MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Dompet


__ADS_3

Aku kembali pulang ke rumah dengan meneteng sepeda. Aku akan menjenguk Master saat dikabari dokter kalau keadaannya sudah stabil.


Aku membuka pintuku. Hadiah Master masih tergeletak di meja. Aku langsung pergi kekamar dan duduk di meja kerja. Tanganku menopang wajahku yang lesuh.


"Aku harap Master baik-baik saja," gumamku.


Lalu aku menatap kasurku yang masih tertata rapih.


'Apa aku harus bertemu dengannya lagi? Hmm tidak deh semalaman aku sudah berbincang dengannya, masa ketemu dia lagi,' pikirku.


'Tring~'


Tiba tiba saja aku mendapatkan notifikasi dari seseorang.


'Lucy!!! Haaaa kamu dimana? aku mau ice cream tapi lupa bawa dompet, tiba tiba aku dimarahi sama penjualnya dong, tolongin aku!!! Aku lagi dipalak sama bajak laut!!'


Aku menghela nafas kasar sambil mencubit kening karena pusing keleyengan. "Capek deh urusanku dengannya."


Aku yang baru saja sampai dari rumah, pergi keluar lagi dengan membawa dompet sambil membalas pesannya.


'Iya, aku kesana.'


'Terima kasih ksatria cantik~'


Sesampainya aku di taman, aku melihat seorang pemuda berambut agak keriting berwarna coklat muda dengan mata kuning cerah sedang dimarahi penjual ice cream, wajahnya cemberut seperti tak terima dengan perkataan sang penjual.


Aku langsung bergegas menghampirinya.

__ADS_1


"Mohon maaf, apa dia belum membayar ice cream-nya?"


"Iya nona. Dia itu sudah besar malah membantah seperti anak kecil!"


"JANGAN BERBICARA BEGITU PADA PUTRI KSATRIAKU!!"


Pemuda itu berteriak sambil membelakangiku seolah sedang melindungiku, tetapi itu membuat penjual ice cream tersulut emosinya sendiri.


"Kau mengenalnya Nona!" tanyanya galak.


"A-a-aku akan membayarnya, mohon maafkan dia," ucapku takut dengan menundukan kepala pemuda itu untuk minta maaf juga, walau ia memberontak tak terima.


"Jangan diulangi lagi."


"Terima kasih."


Ketika sudah menjauh dan suasana nya sepi. Aku lelah mengatakan ini berulang kali, jujur capek banget aku mengurusnya jika ia berkeliaran seenak jidatnya tanpa memberitahu orang tuanya terlebih dahulu.


"Kak Alvin sudah kubilang jangan ceroboh, apa kau sudah minta izin?" tanyaku padanya yang umurnya 1 tahun lebih tua dariku.


"Belum," ucapnya dengan memanyunkan mulutnya.


Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Seperti biasa, ia melarikan diri dari rumahnya.


"Kalau orang tua kakak khawatir bagaimana? nanti aku loh yang disalahin," ucapku mengomel.


"Aku melarikan diri dari rumah karena merindukanmu." Aku terdiam.

__ADS_1


Walau perasaan ini campur aduk hingga larut dan rasanya juga tidak jelas. Tapi dia harus tetap tidak melakukan hal ceroboh yang membuatnya bisa depresi karena emosi seseorang. Karena dia itu sangat sensitif.


"Aku ini bukan orang penting yang harus kau rindukan," tangkasku. Mendengar hal tersebut wajahnya seketika cemberut.


"Hei Lucy... Main yuk," ucapnya manja sambil menarik lengan bajuku.


Aku tidak tau harus menjawab apa. Seketika aku terjebak dalam pertanyaan rumit antara iya atau tidak, secara halus aku ingin menolaknya.


"Kak aku sedang diliburkan karena sedang dalam masa pemulihan. Aku seharusnya tidak boleh berkeliaran seperti ini atau nanti kalau ada temanku yang lihat, mereka akan mengatakan kalau aku itu berbohong pada guru karena katanya aku ini sakit. Bermainnya lain kali saja," Tolakku.


"ALASAN!" Sontak aku kaget ia berteriak kencang begitu.


"AKU BENCI LUCY!!"


Aduh, manusia satu ini terlalu sulit untuk kukendalikan. Apa aku harus menyetujui nya? Tapi jika aku tambah menolak ia akan semakin melunjak.


"Ya sudah, aku akan menelepon orang tuamu minta izin main dirumahku yak," ucapku menyetujui permintaannya.


"Yeeaay akhirnya!" riang Kak Alvin.


"Tunggu Niki pulang sekolah yak," ujarku sambil mengirim pesan undangan ke Niki lewat handphone.


Kak Alvin langsung mengangguk semangat. Tingkahnya seperti anak kecil, mungkin itu karena faktor kedua orang tuanya yang selalu memanjakannya. Tidak ada salahnya menyanyangi seorang anak tetapi jangan lupa mengajari mereka cara bersikap sesuai usianya.


"Ayo..." ajakku berjalan menuju rumah dan Kak Alvin mengekori diriku.


.....

__ADS_1


"Jika orang itu membencimu, janganlah kau membencinya juga. Balaslah dengan kebaikan, maka dia akan mengakui kalau kamu orang yang dermawan."


__ADS_2