
Saat aku berada di rumah Alder waktu itu. Alder pernah bercerita sedikit tentang pertemuannya dengan Gabriel. Pertemuan itu adalah kenangan berharga bagi mereka tersendiri walaupun saat ini mereka berdua menjadi rival.
Jadi ketika upacara masuk sekolah, Alder yang begitu tak mengenal siapapun dikelas hanya menapung wajahnya sambil melihat jendela luar. Kepingan bunga mawar yang berada diluar terasa tertarik masuk kedalam ruang kelas untuk menjadi taburan indah bersama cahaya yang masuk.
Sebagian murid lainnya membicarakan mata kanannya yang ditutupi bunga mawar. Mereka yakin itu hanya penutup mata, karena tersambung dengan kacamatanya. Semakin hari mereka mengejek Alder bahwa mata kananya memiliki sihir yang tersegel atau ada yang menyebut dia vampire karena mata yang merah bagaikan permata ruby serta wajah yang pucat.
Tetapi nampaknya Alder tidak terguncang dengan ejekan murahan itu. Sampai suatu saat pembullyan secara fisik ataupun mental diperlakukan oleh kakak kelasnya. Karena dianggap belagu pada mata kanannya yang mereka kira dibuat gaya saja.
“Heii bocah culun, jangan sok belagu deh pakai penutup mata kayak gitu. Sok keren kau,” ucap kakak kelasnya yang berada di kelas 11-A dan bersama kakak kelas tingkat 12-B serta kelas 11-B.
Tiga orang itu mulai menganggu kesabaran Alder. Mereka memperlakukan Alder seperti sampah dan kotoran yang harus dibuang.
“Bawa dia ke toilet,” suruh anak kelas 12-B.
“Baik Bos!”
Alder ditarik dan dipaksa untuk masuk kedalam kamar toilet pria bersama tiga pemuda nakal itu. Mereka memaksa Alder untuk memasukkan wajahnya kedalam kloset selama 1 menit.
Saat pemuda 11-B mengangkat kepala Alder, dia bilang.
“Loh kok masih hidup.”
“Selanjutnya apalagi bos?”
__ADS_1
Anak kelas 12-B mengambil sebuah alat pel. Dan menusuk perut Alder bertubi tubi menggunakan ujung gagang alat pel.
“Rasakan ini!! hahaha!”
Alder yang menahan rasa sakit hanya menerimanya dengan pasrah tanpa melawan. Lalu kedua anggota lainnya juga mengambil alat kebersihan di ujung ruangan dan ikut turut memukul Alder. Beberapa menit kemudian seorang guru olahraga masuk ke toilet dan terkejut melihat ketiga bocah pembully itu tertangkap basah ketika sedang berperilaku kasar pada adik kelasnya.
Kemudian ketiga murid tersebut dibawa ke kantor guru untuk membicarakannya lebih lanjut. Guru olahraga itu juga sempat meminta tolong Gabriel menangani teman sekelasnya untuk dibawa ke UKS.
Saat Alder sedang istirahat di UKS, Gabriel-lah yang menemani Alder. Tetapi Alder nampak tidak peduli dengan kehadiran Gabriel dan malah sibuk melihat gadis yang bernama Lucy lewat jendela.
“Kamu sedang melihat apa?” tanya Gabriel yang berusaha untuk penasaran.
“Jangan ikut melihat. Nanti kamu akan ikut tertarik padanya,” sahut Alder tanpa memadang Gabriel dan terus melihat diriku bertindak.
“Sudah kubilang jangan lihat!” kesal Alder.
“Ooh gadis itu yak, bukankah dia murid kelas 10-A?” ujar Gabriel.
“Aku tau. Tidak perluh ikut campur,” ucap Alder.
“Kau menyukainya?” tanya Gabriel.
“Tentu saja. Karena dia gadis yang sangat unik bagiku.”
__ADS_1
“Benarkah? Tetapi bagiku dia tampak sedang kesepian sekarang.” ujar Gabriel.
“Dia selalu seperti itu. Maka dari itu aku ingin membuatnya tersenyum,” ucap Alder yang sekarang menggunakan binokular.
“Kau sekarang nampak sehat selepas melihat gadis itu. Kalau begitu ayo kita kembali ke kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi.” ujar Gabriel dengan ekspresi datar.
“Tentu saja Lucy adalah pengisi energi bagiku,” seru Alder.
“Waah kau tau namanya juga,” takjub Gabriel dengan ekspresi biasa.
“Iya dong,” bangga Alder.
Mereka berdua kembali ke kelas dengan selamat. Lalu keesokan harinya berita menghebohkan membuat satu kelas menjadi kaget dan tak menyangka tentang berita tersebut.
“Hee kau dengar tidak berita tentang mata palsu itu?”
“Iya aku dengar, ternyata ia memiliki penyakit yang ia sembunyikan.”
“Bukankah itu mengerikan.”
“Benar.”
Pembicaraan murid kelas 10-B menjadi populer selepas orang yang diberitakan sedang masuk ke rumah sakit. Alder yang mendengarnya hanya biasa-biasa saja karena ia tidak tau siapa Gabriel yang sedang dibicarakan itu. Padahal baru saja kemarin mereka bertemu.
__ADS_1
“Jadilah seperti air, walau tak terlalu istimewah tetapi sangat dibutuhkan.”