MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Lift


__ADS_3

“Semuanya sudah berkumpul?” tanya Guru Wali Kelas kami.


“Sudah!” sahut semua murid.


“Oke Ibu absen dulu yak.”


Pada pukul 04.45 kami semua sudah harus berkumpul di gedung aula. Dan untungnya aku tidak terlambat tadi hanya gara gara tidak bisa tidur karena aku masih ketakutan kemarin malam.


‘Ya ampun, walau aku tidak melihat wajahnya kemarin malam, kenapa ia masih terbayang-bayang di kepalaku,’ batinku dengan perasaan sedih.


“Lucy, apa kau kurang tidur?” tanya Felix.


“Iya begitulah, tapi aku--”


“Aku paham maksudmu! Kau tidak bisa tidur karena saking semangatnya pergi pariwisatakan? Aku juga begitu, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan itu terus.”


Belum juga omonganku selesai. Si Felix sudah memotongnya. Dan yang ia katakan juga termasuknya salah besar. Tunggu, mungkin itu benar. Aku juga memikirkannya tapi dilain sisi aku juga penasaran tentang kebenaran itu hingga tidak bisa tidur.


“Kau benar Ketua,” jawabku dengan senyum mentari.


“Yeaay tuh, kan benar.”


“Sudah-sudah ayo kita naik bis nya,” ucap Noel memberitahu.


Kami menaruh barang-barang kami di bagasi bis. Saat aku menaiki bis inilah yang membuatku bingung, aku harus duduk dengan siapa?


‘Niki, Sarah ada di bis lain, sudah gitu kita beda kelas. Pasti mereka sedang asyik ngobrol,’ batinku yang agak iri.


(Pada kenyataannya mereka kini sedang berantem memilih tempat duduk dekat jendela.)


“Lucy...”


Seseorang memanggilku, aku mencari sumber suaranya, ternyata ada di kursi belakang.


“Di sini...” itu Felix dan Noel, aku terharu mereka menawarkanku duduk di sana. Aku senang ada tempat kosong akan tetapi.... Semua penumpang menatapku dengan tatapan seram.


‘Perasaanku jadi tidak enak.’


Aku duduk di antara Noel dan Felix, harusnya ini akan baik-baik saja tetapi perasaanku cepat berubah seperti ada rasa malu duduk diantara kedua lelaki tersebut.


Sepertinya aku harus tidak peduli terhadap perasaan ini, aku harusnya bersyukur dapat tempat duduk dengan teman-teman.


Kami mengobrol, tidur dan makan di sepanjang perjalanan. Hingga di saat itu tiba, aku penasaran apakah sosok hitam itu akan ada di sana? Tapi dengan cara apa dia bisa kesana? Teleportasi, kah?


‘Pletak.’


“Hah? Bunyi apa itu.” tiba-tiba Felix terbangun dari tidurnya.


“Haa tadi hanya dahan pohon yang menabrak kaca kok,” ucapku dengan wajah agak panik.


“Ouh gitu, baiklah aku akan lanjut tidur lagi.”


“Haha iya silahkan.”


Sebenarnya tadi yang kulihat bukanlah dahan pohon, tetapi kaki dengan celana hitam yang tidak tau asalnya dari mana, secara mendadak kaki tersebut tidak sengaja mengetuk kaca dengan keras.


‘Jangan bilang sosok itu sekarang ada di atas bis! Apa slenderman itu sudah gila? Bagaimana kalau ada orang yang melihatnya?’


Tiba-tiba saja ada kertas terbang masuk lewat jendela yang terbuka dan mendarat di hadapanku.


‘Tenang saja, saya tidak akan dilihat oleh orang lain kok... Mungkin - Peter.’

__ADS_1


‘Mungkin!!?’


Aku hanya melongo membaca kertas tersebut. Dan tak berselang lama kami sudah sampai di hotel, tempat kami menginap.


“Ayo anak-anak bangun dan turun dari bis jangan sampai ada barang yang ketinggalan,” ujar Sang Guru yang sudah turun duluan.


“Ketua ayo bangun, kita sudah sampai pada tujuan,” ucapku yang agak mengguncangkan tubuhnya.


Aku juga harus mengecek apakah ada barang yang tertinggal. Setelah semuanya sudah aman, akhirnya aku menuruni bis dan langsung lihat ke atap bis. Ternyata sosok itu sudah menghilang duluan.


“Kau sedang mencari apa Lucy?” tanya Noel.


“Ouh bukan apa-apa kok,” balasku dengan senyum.


Noel hanya memiringkan kepalanya bertanda bingung, aku berusaha mengatakan “hanya ingin lihat bintang saja.” agar ia tidak terus mencurigaiku.


“Bohong!”


‘Duh siapa lagi sih yang memprovokasi,’ batinku sebal sambil berbalik badan. Ternyata itu adalah Rin dan sekumpulan klub hantunya.


“Aku dengar di sini ada hantu berkepala panjang, yang kalau katanya, berhasil ditangkap dan dijual kita akan menjadi kaya raya. Hei Lucy aku tau kau sedang mencari hantu itu, kan?” ucap Si Rin ketua dari klub tersebut.


“Tidak, aku tidak punya niatan menangkap yang begituan,” ucapku membatah pernyataan yang konyol itu.


“Hemm mencurigakan, sepertinya kau benar, orang yang terlahir elite tidak mungkin mencari uang dengan cara seperti itu. Oke anak-anak kita cari ditempat lain,” perintah Rin pada anggotanya.


Aku menatap kertas yang kupegang tadi, si Peter berkata,


‘Rumor itu hanyalah omong kosong,’ - Peter.


‘Benar yang dikatakan Mas Slenderman itu, rumor itu hanyalah omong kosong belaka,’ pikirku yang ikut menyetujuinya.


Aku menyusul anak anak lainnya kedalam hotel. Dan Peter hanya menatap punggungku dari kejauhan, hanya memperhatikan diriku masuk ke dalam hotel dan meninggalkannya sendirian di sana.


“Akhirnya kita bisa sekamar!” jerit Niki yang merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Kami bertiga berpelukkan selayaknya seperti sahabat yang lama tidak saling berjumpa.


“Kata Bu Desi kita harus turun untuk makan malam,” ucap Sarah.


“Oke.”


Kami bersiap siap untuk turun ke lantai utama dengan menaiki lift. Saat berada di lift, entah kenapa lampunya kedap-kedip untungnya itu hanya sebentar, saat kembali normal aku langsung bergidik ngeri karena tepat di sampingku Mas Slenderman--maksudku Peter si sosok hitam itu ada di sisiku.


Untungnya Sarah dan Niki tidak menyadari hal tersebut karena mereka sedang asyik mengobrol soal Felix.


“Apa kau perluh sesuatu?” bisikku padanya.


Aku terus memperhatikan kertas yang kupegang berharap dia menjawab pertanyaanku.


‘Tidak ada.’


“Apa kau lapar? Aku bisa mengambilkanmu sesuatu nanti.”


‘Tidak, saya tidak lapar.’


“Kalau tidak ada yang penting, berhentilah mengikutiku.”


Kertas itu mengosongkan isinya, lalu beberapa saat muncul tulisan kembali.


‘Saya hanya ingin menjaga anda saja.’

__ADS_1


“Aku akan baik-baik saja, jadi tidak perluh khawatir soal aku.”


“Lucy? Kau sedang berbicara dengan siapa?” tanya Sarah tiba-tiba.


Membuatku menjadi salah tingkah karena sosok itu juga pergi dengan cepat. “Ahh aku berbicara sendiri tadi, haha,” jawabku asal.


“Ouh aku tau maksudmu,” ucap Niki seolah dia paham apa yang aku lakukan barusan.


“Apa?” tanya Sarah penasaran.


“Apa kau pernah dengar kalau orang berbicara sendiri biasanya dia adalah orang yang jenius.”


“Ouh benarkah itu.”


Mereka kembali mengobrol sampai mereka keluar lift. Kali ini aku diselamatkan oleh rumor yang dimiliki Niki. Mulai sekarang aku harus berhati-hati bila berbicara pada Peter. Saat aku sampai di ruang makan ternyata tempatnya sungguh mewah seperti restoran bintang 5 yang terkenal.


“Hai Lucy, ayo makan bareng.”


Aku menatap orang yang memanggilku, di sana ada Gabriel dan Alder tengah menungguku turun. Aku segera mengambil makananku dan berkumpul dengan yang lain.


“Di sini Lucy silahkan,” Alder dan Gabriel menyodorkan kursi secara bersamaan membuatku bingung harus duduk dimana.


“Apa maksudmu Lucy duduk di kursi yang kotor itu,” ucap Alder yang mulai manas-manasin keadaan.


“Dan apa maksudmu Lucy duduk di kursi yang norak seperti itu,” balas Gabriel yang tidak mau kalah.


Mereka berdua tidak ada yang mengalah hingga akhirnya Niki menarikku ke mejanya bersama Sarah dan Noel.


Alder dan Gabriel yang sadar bahwa Lucy sudah bergabung dengan orang lain, hanya merasa kecewa. Felix yang lewat hanya menatap dua mahkluk yang sedang bersedih.


“Aku duduk sini yak~” seru Felix yang ingin bergabung dengan dua orang yang ia kenal sebagai penyegel kegelapan.


“Ouh iya silahkan,” ucap Gabriel dengan senyuman manisnya sedangkan Alder hanya berdecik kesal.


“Boleh aku ikut gabung, sepertinya kursinya sudah penuh,” minta Tony yang ingin ikut gabung dalam party ini.


“Oh ya sudah ikut sini,” jawab Alder menerima kehadiran Tony dalam party-nya.


Dan di meja sebelah sedang ada yang namanya keributan soal masalah cinta, yaa soal cinta, aku dan Noel hanya menyaksikan keributan kecil ini.


“Aku dan Felix yang akan kencan di kesempatan emas ini,” ucap Sarah dengan senyum sombongnya.


“Apa maksudmu aku dan Felix yang akan berjalan-jalan berdua bersama.” balas niki yang tidak ingin mengalah sama sekali.


Lalu di sisi meja lain juga tidak kalah ributnya dengan meja kami.


“Aku akan membawa Lucy ke luar negeri setelah pariwisata yang membosankan ini,” ucap Alder dengan nada yang menyombongkan diri.


“Aku juga akan mengajak Lucy ke planet mars, kau pasti tidak akan bisa mengganggu kami berdua,” balas Gabriel dengan senyum kemenangan-nya.


Dua orang yang menjadi target hanya merinding, sedangkan mantan pengurus OSIS menikmati makanannya dengan tenang seperti beban mereka dihempaskan pada adik kelas yang baru saja diangkat menjadi pengurus OSIS.


Setelah makan malam kami kembali ke kamar masing-masing, mandi dan tidur. Kami tidak melakukan yang namanya tradisi sebelum tidur karena kami sudah capek duluan disebabkan perjalanan yang cukup panjang.


“Selamat malam semua, sudah pasang alarm kan?” tanya Niki.


“Sudah,” jawab Sarah yang sudah menyetel alarm pukul 06.00 AM.


“Okeee aku matikan lampunya.”


Saklar lampu langsung dimatikan dan ruangan menjadi gelap gulita, aku langsung menutup mata dan tertidur. Dan disisi luar jendela peter hanya menatap langit-langit bintang di atap rumah warga. Aku tidak tau apa yang ada dipikiran sosok hitam tersebut, tetapi aku cukup penasaran apa yang akan ia tunjukkan kepadaku keesokan harinya.

__ADS_1


....


“Coretan kertas menandakan dirimu depresi, stress, kesal, bingung, pusing dan tidak tau apa yang akan kau putuskan saat ini.”


__ADS_2