
Hari senin, di waktu pulang sekolah. Kami berkumpul di aula untuk latihan pentas. Kami semua sedang berada di belakang panggung, membahas alur yang ada dalam cerita tersebut untuk kilas balik.
“Baik, ayo semuanya naik ke atas panggung.” perintah sang narator.
Latihan pentas yang dihadiri oleh 6 orang itu akhirnya dimulai. Narator mulai membacakan ceritanya.
“Pada dahulu kala ada seorang gadis kecil yang tinggal di desa bersama Ibunya. Gadis tersebut suka sekali memakai tutup kepala atau kerudungnya yang berwarna merah, sehingga ia dijuluki oleh teman-temannya sebagai gadis berkerudung merah. Pada suatu hari Si Tudung Merah disuruh oleh Ibunya untuk mengantarkan makanan kesukaan Sang Nenek yang sedang sakit. Rumah sang Nenek berada diseberang hutan.”
“Bisakah kamu mengantarkan keranjang ini ke rumah Nenek?” ucap Ibunya memberikan keranjang makanan pada si tudung merah.
‘Ini saatnya.’ batinku.
Semua orang menunggu jawabanku termasuk Alder yang sudah mempersiapkan sebuah kamera, bersedia untuk memotret senyumanku.
“Baik!”
“CUT!”
‘Ini latihan bukan syuting beneran.’
“Senyuman apa tadi? Alder mana hasil fotonya.” pinta Tony.
“Ini.”
Tiba-tiba Tony menyodorkan hasil fotonya di depan hidungku.
“Lihat baik-baik Nona Lucy senyuman ini kurang bagus untuk dilihat. Apa kau sedang menahan sesuatu atau kau terjepit sesuatu?” ujar Tony.
“Tidak aku hanya kurang terbiasa dengan senyuman. Aku tidak bisa akting,” jawabku jujur.
“Ouuh kalau sudah kepilih, jadilah pekerja keras. Jangan pasrah begitu,” omongan Tony begitu menyakitkan di hati, sekalinya ngomel sudah nusuk di hati.
“Baiklah, aku akan bekerja keras,” ucapku lemas.
“Oke mari kita lanjutkan.”
***
Narator kembali melanjutkan ceritanya.
“Karena dirinya sangat mematuhi dan taat kepada perintah Ibunya, gadis kerudung merah-pun dengan sangat senang hati melaksanakan perintah sang Ibu. Lalu pergilah dia, tetapi sebelum dirinya pergi, sang Ibu berpesan.”
"Jika nanti ditengah jalan kamu bertemu dengan orang asing, maka kamu tidak usah menanggapinya!!" teriak Niki dari kejauhan.
“WOKE!!” sahutku kesal.
“Woy yang bener dong, masa Ibunya jadi galak kayak gini,” protes Tony. “Yaa sifatku memang kayak gini, mau apa kau?” Niki malah makin kesal. “Jadi Ibu tuh lebih lembut. Si Ibu ini sifatnya lembut.” protes Tony.
“Mau gelud kau!” Amarahnya mulai naik.
“Eh sudah... Sudah... Jangan bertengkar.” Noel melerai mereka berdua.
__ADS_1
“Terserah.” Niki tak ingin melanjutkan pentengkaran ini karena ia sedang badmood sekarang.
”Tudung Merah berjanji akan mematuhi pesan Ibu dan berjalan dengan riang gembira. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia ingin membawakan bunga kesukaan Nenek. Bunga itu tumbuhnya di dalam hutan. Akhirnya Tudung Merah memasuki hutan dan memetik tiga tangkai bunga merah, lima tangkai bunga biru dan tujuh tangkai bunga kuning. Saat Tudung Merah sedang asyik memetik bunga, dari balik pohon ada Serigala yang bertanya tentang apa saja yang Tudung Merah bawa di keranjangnya.”
Munculah Alder dalam panggung dengan senyum yang persis seperti Serigala yang ada di dalam cerita. Iya seperti senyuman seorang pedofil disertai nafas yang tersenggal.
“Alder wajahmu memerah, kenapa?” tanya Tony yang mulai merasa ada yang tidak benar dengan tokohnya.
“Entah kenapa aku...ha..ha.. ingin sekali melahapnya, lalu aku membayangi kalau lucy akan memakai...”
‘PLAK’
Sang narator langsung memukul keras kepala Alder menggunakan buku dongeng.
“Dasar mesum. Simpan bayanganmu sendiri Alder.” protes Tony.
“Baik.”
“Oke lanjut.”
“Sendirian saja gadis manis. Mau abang temenin, tidak baik kalau jalan di hutan sendirian, nanti kamu tersesat loh,” bujuk Sang Serigala.
“Siapa kau?” balasku datar.
“Woy woy WOY... kok kalian jadi begini. Percakapan kalian tidak ada yang persis dengan ceritanya. Ulang ulang,” protes Tony yang mulai merasakan pusing di pelipis kepalanya.
“Gadis cantik...Tenanglah jangan takut...”
“Aku baik kok. Kamu mau kemana?” tanya Sang Serigala.
“Ke rumah Nenekku, sekarang beliau sedang sakit. Jadi aku ingin menjenguknya,” jawabku.
“Dia lupa akan pesan sang Ibu kalau dirinya tidak boleh berbicara pada siapa pun dalam perjalanan,” lanjut Sang Narator.
“Aku boleh ikut?” pinta Serigala.
“Boleh.”
“CUT! Woy Serigala seharusnya tidak usah ikut. Kau seharusnya mencari jalan pintas dan menyamar jadi Neneknya.” protes Tony.
“Masa bodo dengan ceritanya. Aku hanya ingin berada di sisi Lucy dan tidak ingin melukainya,” ucap Alder tak peduli.
‘PLAK’
“Iya iya akan kulakukan,” pasrah Alder sambil mengusap kepalanya yang sakit.
“Kok sepanjang cerita tidak ada yang benar yak.” gumam Tony sambil memijit keningnya yang mulai pusing.
***
“Baiklah hati-hati di jalan yak,” ucap Sang Serigala dengan ramah.
__ADS_1
“Iya selamat tinggal.”
“Mendengar kalau Tudung Merah mau pergi ke rumah Nenek, diam–diam si Serigala pergi dan menyelinap masuk ke rumah Nenek. Serigala lalu menangkap dan mengurung Nenek di dalam lemari pakaian. Serigala itu pun menyamar menjadi Nenek dengan memakai baju, topi, dan kacamata kepunyaan Nenek. Tidak lupa, Serigala menutupi tubuhnya dengan selimut. Tudung Merah akhirnya sampai ke rumah Nenek, dan melihat Neneknya sedang berbaring di atas tempat tidur. Tudung Merah kaget, karena penampilan Neneknya tidak seperti biasanya.” ucap Sang Narator.
Tok...Tok...Tok...Tok!!
Suara pintu diketuk disertai panggilan Si Kerudung Merah,
"Halo..Nenek! Apakah Nenek ada didalam?"
Dengan suara yang agak berat lalu dari dalam rumah berkatalah Serigala menyerupai suara Nenek,
"Masuk, sayangku. Masuk sini say!"
Mendegar suara Sang Nenek yang berubah Si Kerudung Merah bertanya,
"Kenapa suara Nenek berubah??"
"Oh.. Ini karena aku punya jakun!" jawab Serigala yang menyamar jadi Sang Nenek.
“Woy.”
“Mata Nenek besar sekali,” kata Tudung Merah.
"Agar Nenek bisa lebih jelas melihat kecantikanmu,”
“Woy!”
“Telinga Nenek panjang sekali,”
“Supaya Nenek bisa lebih jelas mendengar suaramu yang merdu itu.”
“Hei~”
“Hidung Nenek juga panjang sekali,”
“Ah, Nenek tadi habis dikutuk oleh Sang Narator,”
“WOYY!!”
Narator melempar naskahnya dan berjalan kesal pada Alder lalu menarik kerahnya.
Sesegeralah Noel dan ketua OSIS memisahkan kedua makhluk itu. Padahal pertengkaran itu membuatku senang tadi.
‘Aku suka melihat kalian tidak akrab,’ seruku dalam hati.
Karena banyak yang begitu kesal dan marah. Jadi kami diberi istirahat selama lamanya, tidak maksudku 30 menit untuk meredakan amarah. Memang cerita ini benar benar tidak cocok dengan kepribadian kami masing-masing.
Semuanya dipenuhi emosi, aku pun merasakan keindahan emosi itu tadi yaitu pertengkaran.
.....
__ADS_1
“Kalau capek, istirahatlah. Kalau iri, berusahalah. Kalau kesal, bahagialah. Segalanya jangan dibuat susah, karena hidup itu sederhana.”