MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Serpihan


__ADS_3

Aku keluar dari ruang OSIS dengan wajah lesuh, bayangkan diceramahi lebih lama dari ceramah Niki, aku kapok untuk masuk dan bertemu dengannya lagi. Aku berniat melarikan diri ketika mereka berdua memanggil namaku, tetapi dikarenakan kepalaku spontan menoleh akhirnya gagal-lah niat melarikan diri dari kedua pemuda tersebut.


“Apa?”


“Aku minta maaf,” ucap mereka bersamaan, setelah itu menatap kesal satu sama lain.


“Sungguh?” nah kan kompak lagi mereka bicaranya.


“Kalian saudara terpisahkan yak?” tanyaku keheranan.


“BUKAN!” kompaklah mereka membantah pertanyaanku. Aku hanya menahan tawaku karena tingkah mereka lucu untuk diusili.


“Tapi--”


Gabriel hampir mengatakan sebuah kata kata yang membuat diriku mati penasaran kemudian ia memotongnya sendiri karena ia keceplosan. Lalu aku digantungkan oleh kata katanya. Karena aku tak ingin kehilangan pengetahuan tentang sosok berambut putih itu, akhirnya aku bertanya yang membuat dirinya buka mulut tentang bicaranya yang belum selesai.


“Tapi apa?” tanyaku dengan tatapan polos.


“Ta-tapi...dia... bukan...saudaraku!”


“Bohong!” tegasku. Jelas sekali itu hanyalah alasan untuk melabuhiku. Gabriel terkejut ketika aku menegaskan, dia hanya mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


“Tapi apa?” tanyaku sekali lagi, pokoknya berkali kali aku akan bertanya sampai aku mendapatkan jawaban yang pasti. Aku lelah digantungkan terus menerus.


Gabriel seperti menahan rasa malunya, ia masih belum siap mengatakan jawaban yang membuatku terus menunggu. Kakiku mulai nyeri untuk berdiri lebih lama lagi. Akhirnya ia mencoba untuk membuka mulut dengan hati yang berani. Apakah segitu beratnya untuk mengungkapkan kata kata itu?


“Tapi dia...DIA...”


“Dia adalah sahabatku.”


Rasanya angin lewat begitu saja, membuatku terkejut lebih lama ditempat, Alder menyela dan mengatakan sebuah kebenaran hingga diriku merasa bersalah. Dia cuman berjalan melewatiku selepas mengatakan hal tersebut, dengan kata lain Gabriel dan Alder....Oh tidak, ini membuatku semakin bersalah. Rasanya hatiku tertusuk hingga berdarah dan terciptalah sebuah kepanikan didalam pikiranku.


Aku hampir tak berani memandang Gabriel, tetapi reaksinya berbeda dari yang kubayangkan. Pipinya merona kemerahan, rasa malu terlihat dari sikapnya saat ini. Yang hanya dilakukan saat ini adalah menyembunyikan wajah malunya dariku. Aku ingin menarik bajunya untuk menghadap diriku, entah kenapa aku tak sanggup untuk melakukannya.


“Jangan menangis.... Kamu tidaklah bersalah,” ujar Gabriel sembari menyekat air mataku yang bercucuran dengan kedua tangannya.


“Tapi aku tidak terima, aku yang membuat kalian begini, aku yang membuat kalian berpisah? Aku ini perusak. Merusak hubungan persahabatan kalian, aku... Hiks... Aku minta maaf... Maafkan aku, seharusnya aku menghilang saja dari dunia ini, agar kalian bisa bersama lagi. TOLONG HAPUSKAN AKU!”


“Tidak!”


Mataku terbelalak, bahkan rasa sakit ini semakin memburuk. Merasa bersalah karena terlahir ke dunia ini disebabkan aku telah merusak suatu persahabatan diantara orang-orang itu. Aku pantas mendapatkan sebuah hukuman, Aku pantas untuk merasakan sebuah karma. Apapun itu tolong hilangkan aku dari ingatan kalian. Kumohon...


“Justru aku sangat bersyukur takdir mempertemukan kita.” sambung Gabriel.

__ADS_1


“Hah!”


Aku tak menyangka, aku begitu egois, aku sangat keras kepala dan egois. Aku selalu salah dalam bertindak bahkan memutuskan sebuah rencana. Kapan kelopak bunga terbang di momen ini? kapan kilauan air mata ini berhenti untuk menetes? Kapan aku bisa tegar menerima rasa sakit ini. Aku kalah, aku kalah dari Niki. Itu sebabnya aku benci pada diriku yang tidak bisa untuk bertahan lebih lama lagi. Aku terlahir untuk menjadi kuat bukan lemah. Aku harus menembus kesalahan ini secepat mungkin. Aku pasti bisa mempersatukan mereka lagi.


“Sudah cukup kan dramanya?”


Kami terkejut kikuk sambil memandang gadis yang berdiri diantara kami. Rambut pendek hitam melekung adalah pelaku penyebaran serpihan bunga-bunga. Lebih parahnya dia adalah wakil ketua OSIS.


Mata sanyunya menatap kami berdua, dengan suara yang lembut nan kecil ia berkata.


“Kalian membuat kehebohan lagi, kalian tidak kapok yak untuk di ceramahin la--”


“MAAFKAN KAMI!!” Gabriel menarik tanganku dan berlari cepat dari tempat tersebut. Snowy hanya mengedipkan mata berkali-kali kemudian tersenyum kecil.


“Masa muda itu memang enak yak.” gumam Snowy.


“Bukannya kau juga muda.” celetuk bendahara OSIS bernama Tony.


.....


“Bertemu untuk kenangan, berpisah untuk mengenang.”

__ADS_1


__ADS_2