah pasar ini dengan sesamak. Udaranya benar-benar busuk disini,” ucapku dengan tatapan seram.
Noah melihat seorang penjual dan pembeli bertransaksi seperti biasa. Dia tak menemukan hal janggal dari kegiatan jual beli tersebut.
“Aku tidak menemukan hal aneh,” jawab Noah dengan polosnya.
Tanpa pikir panjang aku menembakkan bola api besar pada toko- toko tersebut hingga menyebabkan kebakaran besar di pasar itu, tentunya aku tak lupa membakar semua orang yang ada di sana hingga mereka menjadi abu.
Noah hanya melihat aksiku dengan tubuh yang gemetar dan ketakutan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Mulutnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Kemudian ia terpuruk di tanah melihat apa yang terbakar di hadapannya.
Mungkin ‘Kejam’ adalah kata yang tepat di benaknya. Aku sudah lama ingin melakukan ini untuk melampiaskan segalanya dan memberi pelajaran pada orang- orang yang curang.
“Di pasar ini semuanya adalah tipuan, tidak ada orang yang jujur disini. Mereka curang dalam berjualan maupun membeli, menggunakan barang dan uang palsu adalah hal biasa yang dilakukan di pasar busuk ini. Aku sudah lama menantikan semuanya, Maka dari itu.... Bukankah kita harus menyingkirkan parasit itu dari mimpiku?” Jelasku sambil menurunkan pistolku.
Kemudian aku melihat sebuah sebuket bunga yang belum hangus terbakar, aku-pun mengambilnya dan tersenyum sadis oleh nafsu haus darahku.
Mata pupil Noah mengecil, mulutnya bergetar dan segalanya membeku di tempat.
“Lucy...”
Itu karena Noah merasakannya juga, bahwa patung tanpa wajah itu akhirnya berseri, persis seperti ekspresiku sekarang, tersenyum sadis dengan wajah yang ternodai oleh darah sembari memegang sebuket bunga.
“Aku ingin melakukan ini lagi selamanya,” seruku bersemangat.
“Dia... Bukanlah Lucy yang kukenal.”
***
Setelah kebakaran itu usai, Noah mengurung diri di kamar. Tak terima dengan apa yang ia alami saat ini, aku hanya menghela nafas dan bergumam “sudahlah tak perluh dipikirkan sih. Bukankah aku begini karenamu?”
Di depan pintu kamarnya, aku berdiri bersandar pada pintu coklat tua. Aku hanya melirik pelayan yang tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk kami. Aku menghentakkan kaki bahwa aku masih menunggu dia untuk keluar dari kamarnya.
Tanpa sadar aku bernyanyi ria karena bosan. Seharusnya aku menghapus bosan ini sebelum terciptanya seseorang seperti Noah.
Terkadang pikiran cemasku melanda lagi yang kupikirkan adalah Niki dan lainnya, aku ini aneh. Makanya aku dibenci, tadi itu bukan rasa kebahagiannku, tapi rasa puas dari haus darahku. Ternyata aku bisa begini juga yak.
Aku terlamun cukup lama hingga pintu yang kusandar terbuka dan membuatku hampir terjungkal ke belakang, dengan sigap Noah langsung menahan jatuhnya diriku.
“Terima kasih,” ucapku yang langsung menjauh dari Noah beberapa langkah.
“Cepat ikut aku.”
Noah menarik pergelangan tanganku. Jalannya tergesa gesa dan membuatku harus berjalan sesuai ritmenya. Kami berhenti di tempat awal, dimana kita berada disebuah ladang bunga dan empat patung.
“Kenapa kita kembali kesini?” Tanyaku curiga.
“Ternyata rasa kesepian juga butuh sendirian sekarang haha, aku butuh istirahat agak panjang setelah melihat apa yang kau lakukan,” ucapnya dengan tawa yang membuatku tambah curiga.
“Apa maksudmu? Bukankah aku akan ada disini selamanya bersamamu?” Tiba-tiba Noah bersujud di hadapanku dan memohon dengan keras.
“Lucy, aku mohon kembalilah seperti dulu lagi!! kembalilah ke duniamu lagi!!”
__ADS_1
“HAH!!?”
Apa yang ia katakan? Aku sudah siap untuk tinggal disini dan ia memintaku untuk kembali. Dia pasti bercandakan.
“Oh!?”
Aku baru menyadari sesuatu, patung tanpa wajah itu telah menunjukkan wajah aslinya dan itu adalah wajahku. Jadi itu ekspresiku yang baru. Tidak terlihat membosankan sih, hehe.
“Kau sudah melihatnya, kan? Kau sudah puaskan dengan dunia ini? Jadi kembalilah ke asalmu, kau bisa kesini lagi nanti.” Noah terus memohon kepadaku.
“Bukakah kau memintaku untuk menemanimu selamanya?” tanyaku
berkacak pinggang.
“Aku sungguh minta maaf, aku akan menarik ucapanku sekarang dan menghilangkan siklus kegelapanmu,” ucapnya dengan penuh sesal.
“Tapi kan... Aku tidak ingin kembali lagi ke sana.”
Noah memegang kepalaku sambil menghilangkan bisikan-bisikan orang yang menyesatkan.
“Sudah sudah, tidak ada yang membencimu di dunia nyata, kamu terlihat baik di mata orang yang tepat,” ucap Noah tersenyum canggung.
“Entahlah, tapi seperti yang aku katakan-- Aaaaaa.”
Noah tiba-tiba saja mendorong tubuhku ke belakang, lalu ada sebuah sengatan listrik disekitarku dan akupun sadar kalau aku terjatuh kedalam lubang hitam.
“Sampai jumpa, maaf yak tapi terima kasih,” itulah kata-kata terakhir Noah yang ingin sekali aku robek mulutnya.
***
Beberapa saat mataku terbuka lebar. Aku terbangun dengan perasaan sangat kesal dari biasanya. Terkadang aku membanting alarmku setiap pagi, tetapi aku sadar bahwa tak ada alarm di mejaku, tetapi sebuah obat-obatan dan alat infus yang terpasang di lenganku.
‘Apa aku ada dirumah sakit lagi?’
Seseorang memakai pakaian yang terasa familiar masuk dengan membawa nampan di tangannya. Ia terbelalak kaget melihatku sudah duduk menatapnya.
Mulutnya membulat, ia hampir tak menyangka apa yang ada didepannya saat ini, antara ia ingin menjatuhkan makanan atau berlari sambil menjatuhkannya.
Dirinya kembali berpikir dengan panik. Karena ia pikir akan mubazir dan sudah capek capek membawa nampan sejauh ini. Akhirnya ia berjalan pelan dan menaruh nampan itu di meja lalu memelukku dengan erat.
“Haaa Lucy~ kau membuatku terus khawatir setengah mati. Aku kira kau menjadi mayat hidup saat bangun.”
Aku menahan sabar untuk menamparnya, tetapi ia sedang serius sedih saat ini.
“Maafkan aku niki, aku begitu egois.”
“Maksudmu?” tiba-tiba saja Niki melepas pelukan dan menatapku penasaran.
“Ma-maksudku, aku begitu pusing jadi bicaraku melantur kemana-mana,” ucapku beralasan. Alasannya tidak masuk akal lagi.
“Kamu kira kamu tidur berapa lama!?” entah kenapa pertanyaan Niki menjadi meninggi.
“15 jam?”
“2 hari.”
“WHAT!!”
“Aku panggil dokter dulu yak, kamu makan dulu sambil nunggu,” lalu ia buru-buru pergi mencari dokter di luar ruangan.
Dalam hatiku yang mulai membatin ‘hah? Serius, 2 hari, kok tidak kerasa sampai 2 hari yak.’ tidak terasa mimpi yang begitu cepat bisa menghabiskan waktu berjam-jam bahkan lebih. Wahh mungkin kata ‘syok’ sedang aku rasakan saat ini.
***
Setelah pemeriksaan lebih lanjut dan tak ada masalah dalam diriku, akhirnya aku di perbolehkan pulang. Niki menyuruhku istirahat dulu di rumah, tapi aku merasa sudah 2 hari beristirahat, lebih baik aku menjalankan rutinitas sehari hariku daripada badanku nanti sakit-sakitan karena tak banyak gerak.
Next, malam pun kembali datang, aku makan malam sendirian di rumah. Niki ada acara keluarga dirumahnya, jadi tak bisa menemaniku makan malam bersama.
Pukul 23:00
Aku tidak bisa tidur ataupun menguap sedikitpun. Besok harus sekolah, jadi aku harus cepat-cepat tidur sekarang. Apakah aku mengidap insomnia? Bukankah itu sangat gawat bagiku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku telah mencoba segala macam untuk bisa tertidur, dimulai dari lagu tidur, minum susu, baca buku matematika, dan lain sebagainya.
Aku pun hanya berbaring pasrah sambil mengechat Niki.
Lucy : "Niki aku tidak bisa tidur :("
Niki : "Aku bisa, selamat malam."
‘Teman laknat.’
__ADS_1
.....
"Mimpi itu indah tapi jangan lupa dengan realita."