MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Derita


__ADS_3

Lina tersenyum semeringai melihat diriku terluka parah seperti ini. Ia melempar pisau kecil di hadapanku.


"Hah!"


Pisaunya terlumuri oleh darah. Iya itu adalah darahku.


Saat aku melihat kedua tanganku yang dipenuhi darah dari lukaku, seketika itu mengingatkanku pada sebuah mimpi.


Ingatan kematian seorang pria yang tidak asing yang ditembak mati oleh seseorang yang misterius, kepalaku pusing, perutku yang terluka semakin melebar, darah ada dimana mana.


Inilah sesuatu yang tidak ingin aku lihat dalam dunia ini dan inilah yang menyebabkanku ingin menghilang dari dunia ini.


Aku tenggelam dalam kegelapan, walau aku sadar ketua membawaku ke UKS dengan panik, lalu Noel menelepon ambulans.


Sungguh keadaan yang sama ketika di mobil Alder, apakah aku membuat semua orang khawatir, terkadang aku yang membuat Niki khawatir ketika aku melakukan percobaan bunuh diri, aku sejujurnya tidak paham, apa untungnya mereka menyelamatkanku dan mengkhawatirkan diriku yang telah kehilangan hasrat untuk hidup.


Tetapi semua orang ingin aku hidup, kenapa? Kenapa mereka ingin aku melihat masa depan? Jika masa depan itu tidaklah menyenangkan bagiku? Apakah aku akan menderita lagi seperti ini?


Niki pernah mengatakan motivasi hidup kepadaku.


'Jika kau merasakan putus asa dan tidak memiliki sebuah mimpi, kejarlah apa yang menjadi kekuranganmu dan jadikan itu tujuan untuk meneruskan hidupmu.'


Aku awalnya mengabaikan kata-kata itu, tetapi aku sadar banyak kekurangan dan sesuatu yang belum aku miliki disini, aku berusaha untuk mencapai itu semua namun aku belum mendapatkannya.


Kesakitan ini rasanya hampir mendekati kematian, sepertinya aku melihat sebuah kilatan cahaya dikala aku ingin membuka mataku.

__ADS_1


"Lucy tersadar!"


"Syukurlah, aku sungguh panik mendengar ia terluka parah seperti ini," Sorakan senang dan ucapan rasa syukur terdengar dari pendengaranku, aku melihat sekitarku yang suasananya berbeda, ini bukan UKS tetapi ini kamar rumah sakit.


Bau obat obatan tercium dalam ruangan ini, aku berusaha untuk duduk tetapi dicegat oleh ketua.


"Jangan duduk dulu, lukamu nanti robek lagi." ujar Felix, akupun menurutinya.


Aku melihat ada ketua, Sarah dan Noel di samping rajangku, mereka memasang wajah cemas melihatku.


"Apakah lukanya masih sa-"


"LUCY!"


Ucapan Sarah terpotong ketika si rambut strawberry masuk dengan mendobrak pintu. Ia berlari dan memegang tanganku dengan erat.


Wajah Niki begitu sangat cemas dibanding yang lain, aku masih bisa melihat bekas air mata yang mengalir deras kala mendengar berita buruk tentangku.


"Aku baik-baik saja," jawabku.


"Maaf aku datang terlambat, aku benar benar terkejut mendengarmu ditusuk oleh cewek jahat dikelasmu, di mana dia biar aku hajar dia sampai habis!! Aku tidak akan mengampuni orang yang telah melukai sahabatku!!" ucapnya sambil menangis tersedu sedu.


"Tenanglah, aku sudah tidak apa-apa." ucapku dengan nada lembut.


Aku sempat menatap Noel yang berubah menjadi kesal, ia pergi keluar dari ruangan, aku tau mereka saling membenci, jika mereka tidak berbaikan masalah kedepannya akan jadi lebih rumit.

__ADS_1


"Niki~" panggilku.


"Apa~" balasnya.


"Kau tadi melihat Noel-kan? Sapalah dia," suruhku, ia diam menatapku datar, ia melepaskan tanganku.


"Tidak mau."


"Kenapa? Kau bukanlah tipe yang membenci orang tanpa alasan, kan?" tanyaku.


"Lucy...andai kau tau rasanya menderita dalam kehidupan yang selalu dibedakan, aku sakit hati karena terus dibanding bandingkan oleh orang tuaku, semakin ia sukses maka semakin aku dibandingkan, karena itu aku membencinya!" jawabnya.


Aku masih melihat bayangan Noel yang berdiri di depan pintu, karena pintunya belum tertutup rapat, sepertinya Noel mendengar alasan Niki dengan jelas. Aku pun menegaskan alasan Niki kembali.


"Itu bukanlah suatu alasan yang bagus untuk tidak berteman dengannya, semakin kau mengenalnya maka kau akan semakin mengerti caranya menjadi orang yang lebih baik dan dipandang tinggi oleh orang lain, bukannya kau menghindarinya, seperti ilmu yang penting tapi kau menjauhinya."


Niki terdiam membeku ditempat. Aku hanya menghela nafas panjang, aku yakin dia tidak mau diceramahi seperti ini.


"Haaa~ Niki, apa kau tau kenapa aku tidak memutuskan pertemanan kita?" tanyaku padanya, kemudian Niki menatapku dan ingin mengetahui jawabannya.


"Kau orang yang selalu bahagia, karena itu aku ingin mempelajari dan merasakan kebahagiaan itu dalam kehidupanku sebelum kematian menjemput diriku," aku tersenyum hangat kepadanya.


Sinar mentari sore yang menyamai rambutku menyelimuti diseluruh ruangan, aku bisa melihat warna mata Niki yang berbinar dengan jelas, hatinya tertegun mendengar jawabanku, Pipinya merona melihat senyumanku.


Aku adalah mentari pada sore hari dimana aku akan terbenam tertelan kegelapan di malam hari, walaupun begitu, aku adalah pemandangan yang paling indah untuk dilihat apalagi dikala aku tersenyum maka seluruh hati manusia akan menjadi menghangat dan bahagia.

__ADS_1


....


"Kehidupan adalah seni lukis yang tidak bisa dihapus."


__ADS_2