MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Salah Paham


__ADS_3

Kami melanjutkan latihan drama sesuka kami melakukan monolog sendiri dan lain-lain sehingga Sang Author Tony bisa menyesuaikan sifat kami dengan ceritanya agar lebih menarik.


“Waah Sang Narator sekaligus pembuat naskah, aku tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi,” gumam Noel yang memandangi Tony tengah asyik menulis ceritanya.


“Tentu saja hal tersebut bisa terjadi,” tiba-tiba Alder muncul dengan angkuhnya.


Noel hanya menatap Alder diam, seperti ada sebuah kilau kilauan serbuk disekitaran Alder.


“Aku akan melakukan apa saja demi kenyaman Lucy dalam bermain drama. Aku juga tidak terbiasa dengan cerita yang biasa ini, sekolah kita butuh perkembangan bukan? Dibawa santai saja karena ini adalah hiburan bukan ujian,” seru Alder dengan senyuman yang tak dapat dimakna-kan.


Noel mengerutkan dahinya membuatnya bertanya tanya didalam pikirannya, ‘kenapa harus Lucy?’


“Lucy... aktingmu sudah lumayan looh,” puji Niki tiba-tiba. Aku mengangguk iya dan berterima kasih.


“Terima kasih, permainanmu juga lumayan,” balasku.


“Ngomong ngomong...” Niki mendekat padaku seolah ia ingin membisikkan ku sesuatu.


“Apakah kau punya masalah dengan ketua OSIS?” seketika bulu kudukku terangkat.


Menanyakan tentang ketua OSIS rasanya aku teringat kejadian yang membuatku malu dan kesal. Kalau aku menjawabnya sekarang yang ada jawabannya akan panjang.


“Nanti akan kuceritakan setelah latihan,” jawabku pelan.


“Baik,” seru Niki yang tak sabar mendengar ceritaku. Iya cerita tentang aib temannya yaitu aku.


Alder datang meladeniku, lalu Niki langsung menghadang dan marah-marah tidak jelas padanya dengan mengatakan “jangan dekati Lucy!” Rasa kesal Niki membuat wajah Alder seperti menantangnya.


“Eeeh~ memangnya aku peduli denganmu, aku bisa saja menyingkirkanmu dalam satu detik dan merebut Lucy darimu loh.”


Niki menggeretakkan giginya lalu menyerang Alder dengan ganasnya.


“Akrabnya~” gumamku, Noel terkejut ketika aku bergumam begitu.


Ditengah keributan itu, aku menoleh ke ketua OSIS yang sedang minum. Merasa sedang di tatap diriku. Karin menatapku balik lalu membuang mukanya seperti ada dendam padaku.


‘Tuh orang kenapa sih daritadi?’ batinku sebal.


***


Sudah pukul 17:00 PM


Kami membereskan barang-barang dan bersiap pulang.


“Guys besok aku akan menyelesaikan naskahnya. Jadi bersemangatlah untuk besok yaa kawan!! jaga kesehatan karena latihan ini akan menjadi singkat,” seru Tony bersemangat.


“Baik!”


Langit jingga yang tenang begitu indah dengan diiringin angin sepoi yang terasa sejuk. Kami bertiga, aku, Niki, dan Noel jalan beriringan menuju rumah.


“Eh jadikan kamu cerita?” seru Niki tak sabar.


“Nanti saja aku chat.”


“Enaknya tuh ngomong langsung...”


“Iya iya... aku yakin Noel juga penasarankan?” tebakku meliriknya. Orang yang merasa terpanggil pun hanya mematung dengan wajah yang terlihat seperti keciduk sesuatu.


“Aku pernah dihukum oleh ketua OSIS gara gara ketahuan membuat keributan di kantin...”


“Nggak, aku nggak percaya Lucy berisik... tidak mungkin, apalagi ditempat ramai. Aku tidak akan percaya,” sela Niki tanpa mendengar kelanjutannya.


“Dengerkan dulu bodoh, aku belum selesai ngomong, sudah di sela saja,” omelku.


“Oke oke lanjutkan.”


“Itu gara-gara ada dua cowok yang memperebutkanku,” lanjutku dengan wajah datar. Seketika Niki dan Noel terkejut tidak menyangka.


“Hah? Kapan? Kapan Lucy jadi begini?”


“Serius! Aku tidak bohong.”


“Kepedean,” sambung Niki dengan senyum miring.


Dalam hatiku berkata, ‘ya sudah kalau tidak percaya,’ dengan segenap hati aku tidak melanjutkan ceritanya walau Niki merengek minta lanjut karena penasaran.


Keesokan harinya kami berlatih lagi, Sang Author membagikan buku naskah yang baru pada kami. Saat kami semua membukannya, secercah cahaya bersinar dari dalam buku tersebut. Menanggapi adanya keajaiban bahwa drama ini akan berhasil.


“Baiklah silahkan dibaca, setelah dibaca mari kita peragakan sedikit demi sedikit yak,” ucap Tony dengan senyuman cerianya.


“iyaa.”


10 menit setelah membaca.

__ADS_1


Kami semua tersenyum horror termasuk Authornya sendiri, kecuali Noel yang normal hanya tersenyum pasrah.


“Menarik. Mari kita mainkan,” ujar Alder.


Dimulailah latihannya, sedikit demi sedikit kami memperagakan setiap kalimat yang ada. Keringat telah mengalir dari seluk beluk wajah hingga leher. Kadang suara tawa canda mereka terdengar di telingaku. Aku cukup puas dengan drama ini, menghancurkan cerita seperti ini adalah yang kuinginkan.


Tetapi sekarang adalah masalahku dengan ketua OSIS, ia nampak terlalu jauh, apakah dia masih belum memaafkan diriku? Apa aku membuat dia sebegitu kesalnya. Kalau bukan drama ini aku tidak akan peduli dengannya.


Setiap pemain antar peran harus bisa saling bekerja sama. Sejujurnya ini bukanlah diriku tetapi aku tetap harus melakukannya demi diriku sendiri.


Dengan malasnya aku menghampiri ketua OSIS yang tengah fokus membaca naskah, aku mendekatinya lalu berkata,


“Hei...apa kau kesal?”


Dia tiba tiba kaget ketika aku mendekatinya ditambah pertanyaanku yang langsung pada intinya. Serius aku tidak nanggung-nanggung kalau soal bertanya.


“Berisik! Fokus saja pada naskahmu,” jawabnya galak.


“Jika kau kesal padaku, katakanlah apa yang membuatmu kesal. Jika kau benci aku, katakanlah dimana letak kesalahanku yang kau benci itu,” jawabku.


“Cih.” ia membuang muka-nya dari hadapanku. Apa sih yang membuat dirinya begini, sudah cukupkah kau memarahiku saat itu. Kenapa sampai sejauh ini kau membenciku gara-gara kejadian waktu itu.


“Hei jelaskan...” pintaku.


Ia langsung berbalik badan dengan wajah yang begitu marah. Aku bisa menatap manik matanya yang penuh kebencian terhadapku. Aku agak takut dengan auranya itu, hingga diriku dibuat bingung olehnya.


Tiba tiba ia menjelaskannya dengan berteriak sambil melangkah maju dan membuatku mundur beberapa langkah.


“Sudah jelaskan kau yang melakukannya, kau yang membuatnya hancur hingga depresi. Dia berpisah dengan sahabatnya hanya gara gara dirimu, dasar perusak hubungan!”


‘Jleb.’


“Apa maksudmu? Siapa orang yang kau maksud?”


“TENTU SAJA GABRIEL!!”


Seluruh aula dibuat beku olehnya, semua orang menatap kami berdua yang tengah berbuat keributan. Sunyi hening yang dibuat tegang oleh ucapan Karin yang keras. Mentalku hampir terkikis olehnya.


Aku menunduk suram, alhasil aku hanya teringat kesalahan besarku. Rasanya aku ingin menghilang saja, sayangnya aku tak bisa melarikan diri dari masalah ini. Tapi aku selalu berpikir kalau saja aku menghilang bukankah dia tidak akan membenciku lagi.


“Dia itu terkena sindrom, apa kau tidak kasihan padanya? apa kau tidak berusaha untuk memperbaikinya, tapi kenapa? kenapa kau...” suaranya terbata bata, ia mungkin tak sanggup mengungkapkan kata-kata yang terdalam yang selama ini yang dia inginkan. Baiklah aku akan membantunya untuk mengungkapkannya,


“Kenapa aku tidak menghilang saja...”


Bukankah jika aku menghilang, semua orang tidak akan membenciku serta mengkhawatirkanku? Apa bagi kalian aku ini sampah yang perluh diejek? Aku hanya mengikuti arus kehidupan saja, tanpa kuperbuat demikian, keberadaanku


saja sudah dibilang kesalahan.”


Seketika mereka syok dan terdiam. Hatiku yang paling dalam ingin sekali berteriak dan meronta ronta, semuanya kutahan, kutahan hingga membuat perasaanku terkikis oleh keperihan ini.


“Andai saja aku tidak ada, mungkin kalian sudah bahagia saat ini,” ujarku dengan senyum kesepian.


“TIDAK ITU TIDAK BENAR!”


Tiga orang tiba-tiba menyangkal pernyataanku, aku kaget karena mereka membatah itu semua. Niki, Noel, dan Alder-lah yang mengatakan ketegasan itu. Wajah mereka dan keringat mereka terlihat seperti berlari mengejarku dan memegang tanganku dari belakang, untuk membuatku menoleh pada mereka bahwa pernyataanku itu benar-benar salah.


“Apa yang kau katakan Lucy, tanpamu aku tidak akan bisa berbaikan pada Niki, jika kau tidak menyuruh Niki untuk mengatakan kebenaran yang ia rasakan dan meminta maaf padaku. Keberadaanmu itu membuatku kembali bahagia dan membuatku mendapatkan rasa ketenangan,” tegas Noel.


“Itu benar, tanpamu aku tidak akan sebucin ini--”


‘PLAK’


Tiba-tiba Tony dari belakang memukul Alder dengan naskah yang digulung. “Maksudku aku bersyukur takdir mempertemukan kita, aku sangat bersyukur bisa merasakan perasaan yang langka ini. Aku senang kau ada di dunia ini membuatku kembali bersemangat dalam kehidupan dan melupakan ejekan semua orang tentangku,” ujar Alder sambil mengusap kepalanya yang sakit lalu tersenyum lembut padaku.


“LUCY AUREISTA...”


Aku terkejut dan tegang ketika Niki memanggil nama lengkapku, ia datang padaku dengan aura yang begitu gelap, entah kenapa keringat dingin bercucuran disaat seperti ini.


‘PLAK’


“Aaw”


Setelah ia memukul kepalaku dengan keras, Niki memelukku amat erat sambil berteriak kesal padaku.


“BODOH! Sudah kubilang aku tidak menyesal bersahabat denganmu, selama ini kau menganggapku apa? Aku ini tidak membencimu, keberadaanmu itu sangat berarti padaku. Kau yang telah mengubah kehidupanku yang suram menjadi berwarna seperti ini, Kau yang mengajarkanku cara berbahagia di dunia ini. Tolong jangan katakan apapun tentang seseorang yang membencimu, semua orang juga pernah dibenci. Kau tidak sendirian, masih ada kami. Katakanlah semua masalahmu jangan kau sembunyikan lagi dariku, aku tidak mau kau merasakan hal yang sama denganku.”


“Niki...” mataku berbinar kesekian kalinya, begitu banyak cinta dari kalian. Aku tidak tau apa aku sanggup menerima itu semua. Aku terlalu banyak berpikiran negatif hingga membuat diriku sendiri menjadi rusak.


“Itu benar lohh. Tiadanya dirimu itu membuat kami semua menjadi sedih.”


Suara manis muncul di ambang pintu aula. Sesosok rambut putih yang terkibas oleh angin, menyugingkan senyuman yang amat indah dengan background senja penuh dengan warna orange.


“Gabriel?”

__ADS_1


“Ya ampun kenapa kau datang disaat saat seperti ini...” ucap Alder dengan mata sinis menatap Gabriel, yang ditatap hanya tersenyum kecut pada Alder.


“Terserah aku dong,” jawab Gabriel.


Kemudian Karin menghampiri Gabriel dengan wajah cemas. Aku yang menatap mereka seperti pasangan yang terpisahkan membuatku ingin mengalihkan padangan pada tembok saja. Niki yang melihat tingkah anehku hanya menatapku dengan bingung dan polos.


“Gabriel ada perluh apa kau kesini?” tanya Karin.


“Aaah- itu diluar aku mendengar namaku dipanggil, jadinya aku datang kesini.” jawab Gabriel.


“Soal itu aku minta maaf,” ucap Karin dengan wajah bersalah.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Gabriel polos.


“Jadi begini lalu begitulah ceritanya,” ujar Tony bercerita panjang lebar.


“Oh jadi begitu,” kemudian Gabriel dengan senyum lembutnya menghadap pada sang ketua OSIS.


“A-aku cuman bermaksud ingin membela dirimu saja kok,” ujar Karin dengan wajah yang memerah.


“Terima kasih.”


“Eh?”


“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”


Karin hanya mengangguk pelan dengan pipi blushnya.


‘Kretek’


(Suara hati yang retak.)


‘Kesannya kok seperti aku yang jahat yak.’ batinku sambil sedih.


“Tapi ingatlah...bahwa gadis itu....” tiba-tiba Gabriel menunjukku.


“Tidak bersalah sama sekali,” sambungnya.


“Eeh!” Karin hanya tersenyum sambil kebingungan.


“Hah? Gimana gimana?” tanya Tony yang masih belum paham.


“Aku tidak berteman dengan Alder lagi, bukan berarti ia menjadi musuh tetapi menjadi rival,” seru Gabriel.


“Rival apaan?” tanya Tony.


“Rival memperebutkan hati Lucy,” jawab Gabriel dengan lancar tanpa hambatan.


Semua orang melongo mendengar jawaban yang tidak dapat dipercaya. yang lebih tidak dapat dipercaya itu gadis sepertiku malah diperebutkan dua cowok.


Aku hanya menepuk jidatku dengan rasa malu. Entah bagaimana reaksi mereka soal itu.


Tiba-tiba Karin menghampiriku dengan wajah suram karena sudah salah paham.


“Maaf, aku sudah salah paham padamu.”


“Haa- iya tidak apa-apa,” jawabku yang masih memegang keningku.


Langsung saja Alder mencengkeram kerah Gabriel sambil mengguncang badannya.


“Bodoh! kenapa kau memberitahu mereka!” kesal Alder.


“Biar masalahnya selesai bodoh!”


“Kamu nggak malu gituu!”


“Malu sih tapi demi Lucy aku tidak malu.”


“Bucin banget kau”


“Ngaca dong”


‘PLAK’


Tony langsung menghentikan perdebatan mereka berdua, tadinya si Tony mau siramin mereka pakai air minumnya, tetapi ia urungkan niatnya karena ia ingat tidak ada duit lagi buat menggantikan air minumnya.


“PULANGLAH KALIAN BERDUA!” marah Sang Narator.


Mereka berdua langsung kabur dari aula. Kami semua hanya menghela nafas panjang dan bersiap-siap pulang juga.


Aku bersyukur karena tingkah Gabriel yang absurd jadinya masalahku dengan ketua OSIS selesai, lain kali aku akan berterima kasih padanya.


.....

__ADS_1


“Aku ini bukan sampah yang bisa didaur ulang, jadi hargailah aku sebagai manusia yang budiman.”


__ADS_2